Beranda / Mafia / DI ATAS RANJANG MAFIA / 205. Kenikmatan Terlarang

Share

205. Kenikmatan Terlarang

Penulis: Dewa Amour
last update Tanggal publikasi: 2026-06-14 12:47:15

George menatap lekat-lekat ke dalam sepasang mata hijau Miranda yang dipenuhi ketakutan sekaligus kedongkolan. Cengkeramannya di kerah kemeja Miranda perlahan melunak, berpindah menjadi usapan kasar di rahang wanita itu.

​"Aku benci situasi ini, Dokter Ford. Aku benar-benar membencinya," bisik George, nada suaranya bergetar oleh ego dan frustrasi yang menuntut pemuasan.

"Seharusnya kau pergi sejauh mungkin. Menghilang dari pandanganku agar semuanya kembali normal. Tapi sialan... aku tidak bisa
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci
Komen (1)
goodnovel comment avatar
Zhagita Arini
kenapa malah keterusan selingkuh, .jadi males mo bacanya,padahal ngikutin kisah dari awal bagus,makin kesini makin gak jelas
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terbaru

  • DI ATAS RANJANG MAFIA    205. Kenikmatan Terlarang

    George menatap lekat-lekat ke dalam sepasang mata hijau Miranda yang dipenuhi ketakutan sekaligus kedongkolan. Cengkeramannya di kerah kemeja Miranda perlahan melunak, berpindah menjadi usapan kasar di rahang wanita itu.​"Aku benci situasi ini, Dokter Ford. Aku benar-benar membencinya," bisik George, nada suaranya bergetar oleh ego dan frustrasi yang menuntut pemuasan. "Seharusnya kau pergi sejauh mungkin. Menghilang dari pandanganku agar semuanya kembali normal. Tapi sialan... aku tidak bisa untuk tidak melihat dirimu dalam waktu yang lama, bahkan meski Bella sedang berada di dalam pelukanku setiap malam."​Miranda memejamkan matanya rapat-rapat, mencoba menahan tangis yang nyaris pecah akibat pernyataan egois pria di hadapannya. Ia mengangkat kedua tangannya yang masih menyisakan bekas tepung, mencoba mendorong dada bidang George yang keras bagai batu karang. "Jauhi aku, George! Aku mohon... urusan kita sudah selesai! Istrimu... Bella akan menghabisiku jika dia tahu kau ada di s

  • DI ATAS RANJANG MAFIA    204. Badai Gairah Di Kota Melbourne

    Matahari pagi di kota Melbourne, Kanada, menembus celah-celah kaca jendela dengan pendar keemasan yang lembut. Di dalam dapur rumah sederhana peninggalan mendiang ibu Levin, ketenangan semu sempat menyelimuti Miranda Ford. Aroma gurih kaldu ayam menguap dari panci yang mendidih. Miranda, dengan kemeja longgar yang digulung hingga sikut, sedang sibuk menguleni adonan tepung di atas meja kayu, bersiap mencetak pangsit daging kesukaan Noah untuk menu makan siang mereka. Untuk beberapa saat, ia merasa aman. Jauh dari hiruk-pikuk Manhattan, jauh dari laboratorium rahasia, dan yang terpenting—jauh dari jerat pesona George Riciteli yang merusak kewarasannya.​Namun, kedamaian itu pecah berkeping-keping dalam satu detik.​Dari arah halaman depan rumah yang ditumbuhi rumput liar, terdengar suara pekikan nyaring dari Noah. Itu bukan pekikan ketakutan, melainkan sebuah jeritan riang gembira yang teramat murni.​"George!"​Tangan Miranda yang berlumuran tepung seketika membeku di udara. Jantun

  • DI ATAS RANJANG MAFIA    203. Pertolongan Levin

    KLIK! ​Sebuah moncong pistol hitam legam langsung ditodongkan ke pelipis sang sopir taksi. "Pergi dari sini jika kau masih sayang nyawamu!" desis salah satu pria asing itu dengan nada suara yang kejam.Sopir taksi itu mengangkat tangan dengan tubuh gemetar, lalu melangkah mundur dan kabur menyelamatkan diri. Miranda yang sudah duduk di kursi penumpang belakang bersama Noah tersentak hebat melihat kejadian itu. "Apa yang terjadi?!" teriak Miranda panik. Ia mencoba membuka pintu mobil untuk keluar, namun suara klek yang keras terdengar—pintu taksi telah dikunci secara otomatis dari sistem depan.​Kedua pria asing itu dengan cepat masuk ke dalam kabin depan. Salah satu dari mereka langsung menginjak pedal gas dalam-dalam, membuat ban mobil taksi berdecit nyaring dan melesat pergi meninggalkan pelataran stasiun, membawa kabur Miranda dan Noah yang menjerit ketakutan.​Levin yang sejak tadi mengawasi dari kejauhan terkejut melihat aksi pembajakan tersebut. Kepanikan seketika melanda diri

