Share

Dalam Cengkeraman Empat Sultan
Dalam Cengkeraman Empat Sultan
Penulis: Any Anthika

Bab 1

Penulis: Any Anthika
last update Tanggal publikasi: 2026-04-23 18:23:01

Emma Salsabila berdiri di depan gerbang Universitas Adiwangsa Utama. Tidak bisa dipungkiri, perasaannya agak gugup. Mungkin karena ini baru pertama kalinya dia datang ke tempat semegah ini.

Gedung mewah yang menjulang tinggi di depannya itu adalah kawasan kampus para kaum elit. Hampir tidak akses bagi orang luar kalau tidak memiliki agenda atau keperluan khusus.

Saat dia berdiri di sini saja, dia sudah merasa jika dunia mereka memang sangat berbeda. Dia berasal dari golongan orang-orang yang harus berjuang untuk bertahan, sedangkan mereka yang berada di dalam sana adalah orang-orang yang telah hidup berkecukupan sejak lahir.

Emma datang ke kampus ini bukan tanpa alasan. Satu bulan lalu, dia sempat menerima kabar bahwa dia dinyatakan lolos sebagai penerima beasiswa di Universitas Adiwangsa Utama. Bukan hal gampang untuk bisa diterima di Universitas ini. Emma harus memenuhi standar dan kriteria yang berlaku.

Namun, belum sempat dia benar-benar merasakan kebahagiaan itu, sebuah pemberitahuan lain datang secara tiba-tiba: beasiswanya dicabut tanpa penjelasan yang jelas.

Karena itulah hari ini Emma datang, berharap mendapatkan jawaban langsung dari pihak kampus.

Dia teringat perkataan temannya sebelum mereka lulus kampus Menengah Atas.

‘Tidak sembarangan orang bisa masuk ke Universitas Adiwangsa Utama. Karakter institusi di sana menjadi salah satu syarat yang perlu dipertimbangkan oleh tim rektor.’

Apa memang itu alasannya kenapa beasiswanya dicabut?

Kalau benar begitu, lalu kenapa universitas ini membuka jalur beasiswa? Bukankah jalur itu memang diperuntukkan bagi orang-orang seperti dirinya?

Emma menatap map cokelat di tangannya, mengeratkan genggamannya sampai map itu sedikit tertekuk. Seluruh berkas yang dia miliki ada di dalam sana, nilai, sertifikat, hingga surat penerimaan beasiswa yang kini terasa seperti lelucon pahit.

Selama ini dia telah berjuang sangat keras demi mendapatkan beasiswa itu. Banyak hal yang ia korbankan, termasuk waktu, tenaga, bahkan kesempatan untuk membantu ayahnya demi fokus belajar.

Itulah sebabnya dia panik ketika menerima kabar pencabutan tersebut. Bukan hanya karena mimpinya yang tiba-tiba runtuh, tetapi juga karena beasiswa tersebut adalah satu-satunya jalan baginya untuk melanjutkan pendidikan tanpa harus membebani sang ayah.

Kehilangannya berarti dia harus menghadapi kenyataan bahwa mimpinya bisa terhenti di sini.

Jadi hari ini dia sengaja datang untuk mendapatkan penjelasan.

Emma menarik napas panjang. Perlahan, dia mulai melangkah masuk.

Belum jauh berjalan, beberapa tatapan langsung tertuju padanya. Ada yang melirik sekilas, ada yang berbisik-bisik, ada juga yang terang-terangan memperhatikannya dari ujung kaki sampai ujung kepalanya.

“Dia siapa?”

“Kayaknya bukan anak sini.”

“Apa mahasiswi baru?”

“Seriusan, tampilannya begitu?”

“Siapa yang kasih akses dia masuk ke sini?”

Emma pura-pura tidak mendengar saja walaupun kata-kata yang ia dengar cukup membuat kupingnya panas dingin. Namun, wajahnya tetap tenang, dan semua itu tidak menghentikan langkahnya.

Ayunana kakinya terhenti di depan gedung administrasi. Dinding kaca di depannya memantulkan bayangannya. Sederhana. Biasa saja. Tidak ada menonjol dari dirinya. Jauh berbeda dari orang-orang yang barusan dia lewati. Tiba-tiba, ada rasa kecil yang menusuk. Dia merasa tidak pantas berada di lingkungan elit itu.

Setelah termenung beberapa saat, Emma memutuskan untuk masuk ke dalam. Udara dingin langsung menyambutnya, membuat suasana terasa kaku.

Lantai mengkilap, meja resepsionis rapi, dan staf yang terlihat sempurna.

Emma mendekat.

“Permisi, Kak. Saya mau tanya soal beasiswa atas nama Emma Salsabila.”

