MasukSontak, Rea terdiam. Air matanya juga berhenti mendadak mendengar kalimat yang barusan. Dengan mata yang masih sembab, dia sekali lagi memberanikan diri untuk mendongak. Menatap mata atasannya.
“M-maksud Bapak?”
“Jadi pasangan saya,” ulang Rumi sekali lagi dengan senang hati.
Rea mengerjap. Tangannya naik menyentuh kedua kupingnya. Memastikan dua organ itu masih menempel di sana, dan dia tidak salah dengar.
“Maaf. Maksud Bapak pasangan itu…. seperti bos dan karyawan?”
Rumi menggeleng kecil. “Pasangan. Laki-laki dan perempuan.”
Sebuah rumor lama tentang Rumi langsung melintas di kepala Rea. Ia terkekeh pelan. Dia memang lemah dalam hal menahan tawa saat ada hal-hal yang menurutnya lucu.
Dulu, pernah beredar kabar bahwa pria itu menyukai sesama jenis. Tentu saja Rea tidak tahu apakah rumor itu benar atau hanya gosip karyawan. Namun, kalau dipikir-pikir….
Jangan-jangan tawaran ini ada hubungannya dengan rumor tersebut?
Mungkin Rumi ingin menutupinya dengan memiliki seorang pasangan perempuan. Atau mungkin dia sedang menghadapi masalah tertentu yang tidak diketahui Rea.
Rea diam-diam mengamati pria di hadapannya. Namun, semakin dipikirkan, semakin aneh rasanya.
Kalau memang itu alasannya, kenapa harus dirinya?
Rea buru-buru mengalihkan pikirannya. Dia tidak mungkin menanyakan hal seperti itu kepada atasannya. Lagi pula, itu bukan urusannya.
Yang jelas, dia tetap merasa tawaran ini terlalu tidak masuk akal.
“Kalau Bapak butuh pasangan, saya rasa Bapak salah orang.” Rea mengelak sebisanya. “Saya ini cuma pekerja biasa, bahkan hanya cleaning service. Tawaran ini rasanya tidak rasional.”
“Justru karena kamu cleaning service. Itu berarti kamu butuh uang, kan?”
Rea tercengang. Dia memang butuh uang. Sangat butuh. Untuk makan, membayar utang UKT-nya, dan bertahan hidup. Tapi tetap saja….
“Butuh, Pak. Tap....”
Rumi memotong kalimat itu sambil menatapnya tenang. “Nah, kalau kamu bersedia menjadi pasangan saya, saya bisa menaikkan gajimu menjadi tiga puluh lima juta sebulan. Di luar bonus.”
Rea langsung membelalakkan mata.
‘Tiga puluh lima juta sebulan…. Belum lagi kalau ada bonus?’
Jumlah itu lebih dari cukup untuk bertahan hidup di kota ini sekaligus menyisihkan uang untuk satu tujuan yang selama ini dia simpan dalam hati.
Menebus kembali hotel kecil milik keluarganya.
Dulu, orang tuanya memiliki sebuah boutique hotel di kota asal mereka. Namun, saat Rea masih SMA, kedua orang tuanya mengalami kecelakaan dan bisnis mereka ikut terpuruk hingga dinyatakan pailit.
Demi menyelamatkan hotel itu, Rea terpaksa menjualnya kepada sahabat ayahnya dengan satu harapan, suatu hari nanti dia bisa membelinya kembali.
Dan sekarang, tawaran Rumi mungkin bisa mempercepat impiannya.
Tapi Rea masih menatap pria itu penuh kecurigaan. Tawaran tiga puluh lima juta sebulan memang menggiurkan, tetapi dia tidak sebodoh itu untuk percaya begitu saja.
Namun, kalau dipikir-pikir lagi, seharusnya dia tidak perlu terlalu khawatir. Kalau rumor tentang Rumi memang benar, pria itu tidak mungkin benar-benar tertarik kepadanya. Jadi, selama dia menjalankan perannya sebagai pasangan kontrak, seharusnya tidak akan ada masalah.
Rea pun sedikit lebih tenang.
“Kalau begitu... tugas saya apa saja, Pak?”
Rumi menatapnya sejenak.
“Bukankah Bapak bilang saya harus jadi pasangan Bapak?” Rea bertanya ragu. “Jadi... apa saya harus benar-benar pacaran sama Bapak?”
“Memangnya kamu mau?” Rumi tersenyum tipis.
“Bukan begitu!” Rea buru-buru menggeleng. Ia langsung merasa salah bicara. “Saya hanya ingin tahu pekerjaan saya.”
Rumi mundur mengambil sesuatu dari atas meja, lalu berjalan menuju sofa.
“Pokoknya, kamu tinggal mengikuti apa yang saya katakan,” jawab Rumi santai. “Kamu juga tidak perlu bekerja di sini lagi.”
Rea langsung menatapnya.
“Tidak perlu bekerja di sini lagi?”
“Baca dulu kontraknya,” ujar Rumi sambil memberikan satu map ke arah Rea.
