Home / Romansa / Chemistry Chapter / BAB 3 : DOSEN BARU

Share

BAB 3 : DOSEN BARU

Author: Yoongina
last update publish date: 2026-06-12 21:41:28

Garis rahang yang tegas itu, mata elang yang menatap tajam di balik kacamata berbingkai tipis, serta aura dinginnya masih sama seperti semalam Zea bertemu dengannya.

​Pria itu... adalah Dewa. Cowok korban salah siram di kafe semalam.

​Dewa perlahan membuka daftar hadir mahasiswa. Sebelum mulai membaca, ia mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru kelas, hingga sepasang mata elang itu berhenti tepat pada satu titik. Tepat pada manik mata Zea yang sedang mematung karena syok di kursinya.

​Sudut bibir Dewa terangkat tipis, membentuk sebuah senyuman misterius, membuat bulu kuduk Zea berdiri.

​"Selamat pagi semuanya. Perkenalkan saya Sadewa Adiraja, atau biasa dipanggil Dewa. Saya adalah dosen pengganti yang akan memegang mata kuliah Hukum Perdata kalian hingga akhir semester ini, karena Prof. Subroto sudah memasuki masa pensiunnya," ucapnya dengan suara berat yang menggema di seluruh ruangan. "Saya harap... kita semua bisa bekerja sama dengan baik. Terutama, bagi beberapa mahasiswa yang mungkin sudah sempat 'berkenalan' lebih dulu dengan saya."

​Seluruh kelas mengangguk, terpana oleh pesona ketampanan sekaligus kewibawaan yang melekat pada diri Dewa. Sementara, di kursinya, Zea merasa bumi yang dipijaknya baru saja runtuh. Ketampanan Dewa yang bertambah dua kali lipat pagi ini, tidak bisa mengubah suasana hati Zea karena sudah membuat masalah besar dengan dosen barunya sebelum mereka berkenalan lebih jauh.

​Manda yang duduk di sebelah Zea perlahan menyenggol lengan sahabatnya itu. "Ze..." bisik Manda dengan mata berbinar-binar, pandangannya tak lepas dari sosok yang berdiri di depan kelas. "Gila, ini mah bukan sekedar dosen pengganti, tapi spek Dewa Yunani! Ganteng parah, Ze! Karismanya enggak main-main."

​Zea tidak bisa menjawab. Lidahnya mendadak kelu. Jangankan ikut mengagumi ketampanan sang dosen seperti Manda, bernapas saja rasanya Zea kesulitan. Ia hanya bisa meremas pulpen di tangannya, berharap ada keajaiban yang bisa membuatnya menghilang dari ruangan itu sekarang juga.

​Manda sama sekali tidak tahu kalau pria kemeja abu-abu yang sedang dipujinya itu adalah 'cowok galak' yang semalam menyumpahi Zea di Kafe Glaze.

​Dewa membuka laptopnya, menyambungkannya ke proyektor di depan kelas dengan gerakan yang sangat tenang. Di layar putih besar, sebuah salinan materi perkuliahan langsung terpampang.

​"Saya tipe dosen yang tidak suka membuang waktu," suara berat Dewa kembali menggema, memecah keheningan kelas. "Di kelas saya, keterlambatan toleransinya hanya lima menit. Lebih dari itu, silakan belajar di luar. Saya juga tidak suka mahasiswa yang tidak memperhatikan, atau mahasiswa yang membawa 'masalah pribadi' ke dalam lingkungan akademis."

​Saat mengucapkan kalimat terakhir, mata elang Dewa kembali melirik sekilas ke arah Zea. Tatapan itu dingin, namun tajamnya sanggup menguliti harga diri Zea hingga ke dasar.

​"Baik, mari kita mulai dari presensi," ujar Dewa, jemarinya mulai menggulir layar laptop. Satu per satu nama mahasiswa dipanggil.

​Jantung Zea berdegup kencang, seirama dengan detak jarum jam dinding di depan kelas. Nama-nama berawalan huruf A, B, C, telah lewat. Begitu memasuki huruf J, nama Jenny disebut. Mantan sahabatnya itu menyahut dengan suara yang dibuat semanis mungkin, khas mahasiswi yang sedang tebar pesona. Dewa hanya mengangguk tanpa ekspresi.

