LOGINPagi datang dengan kabut tipis yang menyelimuti kebun singkong. Yoga mengerang pelan, matanya terbuka perlahan. Dia duduk tegak di tanah yang kini sedikit lebih lembab, menggelengkan kepala. Rasa sakit yang semalam seperti mau membunuhnya, ternyata sudah hilang. Tak ada lagi rasa nyeri di rusuk, tak ada luka di wajah, tak ada darah kering yang lengket.
Yoga mengangkat tangan kanannya, dan Cincin besi hitam itu kini menyatu sempurna di jari tengahnya, seolah sudah menjadi bagian dari dagingnya. Kulit di sekitarnya juga sedikit memerah, tapi tidak sakit. “A… apa yang terjadi semalam?” gumamnya serak. Saat itu, sebuah visi singkat menyergap benaknya lagi. *** [Ding] [Kisah Leluhur.] Yoga melihat seorang pria berpakaian kuno warna hitam, seperti zaman Belanda, berdiri di tengah sawah yang subur. Namanya Raden Singgih, kakek buyut Yoga Prakasa. Di jarinya terpasang cincin yang sama, cincin yang kini ada di jari tengahnya. Dengan satu sentuhan, pria itu membuat tanah gersang di sekitarnya menjadi hijau dalam hitungan detik. Akar-akar muncul dari tanah, menyeret musuh-musuhnya ke dalam lumpur. Naga bayangan muncul dari punggungnya saat dia sedang marah. Tapi di balik kekuatan itu, ada kegelapan yang tidak bisa dihindarkan. Raden Singgih dikhianati saudaranya sendiri karena iri. Cincin ini bukan hanya warisan, cincin itu adalah “Darah Singkong”, perpaduan kekuatan tanah yang memberi kehidupan dan darah naga yang haus akan dominasi. Setiap pewaris yang memakainya semakin kuat, tapi juga semakin haus kekuasaan, nafsu, dan darah. Banyak leluhur Yoga yang mati muda, gila, atau dibunuh karena cincin ini. “Jangan biarkan nafsu menguasaimu… atau kau akan berakhir seperti kami,” bisik suara Raden Singgih sebelum visi menghilang. Setelah itu, Yoga menggigil. Dia bangkit berdiri dan merasakan tubuhnya yang ringan, penuh tenaga, seperti habis tidur seminggu penuh. Dia memandang kebun yang rusak di sekitarnya, lalu mencoba sesuatu yang gila. Dia meraih satu batang singkong yang tebal dengan tangan kanan dan menariknya. Batang itu patah begitu saja seperti ranting kering. Krek “Gila!" Yoga terbelalak. Dia sendiri belum benar-benar paham, tapi dia tahu satu hal, dia tidak lagi orang yang sama seperti semalam. *** Sementara itu, di sebuah rumah kontrakan yang cukup sederhana di pinggir desa, suasana masih panas meski pagi sudah mulai terang. Rumah itu sebenarnya milik Pak Lurah, tapi sudah lama dikontrak oleh salah satu anak buah kepercayaan Suroto. Kebetulan anak buah tersebut sedang bertugas menjaga toko material bangunan milik Suroto di desa sebelah, jadi rumah kontrakan ini kosong dan aman untuk digunakan Suroto. Di dalam kamar utama, Suroto sedang menindih Bu Lurah di atas tempat tidur kayu yang sudah reyot. Dia kembali menggerakkan pinggulnya dengan kuat dan lambat, menikmati setiap desahan perempuan di bawahnya. “Ahh… Mas Suroto… pagi-pagi gini,” erang Bu Lurah, kakinya melingkar di pinggang Suroto. Payudaranya yang besar bergoyang-goyang mengikuti ritme. “Kenapa, hmm? Kamu takut suamimu itu curiga? Tenang saja, dia juga lagi sibuk di kantor desa, nggak berani macem-macem.” Suroto tersenyum sombong sambil meremas pinggul Bu Lurah dengan sedikit kasar. Pria itu mempercepat gerakannya, suara benturan kulit memenuhi kamar kecil itu. Bu Lurah menggigit bahu Suroto untuk menahan jeritannya. “Mas… enak… lebih enak dari suamiku, eghh…” “Heh, tentu saja. Aku bukan cuma pengusaha material terbesar di sini, tapi tokoku sudah merambah ke tiga desa sebelah. Pejabat kecamatan? Semua makan dariku. Preman-preman kecil di luar sana? Mereka juga kerja buat aku. Si Yoga brengsek itu? Pasti sudah mati semalam, jadi nggak ada yang berani lawan aku.” Suroto