Wanita di balik meja menatapnya sekilas. Tatapan singkat, tapi seperti kakak resepsionis itu sedang menilainya.

“Sudah ada janji?”

“Belum. Tapi ini sangat penting.”

“Oke. Tunggu sebentar.” Wanita itu kemudian mengetik sesuatu.

“Ruang 203. Bagian evaluasi.”

“Terima kasih.”

Tak lama kemudian, Emma tiba di ruangan 203.

Tangannya bergerak ke depan dan mengetuk pintu dengan lembut.

“Masuk.”

Pintu itu terasa berat seberat persoalan yang bercokol di pikirannya saat dia mendorongnya.

Perlahan, Emma melangkah masuk.

Seorang pria duduk di balik meja besar, berkas-berkas tertata rapi di depannya.

Tatapannya langsung terarah pada Emma, ekspresinya sama seperti kakak di meja Resepsionis tadi.

“Nama?”

“Emma Salsabila, Pak.”

“Keperluan?”

Emma maju satu langkah.

“Saya ingin menanyakan soal pencabutan beasiswa saya, Pak. Saya tidak menerima penjelasan yang jelas.”

Pria itu membuka berkas.

Semua data memang sudah ada di sana.

“Keputusannya memang sudah final.” Pria itu menjawab langsung tanpa basa-basi.

Emma menahan napas.

“Maaf, Pak. Tapi saya lolos seleksi resmi. Nilai saya memenuhi syarat. Saya—”

“Kami tidak mempertanyakan hal itu,” potong pria itu.

Emma terdiam beberapa detik,

“Lalu, kenapa dicabut?”

Pria itu menatapnya.

Lalu berkata dengan tenang, “Karena Anda tidak memenuhi standar karakter institusi.”

Kata-kata itu rapi dan formal.

Tapi bagi Emma, seperti tamparan di wajahnya. Dia mengernyit.

“Karakter institusi? Maksudnya apa, Pak?”

“Universitas ini memiliki citra tertentu. Dan kami menilai Anda tidak sesuai.”

Tidak sesuai?

Dua kata sederhana, tapi cukup untuk membuat Emma mengerti maksudnya.

“Karena saya bukan dari keluarga kaya, ya?”

Sunyi.

Pria itu tidak menjawab langsung.

Tapi itu sudah cukup menjadi jawaban.

Emma tersenyum pahit.

“Saya hanya kurang mengerti, Pak. Universitas ini, kalau sejak awal memang hanya menerima orang kaya, kenapa membuka jalur beasiswa? Bukankah itu diperuntukkan untuk orang-orang seperti saya?”

“Jaga ucapan Anda,” balas pria itu dingin.

“Tidak, Pak. Saya hanya kurang mengerti.” Suara Emma mulai bergetar, “apa gunanya kerja keras kalau hasilnya tetap sama? Padahal, saya benar-benar berharap.”

Pria itu terdiam. Sepertinya dia sengaja tidak ingin menjelaskan lebih lanjut.

Bagaimanapun juga, ini keputusan Rektor. Dia hanya bertugas menyampaikan.

Tangan Emma mengepal pelan di samping. Ada rasa tidak terima. Namun, dia juga tahu, dia tidak punya posisi untuk menuntut lebih jauh.

Perlahan dia menunduk. Bukan karena dia pasrah, tapi dia memang tidak bisa melakukan apa-apa di sini.

Akhirnya dia berkata dengan nada kecewa, “Kalau memang begitu, baiklah, Pak. Saya tidak akan bertanya lebih lanjut. Saya permisi. Terima kasih.”

Dia berbalik, lalu berjalan keluar.

Pikirannya kosong. Hatinya seperti diremas. Bahkan dia hampir menangis.

Apa yang harus dia katakan pada ayahnya? Ayahnya pasti akan sangat sedih dan kecewa.

Semua yang dia perjuangkan selama ini, benarkah akan berakhir sia-sia?

“Karakter institusi?”

Kalau ukuran karakter adalah kekayaan, sejak awal, dia memang tidak pernah punya kesempatan. Untuk makan saja, Emma dan ayahnya harus berjuang mengais rejeki dari setiap kesempatan yang ada. Diterima di sini lewat jalur beasiswa adalah satu-satunya harapan Emma untuk keluar dari garis kemiskinan yang selama ini mengikatnya.

