Share

Cinta dalam Pelarian
Cinta dalam Pelarian
Penulis: Blue Moon

Bab 1

Penulis: Blue Moon
last update Tanggal publikasi: 2025-05-15 22:20:25

“Di mana pengantin wanitanya?”

“Apa acaranya ditunda?”

“Apa yang sedang terjadi?”

Para tamu yang hadir mulai berbisik-bisik. Waktu menunjukkan pukul 11 siang, sudah lewat satu jam dari jadwal upacara pernikahan yang tertera di undangan. Vicky, pengantin pria yang sudah sejak tadi berdiri di depan altar pun tampak kebingungan. Bukan hanya Vicky, tampak seluruh keluarga panik dan bingung. Mereka tidak dapat menghubungi sang pengantin wanita yang begitu saja menghilang tanpa jejak. Ponselnya juga non aktif. Entah di mana gadis itu.

“Sudah cari ke kamar?” Miranda, ibu Sarah, bertanya pada Steven, suaminya. Pernikahan putri mereka itu diadakan di hotel tempat mereka menginap semalam. Memang semuanya sudah dipersiapkan oleh keluarga mempelai pria agar waktu mereka tidak terbuang karena kemacetan.

“Sudah tiga kali aku ke sana. Dia tak ada,” jawab Steven.

“Ke mana anak nakal ini?! Bisa-bisanya dia menghilang di hari sepenting ini!” Miranda mendesis marah.

Dia merasa malu dan tak enak hati kepada keluarga calon besannya. Mereka adalah keluarga pengusaha sukses yang memiliki banyak kolega penting. Maka dari itu, tamu-tamu yang hadir pun merupakan figur pengusaha-pengusaha berpengaruh. Dan anak itu memutuskan untuk membuat masalah di saat seperti ini?! Tidak bisakah dia membuat masalah di hari lain saja?

“Lihat saja kalau aku menemukannya! Akan kuberi dia hukuman yang berat!”

“Tenanglah, Sayang,” ucap Steven. “Kita cari lagi pelan-pelan. Kita akan menemukan dia.”

Miranda bergegas pergi. “Aku akan cek lagi restoran, cafe, kolam renang. Akan kucari dia di semua sudut hotel ini.”

Namun hingga berjam-jam waktu berlalu, Sarah tak juga ditemukan. Karena memang ia sudah tak berada di dalam hotel.

***

Sarah, yang melarikan diri menggunakan taksi, kini sudah berada di bandara. Apa yang ia lakukan hari ini sangatlah impulsif, dan ia sama sekali tak menyesali perbuatannya. Justru ia merasa bahagia. Ia berhasil! Ia bebas! Ia telah menggagalkan rencana pernikahan yang dibuat oleh orang tuanya secara sepihak. Kini dia bisa menggapai masa depannya sendiri!

Pagi hari itu, saat Sarah sedang dirias di kamar hotel, tiba-tiba saja terlintas dalam pikirannya... bahwa ia harus kabur. Ia tak bisa menikah seperti ini. Ia tak mau menyerahkan hidupnya kepada seorang pria yang bahkan tidak ia kenal.

Ketika make up artist bolak balik mengambil peralatan, secepat mungkin Sarah membuka ponselnya dan memesan satu tiket penerbangan ke Singapura.

Syukurlah, masih ada seat! Dia bisa langsung terbang siang ini! Beruntung juga paspornya sudah disiapkan di dalam tasnya di kamar hotel tersebut, karena memang rencananya besok mereka akan langsung pergi honeymoon ke Jepang.

Sarah tersenyum getir. Siapa juga yang mau pergi ke Jepang? Apalagi dengan calon suami yang tak dikenalnya itu. Mereka baru bertemu satu kali di pertemuan keluarga, bersama dengan orang tua Sarah dan Ibu dari Vicky. Hanya satu kali! Dan pertemuan kedua mereka akan terjadi di altar. Yang benar saja?!

Sarah ingin menikah dengan pria pilihannya sendiri. Ia ingin merasakan indahnya jatuh cinta dan dicintai. Perjodohan semacam ini bukanlah hal yang cocok untuk dirinya.

