Share

bab 7

Penulis: Azzura Rei
last update Tanggal publikasi: 2025-12-29 12:23:48

Sasha menelan ludah, tubuhnya hampir tak mampu menahan diri. Kakinya lemas mendengar perintah William tadi. Wajahnya terasa panas, bulu kuduknya berdiri, dan setiap napas yang ia ambil seolah terbawa oleh aura pria di depannya.

“Ma…maksud Om William?”

Sebetulnya, Sasha juga sedikit banyak dapat menduga bahwa William akan memintanya melakukan macam-macam. Namun yang tak ia duga adalah fakta bahwa William akan benar-benar meminta itu!

Saat Sasha sibuk mencoba mencari alasan penolakan, William mencondongkan tubuhnya sedikit lebih dekat, wajah mereka hampir bersentuhan.

William menatapnya, jarak antara mereka hanya beberapa inci. Tangan William perlahan menurunkan pipi Sasha, lalu menyusuri rahang halusnya dengan gerakan lembut tapi menegaskan dominasi. Sasha menutup matanya sebentar, mencoba menenangkan diri.

“Layani saya,” William mengulanginya berbisik. “Seperti yang kamu lakukan di karaoke, Sasha.”

Wajah Sasha merah William mendengar itu. Ia cepat-cepat memalingkan wajahnya. “Maaf, Om. Yang seperti itu hanya akan aku lakukan di karaoke.”

“Tapi, kamu sudah setuju, Sasha,” suara William rendah dan serak, menembus setiap lapisan kecemasan yang ia rasakan. Ia melirik kartu kredit hitam yang sekarang tergeletak di atas meja, seolah menunjukan hadiah atas persetujuannya.

Sasha mematung. Kepalanya lantas kembali dipenuhi pikiran mengenai sang nenek. Biaya operasi, biaya perawatan pasca operasi, bahkan mungkin neneknya akan memerlukan biaya rawat jalan.

Upah yang ia terima sebagai pemandu karaoke masih belum cukup, apalagi pihak rumah sakit akan mengambil tindakan esok hari. Kepala Sasha langsung sakit memikirkannya.

Di tengah kalutnya pikiran. Suara William kembali bergema.

“Sasha?”

Sasha mengerjap pelan. Pria yang ada di hadapannya ini mengetahui rahasia terbesarnya. Itu semakin menambah rasa kalut dalam kepala. Tidak terbayang jika William mengambil langkah dan Sasha harus kehilangan pekerjaan atau status mahasiswanya, atau lebih buruk, keduanya.

Sasha merasa pasokan oksigen di ruangan itu menipis seketika.

"Maksud Om..." Sasha menelan ludah, tenggorokannya terasa kering kerontang. "Seks?"

William tidak menjawab. Ia hanya tersenyum tipis, jenis senyum yang cukup membuat bulu kuduk Sasha meremang. Pria itu melangkah maju, memotong jarak di antara mereka.

"Seks adalah kata yang kasar, Sasha. Saya lebih suka menyebutnya... dedikasi," bisik William. Suaranya rendah, bergetar di dada Sasha yang kini berdiri kaku.

Tangan William kembali terangkat. Ia meraih kartu hitam yang berada di atas meja. Kali ini, ia tidak menyentuh wajah Sasha dengan jemarinya. Ia menggunakan kartu hitam itu.

Sisi kartu itu menyentuh pipi Sasha, menelusuri garis rahangnya dengan gerakan lambat. Sensasi dingin benda itu bertabrakan dengan kulit wajah Sasha yang memanas, menciptakan kejutan listrik statis yang aneh di sekujur tubuhnya.

"Di dalam kartu ini ada nyawa nenekmu," ucap William pelan, matanya terkunci pada bibir Sasha yang sedikit gemetar.

Sisi kartu yang nampak gemerlap itu terus turun, meluncur melewati dagu, menelusuri leher jenjang Sasha yang terekspos, lalu berhenti tepat di tulang selangka. William menekannya sedikit, cukup untuk membuat Sasha menahan napas.

"Pertanyaannya, Sasha... seberapa besar kamu menginginkan nenekmu selamat?"

Air mata mulai menggenang di pelupuk mata Sasha. Ia benci situasi ini. Ia benci betapa lemah posisinya. Tapi bayangan neneknya yang terbaring lemah dengan selang infus, napas yang tersengal, dan ancaman kematian yang mengintai, menghapus keraguan itu.

