LOGIN143Suasana kediaman Wirya, malam itu tampak ramai. Keluarga Bajradaka yang menginap di rumah Dimas, hadir untuk berkumpul dengan besan mereka, yang jauh-jauh datang dari Guangzhou. Kendatipun baru kali itu bertemu, tetapi Darmawan dan Zhou Ming Hao langsung akrab. Keduanya berbincang dalam bahasa Inggris, dipadukan gerakan tangan, jika mereka kesulitan mencari kata-kata untuk menerangkan maksud masing-masing. Sementara Dinanti, tidak terlalu banyak bicara. Dia membiarkan Sheng Eleanor terus mengoceh dalam bahasa Inggris campur Mandarin, yang kemudian diartikan oleh Vanetta. Ketiga Bibi Dimas dan juga Jane, berlaku seperti Dinanti. Chairina, Dwita, dan Risna, akan manggut-manggut guna menanggapi cerita Sheng Eleanor, yang menerangkan masa kecil hingga remaja Zhou Yiran. "Nyonya, Yiran pernah cerita tentang 2 kasus penculikan yang pernah dialaminya. Apa kasus itu sudah selesai?" tanya Vanetta, tanpa bisa menahan diri untuk terus mendengarkan dongeng Sheng Eleanor. Perempuan tua it
142 Bayi berbaju merah muda itu seketika berhenti merengek, ketika ujung dot botol menyentuh lidahnya. Yhara Wivan Bajradaka menyedot ASIP dengan semangat, hingga matanya memejam seiring dengan rasa haus yang menghilang. Dimas memandangi anaknya yang tengah digendong Wirya. Dimas nyaris tidak bisa menggendong Yhara, karena sang bos menguasai bayi itu sejak pulang dari Eropa, 3 hari silam.Dimas tidak mampu memprotes Wirya. Dia memahami bila pria yang lebih tua itu memang menyayangi Yhara, layaknya anak sendiri. Selain itu, Wirya juga merasa bertanggung jawab sebagai wali Zhou Yiran di Indonesia, hingga pria berkulit putih itu berlaku protektif pada Zhou Yiran dan Yhara. Dimas mengalihkan pandangan pada istrinya yang tengah berjemur di halaman belakang. Dimas tersenyum, karena melihat sekujur tubuh Zhou Yiran diolesi jamu kuning, yang dipesan khusus ke penjual jamu tradisional asli Madura, yang menjadi langganan semua istri bos. Winarti menjadi pionir yang memesankan paket jamu unt
141Dimas mengusap peluh di wajah istrinya yang tengah merintih. Dimas berusaha untuk tetap tenang, walaupun perasaannya tidak karuan. Dimas mengingat- ingat tips yang pernah diberikan para Abang dan semua sahabatnya, yang telah menemani istri mereka melahirkan. Namun, saat menghadapinya sendiri, Dimas tetap panik.Dokter Syafri sudah tiga kali mengecek kondisi Zhou Yiran. Pria tua itu meyakinkan pasangan tersebut, jika semuanya dalam kondisi terkendali. Hanya tinggal menunggu waktunya tiba.Jeritan Zhou Yiran mengagetkan Dimas. Dia membelai rambut istrinya yang basah oleh keringat, sembari membujuk Zhou Yiran untuk tidak berteriak kembali."Sakit," rintih Zhou Yiran. "Sabar, Sayang. Dikit lagi bukaan lengkap, kata dokternya, gitu," ucap Dimas. "Aku mau Mama." "Dia lagi OTW dari Bogor. Bentar lagi nyampe." Zhou Yiran kembali merintih sembari mencengkeram pegangan besi sisi kiri ranjang. Semua tips dari instruktur tidak bisa diingatnya, dan itu membuat Zhou Yiran kian panik.Pintu
140Acara rapat di kantor Cyrus yang awalnya tenang, seketika berubah ricuh, akibat kelakuan Myron. Dia tengah memerhatikan Jourell yang sedang mengoceh di depan, kala ponselnya berdering dan memperdengatkan lagu anak-anak dengan volume kencang. Baskara dan Heru yang duduk mengapit Myron, kompak memukul lengan pria bermata sipit yang tidak bisa mengelak, akibat terjepit. Hadrian dan Samudra sama-sama melemparkan pulpen dari kursi seberang. Sedangkan yang lainnya melemparkan gumpalan tisu."Ternyata Myron fans Trio Kwek-kwek," seloroh Theo. "Bukan aku, Bang. Ini pasti kerjaan Zayd. Kemaren dia minjam hape ini buat video call sama Papa dan mamaku," lanjutnya. "Anak itu, usilnya meningkat," celoteh Baskara. "Gimana ayahnya, kan?" sela Heru."Plus padrenya. Zayd paling lengket sama Varo, selain ke Zulfi, maksudku," beber Samudra. "Ke mana mereka bertiga? Sudah hampir seminggu nggak kelihatan," sela Ferdianto. "Ke Eropa, Pak. Mencar ke 3 negara," jelas Dimas."Mereka balik lagi jadi
