Share

Cincin Keramat: Semakin Berdosa, Semakin Perkasa
Cincin Keramat: Semakin Berdosa, Semakin Perkasa
Author: Tompealla Kriweall

Chapter 1

last update publish date: 2026-06-08 11:25:40

“Ahh… Mas Suroto… Ahh… pelan-pelan dikit…” desah seorang perempuan, suaranya parau penuh kenikmatan. Kakinya melingkar di pinggang seorang pria yang dipanggil dengan nama “Suroto”.

Pria itu terus bergoyang mengikuti setiap hantaman, memberikan kenikmatan yang dirasakan wanita di bawahnya. Dia, pria itu, terkekeh rendah, tangan besarnya meremas payudara perempuan itu dengan kasar, jarinya mencubit puting hingga membuat wanita itu mendesah lebih keras.

“Pelan-pelan, hmm? Kamu sendiri yang minta cepet tadi, enak kan? Punyaku ini tentu lebih besar dan lebih kuat dari punya suamimu yang lemas itu, hahaha...”

Malam itu, udara kebun singkong terasa pengap dan gelap. Di bawah pohon singkong paling besar, dua tubuh saling menempel kasar. Suroto berdiri tegap dengan celana melorot ke mata kaki, pinggulnya bergerak maju mundur dengan ritme kuat dan rakus. Sementara di depannya, seorang perempuan yang ternyata adalah istri Pak Lurah, bersandar ke batang pohon. Roknya tersingkap sampai pinggang, blusnya terbuka lebar hingga payudaranya yang besar bergoyang-goyang bebas setiap kali Suroto menghantam.

“Iya, mas… enak… lebih keras, enak…” erang istri Pak Lurah sambil menggigit bibir bawahnya. Matanya setengah hingga terpejam, wajahnya pun memerah. Tubuhnya yang montok basah oleh keringat, kulitnya berkilau samar di bawah cahaya bulan sabit. Suroto mempercepat gerakannya, suara benturan kulit semakin basah dan keras.

“Semua yang ada di desa ini milikku,” gumam Suroto sambil mendesah puas. “Termasuk kamu, Bu Lurah. Tiap kali kamu mau, tinggal bilang. Suamimu juga nggak bakal berani apa-apa, aku yang berkuasa.”

Sementara itu, di jalan, Yoga Prakasa sedang berjalan menyusuri jalan aspal desa yang banyak lubang menuju rumah, tapi harus melewati kebun keluarganya. Tas ransel lusuhnya terasa berat di punggung.

Selama tiga tahun merantau ke kota besar, ternyata cuma memberinya luka lama, utang kecil, dan amarah yang semakin membara. Kini dia pulang dan sampai di desa malam ini karena mendapat kabar ibunya sakit, tapi hatinya sudah was-was sejak melihat kebun dari kejauhan tadi sebab banyak batang singkong yang layu dan tanahnya juga banyak yang retak.

“An_jing… kebun ini dulu subur banget,” gumamnya sendirian sambil mengepalkan tangan. Bau tanah yang kering semakin kuat saat dia mendekat.

Tiba-tiba, dia mendengar suara desahan perempuan yang basah dan erangan pria yang dalam, dan bunyi ritmis yang… asing tak asing. Yoga membeku sejenak lalu membungkuk pelan, bergerak di antara barisan tanaman singkong yang sudah rusak.

Dan kini dia melihat semuanya.

“Hai, brengsek…” desis Yoga, darahnya seakan mendidih.

Mendengar suara lain, Suroto menoleh cepat. Wajahnya yang baru saja puas berubah menjadi kaget, lalu tersenyum sinis. Bahkan pria itu masih belum melepaskan pinggul istri Pak Lurah sepenuhnya.

“Huh, serangga kecil!" Soroto berdecak, merasa kesenangannya terganggu.

“Siapa, mas? A… ada orang!”

Istri Pak Lurah menjerit kecil, buru-buru mendorong Suroto dan merapikan bajunya dengan tangan gemetar.

Sementara Yoga, langsung melangkah keluar dari balik tanaman. Tubuhnya yang tinggi dan kekar terlihat jelas di bawah cahaya bulan.

"Kalian, berani-beraninya mesum di kebunku, Suroto? Ini tanah keluargaku!”

“Wah-wah… Yoga, si brengsek yang baru pulang. Udah berani ngomong keras sama aku sekarang? Dulu, kamu cuma anak ingusan yang suka ngamuk sendirian.” Suroto menarik celananya sambil tertawa kecil, tapi mata penuh ancaman.

“Ini kebun ayahku. Kamu malah nodai tanah ini sama nafsumu yang kotor itu. Pergi sekarang juga, pergi!" Yoga maju selangkah, suaranya penuh amarah.

“Hey, kamu pikir kamu itu siapa, hah? Desa ini sudah ada dalam peganganku bertahun-tahun. Kebun ini juga, jadi kamu cuma pulang bikin onar doang. Mau apa, ha? Atau mau ikut gabung juga, mau nyicip Bu Lurah ini?” Suroto mengusap keringat di dahinya, senyumnya melebar tapi dingin sambil tersenyum sinis.

“Mas, Mas Suroto… aku, aku pulang dulu.” Istri Pak Lurah mundur ketakutan ke belakang Suroto.

“Kamu diem di situ,” potong Suroto tanpa menoleh. Dia pun melangkah mendekati Yoga. “Kamu, pemuda gagal. Aku akan kasih pelajaran, biar kamu tahu tempat.”

Tapi Yoga tidak menunggu lebih lama. Dia langsung melayangkan tinju keras ke wajah Suroto.

Bug!

Pertarungan pun pecah. Suroto menghindar dan membalas dengan pukulan tinju beratnya. Mendarat telak di pipi Yoga.

Bug bug

Yoga pun membalas dengan tendangan ke perut yang membuat Suroto mundur dua langkah. Mereka saling hantam di tengah kebun yang gelap. Tinju demi tinju, tendangan demi tendangan.

Tapi karena Suroto lebih berpengalaman dan bertubuh lebih besar, satu pukulan keras mendarat di rusuk Yoga hingga terdengar bunyi retak.

Krekk

“Uhuk!" Yoga terbatuk darah, tapi Suroto terus menyerang, pukulannya bertubi-tubi ke perut, dada, dan kepala.

“Kamu itu cuma sampah, Yoga!” teriak Suroto sambil menendang kaki Yoga hingga pemuda itu jatuh berlutut. “Desa ini sudah aku kuasai sejak lama, kamu nggak ada apa-apanya!” oceh Suroto.

Yoga mencoba bangkit, tapi Suroto justru menghantam tengkuknya keras. Yoga tergeletak telentang di tanah kering, membuatnya ingin segera kabur. Rasa sakit luar biasa menjalar ke seluruh tubuh, bahkan darah mengalir dari hidung dan mulutnya.

Sekarang, Suroto berdiri di atasnya sambil tersenyum puas, nafasnya masih ngos-ngosan karena mesum ditambah berkelahi tadi.

“Seharusnya kamu nggak usah pulang, Yoga. Habis kamu, malam ini.” Suroto tersenyum miring.

Yoga yang tergeletak di tanah, menggerakkan tangannya yang lemah di tanah. Jari-jarinya menggali tanah kering, ingin mencari apa saja yang bisa membuat Suroto diam. Tapi jemarinya justru merasakan sesuatu yang keras dan dingin terkubur di dalamnya, sebuah cincin besi.

Sayangnya, kesadaran Yoga mulai menghilang. Bau tanah kering bercampur bau darahnya sendiri, suara-suara desahan mesum tadi masih terus bergema di kepalanya seperti kutukan.

“Ahh… apa ini?”