Nenek adalah dunianya. Dan jika untuk menyelamatkan dunianya ia harus menyerahkan tubuhnya pada iblis tampan ini, maka biarlah ia terbakar di neraka setelahnya.

"Saya..." suara Sasha pecah. Ia menarik napas panjang, mengumpulkan sisa-sisa keberaniannya. "Saya akan melakukannya."

Seringai William melebar. "Anak pintar," puji William.

Ia menarik kartu itu, lalu dengan gerakan santai meletakkannya di atas meja kopi di belakang Sasha. "Ambil itu nanti. Sekarang, buktikan kamu layak dihargai semahal itu."

William mundur selangkah, lalu duduk kembali di sofa dengan kaki terbuka lebar, bersandar penuh kuasa. Tatapannya gelap, menuntut, dan lapar.

"Kemari, Sasha. Berlutut."

Jantung Sasha berdegup kencang. Kakinya terasa seperti timah. Namun, tatapan William menguncinya membuat tubuh Sasha bergerak di luar kendali pikirannya.

Perlahan, Sasha menurunkan tubuhnya. Lututnya menyentuh karpet tebal yang lembut. Kini, posisinya jauh lebih rendah, memaksanya mendongak menatap William.

"Mendekat," perintah William lagi.

Sasha menggeser lututnya, mendekat hingga ia berada tepat di antara kedua kaki William yang terbuka.

Tangan William terulur, menyentuh puncak kepala Sasha, membelai rambut panjangnya seolah ia adalah hewan peliharaan kesayangan. Sentuhan itu lembut, namun posesif.

"Kamu ingat kegagalanmu malam itu di klub?" tanya William, jarinya kini bermain di ujung telinga Sasha. "Kamu gagal mencium saya."

Sasha mengangguk kaku.

"Perbaiki kesalahan itu sekarang."

Itu bukan permintaan. Itu perintah.

Sasha menatap wajah pria itu. Dosennya itu. Wajah yang besok pagi akan ia lihat di depan kelas, menerangkan materi bisnis dengan wibawa. Namun malam ini, wajah itu adalah wajah seorang pria yang menuntut kepuasan.

Dengan tangan gemetar, Sasha memberanikan diri. Ia bangkit dari posisinya, kemudian meletakkan kedua tangannya di paha William.

Otot paha itu terasa keras dan tegang di balik celana bahan yang mahal. Sasha mengangkat wajahnya, mendekatkan bibirnya ke bibir William.

Napas mereka bersatu. Hangat. Memburu.

Sasha menutup matanya dan menempelkan bibirnya ragu-ragu. Ciuman itu awalnya hanya kecupan ringan, canggung dan takut.

"Jangan setengah-setengah," geram William di bibirnya. Tangan pria itu tiba-tiba mencengkeram tengkuk Sasha, menahan kepalanya agar tidak mundur. "Buka mulutmu.”

Sentakan itu membakar sesuatu dalam diri Sasha. Rasa takutnya bercampur dengan adrenalin dan, sialnya, gairah yang terpendam.

Sasha membuka mulutnya, membiarkan William mengambil alih. Dan dalam detik berikutnya, ciuman itu berubah menjadi perang. Lidah William menerobos masuk, menguasai, menuntut, dan melumat bibir Sasha dengan rasa lapar yang tak terbendung.

Sasha mengerang tertahan. Tangan William yang satu lagi tidak tinggal diam. Jemari kasar itu merambat turun ke depan dada Sasha, mencari kancing dari blus yang ia kenakan.

Meski menggunakan satu tangan, William begitu cekatan ketika membuka kancing tersebut satu per satu. William melepaskan blus itu dengan kasar dari tubuh Sasha. Sasha pun langsung mengerjap.

Udara dingin AC apartemen langsung menyapu kulit Sasha yang telanjang, kontras dengan panas tubuh William yang membara di depannya.

Sementara itu, ciuman William turun ke rahang, lalu ke leher Sasha, meninggalkan jejak basah dan gigitan-gigitan kecil yang membuat Sasha melengkungkan punggungnya.

"Kamu milik saya malam ini, Sasha," bisik William tepat di kulit lehernya yang sensitif, membuat Sasha meremang hebat. "Dan saya pastikan, kamu tidak akan melupakan pelajaran malam ini."