​Hingga akhirnya, momen yang paling ditakuti Zea pun tiba.

​"Natasha Zealina."

​Suasana kelas terasa hening. Zea menelan ludah dengan susah payah. Ia mengangkat tangan kanannya sedikit, tidak setinggi biasanya saat ia ingin pamer di depan para dosen bahwa ia adalah mahasiswi tercantik di kampus ini.

​"Ha—hadir, Pak," jawab Zea, suaranya sedikit bergetar di ujung kalimat.

​Dewa berhenti membaca. Ia menurunkan sedikit kacamatanya, membiarkan mata tajamnya menatap langsung ke arah Zea selama beberapa detik yang terasa seperti satu jam. Kelas mendadak sunyi, beberapa mahasiswa mulai menyadari ada ketegangan antara dosen baru dan mahasiswi paling populer di Fakultas Hukum itu.

"Natasha Zealina," ucap Dewa, mengulang nama itu dengan penuh penekanan. "Nama yang menarik. Saya melihat nilai akademik Anda adalah yang terbaik di kelas. Semoga, nilai itu tetap bisa bertahan di bawah pengawasan saya."

​Bisik-bisik langsung terdengar di barisan belakang. Manda langsung menyikut lengan Zea lagi, tapi kali ini dengan wajah heran. "Ze, lo udah pernah ketemu dia sebelumnya? Kok Pak Dewa kayak sengaja nyindir lo, sih?" bisik Manda penasaran. Zea hanya bisa menggeleng kaku, menahan malu yang kini bercampur dengan rasa dongkol yang luar biasa.

​Sialan, umpat Zea dalam hati. Pria itu sengaja membalas dendam di depan umum!

​"Mari kita mulai materi hari ini mengenai Hukum Perikatan," lanjut Dewa, seolah tidak pernah mengucapkan kalimat sindiran yang membuat jantung salah satu mahasiswinya copot.

​Selama dua jam ke depan, kelas Hukum Perdata itu berubah menjadi neraka bagi Zea. Dewa adalah tipe dosen yang gemar menggunakan metode Socratic, yaitu melempar pertanyaan secara acak ke penjuru kelas untuk menguji pemahaman mahasiswa. Dan entah mengapa, dari sekian puluh kepala di ruangan itu, nama Zea lah yang paling sering dipanggil.

​"Saudari Natasha, jelaskan unsur-unsur terbentuknya sebuah kesepakatan dalam pasal 1320 KUHPerdata," ucap Dewa, berdiri tegak di depan meja dengan kedua tangan bertumpu di pinggang.

​Zea tersentak, untung saja ia termasuk mahasiswi yang cerdas. Ia langsung menegakkan punggung, mencoba mengembalikan konsentrasinya.

"Unsur-unsurnya ada empat, Pak. Kesepakatan mereka yang mengikatkan dirinya, kecakapan untuk membuat suatu perikatan, suatu pokok persoalan tertentu, dan suatu sebab yang tidak terlarang."

​Dewa mengangguk-angguk kecil, wajahnya masih sedatar papan tulis. "Bagus. Lalu, apa yang terjadi jika salah satu pihak merasa ada penipuan atau kekhilafan dalam kesepakatan tersebut? Apakah perikatan itu batal demi hukum, atau dapat dibatalkan?"

​Zea terdiam sejenak, otaknya berputar cepat. "Dapat dibatalkan, Pak. Karena syarat subjektifnya tidak terpenuhi."

​"Tepat sekali," sahut Dewa. Ia berjalan perlahan mendekati barisan meja Zea, lalu berhenti tepat di samping meja gadis itu. Dewa sedikit membungkuk, menatap buku catatan Zea, lalu berbisik dengan volume yang sangat rendah, hanya bisa didengar oleh Zea seorang. "Sama seperti kasus salah orang semalam. Itu termasuk kekhilafan yang merugikan pihak lain. Dan sayangnya... tindakan seperti itu tidak bisa 'dibatalkan' begitu saja."

​Zea langsung menoleh, menatap Dewa dengan tatapan tidak percaya. Cowok—ralat, dosen di sampingnya ini benar-benar menyimpan dendam kesumat! Sementara Manda yang duduk di samping Zea hanya menatap bingung ke arah mereka berdua, merasa ada sesuatu yang tidak beres tapi tidak tahu apa.