Rea menerima map itu dan mulai membaca kontrak. Poin pertama berisi kewajibannya untuk mengikuti arahan Rumi, sementara poin kedua mengharuskannya mendampingi Rumi dalam berbagai acara sebagai pasangan.
Tidak ada yang sulit. Rea hanya perlu menuruti perkataan Rumi dan sesekali ikut menghadiri acara bersamanya.
Namun, saat membaca poin ketiga, Rea mulai lebih serius. Kontrak itu bisa dihentikan jika kinerjanya dianggap tidak memuaskan. Rea langsung bertekad akan melakukan pekerjaannya sebaik mungkin. Dengan gaji tiga puluh lima juta sebulan, dia tidak boleh sampai gagal.
Baru saja hendak melanjutkan membaca, mata Rea berhenti di poin keempat.
“Sebentar...” Rea mengerutkan kening.
Rumi yang duduk di sofa menoleh. “Kenapa?”
Rea mengangkat wajahnya. “Saya juga harus menjadi babysitter? Buat anak … Bapak?”
“Iya,” jawab Rumi singkat, seolah tidak ada yang aneh.
Rea membeku.
‘Anak? Tunggu dulu. Kalau Rumi punya anak, berarti…’
Pikiran Rea langsung melayang pada rumor itu. Jangan-jangan rumor tersebut salah?
Kalau sampai salah, lalu selama ini Rumi ternyata benar-benar menyukai perempuan?
Rea mulai panik. Jangan-jangan semua asumsi yang membuatnya merasa aman tadi hanya kebohongan belaka. Kalau begitu, dia bisa dalam bahaya.
Atau, bagaimana kalau ternyata Rumi punya istri dan dia malah diminta menjadi pasangan sekaligus simpanannya?
Rea spontan menutup dadanya dengan kedua tangan, lalu menatap Rumi dengan wajah waspada. “Berarti... Bapak punya istri, dong? Bapak mau jadiin saya simpanan?”
Melihat Rea seperti itu, Rumi menghela napas berat. “Itu bukan urusan kamu. Kamu hanya perlu mengikuti perintah saya dan melakukan tugasmu dengan baik. Selama kamu menjalankan kontrak, saya bisa menjamin keamananmu. Tidak akan ada yang mengganggumu.”
Rea terdiam.
Benar juga. Apa urusannya dengan kehidupan pribadi Rumi? Dia punya anak, istri, atau apa pun itu, bukan masalahnya.
Lagipula, di dalam kontrak juga sudah jelas tertulis tidak akan ada sentuhan yang tidak perlu. Seharusnya dia aman.
Ya sudah. Yang penting dia bekerja, mendapatkan uang, lalu menabung untuk menebus kembali hotel keluarganya.
Rea akhirnya mengangguk.
“Baiklah. Saya setuju. Pulpen Pak,” pinta Rea menengadahkan tangan kanannya tak sadar.
Rumi berdecak pelan melihat perubahan gadis itu, lalu memberikan pulpen yang dia keluarkan dari saku celananya.
Rea menandatangani semua kolom namanya, lalu diikuti pria itu mengisi semua bagiannya. Di ujungnya, mereka bahkan berdiri untuk saling berjabat. Merayakan kata sepakat.
Dua ayunan tegas, sebelum Rea memutuskan untuk pamit. Tapi genggaman itu tidak kunjung dilepaskan oleh Rumi.
“Mau kemana kamu?” tanya pria itu menahannya.
“Pulang. Shift saya udah habis, Pak. Dari tadi,” jelas Rea polos.
“Sebagai cleaning service? Ya. Tapi sebagai pasanganku, belum.”
“M-maksudnya Pak?” tanya Rea memiringkan kepalanya.
“Kamu menandatangani kontrak tanpa melihat tanggal yang tertera di sana?” Rumi sedikit melotot.
Rea sontak mengutuk dirinya sendiri. Bagi gadis yang kekurangan uang itu, satu-satunya angka yang perlu dia perhatikan di kertas tadi hanyalah nominal gaji yang akan dia dapat.
Dia tidak memperhatikan kapan kontrak itu mulai berlaku.
