Share

Chapter 4

last update publish date: 2026-06-08 19:39:53

Yoga sedang duduk di belakang rumah, di bawah pohon mangga kecil yang daunnya sudah menguning. Matahari pagi menyinar langsung ke wajahnya yang kini tak lagi memar. Lalu tatapannya beralih ke cincin besi hitam di jari tengahnya dengan tatapan campur aduk antara kagum, tapi juga was-was.

Tiba-tiba, terdengar suara dingin dan mekanis bergema di dalam kepalanya.

[Ding]

[Darah Singkong System : Level 1]

**Host : Yoga Prakasa

**Strength : 32 (+15)

**Vitality : 48 (+28)

**Regeneration : 65

**Karma Hitam : 12

**Skill Aktif : 0

*Regenerasi Tanah (Lv.1) : Luka ringan hingga berat sembuh dengan cepat selama bersentuhan dengan tanah atau tanaman. Konsumsi stamina rendah.

*Kekuatan Singkong (Terkunci) : Kekuatan fisik dasar meningkat drastis. Dapat mematahkan benda keras dengan tangan kosong.

**Skill Tersembunyi (Belum Terbuka) :

*Cengkeraman Akar

*Aura Kesuburan

*Naga Tanah Bangkit (Mode Transformasi, Membutuhkan Level 3 & Karma Hitam tinggi)

**Quest Utama : Hancurkan Preman Desa (0/1)

**Peringatan : Semakin tinggi Karma Hitam, semakin kuat efek samping nafsu dan amarah. Jangan biarkan Darah Naga menguasai.

[Ding]

Yoga mengusap wajahnya kasar saat mendengar peringatan terakhir dari sistem, yang pastinya tidak pernah diduganya sama sekali.

“Jadi ini sistemnya… kayak game, tapi nyata. Kalau misal aku pakai kekuatan ini terlalu sering, Karma Hitam akan naik. Apa artinya?”

Karena penasaran, akhirnya Yoga mencoba mengaktifkan “Regenerasi Tanah” dengan sederhana. Dia pun meletakkan telapak tangan di tanah, dan tanpa diduga, dia pun merasakan aliran hangat naik ke tubuhnya.

Ada yang lebih tak terduga lagi, rumput-rumput di sekitar tangannya tumbuh sedikit lebih hijau dalam hitungan detik. Kekuatan barunya ini masih harus disembunyikan dengan baik, bahkan juga ibunya agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.

“Kekuatan ini sepertinya, enak. Terlalu enak malah. Tapi aku harus berhati-hati,” gumamnya.

***

Di kebun singkong keluarga Yoga, ada tiga preman suruhan Suroto yang sedang berjalan sambil ngobrol santai. Ketiganya adalah orang-orang kepercayaan Suroto.

Ada Jumadi, seorang pria yang paling besar, lalu ada Cacing, pria berbadan kurus tapi licik, dan satu lagi namanya, Budi, paling muda dan pemarah.

“Pak Suroto suruh kita kesini dan pura-pura nemuin mayat si Yoga, hahaha… Katanya biar orang desa pada takut dan tahu siapa yang berani lawan Bos, pasti mampus!” kata Jumadi sambil tertawa.

“Ya, bos kan emang hebat!" Sahut Budi sambil tersenyum miring.

Akhirnya mereka sampai di lokasi perkelahian semalam, tanah kering masih berantakan, juga ada bekas darah kering. Tapi tidak ada mayat, tidak ada orang yang tergeletak sama sekali.

“Eh, kok nggak ada? Mana mayatnya?” Cacing menggaruk kepala.

“Semalam, Bos Suroto bilang dia sudah koit. Aku juga lihat sendiri dia diinjek-injek, dari kejauhan.” Sahut Budi yang memang berjaga-jaga di tempat jauh.

Bug dug

Budi pun menendang-nendang tanah, tidak percaya jika mayat Yoga sudah ditelan bumi.

“Mungkin dibawa anjing liar atau… dia belum mati dan merangkak pergi. Ayo kita cari sekitar sini!” Jumadi memberikan instruksi.

Ketiganya berkeliling kebun, terus mencari-cari hampir setengah jam. Tapi tidak ada apa-apa selain tanah yang agak basah dan beberapa batang singkong yang juga patah.

“Gila, kek demit. Ini aneh,” kata Jumadi.