Ketika Sarah sudah selesai dengan make up dan gaunnya, seluruh keluarga pun bergegas untuk menuju ke aula pernikahan. Sarah mengikuti langkah kedua orang tuanya yang juga turut berjalan ke sana.

Namun, setibanya di depan aula yang terletak di lantai dasar hotel, ia menyelinap menjauh.

Di saat seluruh keluarga sedang bercengkerama dengan antusias dan penuh tawa, tak ada satu pun dari mereka yang menyadari bahwa Sarah berjalan cepat menuju taksi di depan lobby.

Sambil bergerak terburu-buru dan kerepotan sendiri dengan gaun pengantin yang ia kenakan, Sarah meminta sopir taksi untuk mengantarnya ke bandara. Sang sopir terlihat heran, namun ia tak berkomentar dan menjalankan taksinya sesuai permintaan customernya tersebut.

Setibanya di bandara, Sarah segera menuju ke pintu keberangkatan dan melewati autogate imigrasi. Lalu ia mampir di toko pakaian dan asal mengambil pakaian casual yang tampak cocok dengan ukurannya.

Saat ia membayar, kasir toko menatapnya heran dari ujung kepala hingga ujung kaki.

Yah, itu reaksi yang wajar. Penampilan Sarah saat ini memang sangat saltum. Sejak tadi pun banyak orang yang memperhatikannya.

Lagipula orang waras mana yang mengenakan gaun pengantin heboh berlari-lari di tengah bandara?

Tapi Sarah berusaha untuk tak memedulikannya. Ia hanya fokus dengan tujuannya saat ini. Ia harus kabur ke luar negeri tanpa ada seorang pun yang tahu. Itu yang terpenting. Biarkan saja ia menjadi bahan tontonan orang. Ia tak peduli dengan semua itu.

Ia pun bergegas ke toilet wanita dan meminta tolong pada seorang petugas cleaning untuk membantu membuka gaunnya yang merepotkan.

“Maaf, aku tahu ini terlihat aneh. Tapi tolong, bantu aku sekali ini saja, Kak.” Sarah memohon pada petugas cleaning tersebut.

“Apa kau sedang melarikan diri?” tanyanya.

“Iya, bisa dibilang begitu. Aku dipaksa menikah. Padahal aku tidak mau. Aku harus menyelamatkan diriku sendiri.”

Wanita itu pun tampak prihatin. “Kasihan sekali. Jaman sudah maju pun masih ada saja pemaksaan semacam ini.”

“Iya kan? Ini tidak adil untukku kan?” Sarah merasa senang karena ada yang mendukungnya, walau itu orang yang tak ia kenal sekalipun. “Kak, tolong rahasiakan ini ya. Jangan ceritakan pada siapapun. Anggap saja kita tidak pernah bertemu.”

Dia mengangguk dan tersenyum. “Semoga kau berhasil,” ucapnya tulus.

“Terima kasih, Kak.”

Setelah berganti pakaian, Sarah melangkah dengan lega. Tubuhnya terasa begitu ringan. Ia mengambil gaunnya dan melemparnya begitu saja ke atas tempat sampah.

Sarah pun berlari secepat mungkin untuk mengejar penerbangannya.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Cinta dalam Pelarian   Bab 105 (Tamat)

    Beberapa hari kemudian, Miranda datang ke rumah. Awalnya dia menyampaikan permintaan maaf kepada Sarah, karena telah meminta hal yang berlebihan dari menantunya. Miranda tidak sepenuhnya merasa bersalah. Tetapi, karena berbagai teguran dan tekanan dari Steven, akhirnya dia pun bersedia mengalah. Dia memilih untuk menjaga hubungan baik dengan putrinya. Sudah pasti Sarah menerima permintaan maaf ibunya dengan tulus hati. Sarah pun berjanji untuk tidak mempermasalahkan hal itu lagi, jika Ibu memang tidak mengulangi kesalahan yang sama. Pembicaraan mereka berlanjut dengan cukup positif… Hingga di satu titik, mereka kembali berdebat, “Kapan kau akan berusaha untuk punya anak lagi, Sarah? Sudah cukup lama sejak kau keguguran waktu itu kan? Bukankah seharusnya sudah boleh?” Pertanyaan itulah yang seketika mengubah atmosfer di antara mereka. “Secara medis memang boleh, Bu. Tapi aku belum mau memikirkan itu. Aku ingin fokus untuk menjaga kesehatan mental dan kestabilan emosiku dulu.

