Share

15. Kupendam Rasa Ini

Penulis: MyMelody
last update Tanggal publikasi: 2024-07-23 22:39:24
“Ma, please. Jangan menyerah. Kita akan berjuang bersama-sama,” rintihku lirih. Kutahan rasa sakit dan pedih dalam hati ini. Aku harus kuat demi mama dan papa.

“Mama tidak mau menyusahkan kamu, Grace. Lebih baik mama pergi dari pada kamu menderita dan bersusah payah membayar biaya pengobatan mama dan papa yang begitu besar.

“Ma, aku masih sanggup, Ma. Demi Mama dan Papa, aku rela mengorbankan apa pun.”

Mama melepaskan pelukannya. Tangannya kanannya terangkat untuk menghapus air mata di pipiku
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci
Komen (43)
goodnovel comment avatar
Milda Yanti
Udah kek orang kesurupan aja kamu Nathalie. kalo gamau ada orang ketiga dipernikahanmu ya kamu harus mau hamil untuk jadi penerus perusahaan . Simple ko
goodnovel comment avatar
Kaizan Ragiel Trate
si Gabriel terlalu bucin atau bodoh sih....padahal sikap Natalia keterlaluan ...mungkin 11/12 sama Gabriel gitu ya...
goodnovel comment avatar
yenini
si Gabriel mau mau nya aja sama Nathalie saking cinta sampe menutup mata kelakuan si nathalie yg egois cuman mementingkan dirinya sendiri
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terbaru

  • Cinta dalam Rahim Sang Madu   187. Kemenangan

    Melihat Grace yang sudah terlelap akibat pengaruh obat penenang, Gabriel perlahan melepaskan genggaman tangannya dari jemari wanita cantik itu. Gabriel menatap wajah Grace yang lembut, sungguh hatinya meleleh hanya dengan melihatnya tertidur pulas seperti itu.Ia bangkit dari tepi tempat tidur, melangkah pelan menembus temaram kamar menuju jendela kayu yang telah terpaku rapat dari luar. Gabriel menarik napas dalam-dalam. Balutan perban di lengan kirinya mengencang, meletupkan rasa nyeri menusuk dari luka jahitan yang tadi sempat dijahit Dokter Frans setelah kondisi Grace mulai membaik.Baginya, rasa sakit di fisiknya sama sekali tak sebanding dengan emosi yang menggemuruh di dalam dadanya. Dari balik celah gorden, ditatapnya pekatnya malam. Rahangnya mengeras kaku, menahan amarah yang siap meledak. Di saat yang sama, sebuah keputusan pahit berputar tanpa arah di benaknya.Peringatan Dokter Frans semalam terus bergema bagaikan dentang lonceng kematian saat dia berbicara pribadi dengan

  • Cinta dalam Rahim Sang Madu   187. Lebih dari Apapun

    Suara doppler yang memantulkan detak jantung bayi kembar kami perlahan-lahan mulai melambat dari frekuensi kencang yang menakutkan, berubah menjadi irama yang lebih stabil.Cairan obat penenang dan penghenti kontraksi yang dialirkan perawat melalui jarum infus di punggung tanganku mengalir pelan dan dingin ke dalam pembuluh darah. Nyeri hebat yang tadinya meremas rahimku bagai dicengkeram sesuatu yang menyakitkan perlahan-lahan menumpul. Rasa mules itu meluruh, berganti dengan rasa pegal yang berat dan gelombang kantuk luar biasa yang melumpuhkan seluruh otot tubuhku."Aku tidak akan membiarkan siapa pun menyentuhmu lagi, Grace," bisik Gabriel. Tangannya yang bebas membelai lembut rambutku yang lepek oleh keringat dingin, mengusapnya berkali-kali dengan kehangatan yang berusaha meredam badai di dalam dadaku. "Percayalah padaku. Cobalah untuk tidur dan beristirahat. Jangan pikirkan apa pun lagi. Ada aku di sini."Di bawah pengaruh obat penenang yang mulai menguasai kesadaranku, ketakuta

  • Cinta dalam Rahim Sang Madu   186. Teror yang Mulai Berjalan

    Natalia berdiri di ruang tamu. Rumah mewah itu tampak sepi dan sunyi, hanya diterangi lampu temaram di sudut ruangan. Tampaknya para asisten rumah tangganya sudah berada di alam mimpi.Dibukanya lagi pesan yang sudah terkirim ke nomor Grace. Walaupun belum pernah hamil, Natalia tahu betul bagaimana kondisi psikologis wanita berbadan dua. Satu saja benih ketakutan yang ditanam di saat yang tepat akan berkembang menjadi kepanikan hebat.Ketakutan itu akan berubah menjadi paranoia, memicu stres berat, meningkatkan tekanan darah, dan pada akhirnya ... rahim Grace melemah dan tidak akan sanggup menahan beban guncangan emosional tersebut."Kamu ingin menjadi pahlawan untuknya malam ini, Gabriel?" bisik Natalia lirih pada bayangan suaminya di dalam benaknya. "Lakukanlah. Peluk dia sesuka hatimu malam ini. Tapi kamu tidak akan bisa berada di sampingnya setiap jam, setiap menit, dan setiap detik.".Natalia melangkah melintasi aula utama yang megah. Tanpa kehadiran Gabriel, rumah ini terasa beg

