LOGINDi tengah malam yang dingin di kebun singkong milik keluarganya, Yoga Prakasa justru memergoki ketua preman desa sedang menggagahi istri pak lurah. Perkelahian berdarah pun terjadi. Dia dihajar sampai tulangnya retak dan nyaris mati, tapi saat tangannya menyentuh sesuatu yang dingin, dan ternyata itu cincin besi hitam yang terkubur di tanah. Saat itu, hal yang tak pernah terjadi. Seperti ada yang terbangun, dalam dirinya. Kekuatan super yang memabukkan, regenerasi iblis, dan hasrat seksual yang tak pernah padam kini mengalir deras dalam tubuhnya. Semakin Yoga membalas dendam dengan brutal, semakin sistem kuno itu memberinya kenikmatan gelap, di medan pertarungan maupun di atas tubuh perempuan. Tapi setiap kali Yoga memuaskan nafsu dan amarahnya, Karma Hitam semakin dalam menggerogoti jiwanya. Di desa yang busuk ini, balas dendam bukan lagi soal keadilan. Ini soal kekuasaan, darah, dan nafsu yang perlahan mengubahnya menjadi monster.
View More“Ahh… Mas Suroto… Ahh… pelan-pelan dikit…” desah seorang perempuan, suaranya parau penuh kenikmatan. Kakinya melingkar di pinggang seorang pria yang dipanggil dengan nama “Suroto”.
Pria itu terus bergoyang mengikuti setiap hantaman, memberikan kenikmatan yang dirasakan wanita di bawahnya. Dia, pria itu, terkekeh rendah, tangan besarnya meremas payudara perempuan itu dengan kasar, jarinya mencubit puting hingga membuat wanita itu mendesah lebih keras. “Pelan-pelan, hmm? Kamu sendiri yang minta cepet tadi, enak kan? Punyaku ini tentu lebih besar dan lebih kuat dari punya suamimu yang lemas itu, hahaha...” Malam itu, udara kebun singkong terasa pengap dan gelap. Di bawah pohon singkong paling besar, dua tubuh saling menempel kasar. Suroto berdiri tegap dengan celana melorot ke mata kaki, pinggulnya bergerak maju mundur dengan ritme kuat dan rakus. Sementara di depannya, seorang perempuan yang ternyata adalah istri Pak Lurah, bersandar ke batang pohon. Roknya tersingkap sampai pinggang, blusnya terbuka lebar hingga payudaranya yang besar bergoyang-goyang bebas setiap kali Suroto menghantam. “Iya, mas… enak… lebih keras, enak…” erang istri Pak Lurah sambil menggigit bibir bawahnya. Matanya setengah hingga terpejam, wajahnya pun memerah. Tubuhnya yang montok basah oleh keringat, kulitnya berkilau samar di bawah cahaya bulan sabit. Suroto mempercepat gerakannya, suara benturan kulit semakin basah dan keras. “Semua yang ada di desa ini milikku,” gumam Suroto sambil mendesah puas. “Termasuk kamu, Bu Lurah. Tiap kali kamu mau, tinggal bilang. Suamimu juga nggak bakal berani apa-apa, aku yang berkuasa.” Sementara itu, di jalan, Yoga Prakasa sedang berjalan menyusuri jalan aspal desa yang banyak lubang menuju rumah, tapi harus melewati kebun keluarganya. Tas ransel lusuhnya terasa berat di punggung. Selama tiga tahun merantau ke kota besar, ternyata cuma memberinya luka lama, utang kecil, dan amarah yang semakin membara. Kini dia pulang dan sampai di desa malam ini karena mendapat kabar ibunya sakit, tapi hatinya sudah was-was sejak melihat kebun dari kejauhan tadi sebab banyak batang singkong yang layu dan tanahnya juga banyak yang retak. “An_jing… kebun ini dulu subur banget,” gumamnya sendirian sambil mengepalkan tangan. Bau tanah yang kering semakin kuat saat dia mendekat. Tiba-tiba, dia mendengar suara desahan perempuan yang basah dan erangan pria yang dalam, dan bunyi ritmis yang… asing tak asing. Yoga membeku sejenak lalu membungkuk pelan, bergerak di antara barisan tanaman singkong yang sudah rusak. Dan kini dia melihat semuanya. “Hai, brengsek…” desis Yoga, darahnya seakan mendidih. Mendengar suara lain, Suroto menoleh cepat. Wajahnya yang baru saja puas