LOGINWajah Sasha panas bukan main. Bulir keringat turun membasahi tengkuknya.
Ia seolah disihir untuk tetap diam tak melawan. Bahkan ketika tangan William bergerak naik ke pinggangnya lagi, Sasha masih membeku. Ia hanya mampu menatap William dengan kosong. Yang membuat Sasha buyar dari pikirannya adalah suara seruan mahasiswa yang bercengkrama di luar ruangan. Mengingatkan dirinya bahwa ia masih sedang berada di kampus. Merasa habis disentuh dengan hina, perasaan Sasha semakin campur aduk. Wajah yang tadinya memanas karena malu, kini berganti menjadi amarah. Sasha kemudian menepis tangan William yang masih bertengger di sana. “Jangan kurang ajar, Pak William!” seru Sasha dengan suara bergetar. Ia langsung berbalik dan melangkah cepat meninggalkan ruangan itu. Air matanya menggenang di ujung mata, siap kapan saja untuk jatuh ke atas pipinya. Ini sangat hina! Rasa yang bergolak di hatinya tak bisa ia jelaskan. Sebelum berpikiran ingin mengutarakan kemarahannya kepada William, Sasha terlebih dahulu mengutuk dirinya sendiri. Mengapa tubuhnya harus bereaksi seperti itu? Mengapa dirinya menikmati sentuhan hina itu!? Langkahnya terburu-buru. Sasha belum bisa percaya apa yang baru saja terjadi. Belum selesai ia memikirkan nasibnya, sudah ada hal lain yang menimpa. Sasha memutuskan untuk duduk di salah satu selasar gedung. Di sana, tidak banyak mahasiswa yang lalu lalang karena tidak berada di gedung utama. Sasha memilih ujung selasar yang sejuk sebab pohon-pohon di depan selasar itu rindang menutupi sinar matahari. Tangannya kemudian mengacak-acak rambutnya sendiri. Kini rambutnya mencuat ke segala arah tanda frustasi. Ingin rasanya Sasha teriak kencang jika tak sedang berada di lingkungan kampus. Di tengah pikirannya yang terlalu kacau, Sasha mendapat panggilan telepon. Mbak Ana. Hatinya kembali jatuh ke tanah. “Halo?” “Non Sasha, selamat siang,” suara Mbak Ana terdengar panik. “Iya, ada apa?” “Non, kondisi nenek memburuk. Nenek kesulitan napas dan langsung ditangani. Pihak rumah sakit berkata ada komplikasi yang terjadi pada paru-paru nenek… dan harus segera ditindak. Nenek harus segera operasi, Non.” Ini betul-betul mimpi buruk. Cobaan demi cobaan terus menimpa Sasha tanpa henti. Lemas Sasha mendengar berita yang dibawa Mbak Ana. “Nenek… harus operasi…?” “Iya, Non. Untuk biaya operasi sekitar 23 juta. Namun kami sudah meminta pihak rumah sakit untuk memberi keringanan sedikit, setidaknya sampai Non Sasha datang lagi untuk mengurus administrasi lebih lanjut.” Keringanan? Keringanan seperti apapun rasanya tak akan cukup mengurangi beban yang ditanggung Sasha. Tetapi wajah nenek yang berseri sehat begitu Sasha rindukan. Ia tidak akan menyerah begitu saja. “Mbak Ana, kapan operasinya akan dilakukan?” “Setelah ditindak, nenek harus berpuasa. Jadi, operasi dapat dilakukan besok pagi, Non.” “Baik, aku akan kesana besok pagi.” Rasanya, Sasha ingin menangis. Helaan napas panjang kembali Sasha keluarkan. Entah sudah yang keberapa kali minggu ini. 23 juta? Jumlah yang begitu fantastis. Ia bahkan tidak memiliki barang separuhnya. Sasha baru saja membayar 11 juta kemarin, jelas sekarang uang tabungannya tidak cukup. Tentu saja tidak cukup. Roda gigi di kepalanya terus berputar. Sibuk mencari-cari cara untuk mendapatkan uang puluhan juta dalam satu malam. Tip-tip dari kliennya saja