Home / Mafia / DI ATAS RANJANG MAFIA / 3. MARKAS MAFIA

Share

3. MARKAS MAFIA

Author: Dewa Amour
last update publish date: 2025-09-13 10:00:34

Jarum jam menunjuk ke angka 10. Terdengar bunyi air yang masih mengalir di wastafel.

Pintu kamar mandi tidak di tutup dengan rapat. Di dalamnya terlihat seorang pria yang sedang berdiri di depan cermin.

Alberto Castaro, pria itu menatap siluetnya sesaat sebelum menurunkan pandangan pada tangannya yang sedang merakit pistol jenis revolver berkaliber 44 yang berisi 5 - 7 peluru.

Wajah pria itu tampak dipenuhi amarah dan dendam. Tentu saja. Putrinya baru saja tewas dengan mengenaskan dan dia di keluarkan dari partai.

Semua itu terjadi karena Michele Lazaro Riciteli. Mafia sialan itu, dia akan menembaknya malam ini.

Pistol selesai di rakit, Alberto bergegas mengenakan sarung tangan hitam, topi, dan yang terakhir ia menutup sebagian wajahnya dengan kain hitam.

Dipandangi siluetnya di cermin. Dia tidak lagi kelihatan seperti orang politik atau pengusaha, melainkan seperti seorang pembunuh bayaran yang dingin dan tak mengenal ampun.

Malam kian larut. Sudah saatnya anjing pemburu keluar dan mencari mangsa. Alberto segera meninggalkan rumahnya.

Seorang wanita paruh baya melihat punggung pria dengan mantel hitam itu masuk ke mobilnya.

Apakah itu Tuan Castaro?

Wanita itu tampak heran melihat penampilan Alberto yang aneh dan tak biasanya.

~•~

Pesta besar sedang diadakan di bar kasino milik Federico yang kini sudah berpindah tangan pada Michele.

Para wanita berpakaian seksi meliuk-liukan tubuhnya mengikuti irama musik. Ada pula yang sedang duduk menemani para tamunya minum.

"Waw! Ini pesta yang hebat, Bro!" Carlo Matius Riciteli, adik angkat Michele yang baru berusia 16 tahun. Dia tampak begitu senang sambil mengoyangkan kepalanya menikmati musik.

Michele yang sedang duduk hanya tersenyum tipis melihatnya."Carilah wanita dan cobalah melakukannya. Kau harus belajar dari sekarang," ucapanya pada Carlo kemudian.

Paolo yang duduk di samping Carlo hanya tersenyum geli seraya mengacak-acak rambut remaja itu.

"Aku tak mau. Itu menjijikan!" ujar Carlo yang langsung di sambut gelak tawa oleh Paolo dan para bodyguard yang mengelilingi mereka.

Sementara Michele hanya tersenyum sambil menggelengkan kepalanya.

Carlo masih sangat belia. Bahkan dia hanya bayi di mata Michele. Betapa pun kejamnya dia, Michele sangat menyayangi Carlo sebagaimana adiknya sendiri.

Sepuluh tahun yang lalu dia tak sengaja menembak sepasang suami-istri saat mabuk di bar. Mereka adalah orang tua Carlo.

Anak laki-laki berusia enam tahun itu membuatnya iba di pemakaman. Michele memutuskan untuk membawanya pulang.

Sampai saat ini Carlo tak pernah tahu jika Michele yang sudah menghabisi orang tuanya.

Dia bersyukur memiliki Michele. Meski dia hanya adik angkat saja, tapi Michele memberikan kekuasaan dan kemewahan layaknya pada adik kandungnya.

Di luar bar tampak dua orang gadis yang sedang berjalan meninggalkan mobilnya.

Meghan dan Moly mendatangi bar yang salah. Ini bukan bar di mana temannya mengadakan pesta, tapi ini bar di mana di dalamnya terdapat para komplotan Mafia sadis.

"Kau yakin ini tempatnya? Kurasa kita salah mendatangi bar," ucap Meghan seraya memperhatikan aktifitas tempat hiburan malam di depannya itu.

Moly sibuk merapikan riasan wajahnya. "Memang ini bar-nya. Nick yang sudah memberikan alamatnya padaku tadi," ucapnya lalu membenahi alat make up yang dipegangnya ke dalam tas.

"Ayo masuk!" lanjutnya seraya menarik lengan Meghan.