139Dimas mengurut betis dan kaki istrinya dengan separuh tenaga. Dia khawatir, karena kaki Zhou Yiran membengkak, dan perempuan itu juga sering mengeluh kesakitan.Dimas mengoleskan tambahan minyak zaitun ke telapak kaki istrinya. Lelaki berkaus hitam itu hanya menggosokkan tangan ke telapak dan bukan mengurut, karena dia takut salah menekan urat. Dengkuran halus Zhou Yiran mengagetkan suaminya. Dimas mengamati sang istri yang tidur sambil memangku laptop. Dimas menghentikan pijatan, lalu memindahkan laptop ke meja. Dia memerhatikan hasil desain istrinya, sebelum menyimpan gambar itu di file khusus, lalu laptop dimatikan.Dimas membantu Zhou Yiran agar bisa berbaring. Dia merapikan rambut perempuan kesayangan, lalu mengamati paras istrinya yang terlihat sangat damai. Dering ponselnya mengejutkan Dimas. Dia berdiri dan menyambar benda itu dari meja rias, lalu mencabut kabel pengisi daya. Dimas jalan keluar kamar sambil menyahut salam sang penelepon."Di mana lokasinya?" tanya Dimas
138Sudut bibir Zhou Yiran terangkat ke atas melengkungkan senyuman. Dia menyambangi orang-orang yang baru turun dari 3 mobil penjemput, lalu Zhou Yiran menyalami suaminya yang balas mendekapnya erat.Dimas menciumi kedua pipi istrinya yang makin berisi. Dia tersenyum ketika disoraki para keponakan dan adik-adik ajudan. Dimas mengurai pelukan, lalu menyeret kedua koper ke ruang tengah.Zhou Yiran menyalami Wirya, Vanetta, Zhao Yìchen dan Elma, dengan takzim. Kemudian dia berpindah untuk menyalami semua keponakan.Zhou Yiran mendekap Bayazid yang tingginya sudah melebihi dirinya sedikit. Zhou Yiran merindukan lelaki muda tersebut, yang telah pindah ke Taiwan sejak akhir bulan Juni."Abang lagi libur?" tanya Zhou Yiran seusai menjauhkan diri."Ya, Te. Tapi cuma 6 hari liburnya. Aku nambah izin 3 hari lagi. Mau muasin kangen sama orang sini," terang Bayazid. Dia mengusap perut Zhou Yiran. "Dedek lahirnya, kapan?" tanyanya sambil menarik tangan."Sekitar 1 setengah bulan lagi." "Ehm, aku
04Zhou Yiran memerhatikan pasangan suami istri di kursi seberang, yang tengah berbincang dengan Dimas. Meskipun tidak memahami bahasa Indonesia, tetapi Zhou Yiran yakin jika mereka tengah membicarakan dirinya. Zhou Yiran menggigit bibir bawah kala Haikal Jabbar mengamatinya. Aura berkuasa yang ke
03Zhou Yiran memerhatikan sekeliling ruang tamu luas bernuansa abu-abu muda, di kediaman atasan Dimas. Dia menyukai tempat itu yang terasa nyaman, sekaligus hangat. Celotehan Zayd Yaqzan Adhitama, putra ketiga Wirya, yang tengah berbincang dengan mamanya, menyebabkan Zhou Yiran tersenyum. Gadis b
02Dimas memaksa otaknya berpikir cepat, sebelum mengambil tindakan nekat. Dia memundurkan mobil, lalu melaju dan menabrak belakang mobil van. Zhou Yiran menjerit saat benturan keras itu terjadi. Dia kaget saat Dimas menekan kepalanya agar merunduk. Belum sempat Zhou Yiran bertanya, terdengar buny
01Seorang perempuan bergaun hijau muda, keluar dari lift di satu bangunan puluhan lantai. Dia lari secepat mungkin keluar lobi, dan menuruni tangga teras dengan tergesa-gesa. Zhou Yiran memerhatikan sekeliling. Dia berputar ke kanan dan merentangkan tangan, untuk menghadang seunit mobil SUV biru