tentu tidak akan cukup. Haruskah Sasha meminjam? Tidak mungkin, itu hanya akan memberatkannya di kemudian hari. Sasha menggerutu sambil mengusap wajahnya kasar. Di tengah dunianya yang seolah runtuh, Sasha dapat mendengar seseorang melangkah di selasar, suaranya berjalan mendekati Sasha. Ia menoleh. Pria itu lagi, William. Sepertinya William tidak berniat menghampiri Sasha, sebab ia juga terlihat terkejut dengan kehadiran Sasha yang sedang duduk di pojok yang rindang dengan wajah yang pucat. Ada lembaran berkas yang menghiasi tangan William, mungkin ia berniat memberikannya ke bagian administrasi kampus yang ada di belakang gedung selasar tempat mereka berada sekarang. “Sasha?” Sebetulnya, Sasha begitu enggan menatap wajah William sekarang. Ia masih dihantui bayang-bayang William yang menyentuhnya dengan tidak senonoh tadi. Ingin sekali Sasha menghindar pergi, namun mengingat bagaimana William seolah menggenggam seluruh hidup Sasha dalam kepalan tangannya, apalagi keduanya tengah berada di lingkungan kampus, Sasha cepat-cepat berdiri untuk menyamakan pandangan. Namun ia tidak berkata apa-apa dan hanya mengangguk asal. “Kamu kelihatan pucat. Sakit?” William membawa tangannya menuju dahi Sasha. Sebelum tangan itu mendarat di atas sana, Sasha menghindar. Untuk sesaat, Sasha kebingungan dengan perlakuan William yang tiba-tiba memperlihatkan kepedulian. “Tidak, Pak.” William tidak berkata apa-apa lagi dan Sasha rasa keduanya akan berakhir dalam situasi yang seolah menjebaknya lagi jika tak ada yang mengambil langkah lebih dahulu. Sasha tahu Sasha tidak punya waktu untuk memikirkan apapun selain neneknya sekarang. Maka, Sasha memutuskan untuk pergi. Ia benar-benar butuh waktu sendiri untuk menghilangkan penat di kepala. Sasha mengambil tasnya yang masih tergeletak di lantai. “Permisi, Pak. Saya ada kelas lagi setelah ini,” katanya berbohong. Baru berjalan beberapa langkah, ia dihentikan lagi dengan panggilan dari William. “Sasha.” Sasha menoleh malas. “Ada apa, Pak?” William menghampirinya, kini pria itu membawa wajahnya sedikit lebih dekat. “Kita perlu bicara.” “Bicara…?” Sasha mengulur nadanya. “Boleh saya temui Bapak esok pagi? Saya harus ke-” “Karaoke?” bisik William memotongnya. “P- Pak…,” Sasha mengedarkan pandangannya. Memastikan tidak ada yang mendengar itu di sini meski suara William sudah begitu kecil. “Dengar, Sasha,” kata William mantap. “Kita perlu bicara. Datang ke apartemen saya nanti malam.” Mendengarnya membuat Sasha bergidik tidak percaya. Apartemen? Yang benar saja! Bagaimanapun, sekarang William itu dosennya. “Maaf, Pak. Saya tidak bisa. Saya-” William menghela napas. Wajahnya sedikit mengeras, mirip seperti wajah yang Sasha lihat malam itu. “Datang saja, Sasha. Kamu tidak ingin kehilangan pekerjaanmu atau status mahasiswamu, ‘kan?”Setelah memastikan istrinya merasa lebih rileks, William berdiri. Ia mulai membuka kancing kemejanya satu per satu, memperlihatkan dada bidangnya, lalu melempar kemeja itu ke kursi terdekat. Ia ikut duduk di samping Sasha, menarik wanita itu ke dalam pelukannya hingga Sasha menyandarkan kepalanya di bahu William.Suasana kembali hening, hanya disela oleh gemeretak kayu bakar di perapian."Kau tahu, Sasha," William memecah keheningan, suaranya kini terdengar lebih tenang dan merenung. "Sepanjang hidupku, aku diajarkan untuk menjadi pria yang tidak tersentuh. Ayahku mendidikku dengan keras. Di dunia bisnis dan profesi yang kujalani, menunjukkan kelemahan berarti mati. Aku terbiasa memaksakan kehendakku, menyingkirkan siapa pun yang membangkang. Menjadi otoriter adalah caraku bertahan hidup."Sasha mendengarkan dalam diam, jemarinya bermain di dada suaminya, menelusuri garis ototnya yang keras."Aku menyadari, sifat itu terkadang membuatku menjadi sosok yang kaku dan menakutkan," lanjut