Setibanya di dalam bar, Meghan dibuat heran. Tak ada satu pun orang yang ia kenali di sana.

"Aku yakin ini bukan bar-nya."

Moly tak kalah heran. "Kurasa kau benar," sahutnya dengan mata yang enggan berkedip melihat apa yang sedang orang-orang lakukan.

Mereka sedang mabuk dan melakukan se-ks bebas di depan umum tanpa rasa malu. Ini gila! Mereka harus segera pergi.

"Hei, Nona! Mau kemana kalian?" Dua orang bodyguard menghadang jalan Meghan dan Moly yang sedang menuju pintu keluar. Dua gadis itu dibuat terkejut.

"Kami salah masuk bar. Jadi, kami mau pulang," jawab Meghan. Sementara Moly hanya berlindung di belakang bahunya dengan mimik ketakutan.

Dua orang bodyguard itu saling pandang. Kemudian mata mereka turun pada kamera yang sedang dipegang oleh Meghan. Dengan cepat direbut benda itu.

"Apa kalian para reporter yang sengaja ingin meliput kegiatan di bar ini?" tanya si bodyguard dengan tatapan curiga pada Meghan.

Gadis itu buru-buru menggeleng. "Bukan! Kami bukan reporter! Kami hanya salah masuk bar saja, kok! Tolong berikan kameranya dan biarkan kami pergi."

Sepertinya dua orang bodyguard itu tidak percaya pada mereka. Meghan dan Moly saling pandang dengan wajah cemas. Mereka dalam masalah besar jika tetap di sini.

Dua orang gadis itu saling memberi isyarat untuk segera kabur. Namun, dua orang bodyguard berhasil menangkap Meghan.

"Lepaskan aku! Tolong!" Meghan berteriak saat dua orang bodyguard itu menyeretnya kembali masuk ke bar.

"Meghan! Oh Tuhan, gimana nih?" Moly yang panik bergegas menghidupkan mesin mobil.

Mereka para Mafia sadis, terlalu berbahaya jika dia kembali masuk ke dalam bar itu. Dengan kebingungan dan memikiran Meghan, Moly akhirnya pergi.

"Meghan, maafkan aku."

Kembali ke dalam bar.

Dua orang bodyguard membawa Meghan menuju salah satu kamar VIP di hotel yang berada di lantai dua bar.

Meghan tak henti berotak dan berteriak minta tolong. Namun, siapa yang akan datang menolongnya?

Semua orang di bar itu penjahat semua. Dia dalam masalah besar saat ini.

"Moly, apa kau bersama Meghan? Di mana kalian?"

Jose menelepon Moly karena Meghan belum juga pulang. Satu jam yang lalu mereka pamit untuk mendatangi pesta temannya, tapi sampai larut malam Meghan belum juga kembali. Sebagai kakak tentu Jose sangat khawatir pada adik perempuannya.

Moly yang sedang duduk bersandar di bawah ranjangnya sangat gugup saat menerima telepon dari Jose.

"Meghan, dia ... dia ada di sini, kok! Ya, Meghan menginap di apartemenku nih! Jangan cemas," ucapanya berbohong karena kebingungan dan ketakutan.

"Meghan di apartemenmu? Syukurlah kalau begitu! Tapi, kenapa ponselnya tak bisa di hubungi?" Jose bertanya lagi.

Moly memejamkan matanya erat-erat. Jose seorang polisi. Bagaimana jika pria itu tahu kalau dia sedang berbohong?

Oh, tidak! Jose tak boleh sampai tahu. Para Mafia itu bisa saja menculiknya jika mengetahui dia yang sudah memberitahu polisi.

Moly berusaha tenang. "Ponsel Meghan kehabisan daya. Dia pun sudah tidur. Aku juga sudah mengantuk. Nanti aku minta Meghan menghubungimu besok pagi, deh! Selamat malam," ucapnya lalu menutup panggilan.

Moly bersandar lesu pada tepi ranjangnya. Astaga, tidak tahu bagaimana nasib Meghan di markas para Mafia itu?

Sementara Jose masih ingin menanyai Moly tentang Meghan, tapi ponselnya kehabisan daya dan mati.

Penuturan gadis itu terdengar aneh. Apa benar Meghan sudah tertidur dan ponselnya tidak aktif?

