Home / Romansa / Degrees Of Intimacy / Bab 32: Tirai yang Terbuka

Share

Bab 32: Tirai yang Terbuka

Author: Sasmita
last update publish date: 2026-07-17 13:22:41

Seminggu terakhir, apartemen terasa sangat dingin. Ardi, yang biasanya menjadi sumber kehangatan, kini berubah menjadi sosok yang sulit digapai. Setiap malam ia menghilang, meninggalkan Nika dengan alasan klise soal "tambahan proyek keamanan" dan "riset mendesak".

​Malam ini, pukul 11.30, Nika menatap secangkir kopi dingin di meja kerja Ardi. Frustrasinya memuncak. Ia memutuskan untuk memberikan kejutan. Ia ingin tahu apa yang sebenarnya membuat pria itu begitu sibuk hingga melupakan keberada
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Degrees Of Intimacy   Bab 40: Di Ambang Batas

    Mobil sedan hitam itu berhenti di depan gudang tua yang lembap. Pria bertubuh besar di depan menoleh ke belakang, menatap Nika dengan seringai tajam. ​"Keluar. Jangan coba-coba lari, atau timah panas ini akan bersarang di kepalamu sebelum kakimu menyentuh tanah," gertak pria itu. ​Nika turun, kakinya sedikit gemetar namun wajahnya tetap datar. "Tenang saja. Aku tidak punya energi untuk lari saat ini." ​Seorang pria bersenjata menarik lengan Nika kasar, menggiringnya masuk ke dalam gudang yang gelap. Di dalam, suasana berbau solar dan besi tua. Nika menyapu pandangan. Di sudut ruangan, Ardi terduduk di kursi dengan tangan terikat ke belakang. Wajahnya lebam, kemejanya sudah berubah warna menjadi merah pekat. ​"Ardi!" teriak Nika, berusaha melepaskan diri. ​"Diam!" bentak si pria besar, mendorong punggung Nika hingga ia hampir jatuh. ​Ardi mengangkat kepala, matanya melebar saat melihat Nika. "Nika? Kenapa... kenapa kamu ke sini? Aku sudah bilang lari!" suaranya parau, menahan sa

  • Degrees Of Intimacy   Bab 39: Kartu As di Tangan Nika

    Pria bertubuh besar itu menurunkan sedikit senjatanya, namun tatapannya masih menusuk. Ruang arsip yang sempit itu terasa semakin mencekam dengan suara hujan Jakarta yang membentur atap seng di luar. ​"Kamu pikir aku akan percaya begitu saja pada gertakan anak ingusan?" pria itu mencibir, suaranya berat dan kasar. "Berikan flashdisk itu sekarang, atau aku akan membuatmu menyesal telah lahir di dunia ini." ​Nika menatap pria itu lurus-lurus. Jantungnya berdegup kencang hingga ia bisa merasakannya di tenggorokannya, namun ia memaksakan suaranya tetap stabil. "Silakan. Tembak aku sekarang. Tapi ingat, kalau aku mati, sistem firewall yang aku pasang di gedung ini akan terkunci secara permanen. Source code asli Project Sentinel akan hancur menjadi junk data dalam waktu lima menit. Kalian tidak akan mendapatkan apa-apa, bahkan sisa-sisa datanya pun tidak." ​Pria itu terdiam sejenak. Ia tampak menimbang-nimbang ancaman Nika. "Kamu mengancamku, Nika? Kamu hanyalah mahasiswi tingkat akhir

  • Degrees Of Intimacy   Bab 38: Bayangan di Bawah Hujan Jakarta

    Malam itu, Jakarta terasa lebih menyesakkan dari biasanya. Hujan yang turun bukan lagi sekadar gerimis, melainkan badai yang membasahi jalanan ibu kota. Nika memacu napasnya, langkah kakinya yang mengenakan sneakers kotor mencipratkan air di sepanjang jalan setapak menuju gedung Teknik lama di area kampus Jakarta. Ia tidak bisa menggunakan akses utama; pikirannya bekerja cepat memetakan jalur tikus yang biasa digunakan mahasiswa untuk menghindari patroli keamanan kampus. ​Target: Ruang Arsip. ​Nika menunduk, menyembunyikan wajah di balik hoodie hitam. Pesan singkat yang ia terima di lab terus terbayang: Kami hanya butuh kamu. ​"Mereka butuh sidik jariku," gumamnya, suaranya gemetar. "Ardi, kenapa kamu buat aku jadi bagian dari sistem bodoh ini?" ​Nika membuka tas kecilnya. Di dalamnya ada tablet tipis milik Ardi dan sebuah receiver sinyal rakitan. Ia mengaktifkan receiver itu. Layar tablet menampilkan heat map lokasi Ardi. Ardi, Gibran, dan Dania bergerak menjauh ke arah parkir be