berubah menjadi kaget, lalu tersenyum sinis. Bahkan pria itu masih belum melepaskan pinggul istri Pak Lurah sepenuhnya. “Huh, serangga kecil!" Soroto berdecak, merasa kesenangannya terganggu. “Siapa, mas? A… ada orang!” Istri Pak Lurah menjerit kecil, buru-buru mendorong Suroto dan merapikan bajunya dengan tangan gemetar. Sementara Yoga, langsung melangkah keluar dari balik tanaman. Tubuhnya yang tinggi dan kekar terlihat jelas di bawah cahaya bulan. "Kalian, berani-beraninya mesum di kebunku, Suroto? Ini tanah keluargaku!” “Wah-wah… Yoga, si brengsek yang baru pulang. Udah berani ngomong keras sama aku sekarang? Dulu, kamu cuma anak ingusan yang suka ngamuk sendirian.” Suroto menarik celananya sambil tertawa kecil, tapi mata penuh ancaman. “Ini kebun ayahku. Kamu malah nodai tanah ini sama nafsumu yang kotor itu. Pergi sekarang juga, pergi!" Yoga maju selangkah, suaranya penuh amarah. “Hey, kamu pikir kamu itu siapa, hah? Desa ini sudah ada dalam peganganku bertahun-tahun. Kebun ini juga, jadi kamu cuma pulang bikin onar doang. Mau apa, ha? Atau mau ikut gabung juga, mau nyicip Bu Lurah ini?” Suroto mengusap keringat di dahinya, senyumnya melebar tapi dingin sambil tersenyum sinis. “Mas, Mas Suroto… aku, aku pulang dulu.” Istri Pak Lurah mundur ketakutan ke belakang Suroto. “Kamu diem di situ,” potong Suroto tanpa menoleh. Dia pun melangkah mendekati Yoga. “Kamu, pemuda gagal. Aku akan kasih pelajaran, biar kamu tahu tempat.” Tapi Yoga tidak menunggu lebih lama. Dia langsung melayangkan tinju keras ke wajah Suroto. Bug! Pertarungan pun pecah. Suroto menghindar dan membalas dengan pukulan tinju beratnya. Mendarat telak di pipi Yoga. Bug bug Yoga pun membalas dengan tendangan ke perut yang membuat Suroto mundur dua langkah. Mereka saling hantam di tengah kebun yang gelap. Tinju demi tinju, tendangan demi tendangan. Tapi karena Suroto lebih berpengalaman dan bertubuh lebih besar, satu pukulan keras mendarat di rusuk Yoga hingga terdengar bunyi retak. Krekk “Uhuk!" Yoga terbatuk darah, tapi Suroto terus menyerang, pukulannya bertubi-tubi ke perut, dada, dan kepala. “Kamu itu cuma sampah, Yoga!” teriak Suroto sambil menendang kaki Yoga hingga pemuda itu jatuh berlutut. “Desa ini sudah aku kuasai sejak lama, kamu nggak ada apa-apanya!” oceh Suroto. Yoga mencoba bangkit, tapi Suroto justru menghantam tengkuknya keras. Yoga tergeletak telentang di tanah kering, membuatnya ingin segera kabur. Rasa sakit luar biasa menjalar ke seluruh tubuh, bahkan darah mengalir dari hidung dan mulutnya. Sekarang, Suroto berdiri di atasnya sambil tersenyum puas, nafasnya masih ngos-ngosan karena mesum ditambah berkelahi tadi. “Seharusnya kamu nggak usah pulang, Yoga. Habis kamu, malam ini.” Suroto tersenyum miring. Yoga yang tergeletak di tanah, menggerakkan tangannya yang lemah di tanah. Jari-jarinya menggali tanah kering, ingin mencari apa saja yang bisa membuat Suroto diam. Tapi jemarinya justru merasakan sesuatu yang keras dan dingin terkubur di dalamnya, sebuah cincin besi. Sayangnya, kesadaran Yoga mulai menghilang. Bau tanah kering bercampur bau darahnya sendiri, suara-suara desahan mesum tadi masih terus bergema di kepalanya seperti kutukan. “Ahh… apa ini?” Kebunnya yang dulu subur, kini benar-benar dinodai. Dan Yoga, kemungkin tak akan bangun lagi.Pagi berikutnya di rumah Pak Lurah, akhirnya memberanikan diri menghadapi Suroto. Dia duduk di ruang tamu rumahnya dengan keringat dingin yang mulai membasahi punggungnya, sementara Suroto bersandar santai di kursi dengan secangkir kopi yang masih mengepul.“Mas Suroto, aku ingin bicara soal harga panen kemarin,” kata Pak Lurah dengan suara pelan.“Heem,” sahut Suroto acuh.