​Sebelum Zea sempat membalas, Dewa sudah kembali menegakkan tubuhnya dan berjalan mundur ke depan kelas. "Baik, kuliah hari ini saya akhiri sampai di sini. Untuk tugas kelompok minggu depan, silakan lihat di grup chat akademis."

​Dewa membereskan laptop dan buku-bukunya. Namun, sebelum melangkah keluar dari pintu kelas, ia berbalik sekali lagi.

​"Natasha Zealina," panggil Dewa nyaring. "Ikut saya ke ruang dosen sekarang. Sebagai mahasiswi dengan nilai terbaik, ada beberapa hal tentang sikap Anda yang perlu saya evaluasi ulang sebelum saya memutuskan apakah Anda layak lulus di mata kuliah saya atau tidak."

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Chemistry Chapter   BAB 10 : PERINGATAN KERAS

    Tubuh Zea seketika kaku. Ia mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru ruang dosen yang untungnya sedang sepi, lalu melangkah ragu untuk memastikan pintu itu tertutup rapat. Setelah kembali menghadap meja Dewa, Zea melipat tangannya di atas meja, menatap Dewa dengan serius. ​"Mau bicara soal perjanjian semalam, Kak—eh, Pak?" tanya Zea setengah berbisik, memastikan tidak ada orang yang mendengar padahal mereka hanya berdua di dalam ruangan. ​Dewa mengetuk-ngetukkan pulpennya ke meja, ekspresinya berubah serius. "Orang tuaku membahas tentang kita saat sarapan tadi pagi. Dan tampaknya, Oma ku dan Oma Garnis sudah mulai menyusun rencana pertemuan keluarga berikutnya minggu depan." ​Zea membelalak kaget. "Minggu depan?! Cepet banget? Pak, kita kan udah sepakat buat jalanin ini pelan-pelan sampai kamu cari alasan buat batalin!" ​"Aku tahu," jawab Dewa datar, tidak terpengaruh oleh kepanikan Zea. "Makanya aku memperingatkanmu sekarang. Jangan tunjukkan gelagat mencurigakan di depan mer

  • Chemistry Chapter   BAB 9 : SEPAKAT

    Angin malam di sky lounge terasa semakin dingin, namun kening Zea justru berkeringat tipis. Kalimat terakhir Dewa yang menggantung di udara terasa seperti sebuah jebakan yang siap mengikatnya hidup-hidup. ​"Perjanjian...?" ulang Zea, suaranya sedikit bergetar namun ia berusaha tetap terdengar menantang. "Perjanjian apa?" ​Dewa menyunggingkan senyum miring. Senyuman yang selalu membuat tensi darah Zea melonjak naik. Pria itu menegakkan tubuhnya, melangkah satu kali lagi hingga bayangan tubuh tegapnya seolah mengurung Zea di sudut balkon pembatas. ​"Kita ikuti skenario para orang tua ini untuk sementara waktu. Di depan mereka, kita pura-pura patuh demi menjaga ketenangan Ayahmu dari tekanan Oma Garnis. Tapi di belakang, kita tidak punya urusan apa-apa," ujar Dewa dengan nada kaku. ​Zea menimbang-nimbang opsi itu dalam otaknya yang mulai lelah. "Oke, kedengarannya adil. Tapi apa keuntungan yang saya dapat? Kamu tahu sendiri saya tersiksa di kampus karena kamu!" ​"Keuntungannya,

  • Chemistry Chapter   BAB 8 : BUAT PERJANJIAN

    Mata elang pria itu yang biasanya menatap dingin, mendadak melebar sempurna begitu menangkap sosok gadis bergaun hitam yang duduk di samping Hasan. Cengkeraman tangannya pada ponsel yang ia pegang mengerat seketika. Untuk pertama kalinya, wajah tenang dan berwibawa seorang Sadewa Adiraja runtuh total di depan umum. ​Dewa mematung dengan rahang yang mengeras, isi kepalanya mendadak kosong. Gadis kasar yang menyiramnya di kafe, mahasiswi keras kepala yang baru sore tadi ia marahi habis-habisan di ruang dosen, kini duduk di hadapannya sebagai calon istri yang dipilih neneknya. ​Suasana di ruangan VIP mendadak hening dan tegang. Kedua anak manusia itu saling melempar tatapan syok, tak sanggup menyembunyikan rasa tidak percaya bahwa takdir baru saja mempermainkan mereka dengan cara yang paling tidak masuk akal. ​"Dewa, ayo duduk. Kenapa malah berdiri melamun di situ?" tegur Dyah heran, memecah keheningan. ​Suara sang nenek seolah menarik Dewa kembali pada kenyataan. Ia berdehem pen

