LOGIN"Tidak!" Rosalia menggelengkan kepalanya berkali-kali. "Dia tidak mungkin tahu jika aku adalah kekasih Mattiash." matanya tertuju pada kotak perhiasan di atas meja riasnya. Kesalahannya adalah meninggalkan kalung dengan liontin pemberian kakeknya, Rosalia menyadari jika Steven menyalahkan Rosemary karena dia yang paling sering mengenakan kalung dan liontin tersebut dan tentu saja untuk memakainya dia harus mengiba pada Rosemary. Sekarang, dia sudah membuat duplikat yang serupa, sama persis. Dia akan mengenakannya di kencan berikutnya agar kecurigaan Steven terhadapnya kembali runtuh. Sikap tenang Steven membuatnya sadar akan kata-kata Hilda, jika Steven terlihat aneh. Rosalia mengutuki dirinya yang begitu bodoh karena bisa terjebak kembali di dalam hubungan bersama orang yang seharusnya tidak boleh dia dekati kembali. "Aku tidak peduli dengan ancaman Rosy dan Damian, yang paling utama adalah keselamatanku. Steven harus kembali percaya jika Rosemary adalah mantannya Mattiash." rac
Siang hari yang berada di luar dugaan bagi Rosemary maupun Rosalia, keduanya tanpa sengaja bertemu di pusat perbelanjaan.Rosemary dengan perutnya belum begitu besar sedang menghabiskan waktu dengan mencari perlengkapan untuk calon buah hatinya di saat Damian sedang rapat dan tidak dapat dia ganggu. Sementara Rosalia sedang mencari hadiah untuk ulang tahun Steven."Lama tidak bertemu, Rosa." sapa Rosemary dengan nada ramah. Rosalia berusaha tersenyum meskipun ada rasa canggung di dalam dirinya mendengar sapaan Rosemary. "Apa kabarmu?" Rosemary kembali bersuara."Aku baik, bagaimana denganmu?" balas Rosalia sambil menenangkan perasaannya"Aku? sehat, bahagia dan apakah kamu sudah memberitahu Steven hal yang sebenarnya terjadi Rosa?"Rosalia menggigit bibir bawahnya, tentu saja dia belum mengatakan hal yang sebenarnya kepada Steven. "Rosy, aku-""Selama mantanmu itu tidak mengganggu kehidupanku, aku tidak akan mengganggumu Rosa. Aku sedang hamil, baik aku, Damian dan juga Adam. tidak
"Apa kamu tidak merasa aneh, Rosa?" Rosalia mengabaikan pertanyaan Hilda, dia tahu jika Hilda sedang cemburu. Steven yang kembali menjalin hubungan dengannya telah memberikan hubungan yang dia inginkan. Hubungan yang pernah dia cemburui saat melihat betapa lembut dan perhatiannya Damian terhadap Rosemary. "Aku tahu kamu cemburu Hilda." Hilda menghembuskan asap rokok dari bibirnya, dia memang cemburu, sangat cemburu, tetapi kali ini bukan hanya rasa cemburu, ada rasa curiga dengan sikap Steven Hill yang tiba-tiba berubah tidak lagi mengejar Rosemary sebagai target balas dendam. Dia telah mencoba menghapus memori tentang Rosemary di dalam ingatan Steven Hill saat pria itu terbaring koma dan pada akhirnya pria itu mengingat kembali sosok Rosemary bahkan kembali mengatur rencana balas dendamnya. Pertanda hipnotis yang telah dia lakukan gagal. Pria yang begitu ingin menghancurkan seseorang, tiba-tiba melupakan tujuan hidupnya dan bersikap normal bahkan cenderung manis serta perhatia
Rosalia memejamkan matanya, dia baru saja pulang dari kencannya bersama Steven. Perlakuan Steven membuatnya merasa dimabuk cinta, tidak seperti dulu di mana kegiatan mereka lebih banyak dihabiskan dengan bercinta. Kali ini semua kata-kata Hilda terbantahkan, Steven tidak mencari kehangatan tubuhnya. Pria itu bahkan hanya memberikan ciuman selamat malam karena Rosalia harus bekerja keesokan harinya. Semua berjalan begitu lambat dan manis seperti keinginannya jika suatu saat dia kembali menjalin cinta. Dada Rosalia menjadi berdebar-debar dengan sikap manis Steven yang lembut dan penuh perhatian, pria itu juga tidak lagi bicara tentang Rosemary yang membuat dirinya semakin merasa tenang. Tidak ada lagi tatapan penuh dendam si mata Steven, yang dia lihat hanyalah tatap teduh yang membuatnya semakin merasa kali ini mereka berada di hubungan yang benar. Steven berusaha mencintai dirinya dengan perlahan, tetapi pasti begitu juga dengan dirinya. Bukan lagi cinta cinta dipenuhi dengan na