Kamar utama pondok itu dihiasi dengan pencahayaan temaram dari lampu tidur yang berada di kedua sisi ranjang besar berlapis seprai putih bersih. Ada aroma mawar samar yang tertinggal di udara, sisa dari persiapan pernikahan tadi pagi. Perapian kecil di sudut ruangan menyala, memancarkan kehangatan yang mengusir hawa dingin pegunungan.Begitu pintu kamar tertutup rapat dan terkunci, atmosfer di antara mereka berubah menjadi lebih pekat. Tidak ada lagi tamu, tidak ada lagi kekacauan, tidak ada lagi musuh. Hanya ada mereka berdua di tempat yang terisolasi dari dunia luar ini.William membalikkan tubuh Sasha hingga menghadapnya. Tanpa membuang waktu, jemari panjangnya yang terbiasa menandatangani kontrak bernilai triliunan itu, kini sibuk menyusuri garis wajah Sasha, menyingkirkan anak rambut yang menutupi wajah cantik istrinya."Kau membuatku hampir gila hari ini," William memulai, suaranya berubah serak."Gila kenapa?" tanya Sasha polos, mendongak menatap suaminya."Melihatmu berjalan d
Angin malam pegunungan berembus semakin kencang, membawa hawa dingin yang menusuk hingga ke tulang. Di beranda pondok kayu yang menjadi tempat menginap mereka, Sasha masih berdiri menatap hamparan kerlip lampu kota di kejauhan. Gaun malam sutra yang ia kenakan setelah melepas gaun pengantinnya berkibar pelan.Tiba-tiba, sebuah selimut tebal dan hangat mendarat di bahunya, disusul sepasang lengan kokoh yang melingkar posesif di pinggangnya. Aroma peppermint dan musk yang maskulin, aroma yang sangat ia kenal dan selalu berhasil menenangkan saraf-sarafnya, langsung menguar memenuhi indera penciumannya."Sudah cukup kau menyiksa dirimu dengan udara dingin ini, Sasha," suara bariton William terdengar rendah, menggetarkan telinganya. Nada bicaranya tidak terdengar seperti sebuah saran, melainkan sebuah perintah mutlak yang tidak menerima penolakan.Sasha tersenyum tipis, menyandarkan bagian belakang kepalanya ke dada bidang suaminya. Ia sudah terlalu hafal dengan tabiat pria ini. William Ad
SUV hitam itu membelah jalanan menurun yang diselimuti kabut pekat. Di balik kemudi, raut wajah William perlahan mengendur. Urat-urat kemarahan di lehernya mulai mereda, digantikan oleh rasa lelah namun lega. Ancaman terbesar telah disingkirkan dengan tuntas.Ia menekan tombol panggilan di kemudi mobilnya, menyambungkan telepon kepada asisten kepercayaannya."Hendri, ini aku.""Ya, Pak. Bagaimana situasinya?""Ganti semua lapisan keamanan di gerbang bawah malam ini juga. Hubungi tim dekorasi, minta mereka bekerja semalaman penuh untuk membangun ulang altar kaca dan menata ulang bunganya. Bayar mereka tiga kali lipat. Besok pagi, aku ingin tempat itu terlihat seolah tidak pernah terjadi apa-apa.""Baik, Pak. Segera saya laksanakan. Lalu... bagaimana dengan Valeria?""Dia sudah selesai," jawab William dingin. "Kirimkan draf pengunduran dirinya dan surat pelepasan saham besok pagi. Jika dia menunda tanda tangan satu jam saja, rilis semua bukti audit ke polisi."William memutus panggilan