Namun, masalahnya, Universitas ini telah menutup mimpinya untuk mendapat kehidupan yang lebih layak.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Komen (1)
goodnovel comment avatar
Rea.F
Mengingatkan aku pada Film favorit... Makasih Author .. semangat ya...
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terbaru

  • Dalam Cengkeraman Empat Sultan    Bab 137

    "Emma ..." Suara Ibu Rosalinda bergetar hebat. Tanpa peduli pada gaun mahalnya yang menyapu lantai yang kotor, Rosalinda berlutut dan langsung merengkuh tubuh Emma yang gemetar hebat dari pelukan Arsen ke dalam pelukannya. Kehangatan dekapan itu terasa begitu familier, sama seperti kehangatan yang Emma rasakan saat wanita itu memeluknya pertama kali. Dan juga saat mereka memasak bersama di dapur rumah besar itu. "Kamu sudah terlalu lama menanggung beban ini sendirian, Nak," bisik Rosalinda dengan tangis yang akhirnya pecah. Wanita itu mencium puncak kepala Emma berkali-kali, mengusap punggung gadis itu yang terguncang hebat. Emma yang matanya sudah sembap dan hampir kehilangan kesadaran berbisik parau. "Tante ... Ayah udah nggak ada ... Ayah ninggalin aku ... Aku benar-benar sendiri sekarang." "Sshh, kamu nggak sendirian, Sayang. Kami semua ada di sini untuk menemanimu," tangis Ibu Rosalinda pilu. Emma memperdalam pelukannya, ucapan Rosalinda sedikit menghibur hatinya yang

  • Dalam Cengkeraman Empat Sultan    Bab 136

    "Arsen, aku—" bisik Emma menghindar. "Jangan sentuh dia dengan tangan kotor lo itu, Arsen," potong Raka tajam. Dia melangkah maju, menepis tangan Arsen dari leher Emma lalu memasukkan tangannya ke dalam saku celana dengan gaya yang amat dominan. "Emma pasrah di bawah sentuhan gue di kamar mandi tadi. Dan tanda itu? Itu cuma bukti kecil kalau dia milik gue, bukan punya lo." "Bangsat lo, Raka!" Arsen mengepalkan tinjunya, hendak mendaratkan bogem mentah tepat ke wajah Raka. Brak! Pintu ganda ruang operasi mendadak terdorong buka dengan kasar. Dokter Setiawan melangkah keluar dengan pakaian operasi yang masih bersimpah bercak darah. Wajah sang dokter pucat pasi, matanya memancarkan rasa duka yang teramat berat, membuat perkelahian antara Arsen dan Raka seketika terhenti. Seluruh perhatian mereka teralih pada sang dokter. "Dokter ...?" Suara Emma bergetar hebat. Dia mencoba berdiri dengan lutut yang lemas. "Gimana keadaan Ayah saya, Dok? Operasinya lancar, kan? Ayah selamat, kan?"

  • Dalam Cengkeraman Empat Sultan    Bab 135

    Sepuluh menit perjalanan yang terasa seperti neraka itu akhirnya usai. Mobil Raka berhenti berdecit tepat di depan pintu lorong gawat darurat rumah sakit. Tanpa membuang waktu, Raka menarik tangan Emma, menuntunnya berlari menelusuri koridor rumah sakit yang dingin dan beraroma antiseptik yang menusuk indra penciuman. Mereka tiba di depan lorong ICU. Lampu indikator ruang operasi masih menyala redup, dan beberapa suster tampak berlarian panik membawa kantung darah. “Nona Emma!” Suster Indah berlari menghampiri dengan papan jepit di tangannya dan kertas dokumen. “Baguslah Nona cepat sampai! Kondisi Pak Bagas kritis, pendarahan dalam terjadi lagi. Kami butuh persetujuan keluarga detik ini juga!” “Saya anaknya! Saya setuju, Suster! Lakukan apa saja, tolong selamatkan Ayah saya!” tangis Emma pecah, jemarinya yang gemetar menyambar pulpen dan membubuhkan tanda tangannya di atas lembar persetujuan. Dokter Setiawan keluar dari pintu steril ruang operasi, mengangguk cepat. “Tim bedah s

  • Dalam Cengkeraman Empat Sultan    Bab 134

    Mendengar perkataan Ibu Renata, darah Arsen seketika mendidih. Dia melangkah maju, memotong jarak di antara dengan aura mengintimidasi yang begitu berwibawa. Hilang semua gaya tengil dan acuh tak acuhnya. “Jaga bicara Anda, Ibu Renata. Emma adalah prioritas saya malam ini. Dan jika proyek itu hancur karena saya melangkah keluar dari pintu ini, maka dipastikan keluarga Ibu yang akan menanggung kerugian pertamanya.” “Arsen, tolong ... Ayahku ...” bisik Emma bingung sambil meremas lengan baju Arsen dalam keputusasaan yang dalam. Arsen hendak menerobos orang-orang suruhan Ibu Renata itu secara paksa. Namun, Ibu Renata kembali bersuara pelan, hanya cukup didengar oleh mereka bertiga. “Dokter Setiawan di ICU adalah rekanan yayasan keluarga saya, Arsen. Satu telepon dari saya, dan operasi itu tidak akan pernah dimulai sebelum kamu duduk manis di meja perundingan atas.” Arsen mengepalkan tangannya rapat-rapat hingga buku-buku jarinya memutih. Trik kotor ini benar-benar membuatnya harus