Kebunnya yang dulu subur, kini benar-benar dinodai. Dan Yoga, kemungkin tak akan bangun lagi.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Cincin Keramat: Semakin Berdosa, Semakin Perkasa   Chapter 22

    Udara pada malam ini terasa lebih dingin dari biasanya, membuat orang malas keluar rumah. Cahaya lampu di ruang tengah rumah Yoga menyala redup, menerangi wajah ibunya yang sedang duduk di kursi kayu sambil memegang cangkir teh hangat. Sementara Yoga juga duduk di seberangnya, tubuhnya tegap dengan mata tetap waspada ke arah pintu depan.“Yoga, dulu di desa sebelah saudara kita hidupnya jauh lebih tenang,” kata ibunya pelan. Suaranya serak karena usia dan sakit yang lama. “Mereka punya sawah yang subur, hasil panennya selalu cukup. Preman-preman anak buah Suroto memang kadang datang minta upeti kecil, tapi tidak sekeras di sini. Mereka hanya menakut-nakuti, tidak sampai merampas tanah atau memaksa jual panen murah. Kadang aku berharap kita pindah ke sana saja, bagimana?”Sambil membuang nafas panjang, Yoga mengangguk pelan. Sebenarnya dia sudah punya firasat sejak sore karena cincin di jarinya berdenyut pelan, seolah memberi peringatan.“Ibu istirahat saja, aku mau urus yang lain.” Yo

  • Cincin Keramat: Semakin Berdosa, Semakin Perkasa   Chapter 21

    Sore ini Yoga berdiri di atas bukit kecil di pinggir desa saat matahari mulai terbenam, sendirian. Angin sore berhembus tenang, membawa bau tanah basah bercampur daun singkong. Dari tempat ini, dia bisa melihat seluruh desa dengan jelas, termasuk gudang pupuk rahasia Suroto yang kini dijaga lebih ketat daripada kemarin-kemarin.“Hmm… Karma Hitam sudah 82,” gumam Yoga pelan sambil mengepalkan tangan.Sekarang, cincin besi hitam di jarinya terasa semakin panas. Setiap hari hasrat dan amarahnya semakin sulit dikendalikan, membuat dirinya merasakan kesakitan karena tidak tersalurkan. Tapi dia juga tahu, untuk mengalahkan Suroto, dia harus tetap taktis. Bukan sekadar garang tanpa ada rencana apapun.Malam ini, dia berencana menyabotase gudang pupuk lagi. Tapi yang pasti, kali ini dengan cara yang lebih cerdas. Dia tidak akan menyerang secara langsung, dia akan menggunakan “Cengkeraman Akar” untuk merusak saluran distribusi pupuk secara diam-diam. Akar-akar tanah akan merusak pipa dan gudan

  • Cincin Keramat: Semakin Berdosa, Semakin Perkasa   Chapter 20

    Brakkk!Pyaar…“Anj-ing!”Suroto melempar ponselnya ke dinding hingga pecah berantakan. Ruangan gudang pupuk terasa pengap oleh amarahnya yang membara. Sudah ketiga kalinya Bu Lurah menolak bertemu dengannya dengan alasan “ada keperluan mendadak”.“Apa-apaan ini?! Alasan teruss!!” raung Suroto sendirian. “Perempuan sialan itu, berani main-main sama aku sekarang?!”Dia kembali menelepon lagi dengan nomor dan ponsel cadangan. Kali ini Bu Lurah mengangkat, suaranya terdengar agak gugup.“Ha… haloo?”“Bu Lurah, di mana kamu sekarang? Aku ingin bertemu dan bercinta, jangan beri alasan!” Suroto bertanya dengan keras karena sudah kesal.“Mas… Mas Suroto, maaf. Aku , aku lagi ada urusan keluarga. Besok saja, ya?” kata Bu Lurah pelan saat Suroto bertanya.“Urusan keluarga? Sudah tiga kali kau ngomong kayak gitu! Kau pikir aku ini bodoh, ha? Kau mulai berubah ya, sekarang? Jangan coba-coba main belakang sama aku, Bu. Aku bisa saja menghancurkan suamimu dan juga hidupmu dalam sekejap. Jabatan lu