Entahlah, dia tak yakin. Namun ini sudah malam. Baiknya esok pagi dia segera menjemput Meghan di apartemen Moly, pikirnya seraya membaringkan tubuh di atas sofa.

Kembali pada Meghan.

"Lepaskan aku! Apa yang kalian lakukan?!"

Gadis dengan mini dress warna hitam itu menjerit-jerit saat dua orang bodyguard merebahkan dia secara paksa lalu mengikat kedua tangannya ke masing-masing sisi ranjang quen size di kamar VIP itu.

Entah kamar siapa ini dan mau apa mereka? Gadis itu nyaris menangis ketakutan.

"Bos, kami sudah membawa gadis itu ke kamar Anda." Seorang bodyguard menelepon sambil berdiri membelakangi Meghan.

Bos?

Siapa yang di panggil bos oleh bodyguard itu? Apakah bos para Mafia?

Bulu kuduk Meghan meremang ketakutan. Entah apa yang akan terjadi padanya selanjutnya.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • DI ATAS RANJANG MAFIA    205. Kenikmatan Terlarang

    George menatap lekat-lekat ke dalam sepasang mata hijau Miranda yang dipenuhi ketakutan sekaligus kedongkolan. Cengkeramannya di kerah kemeja Miranda perlahan melunak, berpindah menjadi usapan kasar di rahang wanita itu.​"Aku benci situasi ini, Dokter Ford. Aku benar-benar membencinya," bisik George, nada suaranya bergetar oleh ego dan frustrasi yang menuntut pemuasan. "Seharusnya kau pergi sejauh mungkin. Menghilang dari pandanganku agar semuanya kembali normal. Tapi sialan... aku tidak bisa untuk tidak melihat dirimu dalam waktu yang lama, bahkan meski Bella sedang berada di dalam pelukanku setiap malam."​Miranda memejamkan matanya rapat-rapat, mencoba menahan tangis yang nyaris pecah akibat pernyataan egois pria di hadapannya. Ia mengangkat kedua tangannya yang masih menyisakan bekas tepung, mencoba mendorong dada bidang George yang keras bagai batu karang. "Jauhi aku, George! Aku mohon... urusan kita sudah selesai! Istrimu... Bella akan menghabisiku jika dia tahu kau ada di s

  • DI ATAS RANJANG MAFIA    204. Badai Gairah Di Kota Melbourne

    Matahari pagi di kota Melbourne, Kanada, menembus celah-celah kaca jendela dengan pendar keemasan yang lembut. Di dalam dapur rumah sederhana peninggalan mendiang ibu Levin, ketenangan semu sempat menyelimuti Miranda Ford. Aroma gurih kaldu ayam menguap dari panci yang mendidih. Miranda, dengan kemeja longgar yang digulung hingga sikut, sedang sibuk menguleni adonan tepung di atas meja kayu, bersiap mencetak pangsit daging kesukaan Noah untuk menu makan siang mereka. Untuk beberapa saat, ia merasa aman. Jauh dari hiruk-pikuk Manhattan, jauh dari laboratorium rahasia, dan yang terpenting—jauh dari jerat pesona George Riciteli yang merusak kewarasannya.​Namun, kedamaian itu pecah berkeping-keping dalam satu detik.​Dari arah halaman depan rumah yang ditumbuhi rumput liar, terdengar suara pekikan nyaring dari Noah. Itu bukan pekikan ketakutan, melainkan sebuah jeritan riang gembira yang teramat murni.​"George!"​Tangan Miranda yang berlumuran tepung seketika membeku di udara. Jantun

  • DI ATAS RANJANG MAFIA    203. Pertolongan Levin

    KLIK! ​Sebuah moncong pistol hitam legam langsung ditodongkan ke pelipis sang sopir taksi. "Pergi dari sini jika kau masih sayang nyawamu!" desis salah satu pria asing itu dengan nada suara yang kejam.Sopir taksi itu mengangkat tangan dengan tubuh gemetar, lalu melangkah mundur dan kabur menyelamatkan diri. Miranda yang sudah duduk di kursi penumpang belakang bersama Noah tersentak hebat melihat kejadian itu. "Apa yang terjadi?!" teriak Miranda panik. Ia mencoba membuka pintu mobil untuk keluar, namun suara klek yang keras terdengar—pintu taksi telah dikunci secara otomatis dari sistem depan.​Kedua pria asing itu dengan cepat masuk ke dalam kabin depan. Salah satu dari mereka langsung menginjak pedal gas dalam-dalam, membuat ban mobil taksi berdecit nyaring dan melesat pergi meninggalkan pelataran stasiun, membawa kabur Miranda dan Noah yang menjerit ketakutan.​Levin yang sejak tadi mengawasi dari kejauhan terkejut melihat aksi pembajakan tersebut. Kepanikan seketika melanda diri