  • Degrees Of Intimacy   Bab 37: Kode yang Menjerat

    Suara langkah kaki berat terdengar di lorong di luar laboratorium. Itu bukan langkah Gibran atau Dania. Nika segera mematikan lampu lab, menyisakan cahaya biru redup dari monitor server yang memancar ke wajahnya yang kini tampak lebih keras dan dingin.​"Kak Gibran, matikan semua lampu koridor," bisik Nika tanpa menoleh dari layar.​"Apa yang akan kamu lakukan?" Gibran berbisik balik, suaranya tercekat.​"Aku akan memancing mereka masuk ke dalam sistem jebakan," jawab Nika datar. Jemarinya kembali menari di atas keyboard dengan kecepatan yang tak masuk akal. Ia sedang membangun firewall berlapis menggunakan algoritma enkripsi yang dulu pernah mereka susun bersama di mata kuliah Sistem Keamanan Komputer.​Tiba-tiba, monitor di depannya berkedip. Input data masuk dari luar. Seseorang sedang mencoba meretas masuk ke dalam akses lab pusat.​"Mereka sudah di sini," bisik Dania, matanya tertuju pada pintu besi yang mulai bergetar karena hantaman dari luar.​Nika menatap layar dengan tajam

  • Degrees Of Intimacy   Bab 36: Antara Logika dan Nyawa

    "Ardi! Jangan tutup matamu!" Nika berteriak panik, tangannya menekan luka di perut Ardi dengan sisa-sisa kain piyama yang ia kenakan. Darah yang hangat merembes cepat, menodai jemarinya. ​Gibran dan Dania tiba-tiba muncul dari balik sudut koridor, wajah mereka sepucat kertas. Gibran segera mengeluarkan ponselnya, mengetik pesan dengan jemari yang gemetar. ​"Nika, kita harus pindah sekarang! Orang-orang itu sudah dekat!" Gibran membentak, suaranya parau. "Dania, bantu aku angkat Ardi ke mobil!" ​"Tidak!" Nika memotong, matanya yang sembab menatap Gibran dengan nyala api yang baru. "Aku tidak akan membiarkan dia dibawa ke rumah sakit sembarangan. Mereka akan tahu kalau dia masih hidup." ​"Lalu kamu mau apa, Nika? Dia bisa kehabisan darah!" balas Gibran frustrasi. ​Nika menatap wajah Ardi yang mulai kehilangan kesadaran. "Bawa dia ke laboratorium pusat. Di sana ada protokol darurat medis untuk kecelakaan kerja di lab yang tidak terdaftar di sistem rumah sakit. Aku yang akan m

  • Degrees Of Intimacy   Bab 35: Di Balik Pintu yang Terkunci

    Kamar nomor 9 itu terasa seperti sel isolasi. Nika masih terduduk di lantai, punggungnya bersandar pada pintu kayu yang tadi ia banting. Ia tidak mempedulikan teriakan Gibran atau ketukan panik Dania di luar sana. Telinganya berdenging hebat. Bayangan Ardi di lab tadi, tatapan dinginnya, kalimat "pion" yang terlontar begitu saja, terus berputar di kepalanya seperti kaset rusak yang tak mau berhenti. ​"Kenapa, Di?" bisiknya parau ke arah kegelapan kamar. "Kenapa harus aku yang kamu jadikan umpan? Kenapa kamu buat aku merasa seperti wanita paling bodoh di dunia ini?" ​Ia bangkit dengan langkah gontai menuju meja belajar. Di antara tumpukan buku bahasa pemrograman dan catatan algoritma yang berantakan, ia mengambil ponselnya. Dengan tangan yang masih gemetar hebat, ia menyalakan ponsel itu. Puluhan notifikasi masuk sekaligus, pesan dari teman-temannya di Teknik Informatika yang menanyakan kebenaran gosip tentang Ardi, foto-foto yang dikirim anonim, dan panggilan tak terjawab da

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status