Share

Chapter 16

last update Tanggal publikasi: 2026-07-22 21:12:56

“Br3ngsek!”

Brakk!

Pyaar…

Suroto menghantam meja kerjanya dengan keras hingga gelas kopi terjatuh dan pecah berhamburan. Wajahnya merah padam karena marah, urat-urat di lehernya menonjol. Di hadapannya, ada tiga anak buah kepercayaannya berdiri dengan kepala menunduk, tubuh mereka masih memar-memar akibat dihajar Yoga beberapa malam lalu.

“Siapa yang sudah berani-beraninya main di belakangku, ha?!” raung Suroto, suaranya menggelegar di ruangan gudang pupuk yang pengap.

“Hasil panen desa ini dij
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Cincin Keramat: Semakin Berdosa, Semakin Perkasa   Chapter 20

    Brakkk!Pyaar…“Anj-ing!”Suroto melempar ponselnya ke dinding hingga pecah berantakan. Ruangan gudang pupuk terasa pengap oleh amarahnya yang membara. Sudah ketiga kalinya Bu Lurah menolak bertemu dengannya dengan alasan “ada keperluan mendadak”.“Apa-apaan ini?! Alasan teruss!!” raung Suroto sendirian. “Perempuan sialan itu, berani main-main sama aku sekarang?!”Dia kembali menelepon lagi dengan nomor dan ponsel cadangan. Kali ini Bu Lurah mengangkat, suaranya terdengar agak gugup.“Ha… haloo?”“Bu Lurah, di mana kamu sekarang? Aku ingin bertemu dan bercinta, jangan beri alasan!” Suroto bertanya dengan keras karena sudah kesal.“Mas… Mas Suroto, maaf. Aku , aku lagi ada urusan keluarga. Besok saja, ya?” kata Bu Lurah pelan saat Suroto bertanya.“Urusan keluarga? Sudah tiga kali kau ngomong kayak gitu! Kau pikir aku ini bodoh, ha? Kau mulai berubah ya, sekarang? Jangan coba-coba main belakang sama aku, Bu. Aku bisa saja menghancurkan suamimu dan juga hidupmu dalam sekejap. Jabatan lu

  • Cincin Keramat: Semakin Berdosa, Semakin Perkasa   Chapter 19

    Beberapa hari setelah kejadian malam yang menguatkan itu, desa mulai merasakan angin segar yang lama tak dirasakan. Yoga secara diam-diam menyalurkan beberapa karung pupuk yang dia ambil dari gudang Suroto melalui jaringan akar tanahnya. Dia sebarkan pupuk-pupuk ke petani-petani yang paling membutuhkan, tanpa meninggalkan jejak yang jelas. Warga yang semula kesulitan mulai bisa menanam lagi dengan pupuk yang cukup, dan yang pasti ini membuat mereka bahagia.Pagi itu, di lapangan desa yang biasa digunakan untuk tawar-menawar, Yoga berdiri di tengah kerumunan warga. Dia mengumumkan dengan suara tegas, tapi tetap terlihat tenang.“Aku, Yoga Prakasa, berjanji akan menerima hasil panen kalian semua. Berapa pun jumlahnya, aku terima. Aku akan jual ke kota dengan harga yang adil, sesuai dengan harga pasar. Tidak ada pemotongan besar, tidak akan ada tekanan. Kalian cukup bawa ke sini, aku yang akan urus sisanya.”Mendengar itu, warga saling pandang. Ada yang ragu, tapi ada juga yang langsung

  • Cincin Keramat: Semakin Berdosa, Semakin Perkasa   Chapter 18

    Bulan-bulan ini memang sedang musim hujan, jadi tiap hari-hari pun turun hujan sudah biasa. Seperti malam ini, hujan deras kembali turun, seolah langit ikut mendukung kekacauan yang terjadi di desa. Suara rintik-rintik hujan yang memukul keras atap rumah Yoga menciptakan irama monoton yang mencekam.Yoga sendirian duduk di tepi tempat tidur, tubuhnya terasa panas, nafasnya juga berat. “Karma Hitam” sudah mencapai angka yang berbahaya, 72. Hasrat yang menyiksa sejak kemarin-kemarin terus muncul dan semakin sulit dikendalikan.Tok tok tokTiba-tiba pintu kamarnya diketuk seseorang dengan pelan, seperti takut ketahuan jika suaranya sampai terdengar keluar. Padahal ibunya Yoga sedang berada di rumah saudaranya yang di desa sebelah. “Ha, siapa?” Yoga bertanya penuh curiga.“Mas Yoga, ini aku.”Yoga terkejut, itu suara Bu Lurah. Terdengar lembut dari balik pintu, seperti genderang yang ditabuh didekat telinganya.Yoga menutup mata sejenak. Dia sadar bahwa ini tidak benar, seharusnya dia ju