tertawa rendah. “Mas… pelan-pelan… nanti tetangga denger.” Bu Lurah mendesah semakin keras, tubuhnya melengkung kenikmatan. “Siapa yang berani bergosip?” Suroto menekan lebih dalam. “Aku yang kuasai desa ini. Dan kamu, milikku kapan pun aku mau.” Mereka pun terus bergumul dengan nafsu yang masih membara, tidak tahu bahwa mangsa mereka semalam sudah bangkit dengan kekuatan yang jauh lebih mengerikan. *** Di tempat lain, Yoga berjalan pulang menuju rumah ibunya yang sederhana di ujung desa. Langkahnya terasa ringan, karena tenaganya melimpah. Semalam seharusnya dia sudah mati, tapi pagi ini dia merasa seperti harimau yang baru terbangun. Kreat… Dia membuka pintu rumah kayu yang sudah reyot. Bau obat-obatan dan masakan sederhana menyambutnya. “Bu, ibu?” panggil Yoga pelan. Ibunya, seorang wanita tua yang sudah sakit-sakitan sejak ditinggal mati suaminya, keluar dari kamar dengan wajah pucat. Matanya melebar melihat anaknya yang tampak sehat dan bugar. “Yoga? Kamu… kamu nggak apa-apa, nak? Ibu kangen, akhirnya kamu pulang juga dengan sehat.” Air mata bahagia, berkumpul di depan mata wanita tua tersebut. Yoga pun merasa bersalah karena meninggalkan ibunya, dan pergi ke kota. Tapi sekarang, dia sudah kembali. Dia akan menjadi sandaran ibunya, memperbaiki keadaan yang sudah hampir hancur seperti ini. Dan yang paling penting, dia juga mendapatkan kekuatan baru yang sudah seharusnya dirahasiakan.Sore ini Yoga berdiri di atas bukit kecil di pinggir desa saat matahari mulai terbenam, sendirian. Angin sore berhembus tenang, membawa bau tanah basah bercampur daun singkong. Dari tempat ini, dia bisa melihat seluruh desa dengan jelas, termasuk gudang pupuk rahasia Suroto yang kini dijaga lebih ketat daripada kemarin-kemarin.“Hmm… Karma Hitam sudah 82,” gumam Yoga pelan sambil mengepalkan tangan.Sekarang, cincin besi hitam di jarinya terasa semakin panas. Setiap hari hasrat dan amarahnya semakin sulit dikendalikan, membuat dirinya merasakan kesakitan karena tidak tersalurkan. Tapi dia juga tahu, untuk mengalahkan Suroto, dia harus tetap taktis. Bukan sekadar garang tanpa ada rencana apapun.Malam ini, dia berencana menyabotase gudang pupuk lagi. Tapi yang pasti, kali ini dengan cara yang lebih cerdas. Dia tidak akan menyerang secara langsung, dia akan menggunakan “Cengkeraman Akar” untuk merusak saluran distribusi pupuk secara diam-diam. Akar-akar tanah akan merusak pipa dan gudan
Brakkk!Pyaar…“Anj-ing!”Suroto melempar ponselnya ke dinding hingga pecah berantakan. Ruangan gudang pupuk terasa pengap oleh amarahnya yang membara. Sudah ketiga kalinya Bu Lurah menolak bertemu dengannya dengan alasan “ada keperluan mendadak”.“Apa-apaan ini?! Alasan teruss!!” raung Suroto sendirian. “Perempuan sialan itu, berani main-main sama aku sekarang?!”Dia kembali menelepon lagi dengan nomor dan ponsel cadangan. Kali ini Bu Lurah mengangkat, suaranya terdengar agak gugup.“Ha… haloo?”“Bu Lurah, di mana kamu sekarang? Aku ingin bertemu dan bercinta, jangan beri alasan!” Suroto bertanya dengan keras karena sudah kesal.“Mas… Mas Suroto, maaf. Aku , aku lagi ada urusan keluarga. Besok saja, ya?” kata Bu Lurah pelan saat Suroto bertanya.“Urusan keluarga? Sudah tiga kali kau ngomong kayak gitu! Kau pikir aku ini bodoh, ha? Kau mulai berubah ya, sekarang? Jangan coba-coba main belakang sama aku, Bu. Aku bisa saja menghancurkan suamimu dan juga hidupmu dalam sekejap. Jabatan lu
