Share

Bab 104

Penulis: Any Anthika
last update Tanggal publikasi: 2026-06-25 21:05:49

Rosalinda melangkah gontai menyusuri lorong rumah sakit. Hatinya diliputi kebimbangan. Kabar yang baru saja ia terima tidak membuatnya benar-benar tenang. Justru sebaliknya, pikirannya semakin dipenuhi pertanyaan.

Dia masih bingung harus memulai dari mana untuk menyampaikan semuanya kepada Kai dan Pak Ridwan.

'Kenapa jadi begini? Bukannya aku yang sengaja melakukan semua ini?'

Jantungnya berdetak lebih cepat saat ia tiba di depan ruang rawat inap suaminya. Berkali-kali Rosalinda mengembuskan
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci
Komen (1)
goodnovel comment avatar
Kalea 123
gimana sih emaknya udah tau Emma anaknya masih ga bilang...baru tau rasa si kai jatuh cinta sama adiknya sendiri
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terbaru

  • Dalam Cengkeraman Empat Sultan    Bab 112

    Pintu kamar mandi terbuka dengan suara pelan. Kai keluar sambil menggosok rambutnya dengan handuk. Bahunya masih basah, kulitnya dingin oleh uap air. Dia berhenti seketika. Langkahnya terkunci di ambang pintu saat melihat Emma duduk di kursi mejanya. Gadis itu tampak pucat, kaku, dengan tatapan kosong yang belum pernah Kai lihat seumur hidupnya. Tatapan yang biasanya sarat akan binar ceria, kini mati. “Emma, lo .. ngapain di sini?” Kai mengerutkan kening, mencoba mencairkan keheningan yang janggal. “Tante nyuruh lo manggil gue ya?” Emma tidak menjawab. Ia hanya mengepalkan tangan di atas lututnya, begitu kuat hingga buku-buku jarinya memutih dan gemetar. Kai menyapu ruang kamarnya dengan tatapan kebingungan, lalu pandangannya jatuh pada sudut meja. Jantungnya serasa berhenti berdetak. Monitor komputernya menyala terang. Di sana, sebuah folder dengan enkripsi khusus dan simbol yang sangat ia kenali terpampang nyata. Wajah Kai langsung pias. Darahnya seolah surut ke kaki. “Emma …

  • Dalam Cengkeraman Empat Sultan    Bab 111

    "Terima kasih, Tante ...." Suara Emma lirih seperti berusaha menahan haru yang ada Rosalinda menggeleng dengan manik mata penuh kasih sayang. "Nggak boleh nangis loh." Emma buru-buru mengusap sudut matanya. "Iya." "Nanti topinya basah." Mereka berdua tertawa bersamaan, membuat beberapa asisten rumah tangga ikut terkekeh. "Aku bantuin bagian apa nih, Tante?" "Sebentar." Rosalinda berjalan pelan dan berdiri di belakang Emma. "Boleh Tante ikatin rambutmu?" Emma yang masih terharu karena perhatian Ibu Rosalinda, hanya bisa mengangguk tanpa bertanya lebih. "Boleh." Dengan sangat hati-hati, Rosalinda menyisir rambut Emma menggunakan jemarinya. Helai demi helai dirapikan. Diikat membentuk ekor kuda sederhana. Lalu topi koki putih itu dipasang perlahan. Sesekali beliau merapikan rambut yang masih keluar. "Nah." Rosalinda mundur selangkah. "Sekarang baru cocok." Emma melihat pantulan dirinya di kaca microwave. Dia nyaris tidak mengenali dirinya sendiri. "Lucu ...." Rosalinda

  • Dalam Cengkeraman Empat Sultan    Bab 110

    Jarum jam baru menunjukkan pukul delapan pagi di hari Sabtu yang cerah itu. Namun, dapur rumah keluarga Kai sudah jauh dari kata sepi.Rosalinda berdiri di tengah kitchen island sambil mengenakan celemek berwarna krem. Rambutnya diikat rapi ke belakang. Di hadapannya, beberapa asisten rumah tangga hilir mudik membawa aneka bahan makanan yang baru selesai dicuci."Ayamnya sudah dimarinasi?""Sudah, Bu.""Kentangnya?""Sudah dikupas dan dipotong, Bu."Rosalinda mengangguk, tetapi beberapa detik kemudian kembali bertanya."Bumbu untuk semur sudah lengkap, kan? Pala, cengkeh, kayu manis?""Asisten tersenyum kecil. "Sudah lengkap, Bu."Rosalinda menghela napas lega.Hari ini ia memang sengaja ingin mengajak Emma memasak menu rumahan. Bukan makanan yang terlalu mewah, melainkan hidangan sederhana yang jika dimasak sepenuh hati rasanya tak kalah dengan restoran berbintang.Di atas meja telah tersusun rapi bahan-bahan untuk membuat semur daging sapi, ayam goreng lengkuas, sayur asem khas Sund