“Kita lapor Bos aja,” usul Cacing dan diangguki kedua temannya.

***

Di rumah kontrakan, Suroto baru saja selesai mandi. Bu Lurah sudah pulang diam-diam tadi pagi, takut kepergok orang lain. Sekarang, pria itu sedang duduk di teras sambil merokok ketika tiga anak buahnya datang dengan wajah bingung.

“Bos,” sapa Jumadi sambil menunduk. “Kami sudah ke kebun, buat periksa. Tapi di sana nggak ada mayat si Yoga. Bahkan bekas darahnya juga udah agak kering dan… tanah di situ aneh, kayak lebih subur gitu, Bos.”

“Apa kamu bilang? Kalian bertiga bercanda ya, ha? Aku sendiri yang nendang kepalanya sampai retak, dia nggak mungkin masih hidup.” Suroto mengerutkan kening, tak percaya.

“Benar, Bos. Kami sudah cari berkeliling. Kosong, tidak ada orang.” Cacing mengangguk cepat.

Suroto membuang rokoknya dengan kasar. Wajahnya mengeras, tidak percaya dengan laporan anak buahnya. Dia berpikir jika mereka hanya membual.

“Gak mungkin, anak itu pasti udah mati. Mungkin kalian salah tempat, atau… dia sempat merangkak dan mati di tempat lain. Kalau gitu kita ke rumah ibunya, sekarang! Aku mau lihat sendiri. Kalau dia masih hidup, berarti ada yang aneh.”

Tanpa banyak bicara lagi, mereka berempat bergegas naik motor menuju rumah Yoga.

Sementara di rumahnya, Yoga sedang membantu ibunya menjemur pakaian ketika mendengar suara motor meraung dan berhenti di depan rumah. Dia pun keluar dan melihat Suroto turun dari motor besarnya, diikuti tiga preman anak buahnya.

Mata Suroto terbelalak sesaat, saat melihat Yoga berdiri tegak tanpa luka sedikitpun. Wajahnya yang semalam babak belur kini terlihat bersih, bahkan tubuhnya terlihat lebih kuat.

“Ka… kamu?” suara Suroto tertahan. “Gimana bisa?”

“Kenapa, Pak Suroto? Kaget lihat aku masih hidup?” Yoga tersenyum tipis, tapi sorot matanya menatap dingin.

Bahkan Jumadi dan yang lain langsung tegang, tangan mereka mendekati pinggang masing-masing untuk mencari senjata. Mereka seperti sedang waspada, menghadapi sesuatu yang lebih besar dan kuat.

Suroto melangkah maju, mencoba menguasai situasi. Tidak ingin terlihat lemah, apalagi hanya dengan Yoga. Pemuda miskin yang selalu diremehkan.

“Kamu kan, seharusnya sudah mati semalam. Aku yang pastiin sendiri. Kamu… kamu ngapain disini?” Pertanyaan Suroto terdengar ragu.

“Mungkin alam masih sayang sama aku. Atau… kamu yang nggak cukup kuat buat bunuh orang seperti aku.” Yoga tersenyum tipis, meremehkan seorang Suroto.

Melihat Yoga menampilkan wajah meremehkan, amarah terlihat jelas di wajah Suroto. Dia pun melirik cincin hitam di jari Yoga sekilas, tapi tidak terlalu peduli dan memperhatikan.

“Kamu beruntung hari ini, brengsek! Tapi jangan pernah mengira jika aku akan lupa. Desa ini milikku, toko materialku yang ngasih makan orang-orang di sini. Bahkan pejabat di kecamatan makan dari tanganku. Huh, kamu cuma satu orang. Beraninya mau lawan aku, cari mati!”

Tapi Yoga hanya diam, sedangkan cincin di jarinya berdenyut hangat. Dia bisa merasakan kekuatan baru mengalir di dalam tubuhnya, siap dilepaskan kapan saja.

Cuih!

“Kita pergi! Awas kau, Yoga!” Suroto meludah ke tanah.

Grong grong!

Mereka pun pergi dengan suara motor yang meraung, sedangkan Yoga berdiri di depan rumah, menatap punggung mereka yang menjauh.

Di dalam kepalanya, sistem kembali berbunyi pelan.