Beberapa hari setelah kejadian malam yang menguatkan itu, desa mulai merasakan angin segar yang lama tak dirasakan. Yoga secara diam-diam menyalurkan beberapa karung pupuk yang dia ambil dari gudang Suroto melalui jaringan akar tanahnya. Dia sebarkan pupuk-pupuk ke petani-petani yang paling membutuhkan, tanpa meninggalkan jejak yang jelas. Warga yang semula kesulitan mulai bisa menanam lagi dengan pupuk yang cukup, dan yang pasti ini membuat mereka bahagia.Pagi itu, di lapangan desa yang biasa digunakan untuk tawar-menawar, Yoga berdiri di tengah kerumunan warga. Dia mengumumkan dengan suara tegas, tapi tetap terlihat tenang.“Aku, Yoga Prakasa, berjanji akan menerima hasil panen kalian semua. Berapa pun jumlahnya, aku terima. Aku akan jual ke kota dengan harga yang adil, sesuai dengan harga pasar. Tidak ada pemotongan besar, tidak akan ada tekanan. Kalian cukup bawa ke sini, aku yang akan urus sisanya.”Mendengar itu, warga saling pandang. Ada yang ragu, tapi ada juga yang langsung
Bulan-bulan ini memang sedang musim hujan, jadi tiap hari-hari pun turun hujan sudah biasa. Seperti malam ini, hujan deras kembali turun, seolah langit ikut mendukung kekacauan yang terjadi di desa. Suara rintik-rintik hujan yang memukul keras atap rumah Yoga menciptakan irama monoton yang mencekam.Yoga sendirian duduk di tepi tempat tidur, tubuhnya terasa panas, nafasnya juga berat. “Karma Hitam” sudah mencapai angka yang berbahaya, 72. Hasrat yang menyiksa sejak kemarin-kemarin terus muncul dan semakin sulit dikendalikan.Tok tok tokTiba-tiba pintu kamarnya diketuk seseorang dengan pelan, seperti takut ketahuan jika suaranya sampai terdengar keluar. Padahal ibunya Yoga sedang berada di rumah saudaranya yang di desa sebelah. “Ha, siapa?” Yoga bertanya penuh curiga.“Mas Yoga, ini aku.”Yoga terkejut, itu suara Bu Lurah. Terdengar lembut dari balik pintu, seperti genderang yang ditabuh didekat telinganya.Yoga menutup mata sejenak. Dia sadar bahwa ini tidak benar, seharusnya dia ju
Beberapa minggu sudah berlalu sejak Yoga mulai beraksi diam-diam. Desa tetap terlihat tenang seperti biasanya, tapi di balik itu, ketegangan justru semakin membara. Suroto masih terus menyelidiki “petani pemberani” yang berani menjual hasil panen ke kota. Anak buahnya tersebar di mana-mana untuk mencari informasi, sementara Pak Lurah dipaksa menjadi alat untuk ikut menangani masalahnya.Yoga sendiri semakin kesulitan mengendalikan “Karma Hitam” yang semakin kuat dan sulit dikendalikan. Setiap malam dia tersiksa oleh hasrat yang kadangkala datang tiba-tiba. Bahkan Yoga sering melatih kekuatannya di belakang rumah, tapi setiap kali menggunakan kekuatan, rasa lapar itu juga semakin kuat.Suatu siang, saat Yoga sedang pergi membeli obat Ibunya ke klinik desa, dia bertemu dengan Bidan Rina untuk pertama kalinya.Saat itu Rina sedang memeriksa seorang balita ketika Yoga masuk. Gadis itu mendongak, dan matanya langsung melebar saat melihat pria tinggi kekar dengan aura tenang yang berbeda.“
“Br3ngsek!”Brakk!Pyaar…Suroto menghantam meja kerjanya dengan keras hingga gelas kopi terjatuh dan pecah berhamburan. Wajahnya merah padam karena marah, urat-urat di lehernya menonjol. Di hadapannya, ada tiga anak buah kepercayaannya berdiri dengan kepala menunduk, tubuh mereka masih memar-memar akibat dihajar Yoga beberapa malam lalu.“Siapa yang sudah berani-beraninya main di belakangku, ha?!” raung Suroto, suaranya menggelegar di ruangan gudang pupuk yang pengap.“Hasil panen desa ini dijual ke kota tanpa lewat tanganku seperti biasanya, siapa? Harga yang aku tentukan dilangkahi begitu saja? Kalian bertiga kenapa bego semua ya?! Sial…” Suroto masih ngamuk sementara anak buahnya hanya menunduk takut.Setelah puas berteriak dan menghancurkan beberapa barang untuk melampiaskan amarah, akhirnya salah satu anak buahnya, Jumadi, menjawab dengan suara gemetar.“Kami sudah selidiki, Bos. Katanya ada petani yang berani jual langsung ke tengkulak kota. Barangnya muncul tiba-tiba di lapang