  • Cinta dalam Pelarian   Bab 104

    Hari-hari terus berlalu dengan semua rutinitas mereka masing-masing. Randy lebih banyak menghabiskan waktu untuk menjalankan perusahaan asset management yang ditinggalkan oleh ibunya, dengan dibantu oleh Vicky yang perlahan-lahan mempelajari kegiatan operasional di sana. Otomatis Randy pun jarang datang ke perusahaannya sendiri. Segala kebijakan dan strategi krusial perusahaan diserahkan ke tangan Alana yang didapuk menjadi pimpinan tertinggi. Awalnya Alana merasa keberatan, karena dia yang merupakan karyawan baru sudah diberi tanggung jawab sebesar itu. Namun dengan sifat Alana yang pada dasarnya memang ambisius dan menyukai tantangan, tentu saja dia tidak mundur. Dia gigih dan berusaha keras untuk memenuhi tugas barunya. Dia merasa ini lah saatnya untuk membuktikan diri... bahwa seorang wanita yang dahulu diremehkan di dalam keluarganya sendiri, kini mampu menduduki jabatan puncak dalam sebuah perusahaan. Dia akan menunjukkan kualitasnya dan menampilkan performa yang terbaik.

  • Cinta dalam Pelarian   Bab 103

    Vicky melangkahkan kaki masuk ke dalam ruang kerja kakaknya dengan ekspresi murung.Wajahnya tampak pucat dan lesu. Pikirannya kacau. Dia juga mengalami insomnia semalam, hingga bayangan lingkaran hitam samar muncul di sekeliling matanya.Randy yang melihatnya pun langsung menyadari bahwa ada sesuatu yang tak beres.“Duduklah,” kata Randy dengan tenang ketika Vicky sudah berada di dekat mejanya. “Kau mau minum?”“Tidak, tidak,” tolaknya cepat seraya menarik kursi di hadapan kakaknya dan duduk. “Aku hanya ingin bicara.”“Oke,” ucap Randy sambil menautkan jari jemarinya di atas meja. “Ada masalah apa?”Vicky menarik napas panjang dan memberi jeda selama beberapa detik sebelum berkata, “Kau pasti sudah tahu kan, Kak?”“Tentang apa?” tanya Randy waspada.“Tentang ayahku,” jawabnya dengan suara tercekat. Dia merasa seolah tenggorokannya tersumbat. Dia berusaha menahan emosinya sebisa mungkin, agar dapat berbicara dengan kepala dingin.Barulah Randy memahami apa yang sedang dialami adiknya

  • Cinta dalam Pelarian   Bab 102

    Tentu saja emosi Sarah meledak saat menghadapi ibunya. Apalagi Miranda tetap bersikeras bahwa dia sama sekali tidak melakukan kesalahan.“Memang apa salahnya? Suamimu sendiri rela memberikan semua barang itu. Ibu tidak pernah memaksanya!” protes Miranda kesal.“Ya walaupun begitu, tahu diri sedikit lah, Bu. Jangan memanfaatkannya seperti ini. Aku tidak suka Ibu melakukannya. Aku kan sudah pernah memperingatkan Ibu!” sahut Sarah.“Kau jadi sombong sekali ya, Sarah?! Kau bilang Ibu tidak tahu diri hanya karena Ibu menerima beberapa benda itu?!” Mata Miranda memerah dan dia menatap Sarah dengan murka. “Sekarang kau bisa hidup bersenang-senang bergelimang harta… Kau bisa tinggal di rumah yang bagus… Suamimu membelikanmu mobil, dan mungkin juga barang apa pun yang kau inginkan… Tapi kau bahkan tidak rela jika Ibu mendapatkan sebagian kecil dari itu?! Kau ingin menikmati semuanya seorang diri? Egois sekali! Apa kau tidak pernah memikirkan seberapa besar pengorbanan Ibu untukmu selama ini? M