  • Dalam Cengkeraman Empat Sultan    Bab 133

    Emma dan Arsen pun kembali duduk di meja VIP yang penuh kemewahan itu. Tak lama kemudian, di sudut ruangan lain, Raka keluar dari lorong toilet dengan langkah santai. Dia merapikan jas elegannya, membetulkan kancing kemeja hitamnya, lalu berjalan tenang kembali ke meja jamuan keluarganya seolah tidak terjadi apa-apa. Dari kejauhan, mata tajam Raka langsung mengunci sosok Emma yang kini duduk tegak di hadapan Arsen. Raka menyunggingkan senyum miring yang penuh kemenangan ketika melihat Emma sibuk menarik rambut tebalnya ke depan untuk menutupi tanda kepemilikan yang baru saja dia ukir di leher gadis itu. "Gue cari lo tadi karena nggak mau makanan pesanan kita cepat dingin, nanti rasanya jadi nggak enak." Emma tersenyum lembut, hatinya semakin dipenuhi rasa bersalah. Arsen terus berusaha memperlakukan Emma dengan sangat manis dan penuh perhatian. Dia bahkan sudah memesankan hidangan penutup lain, mengajak Emma mengobrol dengan santai dan selalu mendahulukan kenyamanan Emma.. “Coba

  • Dalam Cengkeraman Empat Sultan    Bab 132

    Emma menahan napasnya yang masih tersengal-sengal, sedangkan detak jantungnya bergemuruh hebat. Dalam kepanikan yang menghimpit, jemari Emma yang gemetar mencengkeram erat kemeja Raka, menatap pria itu dengan pandangan memohon yang teramat sangat. Air matanya yang menggenang, berkilat di bawah temaram cahaya dalam ruangan itu karena rasa bersalahnya pada Arsen. “Raka ... aku mohon, lepasin aku,” bisik Emma dengan suara tercekat, hampir seperti rintihan yang mengiba. Tangannya bergerak cepat menaikkan kembali ritsleting gaun emerald green-nya, menutupi dadanya yang masih naik-turun parah karena sisa gairah. "Gue nggak takut sama Arsen," ucap Raka tegas. Tangannya siap membuka pintu dan hendak menjotos Arsen. “Jangan, Raka ... Kalau Arsen tahu kamu di sini dan liat kita kayak gini, semuanya bakal hancur! Tolong, untuk saat ini, aku butuh pengertianmu!” Raka menatap wajah pucat Emma. Rasa cemburu yang tadinya membakar akal sehatnya perlahan meredupi saat melihat ketakutan yang

  • Dalam Cengkeraman Empat Sultan    Bab 21

    Keputusan itu tak menunggu lama untuk diberitahukan kepada Emma.Kini, ia kembali duduk di tempat yang sama, dengan punggung tegak menegang. Kedua tangannya menggenggam erat, menguatkan dirinya sendiri untuk mendengar hal yang paling buruk sekalipun.Di hadapannya, dosen dan para staf berjejer deng

  • Dalam Cengkeraman Empat Sultan    Bab 20

    Ruang Kemahasiswaan terasa lebih dingin dari biasanya. Emma duduk di salah satu kursi, punggungnya tegak, tangannya saling menggenggam di pangkuan. Di depannya, meja panjang membentang, memisahkan dirinya dengan Naomi, Olivia, Alicia dan mahasiswa-mahasiswi yang ikut dalam perang saling melempar m

  • Dalam Cengkeraman Empat Sultan    Bab 19

    Beberapa orang langsung bergerak mendekati Emma. Kursi bergeser kasar, suara langkah tergesa mengelilingi Emma. Suasana yang tadinya cuma panas berubah jadi seperti menunggu ledakan besar. Mereka tidak akan melepaskannya begitu saja. Namun, yang terjadi sebaliknya, Emma bukannya mundur. Ia tidak l

  • Dalam Cengkeraman Empat Sultan    Bab 16

    Mata kuliah pertama hari ini adalah Hermeneutika - seni mengulik makna di balik sesuatu. Bukan sekedar baca teks. Emma cukup antusias, mengingat dosen yang membawa materi ini terkenal sangat kritis dan juga suka memancing para mahasiswa untuk menggali lebih jauh nilai-nilai yang terkandung dalam se

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status