[Ding]

**Karma Hitam : +3

**Quest Utama : Hancurkan Preman Desa (1/1 – Target utama teridentifikasi)

[Ding]

Yoga membuang nafas panjang dengan mengepalkan tangan, geram.

“Iya, ini memang belum selesai.”

Udara Desa mulai merasakan getaran aneh, seperti ketakutan. Kabar bahwa Yoga selamat dan terlihat sehat walafiat setelah dihajar Suroto, menyebar cepat. Sementara itu, kekuatan baru yang masih disembunyikan Yoga mulai berdenyut, menunggu saat yang tepat untuk meledak.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Cincin Keramat: Semakin Berdosa, Semakin Perkasa   Chapter 20

    Brakkk!Pyaar…“Anj-ing!”Suroto melempar ponselnya ke dinding hingga pecah berantakan. Ruangan gudang pupuk terasa pengap oleh amarahnya yang membara. Sudah ketiga kalinya Bu Lurah menolak bertemu dengannya dengan alasan “ada keperluan mendadak”.“Apa-apaan ini?! Alasan teruss!!” raung Suroto sendirian. “Perempuan sialan itu, berani main-main sama aku sekarang?!”Dia kembali menelepon lagi dengan nomor dan ponsel cadangan. Kali ini Bu Lurah mengangkat, suaranya terdengar agak gugup.“Ha… haloo?”“Bu Lurah, di mana kamu sekarang? Aku ingin bertemu dan bercinta, jangan beri alasan!” Suroto bertanya dengan keras karena sudah kesal.“Mas… Mas Suroto, maaf. Aku , aku lagi ada urusan keluarga. Besok saja, ya?” kata Bu Lurah pelan saat Suroto bertanya.“Urusan keluarga? Sudah tiga kali kau ngomong kayak gitu! Kau pikir aku ini bodoh, ha? Kau mulai berubah ya, sekarang? Jangan coba-coba main belakang sama aku, Bu. Aku bisa saja menghancurkan suamimu dan juga hidupmu dalam sekejap. Jabatan lu

  • Cincin Keramat: Semakin Berdosa, Semakin Perkasa   Chapter 19

    Beberapa hari setelah kejadian malam yang menguatkan itu, desa mulai merasakan angin segar yang lama tak dirasakan. Yoga secara diam-diam menyalurkan beberapa karung pupuk yang dia ambil dari gudang Suroto melalui jaringan akar tanahnya. Dia sebarkan pupuk-pupuk ke petani-petani yang paling membutuhkan, tanpa meninggalkan jejak yang jelas. Warga yang semula kesulitan mulai bisa menanam lagi dengan pupuk yang cukup, dan yang pasti ini membuat mereka bahagia.Pagi itu, di lapangan desa yang biasa digunakan untuk tawar-menawar, Yoga berdiri di tengah kerumunan warga. Dia mengumumkan dengan suara tegas, tapi tetap terlihat tenang.“Aku, Yoga Prakasa, berjanji akan menerima hasil panen kalian semua. Berapa pun jumlahnya, aku terima. Aku akan jual ke kota dengan harga yang adil, sesuai dengan harga pasar. Tidak ada pemotongan besar, tidak akan ada tekanan. Kalian cukup bawa ke sini, aku yang akan urus sisanya.”Mendengar itu, warga saling pandang. Ada yang ragu, tapi ada juga yang langsung

  • Cincin Keramat: Semakin Berdosa, Semakin Perkasa   Chapter 18

    Bulan-bulan ini memang sedang musim hujan, jadi tiap hari-hari pun turun hujan sudah biasa. Seperti malam ini, hujan deras kembali turun, seolah langit ikut mendukung kekacauan yang terjadi di desa. Suara rintik-rintik hujan yang memukul keras atap rumah Yoga menciptakan irama monoton yang mencekam.Yoga sendirian duduk di tepi tempat tidur, tubuhnya terasa panas, nafasnya juga berat. “Karma Hitam” sudah mencapai angka yang berbahaya, 72. Hasrat yang menyiksa sejak kemarin-kemarin terus muncul dan semakin sulit dikendalikan.Tok tok tokTiba-tiba pintu kamarnya diketuk seseorang dengan pelan, seperti takut ketahuan jika suaranya sampai terdengar keluar. Padahal ibunya Yoga sedang berada di rumah saudaranya yang di desa sebelah. “Ha, siapa?” Yoga bertanya penuh curiga.“Mas Yoga, ini aku.”Yoga terkejut, itu suara Bu Lurah. Terdengar lembut dari balik pintu, seperti genderang yang ditabuh didekat telinganya.Yoga menutup mata sejenak. Dia sadar bahwa ini tidak benar, seharusnya dia ju