Langkah William yang pelan namun pasti terdengar seperti ketukan palu godam di telinga Valeria. Tanpa sadar, wanita itu memundurkan tubuhnya hingga punggungnya membentur sandaran kursi. Aura dingin yang memancar dari pria di hadapannya seolah melumpuhkan sisa keberanian yang masih ia miliki.William mencondongkan tubuh, menumpukan kedua telapak tangannya di atas meja. Tatapannya yang tajam mengurung Valeria tanpa celah untuk menghindar."Cinta?" Suaranya begitu rendah, nyaris seperti bisikan, tetapi setiap katanya mengandung racun yang mematikan. "Kau masih berani menggunakan kata itu setelah menjual data rahasia perusahaan kepada kompetitor di Singapura demi ambisimu sendiri? Kau menyebut pengkhianatan menjijikkan itu sebagai cinta, Valeria?"Napas Valeria tercekat. Wajahnya yang semula memerah karena emosi perlahan kehilangan warna hingga sepucat kapas. Selama ini ia yakin William tidak pernah mengetahui detail pengkhianatan yang telah dilakukannya.Runtuhnya Sebuah Topeng"A-Aku me
Sasha menggenggam cangkir tehnya yang telah lama mendingin. Pandangannya tak lepas dari William yang baru saja mengakhiri percakapan dengan Hendri. Kalimat terakhir suaminya masih terngiang di kepalanya, menghantam ketenangan yang sejak tadi berusaha ia pertahankan."Siapa, Wil?" suara Sasha tercekat. "Siapa yang tega melakukan hal seperti ini di Bukit Asri? Tempat itu bahkan jauh dari keramaian."William mengembuskan napas panjang. Rahangnya mengeras, menahan amarah yang mulai memenuhi dadanya."Aku belum tahu pasti, Sha. Hendri bilang pelakunya memanfaatkan kelengahan penjaga saat sore, ketika kabut mulai turun. Aku harus ke sana sekarang."Belum sempat Sasha menjawab, langkah kaki kecil terdengar berlari dari dalam rumah.Arlan muncul sambil menggenggam robot di tangan kanannya."Papa! Lihat, robotnya mau aku kasih nama—"Kalimat bocah itu terhenti ketika melihat wajah kedua orang tuanya. Senyumnya perlahan memudar."Papa mau pergi lagi?"William segera berlutut hingga sejajar deng
Aku ingin tahu kenapa kamu bisa semudah ini berubah,” bisik Sasha. “Aku ingin tahu kenapa kamu bisa semudah ini berubah,” bisik Sasha. Suaranya begitu rendah, nyaris berupa helaian napas yang menyapu permukaan kulit leher William, mengirimkan sensasi menggelitik yang seketika mengacaukan fokus pri
Hari itu bergulir dengan ritme yang lambat dan damai, sebuah kemewahan yang jarang bisa dinikmati oleh keluarga kecil itu sejak William memutuskan untuk mengambil proyek riset besarnya di universitas. Sepanjang siang, ruang tengah mereka berubah menjadi laboratorium mini. Suara tawa Arlan yang mel
Bram menyeka air matanya yang mengalir deras menggunakan saputangan yang sudah kusut. Pria paruh baya itu bangkit dari kursinya dengan tubuh yang tampak jauh lebih rapuh dari beberapa menit lalu. Ia menatap Sasha dengan tatapan penuh penyesalan dan kepasrahan, bersiap untuk melangkah pergi membawa
“Sasha. Malam ini kita kedatangan tamu spesial. Service-mu harus oke, ya,” suara Mammi, perempuan paruh baya yang mengatur semua jadwal pemandu karaoke di tempat itu, memanggilnya dari meja resepsionis. Wajahnya yang dipoles tebal tampak serius. Sasha menaikkan alisnya. “Tamu spesial? Siapa? Dan k