“Warga kan, protes keras. Kalau terus begini, bisa-bisa ada kerusuhan kecil. Saya mohon, naikkan sedikit saja harganya di panen berikutnya, Biar warga tenang.” Pak Lurah berusaha memberikan pengertianSuroto meletakkan cangkirnya dengan pelan tapi penuh tekanan, jadi terdengar keras dan mengkhawatirkan. Senyum ramahnya hilang seketika.“Heh, kamu berani ngomong gitu ama aku, Lurah? Kau lupa siapa yang bayar dan mengawasi proyek-proyek desa ini, ha? Siapa juga yang kasih ‘hadiah’ tiap bulan supaya kau bisa anteng tanpa kasus?” Suroto langsung nyolot.Pada akhirnya Pak Lurah menunduk, hanya saja tangannya mengepal di
Suasana di desa siang ini terasa lebih ramai dari biasanya. Langit berwarna biru cerah dengan awan tipis, angin sejuk berhembus membawa aroma yang khas, aroma tanah basah setelah hujan semalam.Di lapangan desa, banyak warga yang sedang gotong royong mempersiapkan penyambutan bidan desa yang baru. Bidan lama sudah pindah ke kota sebulan lalu, meninggalkan desa ini tanpa tenaga kesehatan yang memadai. Hari ini akan ada acara penyambutan seorang bidan muda bernama Riana yang katanya baru berusia 24 tahun orangnya cantik dengan kulit putih bersih, rambut hitam panjang terikat rapi, dan senyum yang manis penuh percaya diri.Banner penyambutan, memberi gambaran tentang sosok bidan muda tersebut. Apalagi tubuhnya juga terlihat ramping dengan lekuk yang jelas di balik seragam putihnya. Sebenarnya, Bidan itu sudah datang kemarin. Tapi hari ini acara resminya.Warga yang datang berkerumun, ada yang membawa bunga, ada juga yang menyiapkan makanan kecil. Suasana ramai tapi tetap aman terkendali.
Semua warga desa masih ramai membicarakan kejadian aneh di lapangan. Sementara Yoga yang sedang berjalan melewati jalan utama desa, sedikit terkejut ketika tiba-tiba tiga motor besar menghadang jalannya. Bos Suroto turun dari motor depan, diikuti lima anak buahnya yang bersenjatakan kayu dan besi.“Yoga,” panggil Suroto dengan suara dingin.“Ha, ya?” Yoga pura-pura terkejut.“Kau kan yang lakuin semua ini, semalam?” Suroto langsung menuduh.Yoga menghentikan langkahnya dengan tatapan yang mulai terlihat tenang, tapi cincin di jarinya berdenyut panas.Hal ini membuat Suroto makin emosi, berpikir bahwa gertakkannya tadi tidak berpengaruh sama sekali untuk pemuda ini.“Apa maksudnya, Bos?” Yoga bertanya dengan pura-pura bodoh, tidak tahu apa maksud dari penghadangan kali ini.“Jangan pura-pura bodoh, cungguk! Panen warga hilang, tapi diganti uang pas. Kau pikir aku nggak tahu, jika kau yang main belakang? Kamu berani lawan aku ya, tidak tau ini di wilayahku sendiri?” Suroto mendekat, waj
Hari sudah berganti malam, Rangga berdiri di pinggir lapangan yang sudah sepi. Dia juga mendengar kabar bahwa Pak Lurah “akan menyelesaikan” masalah yang dihadapi warga dari tekanan Suroto. Senyum sinis muncul di wajahnya.“Penyelesaian macam apa yang cuma pura-pura,” gumam Yoga, yakin jika pak lurah hanya menenangkan warganya supaya tidak memberontak dan memprotesnya.Sekarang, cincin di jari Yoga terasa semakin panas. Kekuatan baru mulai berdenyut di dalam tubuhnya, siap untuk dilepaskan.Ancaman pertama dari Suroto telah datang. Dan kali ini, Yoga tidak berniat diam saja.Tiba-tiba hujan yang tadinya hanya gerimis berubah deras, turun tanpa henti. Suara rintik hujan yang memukul daun singkong dan tanah lembab menciptakan irama monoton yang mencekam, seolah menyembunyikan setiap langkah Yoga. Tetesan air dingin membasahi rambut dan bajunya, tapi pemuda itu tak peduli. Setiap tetes yang jatuh terdengar seperti detak jam yang menghitung mundur, memberikan nada yang membuat jantung ber






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.