MasukKalau Kakak udah baca bab 1-6 dari awal sebelum bab 7 tayang, kalian perlu baca ulang dari bab 1 ya, karena ada beberapa part yang aku revisi♡
Ding..Ding..Ding..Ding ding ding ding…“Rrrgh…”Tangan Rea terselip keluar dari dalam selimut katun, menjangkau benda kecil di samping bantalnya. Benda yang entah sudah bunyi berapa kali sejak tadi.Gadis itu memang tidak begitu mahir bangun pagi. Suara alarm pun sering kali gagal bangunin dia. Tapi pagi ini, siapa sangka Rea bisa terbangun hanya karena suara pemberitahuan-pemberitahuan. Mungkin karena tidak biasa benda tipis miliknya itu seberisik ini.Susah payah dia buka mata untuk mengintip layar di genggamannya. Ada beberapa di sana, tapi yang berhasil membuatnya menyibak selimut dan terduduk tegak adalah notif dari satu nama yang sekarang dia takuti.[Saya tunggu kamu di rumah jam 8 teng.][Saya tidak suka orang yang telat!!!]Rea menyipitkan mata menghitung ada berapa banyak tanda seru yang pria itu sisipkan.“Tiga pentungan? Berlebihan banget,” gumam gadis itu berat sambil mengucek-ucek matanya.Sontak, perutnya terasa tergelitik seraya ingatannya kembali ke pesta semalam. K
“Yuk, Mas. Kita sapa yang lain.” Rea menarik pelan pria yang masih tertawa kecil itu, menjauh. Ke satu sudut ruangan. Sejauh mungkin dari artis sinetron kesayangan Ibu Kota tadi. “Pak, maaf banget saya kelepasan. Saya paling nggak bisa nahan diri kalau digituin,” bisik Rea terlihat panik. Dia bahkan menggigit pelan bibirnya karena gugup. Tapi dia bingung bagaimana Rumi masih belum usai dengan tawa tipisnya. “Tidak-tidak. Tidak apa-apa. Itu lucu. Ooooh… akhirnya seseorang mengatakan sesuatu tentang botox Fiona,” sanggah pria berdasi maroon tersebut. Berusaha sekuat mungkin menahan dirinya untuk tidak terbahak besar. “Bagaimanapun juga Beliau mantan istri Bapak. Saya jadi nggak enak sudah lancang menyinggung seperti tadi,” ucapnya pelan. “Tapi omongan dia keterlaluan Pak. Saya selalu gampang ikut campur kalau mendengar hal-hal seperti itu.” Rumi melihat wajah Rea benar-benar kalang kabut. “Mantan. Tidak masalah buat saya,” tegasnya meyakinkan. “Tapi saya takut kalimat saya tadi b
Rumi sontak mundur dan berbalik seolah tidak terjadi apa-apa.“Kalian dengar kata-kata itu dari mana lagi?” tanya pria itu sambil berjalan ke arah pintu, dan langsung berjongkok, membuka kedua tangannya lebar-lebar yang langsung ditabrak oleh dua anak tadi tanpa ragu.“Dari Miss. Pas HPnya diletakin ke meja, Desta lihat ada foto dia dipeluk orang,” ucap anak lelaki tersebut.“Oh ya?”“Uhum.. Kata Miss, itu pacarnya,” tambah anak itu lagi.“Miss bilang gitu?”“Iya. Tanya aja sama Dista. Iya kan Dis?”Gadis kecil yang ternyata bernama Dista itu tidak menjawab. Fokusnya sudah beralih menatap Rea yang berdiri di belakang Rumi, canggung secanggung-canggungnya.Tak lama, dia melepaskan diri dari pelukan Papanya, lalu berjalan menghampiri Rea dengan langkah-langkah pendek. Matanya kagum.“Waaah…,” gumamnya kecil. “Princess.”Anak itu berhenti tepat di depan Rea. Ia lalu mengulurkan satu tangan kecilnya mengusap pelan gaun beludru halus tersebut, sedang tangan lainnya memegang boneka Barbie.“