  • Dalam Cengkeraman Empat Sultan    Bab 109

    Begitu keluar dari ruang kerja Raka, Emma menghapus sudut matanya yang berembun. “Aku harus pergi dari sini sebelum pertahananku jebol,” gumam pelan. Jarak dari mansion Raka ke halte bis sekitar sepuluh menit. Emma mempercepat langkah kakinya karena sudah hampir jam lima sore. Untunglah bis datang tepat waktu sehingga Emma masih bisa mengunjungi sang ayah di rumah sakit. Tak lama kemudian ponsel Emma bergetar, dari banner notifikasi, dia melihat siapa pengirim pesan tersebut. Kai: [Emma, besok sibuk nggak? Mama gue mau ajak lo masak bareng katanya.] Emma membaca ulang pesan itu beberapa kali. Ia menimbang sejenak karena besok dia harus tetap datang mengajar Lilis. Selain itu, dia juga harus minta ijin pada Raka, orang yang paling ingin dia hindari saat ini. Cukup sudah keberaniannya mengajak Raka ngomong tadi. Namun, menolak ajakan Mama Kai, rasanya sangat tidak sopan setelah wanita itu memperlakukannya dengan sangat baik waktu lalu. Setelah berpikir beberapa saat, akhirny

  • Dalam Cengkeraman Empat Sultan    Bab 108

    Emma mengembuskan napas perlahan. Dia sebenarnya tidak ingin bertemu, tak ingin membuka percakapan yang mungkin berakhir canggung. Namun, wajah sedih Lilis tadi terus terbayang di kepalanya. Gadis remaja itu tidak pantas ikut terluka karena masalah orang dewasa. Akhirnya Emma berdiri. “Tolong aku, Tuhan,” doanya penuh harap. Dia melangkah menuju lantai lantai bawa. Koridor rumah keluarga Mahendra terasa sunyi. Lampu-lampu gantung memancarkan cahaya keemasan yang lembut. Semakin dekat ke ruang kerja Raka, langkah Emma justru semakin lambat. Jantungnya berdetak tidak beraturan. Aneh. Padahal mereka sudah pernah melakukan hal yang jauh lebih intim daripada sekadar berbicara. Namun, sekarang ... Mengetuk pintu ruangan itu terasa jauh lebih sulit. Dengan jantung yang berdegup kencang, Emma mengulurkan tangan dan mengetuk daun pintu kokoh itu. Beberapa detik berlalu. Tidak ada jawaban dari dalam. Emma hampir menyerah dan hendak berbalik, Namun, akhirnya terdengar suara berat da

  • Dalam Cengkeraman Empat Sultan    Bab 107

    Lilis memutar-mutar pensil di jemarinya sambil menatap soal aljabar yang memenuhi buku latihan."Kak Emma.""Hm?""Siapa sih yang pertama kali bikin huruf dicampur angka? Pengen aku protes."Emma menahan tawa. "Maksudmu variabel?""Iya. Kenapa nggak sekalian aja ditulis angkanya? Hidup ini udah ribet, masa matematika ikut-ikutan bikin misteri."Emma hanya bisa menggelengkan kepala saat mendengar protesan si Lilis."Kalau angkanya sudah diketahui, namanya bukan dicari lagi.""Aku curiga yang bikin aljabar itu lagi gabut," ungkap Lilis dengan keyakinan yang salah. Emma mengambil buku Lilis."Coba lihat. Misalnya ada dua pensil sama tiga pensil.""Mudah.""Nah, sekarang jumlah pensilnya belum diketahui. Makanya kita pakai x."Lilis mengangguk pelan."Oh ... jadi x itu cuma nama sementara?""Betul."Lilis terdiam beberapa detik, lalu mendadak berseru, "Kasihan juga ya."Emma mengernyit. "Siapa?""Si x. Dari dulu dicari-cari orang, ketemu juga nggak."Emma tak mampu menahan tawanya. Ia sa

  • Dalam Cengkeraman Empat Sultan    Bab 81

    "Wah. Selera Mama sama Emma sama?" tanya Kai tak kalah terkejut. "Mungkin cuma kebetulan. Sana pergi." Rosalinda mengusir Kai sambil tertawa pelan. Setelah Kai menghilang di balik belokan koridor,Dia kembali menatap Emma. Mereka bahkan memiliki minuman kesukaan yang sama. Rosalinda mencoba m

  • Dalam Cengkeraman Empat Sultan    Bab 80

    "Ah! Tidak-tidak. Aku tidak mungkin jatuh cinta sama pria modelan Raka!" Emma memukul kepalanya pelan dengan kepalan tangan, berharap memori panas yang mendera otaknya bisa enyah sedikit saja. Namun, semakin ia menolak, bayangan tatapan berkabut gairah milik Raka justru semakin tercetak jelas, mem

  • Dalam Cengkeraman Empat Sultan    Bab 76

    "Raka ...." Emma memberanikan diri melihat wajah Raka. Debaran aneh pun semakin dia rasakan. Siapa pun wanita yang ada di posisi Emma saat ini tentu saja tidak dapat menolak pesona ketampanan Raka. "Izinkan gue melindungi lo, Emma." "Tapi alasannya apa?" "Apa semua membutuhkan alasan?"

  • Dalam Cengkeraman Empat Sultan    Bab 75

    Raka melepas kemeja seragamnya yang terasa lengket karena panas cuaca hari ini.“Hah! Jadi pengen minum yang dingin-dingin,” gumamnyam sambil membuka kulkas berukuran raksasa di depannya.Jam di dinding menunjukkan pukul setengah enam sore, yang berarti sebentar lagi Emma sudah selesai mengajar Lil

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status