LOGIN"Hilda, apa kamu berada di Brighton? Steven mengajakku kencan di atas kapal dan dia mengijinkan aku membawa teman."Hilda mengerutkan keningnya saat mendengar suara Rosalia. Dia memang masih berada di Brighton untuk mengurus kepindahannya ke luar negeri, dia ingin menolak ajakan Rosalia dan dapat dikatakan jika dia merasa kecewa dengan keputusan Rosalia yang kembali kepada Steven Hill.Hilda merasa, bantuan yang diberikan selama ini untuk Rosalia menjadi sia-sia. Pada akhirnya Rosalia kembali terjebak di dalam hubungannya bersama Steven Hill, meskipun gadis itu tahu Steven adalah sosok yang berbahaya. Terakhir, untuk terakhir kalinya dia akan memenuhi permohonan Rosalia sebelum pergi menjauh dan melupakan perasaan sayangnya untuk Rosalia. Hilda memutuskan dengan pergi jauh dari Rosalia agar tidak terlihat lebih jauh lagi dengan hubungan Rosalia dan Steven. ***Steven tersenyum tipis, senyuman yang terlihat manis namun menyimpan sejuta makna. Umpan yang diberikan kepada Rosalia ditan
"Tidak!" Rosalia menggelengkan kepalanya berkali-kali. "Dia tidak mungkin tahu jika aku adalah kekasih Mattiash." matanya tertuju pada kotak perhiasan di atas meja riasnya. Kesalahannya adalah meninggalkan kalung dengan liontin pemberian kakeknya, Rosalia menyadari jika Steven menyalahkan Rosemary karena dia yang paling sering mengenakan kalung dan liontin tersebut dan tentu saja untuk memakainya dia harus mengiba pada Rosemary. Sekarang, dia sudah membuat duplikat yang serupa, sama persis. Dia akan mengenakannya di kencan berikutnya agar kecurigaan Steven terhadapnya kembali runtuh. Sikap tenang Steven membuatnya sadar akan kata-kata Hilda, jika Steven terlihat aneh. Rosalia mengutuki dirinya yang begitu bodoh karena bisa terjebak kembali di dalam hubungan bersama orang yang seharusnya tidak boleh dia dekati kembali. "Aku tidak peduli dengan ancaman Rosy dan Damian, yang paling utama adalah keselamatanku. Steven harus kembali percaya jika Rosemary adalah mantannya Mattiash." rac
Siang hari yang berada di luar dugaan bagi Rosemary maupun Rosalia, keduanya tanpa sengaja bertemu di pusat perbelanjaan.Rosemary dengan perutnya belum begitu besar sedang menghabiskan waktu dengan mencari perlengkapan untuk calon buah hatinya di saat Damian sedang rapat dan tidak dapat dia ganggu. Sementara Rosalia sedang mencari hadiah untuk ulang tahun Steven."Lama tidak bertemu, Rosa." sapa Rosemary dengan nada ramah. Rosalia berusaha tersenyum meskipun ada rasa canggung di dalam dirinya mendengar sapaan Rosemary. "Apa kabarmu?" Rosemary kembali bersuara."Aku baik, bagaimana denganmu?" balas Rosalia sambil menenangkan perasaannya"Aku? sehat, bahagia dan apakah kamu sudah memberitahu Steven hal yang sebenarnya terjadi Rosa?"Rosalia menggigit bibir bawahnya, tentu saja dia belum mengatakan hal yang sebenarnya kepada Steven. "Rosy, aku-""Selama mantanmu itu tidak mengganggu kehidupanku, aku tidak akan mengganggumu Rosa. Aku sedang hamil, baik aku, Damian dan juga Adam. tidak