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Dalam Dekap Hangat Pak Profesor   bab 317

    Setelah memastikan istrinya merasa lebih rileks, William berdiri. Ia mulai membuka kancing kemejanya satu per satu, memperlihatkan dada bidangnya, lalu melempar kemeja itu ke kursi terdekat. Ia ikut duduk di samping Sasha, menarik wanita itu ke dalam pelukannya hingga Sasha menyandarkan kepalanya di bahu William.Suasana kembali hening, hanya disela oleh gemeretak kayu bakar di perapian."Kau tahu, Sasha," William memecah keheningan, suaranya kini terdengar lebih tenang dan merenung. "Sepanjang hidupku, aku diajarkan untuk menjadi pria yang tidak tersentuh. Ayahku mendidikku dengan keras. Di dunia bisnis dan profesi yang kujalani, menunjukkan kelemahan berarti mati. Aku terbiasa memaksakan kehendakku, menyingkirkan siapa pun yang membangkang. Menjadi otoriter adalah caraku bertahan hidup."Sasha mendengarkan dalam diam, jemarinya bermain di dada suaminya, menelusuri garis ototnya yang keras."Aku menyadari, sifat itu terkadang membuatku menjadi sosok yang kaku dan menakutkan," lanjut

  • Dalam Dekap Hangat Pak Profesor   bab 316

    Kamar utama pondok itu dihiasi dengan pencahayaan temaram dari lampu tidur yang berada di kedua sisi ranjang besar berlapis seprai putih bersih. Ada aroma mawar samar yang tertinggal di udara, sisa dari persiapan pernikahan tadi pagi. Perapian kecil di sudut ruangan menyala, memancarkan kehangatan yang mengusir hawa dingin pegunungan.Begitu pintu kamar tertutup rapat dan terkunci, atmosfer di antara mereka berubah menjadi lebih pekat. Tidak ada lagi tamu, tidak ada lagi kekacauan, tidak ada lagi musuh. Hanya ada mereka berdua di tempat yang terisolasi dari dunia luar ini.William membalikkan tubuh Sasha hingga menghadapnya. Tanpa membuang waktu, jemari panjangnya yang terbiasa menandatangani kontrak bernilai triliunan itu, kini sibuk menyusuri garis wajah Sasha, menyingkirkan anak rambut yang menutupi wajah cantik istrinya."Kau membuatku hampir gila hari ini," William memulai, suaranya berubah serak."Gila kenapa?" tanya Sasha polos, mendongak menatap suaminya."Melihatmu berjalan d

  • Dalam Dekap Hangat Pak Profesor   bab 315

    Angin malam pegunungan berembus semakin kencang, membawa hawa dingin yang menusuk hingga ke tulang. Di beranda pondok kayu yang menjadi tempat menginap mereka, Sasha masih berdiri menatap hamparan kerlip lampu kota di kejauhan. Gaun malam sutra yang ia kenakan setelah melepas gaun pengantinnya berkibar pelan.Tiba-tiba, sebuah selimut tebal dan hangat mendarat di bahunya, disusul sepasang lengan kokoh yang melingkar posesif di pinggangnya. Aroma peppermint dan musk yang maskulin, aroma yang sangat ia kenal dan selalu berhasil menenangkan saraf-sarafnya, langsung menguar memenuhi indera penciumannya."Sudah cukup kau menyiksa dirimu dengan udara dingin ini, Sasha," suara bariton William terdengar rendah, menggetarkan telinganya. Nada bicaranya tidak terdengar seperti sebuah saran, melainkan sebuah perintah mutlak yang tidak menerima penolakan.Sasha tersenyum tipis, menyandarkan bagian belakang kepalanya ke dada bidang suaminya. Ia sudah terlalu hafal dengan tabiat pria ini. William Ad

  • Dalam Dekap Hangat Pak Profesor   bab 314

    SUV hitam itu membelah jalanan menurun yang diselimuti kabut pekat. Di balik kemudi, raut wajah William perlahan mengendur. Urat-urat kemarahan di lehernya mulai mereda, digantikan oleh rasa lelah namun lega. Ancaman terbesar telah disingkirkan dengan tuntas.Ia menekan tombol panggilan di kemudi mobilnya, menyambungkan telepon kepada asisten kepercayaannya."Hendri, ini aku.""Ya, Pak. Bagaimana situasinya?""Ganti semua lapisan keamanan di gerbang bawah malam ini juga. Hubungi tim dekorasi, minta mereka bekerja semalaman penuh untuk membangun ulang altar kaca dan menata ulang bunganya. Bayar mereka tiga kali lipat. Besok pagi, aku ingin tempat itu terlihat seolah tidak pernah terjadi apa-apa.""Baik, Pak. Segera saya laksanakan. Lalu... bagaimana dengan Valeria?""Dia sudah selesai," jawab William dingin. "Kirimkan draf pengunduran dirinya dan surat pelepasan saham besok pagi. Jika dia menunda tanda tangan satu jam saja, rilis semua bukti audit ke polisi."William memutus panggilan