  • Cinta dalam Rahim Sang Madu   185. Sandiwara yang Sempurna

    "Hmm, pesan itu akan menjadi teror tak kasat mata," bisik Natalia dingin. Setiap kali Grace melihat ponselnya, atau ada suara asing di luar jendela, Grace akan teringat pada ancaman itu sampai stres tinggi mengguncang kesehatannya dan memicu kontraksi fatal.'Aku akan lihat sampai seberapa kuat dia bertahan terhadap teror yang aku siapkan.'Natalia duduk beberapa saat sebelum akhirnya mengambil keputusan lain. Untuk memastikan Gabriel tidak mencurigainya sama sekali, Natalia menyimpan ponsel sekali pakai itu ke tempat paling dalam di tas kecilnya, lalu membuka ponsel pribadinya. Ia mendial nomor Gabriel.Sambil menunggu sambungan diangkat, Natalia mengubah raut wajah dan nada suaranya secara drastis, dari sosok wanita berdarah dingin menjadi seorang istri manis, manja, dan sama sekali tidak tahu apa-apa.Nada dering ketiga baru disambungkan."Halo, Natalia?" suara Gabriel terdengar di seberang sana. Suaranya serak, terengah-engah, dan ada jeda kecanggungan yang sangat jelas."Sayang .

  • Cinta dalam Rahim Sang Madu   184. Teror

    "S-suami? Maksud kamu?""Nyonya pernah bilang sama aku kalau dia single, bukan?"Pertanyaan itu meluncur dingin, memutus seluruh rentetan amarah Natalia seketika. Ruangan privat itu mendadak hening mencengkeram, hanya menyisakan deru napas Natalia yang tertahan di tenggorokan."Siapa yang bersama dia saat itu?" tanya Natalia gugup."Aku tak tahu, tapi dia memanggil pria itu dengan nama 'Gabriel.'"Mata Natalia melebar sempurna. Bibirnya yang beroleskan lipstik merah menyala sedikit terbuka, tapi tidak ada satu kata pun yang sanggup keluar dari mulutnya.Rasa tidak percaya, kecemburuan yang membakar, dan kenyataan pahit bahwa suaminya, Gabriel, ternyata menginap dan masih terus memberikan nafkan batin pada wanita sewaan itu, menghantam batin Natalia jauh lebih menyakitkan daripada kegagalan rencana pembunuhan itu sendiri."Gabriel ... ada di sana?" gumam Natalia pelan, hampir seperti bisikan tak percaya. Wajahnya yang tegar mendadak runtuh, menyisakan kekosongan yang memyedihkan di bal

  • Cinta dalam Rahim Sang Madu   183. Suami?

    Sementara di luar sana, di bawah naungan malam yang kian larut, pria bertopeng yang baru saja melompati tembok beton itu berlari menyusuri gang-gang sempit pemukiman elite. Ia melepaskan topengnya yang telah basah oleh darah dari hidungnya yang patah akibat sundulan Gabriel, lalu membuangnya ke dalam tong sampah besi bersama belati yang tersisa.Sambil menahan sakit yang membakar, jemarinya yang gemetar meraba saku celana hitamnya, menarik sebuah burn-phone—ponsel sekali pakai yang khusus ia gunakan untuk pekerjaan kotor ini.Ia mendial satu-satunya nomor yang tersimpan di memori gawai tersebut. Dan hanya dua kali nada dering bergema, suara seorang wanita yang anggun, dingin, dan tanpa celah menyapa dari seberang sambungan."Bagaimana?""Saya perlu bertemu sekarang," jawab pria itu dengan suara serak, terengah-engah menahan rasa sakit di dadanya. "Di kafe biasa. Di ruang privat bagian belakang."Ada jeda sejenak di seberang sana. Suara helaan napas yang tidak sabar dan sarat akan tek

  • Cinta dalam Rahim Sang Madu   137. Dilema

    Natalia meletakkan gunting tajam di atas meja kayu yang dipenuhi serpihan kain. Sudah lebih dari dua jam dia berkutat dengan tiga pola baru yang menuntut kesempurnaan untuk babak perlombaan berikutnya. Mata indah dan kecokelatannya melirik jam perak di pergelangan tangan.“Sudah jam dua lewat sepuluh

  • Cinta dalam Rahim Sang Madu   135. Haruskah Seperti Ini?

    “Noah, please …, tolong jauhi aku,” bisikku hampir tanpa suara, tapi cukup jelas untuk membuatnya berhenti sejenak. Tatapannya yang penuh perhatian berubah tajam. Namun, senyuman khasnya masih terukir, seakan menolak mempercayai kata-kataku.“Alasannya apa? Kamu punya penyakit kulit yang menular sehi

  • Cinta dalam Rahim Sang Madu   133. Menggemaskan

    “Noah?” Suaraku tiba-tiba memecah kesunyian di taman. Aku mendongak, sedikit terkejut mendapati pria itu berdiri di hadapanku, sorot matanya memancarkan sesuatu yang sulit kumengerti. “Kenapa kamu ada di sini?” tanyaku pelan, suaraku hampir tak keluar dari tenggorokanku. Kutatap Noah yang berdiri de

  • Cinta dalam Rahim Sang Madu   132. Rindu

    “Pagi, Ma,” sapaku begitu memasuki kamar inap mama. Wanita yang melahirkanku itu sedang duduk di pinggir tempat tidur. Matanya tampak kosong, seperti menyimpan beban yang terlalu berat untuk dibagi.“Ada apa, Ma?” tanyaku kalut. Aku mendekati Mama dengan tergesa-gesa dan memeriksa keadaannya.“Ma?” ku

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status