Setelah mandi dan makeup seadanya, Rea terduduk di lantai. Putus asa di depan sebuah cermin raksasa dan beberapa pakaian yang tidak berhasil dia gunakan.Gadis itu sudah siap untuk menyerah saat matanya menangkap pantulan gaun merah di belakang. Sebelum beranjak, dia berdoa pada Tuhan, untuk gaun itu harus muat bagaimanapun juga.Dan Tuhan mengabulkan doanya. Tapi…."Kamu sudah selesai?"Suara berat itu datang bersamaan dengan bunyi pintu yang terbuka. Membuat Rea mengangkat kepalanya, menatap pantulan seseorang dari cermin dan membeku. Tangannya tengah dalam posisi berusaha menggapai resleting di belakangnya.“Bapak!!!!”Rumi sudah terlanjur berdiri di sana. Di ambang pintu. Menatap punggungnya yang masih terekspos begitu saja.Setelah reflek memekik keras, jantung Rea berdentum habis-habisan. Kepalanya langsung dipenuhi berbagai tuduhan. Apa pria itu sengaja? Apa pria itu punya niat yang nggak-nggak?Terlebih Rumi butuh beberapa detik sebelum ia tersadar dan memalingkan badannya.“Ma
Sontak, Rea terdiam. Air matanya juga berhenti mendadak mendengar kalimat yang barusan. Dengan mata yang masih sembab, dia sekali lagi memberanikan diri untuk mendongak. Menatap mata atasannya.“M-maksud Bapak?”“Jadi pasangan saya,” ulang Rumi sekali lagi dengan senang hati.Rea mengerjap. Tangannya naik menyentuh kedua kupingnya. Memastikan dua organ itu masih menempel di sana, dan dia tidak salah dengar.“Maaf. Maksud Bapak pasangan itu…. seperti bos dan karyawan?”Rumi menggeleng kecil. “Pasangan. Laki-laki dan perempuan.”Sebuah rumor lama tentang Rumi langsung melintas di kepala Rea.Dulu, pernah beredar kabar bahwa pria itu menyukai sesama jenis. Tentu saja Rea tidak tahu apakah rumor itu benar atau hanya gosip belaka. Namun, kalau dipikir-pikir….Ia jadi curiga jangan-jangan tawaran ini ada hubungannya dengan rumor tersebut?Mungkin Rumi ingin menutupi isu itu dengan memiliki seorang pasangan perempuan. Atau mungkin dia sedang menghadapi masalah tertentu yang tidak diketahui Re
Kepala Rea yang seharusnya berangsur plong, kembali panik.Apakah kejadian barusan akan membuatnya dapat surat peringatan atau bahkan dirumahkan? Bulu-bulunya merinding.Rea menggelengkan kepalanya sedikit keras. Berharap gerakan itu bisa turut menghempaskan pikiran-pikiran buruk yang tiba-tiba membanjirinya.Tapi sadar kerjaannya masih banyak, Rea mengesampingkan kekhawatiran itu terlebih dahulu. Gadis itu berujung menghabiskan waktu kurang lebih sekian jam untuk membersihkan ballroom dan lobby yang memang hari itu menjadi tanggung jawab timnya.Setelah beres, dia langsung mengarah ke housekeeping department. Bersiap ganti baju dan pulang.“Rea?” panggil seseorang yang mendatanginya.“Iya Mbak?” sahut Rea melihat supervisornya itu. Bertanya-tanya apakah ada tugas tambahan untuknya.“Kamu ikut saya dulu ya. Saya baru terima telepon kalau kamu harus ke lantai management,” tutur wanita berseragam sama dengan Rea itu. Beda warna saja.Rea langsung teringat dengan kalimat pria tadi yang me