"Steve?" Rosalia segera memayungi tubuh Steven yang basah di bawa guyuran hujan. Wajah pria itu tampak pucat, rambut-rambut kasar tampak tumbuh tidak terawat di wajah Steven. "Apa yang harus aku lakukan, Rosa?" Raut wajah Rosalia tampak bingung melihat penampilan dan mendengar suara parau pria itu. Tanpa ragu dia segera membawa Steven menuju kamar apartemennya. Dia segera membawakan jubah mandi agar pria itu dapat berganti pakaian untuk sementara dan merasa hangat setelah terguyur oleh air hujan, Rosalia segera mengeringkan pakaian basah Steven pada mesin pengering pakaian. Jantungnya berdebar cepat, Steven telah rapi kembali. Wajahnya terlihat bersih setelah bercukur dan tanpa sadar Rosalia memperhatikan tubuh Steven yang terpahat indah, dulu dia tidak begitu memperhatikan Steven. "Sebenarnya ada apa? Kenapa kamu menangis?" Steven menghela nafasnya. "Aku tidak bisa berpisah denganmu, hidupku menjadi kacau sejak kita berpisah. Aku sudah selesai dengan dendam ku terhadap Ros
Hantaman benda keras hampir menghancurkan tempurung kepala Ella, melihat hasil pemeriksaan dan penjelasan dari dokter membuat tubuh Steven terasa dingin. Di dalam pikirannya, Damian Reeves berusaha membungkam Ella sebagai satu-satunya orang yang mengenal wajah dari kekasih Mattiash. Dia masih menduga jika Rosemary adalah kekasih Mattiash. Sulit baginya untuk membayangkan Rosalia yang memiliki sikap lemah lembut mampu melukai seseorang, ditambah Rosalia juga tidak memiliki seseorang yang bisa diandalkan."Biarkan aku yang menjaga bibi, anda bisa pulang terlebih dahulu."Steven menganggukkan kepalanya. "Apa kamu sama sekali tidak mengenal atau pernah melihat kekasih Mattiash. "Gery terdiam, dia tidak yakin apakah dia dapat mengatakan jika dia pernah melihat kekasih majikan bibinya atau dia diam demi menutupi kesalahannya. Steven menatap tajam ke arah Gery yang terlihat bimbang. "Aku hanya ingin tahu apa kamu pernah melihat perempuan itu atau tidak? Aku tidak akan menghukummu. "Mat
"Masuklah!" perintah Rosemary dengan suara lembutnya. "Sepertinya kalian harus membersihkan kasurnya dulu, apa kita ada alatnya atau kita harus mengganti kasurnya?"Kedua pelayan tersebut saling beradu pandang melihat ke arah tempat tidur yang tampak kacau. Mereka sudah terbiasa membersi
"Sepertinya aku salah waktu." ucap Adam yang duduk santai di sofa abu-abu pada penthouse tempat di mana Damian dan Rosemary tinggal.Matanya melirik ke arah pelayan yang terlihat membawa gaun berwarna merah, tentu saja dia tahu apa yang telah terjadi di penthouse ini semalam atau tadi p
Sensasi dingin segera menjalar pada tubuh Rosemary, berlanjut sensasi hangat saat lidah Damian menyapu dinginnya es krim."Damn- Ah!" desahnya saat Damian kembali mengoleskan ice cream pada pangkal pahanya, sensasi dingin yang dari sendok yang terus bergerak menuju area sensitifnya.
Kehidupan baru.Rosalia menghirup udara Brighton, kota yang sudah tidak asing lagi baginya karena dia sudah terlalu sering menghabiskan waktu di Brighton meskipun demikian masih banyak sisi kota Brighton yang belum dia jelajahi.Tetap saja dia akan memulai kehidupan barunya, kali ini dia akan menja