  • Cincin Keramat: Semakin Berdosa, Semakin Perkasa   Chapter 17

    Beberapa minggu sudah berlalu sejak Yoga mulai beraksi diam-diam. Desa tetap terlihat tenang seperti biasanya, tapi di balik itu, ketegangan justru semakin membara. Suroto masih terus menyelidiki “petani pemberani” yang berani menjual hasil panen ke kota. Anak buahnya tersebar di mana-mana untuk mencari informasi, sementara Pak Lurah dipaksa menjadi alat untuk ikut menangani masalahnya.Yoga sendiri semakin kesulitan mengendalikan “Karma Hitam” yang semakin kuat dan sulit dikendalikan. Setiap malam dia tersiksa oleh hasrat yang kadangkala datang tiba-tiba. Bahkan Yoga sering melatih kekuatannya di belakang rumah, tapi setiap kali menggunakan kekuatan, rasa lapar itu juga semakin kuat.Suatu siang, saat Yoga sedang pergi membeli obat Ibunya ke klinik desa, dia bertemu dengan Bidan Rina untuk pertama kalinya.Saat itu Rina sedang memeriksa seorang balita ketika Yoga masuk. Gadis itu mendongak, dan matanya langsung melebar saat melihat pria tinggi kekar dengan aura tenang yang berbeda.“

  • Cincin Keramat: Semakin Berdosa, Semakin Perkasa   Chapter 16

    “Br3ngsek!”Brakk!Pyaar…Suroto menghantam meja kerjanya dengan keras hingga gelas kopi terjatuh dan pecah berhamburan. Wajahnya merah padam karena marah, urat-urat di lehernya menonjol. Di hadapannya, ada tiga anak buah kepercayaannya berdiri dengan kepala menunduk, tubuh mereka masih memar-memar akibat dihajar Yoga beberapa malam lalu.“Siapa yang sudah berani-beraninya main di belakangku, ha?!” raung Suroto, suaranya menggelegar di ruangan gudang pupuk yang pengap.“Hasil panen desa ini dijual ke kota tanpa lewat tanganku seperti biasanya, siapa? Harga yang aku tentukan dilangkahi begitu saja? Kalian bertiga kenapa bego semua ya?! Sial…” Suroto masih ngamuk sementara anak buahnya hanya menunduk takut.Setelah puas berteriak dan menghancurkan beberapa barang untuk melampiaskan amarah, akhirnya salah satu anak buahnya, Jumadi, menjawab dengan suara gemetar.“Kami sudah selidiki, Bos. Katanya ada petani yang berani jual langsung ke tengkulak kota. Barangnya muncul tiba-tiba di lapang

  • Cincin Keramat: Semakin Berdosa, Semakin Perkasa   Chapter 15

    “Egh… Yoga…” erang Bu Lurah yang sudah bergerak seperti cacing.“Hah?!” Yoga justru tersentak lalu melepaskan tubuh Bu Lurah.“Eh, kenapa?” tanya Bu Lurah yang kebingungan, sebab berekspektasi tinggi. Tapi Yoga diam saja, kemudian pergi meninggalkan Bu Lurah. Pria muda itu justru berbalik kemudian berjalan cepat menuju kamarnya sendiri, meninggalkan Lurah yang kebingungan kemudian berjalan dengan gugup ke ruang tamu.Tak lama, Bu Lurah pamit pada ibunya Yoga. Berterima kasih juga karena sudah diizinkan menumpang ke kamar mandi.“Aku pamit dulu Bu, cepat membaik ya.”“Terima kasih, Bu Lurah. Hati-hati, hujan belum reda.” Ibunya Yoga tersenyum canggung karena merasa merepotkan istrinya pak lurah tersebut. Setelah Bu Lurah pamit, ibunya Yoga juga pergi ke kamarnya sendiri untuk istirahat. Sementara Yoga memutuskan untuk bertindak malam ini. Ada hasil panen yang dia ambil diam-diam dari lapangan desa waktu itu, masih tersimpan di gudang tua keluarganya. Gudang yang lama tak terpakai, te

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status