  • Chemistry Chapter   BAB 7 : MAKAN MALAM

    Tepat pukul 07.45 WIB, Zea sudah berdiri di depan pintu ruang dosen dengan lingkaran hitam samar di bawah matanya. Di pelukannya, sebuah map merah tercengkeram erat. Ia menarik napas dalam-dalam, mengumpulkan energi dan keberanian sebelum mengetuk pintu. ​Tok! Tok! Tok! ​"Masuk." Suara berat dan dingin itu menyahut dari dalam. ​Zea memutar kenop pintu, melangkah masuk ke dalam ruangan yang terlihat masih sepi. Namun, Dewa sudah duduk rapi di balik mejanya, kemeja hitam yang ia kenakan hari ini membuat garis wajahnya terlihat semakin tegas dan berwibawa. ​"Selamat pagi, Pak Dewa. Ini tugas ringkasan yang Bapak minta kemarin," ucap Zea seformal mungkin, meletakkan map merah itu tepat di hadapan Dewa. ​Dewa tidak langsung menjawab. Ia melirik jam tangan peraknya sekilas, lalu menatap Zea dari balik kacamata berbingkai tipisnya. "Kurang lima belas menit dari waktu yang saya tentukan. Bagus, setidaknya kamu bisa menghargai waktu." ​Dewa membuka map itu, jemarinya membalik lemba

  • Chemistry Chapter   BAB 6 : PERJODOHAN

    Rumah kediaman Hasan malam itu terasa lebih sunyi dari biasanya. Di ruang tengah, Hasan sedang duduk di kursi kayu sambil membaca beberapa berkas kantor, sementara Zea berkutat dengan laptopnya di meja makan, berperang dengan tugas ringkasan putusan pengadilan dari Dewa yang menumpuk sekaligus memikirkan hubungan antara Dewa dan Sagara yang terus menghantuinya. ​Tok! Tok! Tok! ​Suara ketukan pintu dari arah depan memecah keheningan. Hasan mengerutkan dahi, melirik jam dinding yang sudah menunjukkan pukul delapan malam. Ia berdiri, melangkah menuju pintu depan dan memutar kunci pintu. ​Begitu pintu terbuka, sosok wanita paruh baya dengan setelan blazer mahal dan perhiasan mutiara yang melingkari lehernya berdiri di sana. Di belakangnya, seorang asisten pribadi tampak mengikuti dari belakang. ​Hasan terpaku. Genggamannya pada gagang pintu mengerat, dan suasana di sekitar teras mendadak berubah menjadi sedingin es. ​"Ibu..." desis Hasan, suaranya tercekat di tenggorokan. ​Gar

  • Chemistry Chapter   BAB 5. KEDATANGAN SENJA

    Zea menatap layar ponselnya tanpa berkedip. Jemarinya mendadak kaku untuk mengetik balasan. Otaknya yang baru saja diperas habis-habisan oleh ancaman nilai dari Dewa, kini harus dipaksa mencerna kenyataan bahwa 'Senja'—pria yang selama tiga bulan ini menjadi teman mengobrolnya yang menyenangkan, hanya berada beberapa ratus meter darinya. ​Zea: [Kamu di kampusku? Kok bisa?] ​Balasan dari Senja masuk dalam hitungan detik. ​Senja: [Haha, iya. Kantor hukum tempatku bekerja kebetulan ditunjuk jadi konsultan untuk proyek pembangunan laboratorium baru di Universitas Erlangga. Hari ini aku ada jadwal rapat dengan pihak rektorat. Begitu lewat papan nama Fakultas Hukum, aku langsung ingat kamu kuliah di sini. Kita bisa ketemu sebentar?] ​Zea menggigit bibir bawahnya. Rasa tidak enak hati karena salah orang di Kafe semalam masih membekas, ditambah lagi saat ini wajahnya pasti masih terlihat berantakan karena menahan amarah dari ruang dosen tadi. Namun, rasa penasaran yang teramat besa

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status