  • DI ATAS RANJANG MAFIA    203. Iblis Di Sekitar

    ​Di bawah pendar lampu neon stasiun yang temaram, Miranda Ford merasakan dingin merambat di tengkuknya. Dengan tangan yang sedikit bergetar, ia merogoh tasnya dan menyerahkan kartu identitas pelariannya kepada Levin Miller.​Sang Komandan keamanan stasiun menerima paspor tersebut. Manik mata hitamnya yang tajam menyapu baris-baris data di atas kertas tebal itu. Detik berikutnya, sepasang alis hitamnya yang tebal menukik tajam, menyiratkan keterkejutan yang berhasil disembunyikan dengan rapi di balik senyum tipisnya.​Dokter Miranda Ford. Mantan istri dari Morton Claire, politikus flamboyan dan pebisnis kelas atas asal Manhattan yang beberapa bulan terakhir ini wajahnya kerap menghiasi tajuk utama berita internasional. Levin, yang selalu memantau pergerakan arus informasi dari balik meja keamanannya, tahu betul drama politik di balik perceraian mereka. Media Manhattan sempat gempar oleh rumor yang menyebutkan bahwa Miranda telah berselingkuh dengan jaringan asing, mengkhianati Morto

  • DI ATAS RANJANG MAFIA    202. Tangan Maut George

    "Apa yang kau lihat? Maut mu?" George tersenyum sinis. ​Morton menatap George dengan rasa takut yang teramat sangat, tubuhnya gemetar hebat dari ujung kepala hingga ujung kaki. Di depan pria ini, ia tidak melihat seorang manusia, melainkan sesosok singa lapar yang siap mengoyak dagingnya hingga tak bersisa.​George menegakkan tubuhnya kembali, menatap Morton dengan pandangan merendahkan dari atas. "Aku bisa membuatmu menghilang dari muka bumi ini untuk selamanya malam ini juga, Morton. Tidak akan ada yang bisa menemukan jasadmu, bahkan keluargamu di Jerman sekalipun. Aku bisa memulangkanmu kembali ke Manhattan dalam keadaan bernapas jika aku mau... tapi, kau harus menepati satu kesepakatan darah denganku."​George menginjak puntung cerutunya di atas lantai beton hingga padam. "Jangan pernah... sedetik pun dalam sisa hidupmu, mencoba mencari, mengusik, atau menyentuh Miranda Ford dan Noah Claire lagi. Sekali saja aku mendengar kau mengirim tikus-tikusmu untuk mendekati mereka... maka

  • DI ATAS RANJANG MAFIA    201. Pelarian Dari Ambang Maut

    Malam itu, kegelapan di atas bukit terasa mencekik. Di dalam kamarnya, Miranda Ford bergerak bagai kesurupan. Air mata kemarahan dan kehinaan yang ditumpahkan pasca-konfrontasi dengan Bella Riciteli telah mengering, meninggalkan gumpalan tekad yang nekat. Dengan tangan yang gemetar, ia memasukkan semua pakaian ke dalam koper kainnya secara tergesa-gesa. Lembaran-lembaran baju itu dijejalkan tanpa aturan. Ia harus pergi dari vila putih ini sekarang juga. Ia harus lari sejauh mungkin dari jangkauan George yang penuh ilusi dan ancaman mematikan dari Bella.​"Mommy... kita mau ke mana? Aku mengantuk..." cicit Noah, mengucek matanya yang sembab saat Miranda menarik lengannya dengan kasar untuk berdiri.​Miranda tidak menjawab. Ia hanya menyampirkan tas besar di bahu, tangan kanannya mencengkeram erat jemari Noah yang mungil, sementara tangan kirinya menyeret koper perak yang berat. Mereka melangkah keluar dari vila, menembus dinginnya angin malam perbukitan yang menusuk tulang. Kaki me

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status