MasukEdric tersenyum. "Jadi singkatnya, kemungkinan mataku nggak bisa melihat lagi memang lebih besar."Kalau menjalani operasi, ada kemungkinan dia akan kehilangan penglihatannya. Kalau tidak menjalani operasi, beberapa bulan kemudian dia juga mungkin akan kehilangan penglihatannya.Dokter asing itu mengangguk.Jari Edric mengetuk pelan permukaan meja. Setelah berpikir selama dua detik, dia berkata, "Kalau begitu, lakukan operasinya."Dokter asing itu melirik ke arah orang di sampingnya, lalu berkata, "Apa kamu ingin menghubungi keluargamu terlebih dahulu untuk membicarakan hal ini?"Edric menggeleng sambil tersenyum tipis. "Dia sangat sibuk. Aku nggak ingin dia mengkhawatirkanku. Lagi pula, aku percaya pada pacarku. Dia nggak akan meninggalkanku hanya karena operasinya gagal."Dokter asing itu mengacungkan jempol. "Benar-benar wanita yang luar biasa. Aku sudah melihat terlalu banyak pasangan, baik yang masih pacaran maupun yang sudah menikah, semuanya saling meninggalkan saat musibah data
"Kamu akan baik-baik saja, Florence, kamu pasti akan baik-baik saja."Suara Harris belum pernah selembut ini. Ucapannya begitu lirih. Entah kata-kata itu sedang dia ucapkan untuk Florence atau untuk menghibur dirinya sendiri.Florence sudah tidak memiliki tenaga. Kesadarannya mengambang antara sadar dan tidak. Namun, rasa anyir di mulutnya serta rasa sakit yang menjalar ke seluruh tubuh terus-menerus menyeretnya kembali ke kenyataan."Cari cara! Cari cara untuk sembuhkan dia!" Harris berteriak kepada para dokter keluarga di sampingnya.Salah seorang dokter maju dengan tubuh gemetar."Pak Harris, kondisi Bu Florence saat ini sangat dipengaruhi oleh emosinya. Kalaupun diberi obat, itu hanya mengatasi gejalanya, bukan akar masalah.""Lagi pula, setiap obat pasti memiliki efek samping. Dengan kondisi tubuh Bu Florence sekarang, kalau terus diberi obat, organ tubuh lainnya juga mungkin akan terdampak.""Memberinya obat sekarang sama saja seperti meminum racun untuk menghilangkan dahaga.""P
Devan mencibir. "Terus, aku harus gimana? Berlutut memohon supaya dia jangan pergi?"Namun menurutnya, Scarlett sudah benar-benar bulat dengan keputusannya. Kalaupun dia berlutut memohon agar Scarlett tidak pergi, kemungkinan besar Scarlett tetap tidak akan mendengarkannya. Yang ada, Scarlett justru akan makin memandang rendah dirinya."Kakak belajar saja dari dia." Pamela berkata santai. "Dulu waktu Kakak bersikap sedingin itu padanya, dia tetap berusaha cari cara supaya bisa tetap berada di sisi Kakak.""Kakak dan Scarlett punya fondasi hubungan selama bertahun-tahun. Nggak seperti aku dan Mavin."Saat mengatakan itu, Pamela merasa sedikit menyesal. Kalau dulu hubungannya dengan Scarlett lebih baik, mungkin Scarlett akan mengenalkannya kepada Mavin, sehingga dia tidak akan kalah telak seperti sekarang.Namun menurutnya, apa yang dikatakan Scarlett juga benar. Mavin tidak menyukainya. Kalaupun mereka benar-benar bersama, dia hanya akan menjadi Scarlett yang kedua.Lagi pula, dia mende
Di Grup Laksmana.Setelah Vivian dicopot dari jabatannya, proyek yang selama ini ditanganinya langsung menjalani investigasi besar-besaran. Di dalam proyek itu sendiri juga dilakukan perombakan besar terhadap susunan internal.Seluruh anggota tim proyek diliputi rasa cemas. Mereka semua tahu bahwa Vivian dan Devan hampir bertunangan, jadi tak seorang pun menyangka Devan akan bertindak setegas itu terhadapnya.Yang paling ketakutan tentu saja Kenny, karena dialah yang selama ini berhubungan langsung dengan Vivian.Dalam kepanikan, Kenny mengakui semuanya tanpa menyembunyikan apa pun, termasuk bagaimana dulu Vivian memerintahkannya memanfaatkan hubungannya dengan Melati untuk mendapatkan gambar desain UME, serta bagaimana dia menggunakan opini publik dan menghubungi media lebih dulu untuk mencemarkan nama baik UME.Saat ini, di ruang presdir Grup Laksmana, Devan menatap berkas hasil penyelidikan yang dibawa Fadil. Wajahnya sedingin es.Dia mengembuskan napas panjang, lalu menyerahkan kem
Scarlett menduga Edric-lah yang telah membantu mengurus semuanya. Dia pun menceritakan kepada Henry bahwa dirinya sempat meminta bantuan Edric."Sepertinya bukan jebakan."Mendengar itu, Henry akhirnya merasa sedikit lega."Kalau begitu, kita langsung tanda tangani kontraknya."Setelah mendapat persetujuan dari Tiffany dan Lydia, Scarlett membawa Sheriff kembali ke vila kecilnya.Penerbangan Edric dijadwalkan pada siang hari. Scarlett sebenarnya ingin mengambil cuti untuk mengantarnya ke bandara, tetapi Edric menolak.Scarlett pun tidak memaksa lagi.Lagi pula, dia hanya pergi dinas selama setengah bulan. Selama itu mereka masih bisa melakukan panggilan video, jadi tidak harus selalu bersama setiap saat.Namun, yang tidak disangka Scarlett adalah pada hari yang sama dia kembali menerima kabar dari L.L. Isi pesannya kurang lebih mengatakan bahwa mereka sudah mengetahui situasi dan kesulitan yang dihadapi UME, sehingga bersedia memperpanjang tenggat pengiriman sekitar setengah bulan.Mes
Mendengar perkataan Scarlett, Melati pun terdiam dan tenggelam dalam pikiran.Beberapa saat kemudian, dia menggelengkan kepala. "Aku benar benar nggak tahu. Tapi aku jamin, hari itu aku sendiri yang menutup semua pintu dan jendela, mengunci gerbang, lalu pergi."Scarlett berpikir sejenak, lalu berkata, "Kalau orang itu bisa mendapatkan kunci dan membuka gembok, tetapi bukannya mencuri peralatan malah tetap berada di gudang, memang agak sulit dijelaskan."Melati bergumam pelan, "Mungkin dia nggak sanggup membawa peralatannya pergi, atau mungkin ada seseorang di area pabrik yang memang melampiaskan ketidakpuasannya terhadap UME."Setelah mengatakan itu, dia kembali terdiam.Dua kemungkinan itu sama-sama mengarah pada tersangka terbesar, yaitu dirinya sendiri."Kalau dipikir-pikir, bisa jadi memang bajingan itu! Dia memang sengaja menjebakku!" kata Melati dengan marah sambil menoleh ke arah belakang mobil.Orang yang dia maksud adalah Kenny.Demi menjebaknya, Kenny sengaja memasang perang