  • Dalam Dekap Hangat Pak Profesor   bab 312

    Langkah William yang pelan namun pasti terdengar seperti ketukan palu godam di telinga Valeria. Tanpa sadar, wanita itu memundurkan tubuhnya hingga punggungnya membentur sandaran kursi. Aura dingin yang memancar dari pria di hadapannya seolah melumpuhkan sisa keberanian yang masih ia miliki.William mencondongkan tubuh, menumpukan kedua telapak tangannya di atas meja. Tatapannya yang tajam mengurung Valeria tanpa celah untuk menghindar."Cinta?" Suaranya begitu rendah, nyaris seperti bisikan, tetapi setiap katanya mengandung racun yang mematikan. "Kau masih berani menggunakan kata itu setelah menjual data rahasia perusahaan kepada kompetitor di Singapura demi ambisimu sendiri? Kau menyebut pengkhianatan menjijikkan itu sebagai cinta, Valeria?"Napas Valeria tercekat. Wajahnya yang semula memerah karena emosi perlahan kehilangan warna hingga sepucat kapas. Selama ini ia yakin William tidak pernah mengetahui detail pengkhianatan yang telah dilakukannya.Runtuhnya Sebuah Topeng"A-Aku me

  • Dalam Dekap Hangat Pak Profesor   bab 312

    Sasha menggenggam cangkir tehnya yang telah lama mendingin. Pandangannya tak lepas dari William yang baru saja mengakhiri percakapan dengan Hendri. Kalimat terakhir suaminya masih terngiang di kepalanya, menghantam ketenangan yang sejak tadi berusaha ia pertahankan."Siapa, Wil?" suara Sasha tercekat. "Siapa yang tega melakukan hal seperti ini di Bukit Asri? Tempat itu bahkan jauh dari keramaian."William mengembuskan napas panjang. Rahangnya mengeras, menahan amarah yang mulai memenuhi dadanya."Aku belum tahu pasti, Sha. Hendri bilang pelakunya memanfaatkan kelengahan penjaga saat sore, ketika kabut mulai turun. Aku harus ke sana sekarang."Belum sempat Sasha menjawab, langkah kaki kecil terdengar berlari dari dalam rumah.Arlan muncul sambil menggenggam robot di tangan kanannya."Papa! Lihat, robotnya mau aku kasih nama—"Kalimat bocah itu terhenti ketika melihat wajah kedua orang tuanya. Senyumnya perlahan memudar."Papa mau pergi lagi?"William segera berlutut hingga sejajar deng

  • Dalam Dekap Hangat Pak Profesor   bab 6

    Sasha kehabisan kata-kata. Mulutnya sedikit terbuka mendengar itu. Sasha memang yakin William sewaktu-waktu akan mengeluarkan kartu AS miliknya itu. Tetapi, sekarang!?“Saya tunggu nanti malam. Prau Residence, lantai 17 nomor 1.”Begitu selesai mengatakannya, William berpaling pergi. Ia menelaah be

  • Dalam Dekap Hangat Pak Profesor   bab 5

    Wajah Sasha panas bukan main. Bulir keringat turun membasahi tengkuknya. Ia seolah disihir untuk tetap diam tak melawan. Bahkan ketika tangan William bergerak naik ke pinggangnya lagi, Sasha masih membeku. Ia hanya mampu menatap William dengan kosong.Yang membuat Sasha buyar dari pikirannya adala

  • Dalam Dekap Hangat Pak Profesor   bab 4

    Sasha mematung mendengarnya. “Sasha?”“I.. iya, Pak. Maaf, semalam saya…,” Sasha terbata menimbang-nimbang. Rasanya, tidak perlu diberitahu juga William seolah akan mengetahui alasan keterlambatan Sasha hari ini. William menatap Sasha. Matanya lagi-lagi tak terbaca. “Duduk, Sasha,” pinta William

  • Dalam Dekap Hangat Pak Profesor   bab 3

    Sasha masih dihantui bayang-bayang William sebagai sosok dosennya ketika ia melangkah cepat ke luar kelas setelah kelas selesai. Kini kepalanya bercabang. Bagaimana bisa William muncul sebagai dosennya setelah semalam pria menjadi kliennya? Hanya dalam satu malam, keadaannya berubah drastis. Sas

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status