"Apa kamu tidak merasa aneh, Rosa?" Rosalia mengabaikan pertanyaan Hilda, dia tahu jika Hilda sedang cemburu. Steven yang kembali menjalin hubungan dengannya telah memberikan hubungan yang dia inginkan. Hubungan yang pernah dia cemburui saat melihat betapa lembut dan perhatiannya Damian terhadap Rosemary. "Aku tahu kamu cemburu Hilda." Hilda menghembuskan asap rokok dari bibirnya, dia memang cemburu, sangat cemburu, tetapi kali ini bukan hanya rasa cemburu, ada rasa curiga dengan sikap Steven Hill yang tiba-tiba berubah tidak lagi mengejar Rosemary sebagai target balas dendam. Dia telah mencoba menghapus memori tentang Rosemary di dalam ingatan Steven Hill saat pria itu terbaring koma dan pada akhirnya pria itu mengingat kembali sosok Rosemary bahkan kembali mengatur rencana balas dendamnya. Pertanda hipnotis yang telah dia lakukan gagal. Pria yang begitu ingin menghancurkan seseorang, tiba-tiba melupakan tujuan hidupnya dan bersikap normal bahkan cenderung manis serta perhatia
Rosalia memejamkan matanya, dia baru saja pulang dari kencannya bersama Steven. Perlakuan Steven membuatnya merasa dimabuk cinta, tidak seperti dulu di mana kegiatan mereka lebih banyak dihabiskan dengan bercinta. Kali ini semua kata-kata Hilda terbantahkan, Steven tidak mencari kehangatan tubuhnya. Pria itu bahkan hanya memberikan ciuman selamat malam karena Rosalia harus bekerja keesokan harinya. Semua berjalan begitu lambat dan manis seperti keinginannya jika suatu saat dia kembali menjalin cinta. Dada Rosalia menjadi berdebar-debar dengan sikap manis Steven yang lembut dan penuh perhatian, pria itu juga tidak lagi bicara tentang Rosemary yang membuat dirinya semakin merasa tenang. Tidak ada lagi tatapan penuh dendam si mata Steven, yang dia lihat hanyalah tatap teduh yang membuatnya semakin merasa kali ini mereka berada di hubungan yang benar. Steven berusaha mencintai dirinya dengan perlahan, tetapi pasti begitu juga dengan dirinya. Bukan lagi cinta cinta dipenuhi dengan na
"Steve?" Rosalia segera memayungi tubuh Steven yang basah di bawa guyuran hujan. Wajah pria itu tampak pucat, rambut-rambut kasar tampak tumbuh tidak terawat di wajah Steven. "Apa yang harus aku lakukan, Rosa?" Raut wajah Rosalia tampak bingung melihat penampilan dan mendengar suara parau pria itu. Tanpa ragu dia segera membawa Steven menuju kamar apartemennya. Dia segera membawakan jubah mandi agar pria itu dapat berganti pakaian untuk sementara dan merasa hangat setelah terguyur oleh air hujan, Rosalia segera mengeringkan pakaian basah Steven pada mesin pengering pakaian. Jantungnya berdebar cepat, Steven telah rapi kembali. Wajahnya terlihat bersih setelah bercukur dan tanpa sadar Rosalia memperhatikan tubuh Steven yang terpahat indah, dulu dia tidak begitu memperhatikan Steven. "Sebenarnya ada apa? Kenapa kamu menangis?" Steven menghela nafasnya. "Aku tidak bisa berpisah denganmu, hidupku menjadi kacau sejak kita berpisah. Aku sudah selesai dengan dendam ku terhadap Ros
"Apa kalian sudah berkenalan dengan pacarnya Rosalia?"Pertanyaan Susanna di saa
Aroma kopi dan roti yang baru saja selesai dipanggang tidak juga membuat Rosalia merasa tenang, di hadapannya ada Hilda yang sedang menikmati kopi dan cake vanilla dengan wajah penuh kebahagiaan."Jadi Steven sudah resmi menjadi kekasihmu?"Pertanyaan Hilda membuat Rosemaru
Resah, seperti itulah perasaan Rosalia saat ini, bahkan waktu terasa berjalan begitu lambat. Makan malam yang berada di luar dugaannya, karena ada Steven yang ikut duduk bersama dirinya dan keluarganya."Rosalia masih terlalu muda untuk berada di dalam hubungan yang serius."Suara t
Steven mengepalkan tangannya saat melihat kemesraan antara Rosemary dan Damian, mereka berdua bergandengan tangan, tertawa bahagia sambil memilih roti dan semua dilakukan di tanah tempat Mattiash bersemayam.Ingin rasanya dia menyeret Rosemary untuk berlutut di atas makam pria yang menderi