  • Cinta dalam Pelarian   Bab 101

    Satu minggu kemudian.Sarah datang berkunjung ke rumah orang tuanya. Beberapa hari yang lalu Steven menelepon, menanyakan kabarnya, lalu berkata bahwa mereka sudah lama tak bertemu. Sarah menangkap nada kerinduan di dalam suaranya. Maka dia pun memutuskan untuk segera mengunjungi ayahnya.Memang sudah cukup lama sejak terakhir kali mereka bertemu. Sesungguhnya Sarah juga merasa sedikit bersalah karena tidak berinisiatif untuk datang lebih awal. Kenapa dia harus menunggu hingga Ayah menghubunginya? Dia terlalu terfokus dengan rutinitas sehari-hari, sampai melupakan bahwa ada seseorang yang menunggunya untuk memberi kabar.Dia pun berniat dalam hati... ke depannya, dia akan bersikap lebih proaktif terhadap orang tuanya.Steven yang membukakan pintu, serta merta memeluk erat putri kesayangannya itu. “Akhirnya kau datang juga, Sarah.”“Hai, Ayah! Maaf ya, aku baru datang sekarang.”“Tidak apa-apa. Ayo, masuklah,” ucap Steven. “Kau datang sendirian?”“Iya. Randy sedang ada urusan pekerjaan

  • Cinta dalam Pelarian   Bab 100

    Sarah terbangun di kamar yang beratap kayu dan jerami, dengan tirai putih bersih yang bergoyang pelan karena tertiup angin sepoi-sepoi.Sejenak dia sempat linglung dan berpikir, ‘Aku di mana?’Dia bergerak untuk duduk, mengusap matanya beberapa kali agar dapat melihat dengan lebih jelas. Dia memandang ke sekitarnya dan melihat berbagai ukiran estetik, pintu gebyok bergambar wayang dengan warna coklat keemasan, serta dekorasi payung khas Bali yang berada di salah satu sudut ruangan.‘Ah, iya! Aku sedang berada di villa di Bali,’ pikirnya. ‘Lalu di mana suamiku?’Ruangan itu tampak kosong. Dia hanya seorang diri di sana.Sambil bergerak perlahan, Sarah turun dari tempat tidur dan berjalan mendekat ke jendela yang sedikit terbuka. Dia mendorong daun jendela itu agar dapat melihat pemandangan yang lebih luas. Dalam sekejap udara segar dan aroma harum pepohonan menembus masuk ke dalam kamar. Sangat menenangkan dan terasa nyaman.Awalnya pandangan Sarah tertuju ke taman asri yang berada di

  • Cinta dalam Pelarian   Bab 77

    Setelah dua minggu lebih meninggalkan kantor, pekerjaan Randy menggunung. Jadwal meeting padat. E-mail menumpuk. Laporan-laporan yang harus diperiksa dan disetujui pun berjejalan di mejanya. Padahal sebagiannya sudah di take over oleh Julio, hingga sahabatnya itu harus lembur setiap hari. Tapi masih

  • Cinta dalam Pelarian   Bab 80

    Penyidikan polisi terhadap kasus yang dilakukan Vina sudah berjalan.Sebelumnya mereka sudah berhasil mengamankan wanita itu. Dia ditangkap saat sedang bersembunyi di rumah salah seorang temannya, masih di kota yang sama. Rupanya beberapa hari lalu wajah Vina terekam CCTV di sebuah minimarket di dek

  • Cinta dalam Pelarian   Bab 79

    Alana duduk santai sambil memandangi tempat tinggalnya yang baru, dan dia merasa bahagia.Minggu lalu dia membeli sebuah apartemen yang cukup besar di tengah kota. Barang-barangnya yang berada di rumah orang tuanya pun segera dia pindahkan dengan bantuan tenaga jasa pindahan profesional. Dan sejak k

  • Cinta dalam Pelarian   Bab 78

    Sarah menyambut suaminya yang pulang kerja, dengan sebuah senyuman tipis. “Hai, Sayang… Pasti kau sibuk sekali ya hari ini?” tanyanya. “Begitulah. Tapi tidak apa-apa. Aku bisa handle semuanya,” jawab Randy. Sejujurnya Randy merasa sedikit lega. Walau durasinya sangat singkat, namun barusan itu a

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status