  • Cincin Keramat: Semakin Berdosa, Semakin Perkasa   Chapter 19

    Beberapa hari setelah kejadian malam yang menguatkan itu, desa mulai merasakan angin segar yang lama tak dirasakan. Yoga secara diam-diam menyalurkan beberapa karung pupuk yang dia ambil dari gudang Suroto melalui jaringan akar tanahnya. Dia sebarkan pupuk-pupuk ke petani-petani yang paling membutuhkan, tanpa meninggalkan jejak yang jelas. Warga yang semula kesulitan mulai bisa menanam lagi dengan pupuk yang cukup, dan yang pasti ini membuat mereka bahagia.Pagi itu, di lapangan desa yang biasa digunakan untuk tawar-menawar, Yoga berdiri di tengah kerumunan warga. Dia mengumumkan dengan suara tegas, tapi tetap terlihat tenang.“Aku, Yoga Prakasa, berjanji akan menerima hasil panen kalian semua. Berapa pun jumlahnya, aku terima. Aku akan jual ke kota dengan harga yang adil, sesuai dengan harga pasar. Tidak ada pemotongan besar, tidak akan ada tekanan. Kalian cukup bawa ke sini, aku yang akan urus sisanya.”Mendengar itu, warga saling pandang. Ada yang ragu, tapi ada juga yang langsung

  • Cincin Keramat: Semakin Berdosa, Semakin Perkasa   Chapter 18

    Bulan-bulan ini memang sedang musim hujan, jadi tiap hari-hari pun turun hujan sudah biasa. Seperti malam ini, hujan deras kembali turun, seolah langit ikut mendukung kekacauan yang terjadi di desa. Suara rintik-rintik hujan yang memukul keras atap rumah Yoga menciptakan irama monoton yang mencekam.Yoga sendirian duduk di tepi tempat tidur, tubuhnya terasa panas, nafasnya juga berat. “Karma Hitam” sudah mencapai angka yang berbahaya, 72. Hasrat yang menyiksa sejak kemarin-kemarin terus muncul dan semakin sulit dikendalikan.Tok tok tokTiba-tiba pintu kamarnya diketuk seseorang dengan pelan, seperti takut ketahuan jika suaranya sampai terdengar keluar. Padahal ibunya Yoga sedang berada di rumah saudaranya yang di desa sebelah. “Ha, siapa?” Yoga bertanya penuh curiga.“Mas Yoga, ini aku.”Yoga terkejut, itu suara Bu Lurah. Terdengar lembut dari balik pintu, seperti genderang yang ditabuh didekat telinganya.Yoga menutup mata sejenak. Dia sadar bahwa ini tidak benar, seharusnya dia ju

  • Cincin Keramat: Semakin Berdosa, Semakin Perkasa   Chapter 17

    Beberapa minggu sudah berlalu sejak Yoga mulai beraksi diam-diam. Desa tetap terlihat tenang seperti biasanya, tapi di balik itu, ketegangan justru semakin membara. Suroto masih terus menyelidiki “petani pemberani” yang berani menjual hasil panen ke kota. Anak buahnya tersebar di mana-mana untuk mencari informasi, sementara Pak Lurah dipaksa menjadi alat untuk ikut menangani masalahnya.Yoga sendiri semakin kesulitan mengendalikan “Karma Hitam” yang semakin kuat dan sulit dikendalikan. Setiap malam dia tersiksa oleh hasrat yang kadangkala datang tiba-tiba. Bahkan Yoga sering melatih kekuatannya di belakang rumah, tapi setiap kali menggunakan kekuatan, rasa lapar itu juga semakin kuat.Suatu siang, saat Yoga sedang pergi membeli obat Ibunya ke klinik desa, dia bertemu dengan Bidan Rina untuk pertama kalinya.Saat itu Rina sedang memeriksa seorang balita ketika Yoga masuk. Gadis itu mendongak, dan matanya langsung melebar saat melihat pria tinggi kekar dengan aura tenang yang berbeda.“

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status