  • DI ATAS RANJANG MAFIA    203. Iblis Di Sekitar

    ​Di bawah pendar lampu neon stasiun yang temaram, Miranda Ford merasakan dingin merambat di tengkuknya. Dengan tangan yang sedikit bergetar, ia merogoh tasnya dan menyerahkan kartu identitas pelariannya kepada Levin Miller.​Sang Komandan keamanan stasiun menerima paspor tersebut. Manik mata hitamnya yang tajam menyapu baris-baris data di atas kertas tebal itu. Detik berikutnya, sepasang alis hitamnya yang tebal menukik tajam, menyiratkan keterkejutan yang berhasil disembunyikan dengan rapi di balik senyum tipisnya.​Dokter Miranda Ford. Mantan istri dari Morton Claire, politikus flamboyan dan pebisnis kelas atas asal Manhattan yang beberapa bulan terakhir ini wajahnya kerap menghiasi tajuk utama berita internasional. Levin, yang selalu memantau pergerakan arus informasi dari balik meja keamanannya, tahu betul drama politik di balik perceraian mereka. Media Manhattan sempat gempar oleh rumor yang menyebutkan bahwa Miranda telah berselingkuh dengan jaringan asing, mengkhianati Morto

  • DI ATAS RANJANG MAFIA    202. Tangan Maut George

    "Apa yang kau lihat? Maut mu?" George tersenyum sinis. ​Morton menatap George dengan rasa takut yang teramat sangat, tubuhnya gemetar hebat dari ujung kepala hingga ujung kaki. Di depan pria ini, ia tidak melihat seorang manusia, melainkan sesosok singa lapar yang siap mengoyak dagingnya hingga tak bersisa.​George menegakkan tubuhnya kembali, menatap Morton dengan pandangan merendahkan dari atas. "Aku bisa membuatmu menghilang dari muka bumi ini untuk selamanya malam ini juga, Morton. Tidak akan ada yang bisa menemukan jasadmu, bahkan keluargamu di Jerman sekalipun. Aku bisa memulangkanmu kembali ke Manhattan dalam keadaan bernapas jika aku mau... tapi, kau harus menepati satu kesepakatan darah denganku."​George menginjak puntung cerutunya di atas lantai beton hingga padam. "Jangan pernah... sedetik pun dalam sisa hidupmu, mencoba mencari, mengusik, atau menyentuh Miranda Ford dan Noah Claire lagi. Sekali saja aku mendengar kau mengirim tikus-tikusmu untuk mendekati mereka... maka

  • DI ATAS RANJANG MAFIA    201. Pelarian Dari Ambang Maut

    Malam itu, kegelapan di atas bukit terasa mencekik. Di dalam kamarnya, Miranda Ford bergerak bagai kesurupan. Air mata kemarahan dan kehinaan yang ditumpahkan pasca-konfrontasi dengan Bella Riciteli telah mengering, meninggalkan gumpalan tekad yang nekat. Dengan tangan yang gemetar, ia memasukkan semua pakaian ke dalam koper kainnya secara tergesa-gesa. Lembaran-lembaran baju itu dijejalkan tanpa aturan. Ia harus pergi dari vila putih ini sekarang juga. Ia harus lari sejauh mungkin dari jangkauan George yang penuh ilusi dan ancaman mematikan dari Bella.​"Mommy... kita mau ke mana? Aku mengantuk..." cicit Noah, mengucek matanya yang sembab saat Miranda menarik lengannya dengan kasar untuk berdiri.​Miranda tidak menjawab. Ia hanya menyampirkan tas besar di bahu, tangan kanannya mencengkeram erat jemari Noah yang mungil, sementara tangan kirinya menyeret koper perak yang berat. Mereka melangkah keluar dari vila, menembus dinginnya angin malam perbukitan yang menusuk tulang. Kaki me

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status