Setelah reflek memekik keras, jantung Rea berdentum habis-habisan. Kepalanya langsung dipenuhi berbagai tuduhan. Apa pria itu sengaja? Apa pria itu punya niat yang nggak-nggak? Dan kemungkinan-kemungkinan lainnya.Terlebih pria itu butuh beberapa detik sebelum ia tersadar dan memalingkan badannya.“Maaf.” Suaranya terdengar bersalah dan hendak menutup pintu kembali. “Saya pikir kamu….”Di samping rasa kesalnya, otak gadis itu tiba-tiba berpacu. Sambil menggigit bibirnya, sesuatu terlintas.Mustahil baginya menggunakan baju itu tanpa bantuan orang lain. Tangannya sudah pegal mencoba menaikkan resleting sejak tadi, tapi gagal berulang kali.“Tunggu!” seru Rea menghentikan langkah bosnya itu, dengan wajah memerah menahan malu. “B-boleh minta tolong nggak Pak?”Rumi tidak bergerak. Dia fokus mendengar.“Dari tadi aku susah menggapai resletingnya. Boleh to….”“Kamu yakin saya boleh menoleh?” tanya pria itu memotong kalimat Rea.Gadis itu mengangguk kecil yang kemudian sadar kalau Rumi bah
“Mulai hari ini banget ya Pak kontraknya? Eh emang Bapak butuh pasangan apa jam segini?” tanya Rea was-was, mengingat ini sudah nyaris senja, ditambah informasi baru bahwa kemungkinan besar bosnya tidak gay karena memiliki anak.Lagi-lagi Rumi menghela napasnya kasar. “Malam ini ada undangan pernikahan rekan bisnis yang perlu saya hadiri. Kamu harus dampingin saya.”Entah sudah berapa kali hari ini Rea tersentak. Tidak cukup dia kaget karena mendapat tugas secepat itu, tapi fakta kalau dia harus menghadiri sebuah pesta langsung membuatnya syok.‘Mau pakai baju apa aku?’ tanyanya pada diri sendiri, sambil menunduk cepat melihat sepatu bututnya. Converse yang entah sudah berumur berapa tahun itu.“Pak….” kalimat Rea tertahan. Dia memilih menatap pria itu terlebih dahulu sebelum melanjutkan kalimat bingungnya. “Pakai baju seperti ini?”Pria itu sontak menatap Rea dari atas sampai bawah sambil berpikir sejenak.“Ikut aku.” Rumi melepaskan genggamannya lalu mulai berjalan ke arah pintu.“K
Sontak, Rea terdiam. Air matanya juga berhenti mendadak mendengar kalimat yang barusan. Dengan mata yang masih sembab, dia sekali lagi memberanikan diri untuk mendongak. Menatap mata atasannya.“M-maksud Bapak?”“Jadi pasangan saya,” ulang Rumi sekali lagi dengan senang hati.Rea mengerjap. Tangannya naik menyentuh kedua kupingnya. Memastikan dua organ itu masih menempel di sana, dan dia tidak salah dengar.“Maaf. Maksud Bapak pasangan itu…. seperti bos dan karyawan?”Rumi menggeleng kecil. “Pasangan. Laki-laki dan perempuan.”Sebuah rumor lama tentang Rumi langsung melintas di kepala Rea. Ia terkekeh pelan. Dia memang lemah dalam hal menahan tawa saat ada hal-hal yang menurutnya lucu.Dulu, pernah beredar kabar bahwa pria itu menyukai sesama jenis. Tentu saja Rea tidak tahu apakah rumor itu benar atau hanya gosip karyawan. Namun, kalau dipikir-pikir….Jangan-jangan tawaran ini ada hubungannya dengan rumor tersebut?Mungkin Rumi ingin menutupinya dengan memiliki seorang pasangan perem
Rea hampir memekik kalau saja Bara tidak sedang berdiri di depannya. Dia reflek menoleh ke samping, menatap pria yang entah siapa, tapi berdiri begitu dekat, dengan sebelah lengannya melingkar santai di bahu gadis itu.Rea mengerjap. Matanya membulat. Kata-kata sanggahan sudah nyaris terlontar, tapi telapak tangan pria itu lebih dulu turun mengusap pelan punggungnya. Sapuan yang panjang dan tenang, membuat Rea menegang mendadak. Pria itu bahkan membalas tatapan Rea dengan alis terangkat diikuti sebuah anggukan kecil.Saat itulah Rea menangkap maksudnya. Kalau dia hanya perlu mengikuti sandiwara apapun ini.“O-oh aku hampir lupa, M-mas. Tadi tim cleaning kurang personil. Jadi aku bantuin aja sekalian,” ucap Rea sedikit terbata. Tidak lupa menarik sedikit senyum pada siapapun orang yang tengah menyentuhnya itu.Sedang di hadapan mereka, raut Bara ikut berubah. Tatapannya berpindah antara Rea dan pria baru yang merangkul gadis itu. Kerutan di dahinya muncul, menyiratkan rasa tidak perca
“Nah, kalau ini ballroom utama kami. Lebih besar dari yang tadi, dengan gaya European classic. Bapak Ibu perlu melakukan reservasi kurang lebih dua tahun sebelumnya kalau memilih yang ini.”Rea reflek menganga sedikit sambil berbalik mencari arah suara itu. Tidak jauh dari tempatnya berdiri, tiga orang masuk beriringan ke dalam ballroom. Dari pakaian dan papan nama di blazernya, ia tebak salah satu dari mereka adalah seorang banquet manager. Seseorang yang bertanggung jawab mengelola acara-acara yang akan diadakan di hotel tersebut.Tidak berhenti hanya mengecek asal suara, Rea bahkan ikut mendengarkan penjelasan wanita itu dari jarak yang tidak terlalu jauh. Kebetulan dia sedang berdiri tepat di samping pintu masuk, dengan plastik sampah hitam besar di genggamannya.Matanya naik menatap chandelier megah di tengah ruangan yang sedang menjadi objek penjelasan. Dia tidak berkedip melihat betapa indahnya lampu itu.“Woooow.…” bisiknya pelan. Spontan.Rea bertanya-tanya mengapa dia baru m