  • Cincin Keramat: Semakin Berdosa, Semakin Perkasa   Chapter 17

    Beberapa minggu sudah berlalu sejak Yoga mulai beraksi diam-diam. Desa tetap terlihat tenang seperti biasanya, tapi di balik itu, ketegangan justru semakin membara. Suroto masih terus menyelidiki “petani pemberani” yang berani menjual hasil panen ke kota. Anak buahnya tersebar di mana-mana untuk mencari informasi, sementara Pak Lurah dipaksa menjadi alat untuk ikut menangani masalahnya.Yoga sendiri semakin kesulitan mengendalikan “Karma Hitam” yang semakin kuat dan sulit dikendalikan. Setiap malam dia tersiksa oleh hasrat yang kadangkala datang tiba-tiba. Bahkan Yoga sering melatih kekuatannya di belakang rumah, tapi setiap kali menggunakan kekuatan, rasa lapar itu juga semakin kuat.Suatu siang, saat Yoga sedang pergi membeli obat Ibunya ke klinik desa, dia bertemu dengan Bidan Rina untuk pertama kalinya.Saat itu Rina sedang memeriksa seorang balita ketika Yoga masuk. Gadis itu mendongak, dan matanya langsung melebar saat melihat pria tinggi kekar dengan aura tenang yang berbeda.“

  • Cincin Keramat: Semakin Berdosa, Semakin Perkasa   Chapter 16

    “Br3ngsek!”Brakk!Pyaar…Suroto menghantam meja kerjanya dengan keras hingga gelas kopi terjatuh dan pecah berhamburan. Wajahnya merah padam karena marah, urat-urat di lehernya menonjol. Di hadapannya, ada tiga anak buah kepercayaannya berdiri dengan kepala menunduk, tubuh mereka masih memar-memar akibat dihajar Yoga beberapa malam lalu.“Siapa yang sudah berani-beraninya main di belakangku, ha?!” raung Suroto, suaranya menggelegar di ruangan gudang pupuk yang pengap.“Hasil panen desa ini dijual ke kota tanpa lewat tanganku seperti biasanya, siapa? Harga yang aku tentukan dilangkahi begitu saja? Kalian bertiga kenapa bego semua ya?! Sial…” Suroto masih ngamuk sementara anak buahnya hanya menunduk takut.Setelah puas berteriak dan menghancurkan beberapa barang untuk melampiaskan amarah, akhirnya salah satu anak buahnya, Jumadi, menjawab dengan suara gemetar.“Kami sudah selidiki, Bos. Katanya ada petani yang berani jual langsung ke tengkulak kota. Barangnya muncul tiba-tiba di lapang

  • Cincin Keramat: Semakin Berdosa, Semakin Perkasa   Chapter 15

    “Egh… Yoga…” erang Bu Lurah yang sudah bergerak seperti cacing.“Hah?!” Yoga justru tersentak lalu melepaskan tubuh Bu Lurah.“Eh, kenapa?” tanya Bu Lurah yang kebingungan, sebab berekspektasi tinggi. Tapi Yoga diam saja, kemudian pergi meninggalkan Bu Lurah. Pria muda itu justru berbalik kemudian berjalan cepat menuju kamarnya sendiri, meninggalkan Lurah yang kebingungan kemudian berjalan dengan gugup ke ruang tamu.Tak lama, Bu Lurah pamit pada ibunya Yoga. Berterima kasih juga karena sudah diizinkan menumpang ke kamar mandi.“Aku pamit dulu Bu, cepat membaik ya.”“Terima kasih, Bu Lurah. Hati-hati, hujan belum reda.” Ibunya Yoga tersenyum canggung karena merasa merepotkan istrinya pak lurah tersebut. Setelah Bu Lurah pamit, ibunya Yoga juga pergi ke kamarnya sendiri untuk istirahat. Sementara Yoga memutuskan untuk bertindak malam ini. Ada hasil panen yang dia ambil diam-diam dari lapangan desa waktu itu, masih tersimpan di gudang tua keluarganya. Gudang yang lama tak terpakai, te

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status