로그인Kamar suite terbaik yang disewa Kaliel memiliki dinding kaca besar yang langsung menghadap ke arah Rumah Sakit Pusat Sektor Onyx. Di depan jendela itu, Tatiana berdiri diam, menatap lampu-lampu rumah sakit yang benderang di kejauhan dengan tatapan kosong dan penuh kerinduan.
Kaliel melangkah mendekat tanpa suara, lalu melingkarkan
Waktu rasanya berjalan begitu cepat. Luke Kalien, bocah kecil yang dulu lahir prematur di usia delapan bulan dan sempat membuat ayah serta ibunya tak bisa melepaskan pandangan di ruang NICU, kini sudah bertumbuh menjadi balita aktif yang pandai berjalan, bahkan berlari ke sana kemari.Pagi itu, tepat tiga tahun setelah kelahiran Luke. Kehidupan di Sektor Onyx sudah banyak berubah. Kaliel, yang dulunya selalu menuntut kendali penuh atas segala urusan, kini telah resmi mundur dari berbagai jabatan birokrasi yang merepotkan.Pria itu sekarang lebih memilih memonitor seluruh pergerakan bisnis dan wilayahnya langsung dari rumah yang nyaman. Bagi Kaliel saat ini, melangkah keluar dari rumah adalah hal yang paling menyebalkan di dunia. Ia sudah cukup dengan segala hiruk-pikuk luar dan hanya ingin menikmati ketenangannya.
Kamar suite terbaik yang disewa Kaliel memiliki dinding kaca besar yang langsung menghadap ke arah Rumah Sakit Pusat Sektor Onyx. Di depan jendela itu, Tatiana berdiri diam, menatap lampu-lampu rumah sakit yang benderang di kejauhan dengan tatapan kosong dan penuh kerinduan.Kaliel melangkah mendekat tanpa suara, lalu melingkarkan kedua lengan kekarnya di pinggang Tatiana dari belakang. Ia menarik tubuh istrinya bersandar sepenuhnya pada dada bidangnya, mencoba menyalurkan kehangatan dan rasa aman."Jangan suka menyiksa dirimu," bisik Kaliel rendah, tepat di tengkuk Tatiana. "Luke tidak sendirian di sana dan kau tidak perlu merasa bersalah."Kaliel membalikkan sedikit tubuh Tatiana agar wanita itu bisa melihat sudut pandang yang i
Ketegangan yang sempat mencekam koridor rumah sakit itu mendadak luruh ketika pintu ganda ruang tindakan darurat kembali terbuka. Dokter melangkah keluar, melepas masker medisnya, dan langsung menyunggingkan senyum lebar yang penuh kelegaan."Semua selamat, Tuan Kaliel," ujar dokter itu dengan nada mantap. "Ibu dan bayinya berhasil melewati masa kritis. Jagoan kecil Anda lahir dengan selamat melalui tindakan vakum darurat, dan Nyonya Tatiana saat ini sudah sadar kembali, meskipun kondisinya masih sangat lemas."Mendengar kalimat itu, bahu kaku Kaliel yang sejak tadi tegang langsung merosot. Kepalan tangannya perlahan melonggar, dan helaan napas panjang lolos dari bibirnya.Tanpa membuang waktu, Kaliel segera melangkah masuk ke dalam ruang perawatan pasca operasi. Di sana, di atas ranjang yang bersih, Tatiana berbari
Melihat celah kecil di antara himpitan mobil, mata Kaliel menangkap kilatan lampu rotator merah-biru yang berjarak sekitar lima puluh meter di depan mereka. Sebuah ambulans sektor kebetulan sedang berada di lokasi kecelakaan, baru saja selesai mengevakuasi korban tabrakan beruntun.Tanpa membuang waktu satu detik pun, Kaliel menarik pintu mobilmya hingga terbuka lebar. Ia keluar dari kabin sambil mendekap tubuh pucat Tatiana dengan protektif, melangkah lebar dan cepat menerobos sela-sela kendaraan yang berhenti total.Para pengendara lain yang terjebak macet sempat menoleh dengan pandangan ngeri dan segan melihat sosok pria yang kerap berseliweran di majalah bisnis Sektor Onyx berjalan dengan aura sedingin es, menggendong seorang wanita yang lemah di bawah siraman lampu jalan."Buka pintunya!" titah Kaliel menggeleg
Suasana kamar sudah sepenuhnya sunyi ketika jarum jam dinding melewati angka dua malam. Hanya ada suara dengung halus dari pendingin ruangan dan lampu tidur yang menyelimuti ranjang besar mereka.Kaliel, yang sejak tadi tidak benar-benar terlelap, perlahan membuka matanya. Ia menoleh ke samping, mendapati Tatiana masih terjaga, bersandar malas dengan mata yang sayu namun menatapnya balik. Keheningan malam itu mendadak terasa pekat oleh sisa gairah yang sempat mereka tunda beberapa jam lalu.Mencoba peruntungannya, Kaliel bergeser mendekat. Ia mengulurkan tangan untuk mengusap tengkuk Tatiana, lalu menunduk, mendaratkan kecupan dalam dan lembut di bibir istrinya. Ciuman yang awalnya pelan itu perlahan berubah menjadi hisapan menuntut yang sarat akan kerinduan sebulan penuh.Ketika tautan bibir mereka terlepas, Kaliel
Sore itu, angin berembus perlahan, membawa kesejukan di teras depan rumah yang megah. Sesuai dengan saran dokter untuk lebih banyak menghirup udara segar, Tatiana duduk santai di kursi malas yang nyaman. Salah satu tangannya bergerak telaten, mengelus permukaan perutnya yang terasa tenang dan lembut.Anehnya, sejak Kaliel berangkat ke kantor pagi tadi, si kecil di dalam kandungan sama sekali tidak membuat ulah. Tidak ada tendangan beruntun, tidak ada gerakan heboh yang membuat ibunya kesakitan seperti beberapa hari lalu.Tatiana menunduk, menatap perut buncitnya dengan senyum kecil yang geli sekaligus heran. "Kenapa kau sangat diam saat tidak ada Ayah, Nak?" bisiknya lembut, suaranya mengalun pelan di keheningan sore.Ia mengetuk pelan perutnya dengan ujung jari, mencoba memancing respons yang tak kunjung datang. "K
Tatiana bersikeras agar Laura tidak perlu mengantarnya sampai ke depan pintu kamar. Ia bisa melihat guratan kelelahan di wajah Laura yang sudah menemaninya berkeliling mall seharian. Lagipula, ia butuh waktu sendirian untuk menyembunyikan kotak-kotak belanjaan raha
Tatiana akhirnya mulai menyendok makanannya dalam diam, meski setiap kunyahan terasa hambar di mulutnya. Kaliel masih di sana, bersedekap dengan punggung tegap, menatap Tatiana tanpa beralih sedikit pun seolah sedang menghafal setiap inci ekspresi wajah wanita itu.
Cahaya matahari menerangi wajah tampan Kaliel yang masih tertidur pulas. Pria itu tampak begitu damai, kontras dengan kegaduhan yang ia ciptakan semalam.Tatiana duduk di tepi ranjang dengan selimut melilit tubuhnya. Wa
Kaliel menghela napas panjang, sebuah embusan napas yang terdengar sangat lelah sekaligus lega. Ia mengecup ujung kepala Tatiana, menghirup aroma rambut gadis itu yang selalu bisa menenangkannya."Dia terbunuh ata







