LOGINDitolak wanita idamannya membuat Andi patah hati lalu kabur ke Semarang dan menjalani hidup seperti dengan berganti-ganti wanita seperti berganti baju. Hidup Andi harusnya baik-baik saja kalau ia tidak bertemu dengan Triana Sahrena, gadis yatim piatu yang membuat Andi ingin melindunginya. Saat Andi mulai goyah dengan hatinya tiba-tiba wanita masa lalu kembali menawarkan cinta. Manakah yang akan Andi pilih?
View MoreTok...tok..tok... Ana langsung mendorong Andi untuk menjauh, ia merapikan rambut dan bajunya yang bersikap sementara Andi justru menjilati tangannya yang sedikit basah. "Non Ana, sudah bangun? Maaf, kata Ibu kalau jam 8 belum bangun suruh dibangunin buat sarapan."" Terdengar suara asisten rumah tangga di balik pintu. "Sudah, Mbak. Ini baru mau mandi dulu." Ana memastikan tampilannya sudah rapi dan hendak membuka pintu ketika tiba-tiba badannya limbung ke kasur, Ana hendak berteriak tapi Andi lebih dulu mengunci bibir Ana dengan bibirnya. "Mau dianterin ke kamar apa gimana sarapannya, Non?" tanya asisten lagi dan Ana tidak bisa menjawab karena bibir Andi yang menciumnya. Ana langsung melotot tapi Andi justru mengunci sisi kanan dan kiri kepala Ana dengan dua tangannya, sehingga Ana tidak bisa melepaskan ciumannya. "Non?" Ana panik, sementara ciuman Andi tidak juga terlepas. "An...." Ana bahkan tidak bisa menyelesaikan kalimatnya karena ciuman Andi yang begitu menggebu-ge
Pintu kamar hotel tertutup dan Andi langsung menyerbu Ana dengan ciuman ganas hingga membuat gadis itu kehilangan keseimbangan. "Triana...Triana...Triana...." Andi berkali-kali menyebutkan nama Ana dan itu membuat Ana bahagia, gadis itu tersenyum disela ciuman mereka. Andi terus mendesak, mendorong Ana hingga berbaring di kasur tanpa melepas ciumannya. "Napas... Napas...." Ana berseru dan Andi menghentikan ciumannya. "Kasih aku waktu buat napas dulu," ujar Ana sambil terengah-engah. Sepanjang hidupnya, ini ciuman paling memabukkan dan Ana kewalahan tapi juga menikmati. Andi tidak tinggal diam, ia memang menghentikan ciumannya tapi tangannya bergerak menyingkap rok mini Ana, cukup dengan satu gerakan ringan hawa dingin langsung menerpa selangkangan Ana karena Andi berhasil melepaskan celana pendeknya. "Kalau mau berhenti, sekarang saatnya," ujar Andi sambil mendaratkan ciuman di kaki dan paha Ana membuat gadis itu bergidik. Ana tidak menunjukkan penolakan justru mendesah s
"Nggak apa-apa. Aku gak kemana-mana." Andi masih memeluk Ana yang menangis.Andi melirik meja mereka yang berada di seberang ruangan, beberapa dalam kondisi teler sedangkan sisanya tidak terlihat kemungkinan sedang menari atau sudah berakhir di kamar masing-masing, Tiadak ada yang bisa diharapkan untuk menenangkan Ana. Andi melepas jaketnya lalu memakaikannya ke Ana dan membawa gadis itu keluar dari area bar.Lift mereka tiba di rooftop, Ana sudah lebih tenang sehingga kini Andi hanya perlu merangkul Ana yang sedikit limbung."Maaf merepotkan," ujar Ana saat keduanya tiba di rooftop.Keduanya duduk bersandar pada tembok, menikmati semilir angin malam yang menggelitik.Tidak ada percakapan, hanya Ana yang duduk memeluk lutut dan Andi yang menghisap rokok elektrik, wangi vanila dari asap rokok elektrik bercamour dengan udara malam dan parfum Andi yang tertingal di jaket menyelimuti Ana."Keberatan kalau aku ngerokok?" Andi mengeluarkan sebungkus rokok.Ana menggeleng."Nikotin sialan,"
Hentakan musik terdengar bersahutan dengan tawa dan teriakan penyemangat, di atas meja Destra menari bersama seorang gadis, tangannya merangkul pinggang gadis tersebut sementara si gadis mengalungkan tangannya di leher Destra dan mengoyangkan badan mengikuti irama musik."Si anjing, dia nggak lupa dua minggu lagi mau nikah kan?" Umpat Andi melihat tingkah Destra yang justru memeluk gadis dengan pakaian terbuka itu lebih erat.Andi menoleh pada meja sebelah tampak Ifa—calon istri Destra—justru baru menyelesaikan one shoot drink dengan laki-laki yang bertelanjang dada."Pantesan jodoh." Andi lalu melipir menuju meja bar area VIP yang tampak lebih sepi, ia memesan segelas bir dan menikmati bir itu dalam ketenangan. Beberapa gadis tampak bertukar pandangan dan memberikan senyuman nakal yang jelas Andi pahami arah tujuannya.Malam Minggu jelas puncak keramaian diskotik, lantai dansa penuh dengan manusia yang berjoget seperti cacing kepanasan, beberapa bahkan sambil bertukar ciuman atau mul
Andi menahan napas saat gadis itu mendekat, bau parfum manis Ana menggelitik hidung menggoda Andi untuk mengendus si pemilik tubuh, padahal ia yakin tidak mencium parfum itu saat mereka makan malam tadi.Hormon sialan, maki Andi dalam hati."Makasih, Trifandi." Ana beranjak dari kasurnya. Andi ber
"Trifandi Dewangga! Kalau kamu nggak pulang, Ibu bakal nyuruh ayahmu buat bikin perusahaan cuci-cuci kamu itu bangkrut." Suara itu melengking dari speaker ponsel yang diangkat sembarangan oleh Raka—teman sekamarnya—dan kini menggema di seluruh apartemen kecil mereka di Jakarta."Nyokap lu megang sa
Semua berawal dari pesta bujang semalam. Destra, sahabat karib Andi akan menikah.Awalnya, Andi tidak ingin hadir karena pasti Destra juga akan mengundang Rihana, teman mereka, yang juga mantan FWB Andi. Jelas, Andi tidak mau bertemu dengan wanita itu karena masih memendam kesal sebab perasaannya t
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews