เข้าสู่ระบบ“Kita sudah sampai, Tuan,” ucap sopir pribadi Kaelix saat mobil berhenti mulus di depan rumah Sasqia.
Kaelix melirik sekilas ke arah bangunan itu, lalu kembali menyandarkan punggung dengan tenang. “Kamu saja yang turun,” ujarnya datar. “Dan jangan lupa minta Pak Mahendra membawa kamera milik putrinya.” “Baik, Tuan.” Zidan segera keluar dari mobil, langkahnya mantap menuju pintu rumah. Ia menekan bel satu kali. Tak lama, pintu terbukaSasqia mengerjap pelan. Perlahan, ia membuka matanya. Tubuhnya masih terasa lemas setelah aktivitas intim beberapa saat sebelumnya. Saat kesadarannya kembali sepenuhnya, ia mendapati dirinya telah berbaring nyaman di atas ranjang hotel, terselimuti selimut tebal. Ia mengedarkan pandangan ke sekeliling kamar. Dari kejauhan terdengar suara Kaelix yang sedang berbicara melalui telepon. “Saya membutuhkan kamar suite yang lebih luas,” ucap pria itu dengan nada tenang namun tegas. “Pastikan kamar mandinya memiliki bathtub berukuran besar.” Ada jeda sejenak. “Lima menit lagi saya akan pindah ke sana bersama istri saya setelah dia bangun.” “Baik, Pak. Kami akan segera menyiapkannya.” Panggilan pun berakhir. Kaelix memasukkan ponselnya ke saku bathrobe putih yang dikenakannya. Saat berbalik, ia mendapati Sasqia sudah membuka mata. Tatapan mereka bertemu. “Kamu sudah bangun?” Sasqia mengangguk pelan. “Iya, Mas.” Ia mencoba mengangkat tubuhnya untuk duduk. Namun baru sedikit bergerak,
“Kael ....” Tristan membuka suara lebih dulu. Senyum tipis terulas di bibirnya, seolah kemunculan sang kakak benar-benar di luar dugaannya. “Kamu ada perjalanan bisnis ke Tokyo?” Tak ada jawaban. Kaelix hanya menatap adiknya dengan sorot mata dingin yang sulit diartikan. “Saya satu penerbangan dengan Sasqia,” lanjut Tristan tenang. “Dan menginap di hotel yang sama, bersama kru yang lain juga. Kamu jangan salah paham.” Keheningan kembali menguasai lorong. Sasqia yang berdiri di samping mereka hanya mampu meremas jemarinya sendiri. Jantungnya berdetak semakin cepat. “Mas ... saya masuk duluan, ya.” Suaranya pelan, nyaris berbisik. Tanpa menunggu jawaban, ia segera memutar tubuh dan berjalan menuju kamarnya. Ia bahkan tak sanggup menatap wajah suaminya. Masalah pil kontrasepsi saja belum selesai. Kini Kaelix justru memergokinya berada di hotel yang sama dengan Tristan, bahkan sedang mengobrol berdua di depan kamar. Walaupun tak ada yang terjadi, tetap saja, pemandangan itu muda
“Masih belum ada balasan dari asistennya Kak Kael?” tanya Viona sambil menyilangkan kedua kaki. Asistennya kembali melirik layar ponsel. “Belum ada, Bu.” Sudut bibir Viona terangkat tipis. “Bagus. Setidaknya pesannya udah dibaca.” Ia menyandarkan tubuh ke kursi. “Kebetulan banget ketemu mereka di bandara. Tepat waktu pula buat motret.” Ia terkekeh pelan. “Sekarang tinggal tunggu Kak Kael lihat fotonya.” Sang asisten tampak ragu. “Tapi, Bu ... bagaimana kalau Pak Arlan tidak menyampaikan foto itu kepada Tuan Kaelix? Sedangkan Ibu juga meminta saya mengirim tanpa penjelasan apa pun.” Viona tersenyum penuh keyakinan. “Justru itu tujuannya. Foto tanpa penjelasan jauh lebih berbahaya. Orang akan membuat kesimpulannya sendiri.” Ia memainkan gelas di hadapannya. “Dan aku yakin ... Arlan pasti nunjukin. Mustahil dia menyembunyikan sesuatu yang berhubungan dengan istri atasannya.” Asisten itu mengangguk pelan. “Kalau pun berhasil ... mereka tetap tidak bisa bercerai secara agama, Bu. Di
Pagi itu Arlan baru saja tiba di kediaman Kaelix untuk menjemput atasannya berangkat ke kantor. Begitu mobil berhenti di halaman depan, ia segera turun lebih dulu dan membukakan pintu belakang. “Selamat pagi, Pak.” Kaelix mengangguk tipis. “Pagi.” Tanpa banyak bicara, pria itu masuk ke dalam mobil dan duduk di jok belakang. Arlan menyusul duduk di kursi penumpang depan, tepat di samping sopir. Tak lama kemudian, mobil melaju meninggalkan halaman rumah. Suasana di dalam kabin begitu hening. Hanya terdengar suara pendingin udara dan mesin mobil yang berjalan stabil. Ting. Ponsel Arlan tiba-tiba bergetar. Ia mengernyit ketika melihat sebuah pesan masuk dari nomor tak dikenal. Isinya hanya satu foto. Arlan membuka foto itu, seketika dahinya berkerut. “Apa ...?” gumamnya pelan. Di dalam foto itu tampak seorang wanita berseragam pramugari berjalan berdampingan dengan seorang pilot. Wajah keduanya terlihat jelas. Sasqia, dan Tristan. Foto itu tampak diambil dari kejauhan, seolah
Malam itu, Kaelix akhirnya tiba di rumah setelah seharian penuh disibukkan rapat dan urusan perusahaan. Begitu memasuki kamar utama, tangannya otomatis merogoh saku jas. Ia mengeluarkan sebuah kotak beludru kecil. Di dalamnya terdapat cincin berlian milik Sasqia yang siang tadi ditemukannya di depan ruang kerja oleh Shiren. “Nanti saya kembalikan.” Kalimatnya siang tadi kembali terngiang. Sudut bibir Kaelix nyaris terangkat tipis. Ia mengedarkan pandangan ke seluruh kamar. “...Sasqia.” Tak ada jawaban. Ia melangkah ke ruang wardrobe. Kosong. “Qia.” Tetap sunyi. Keningnya mulai berkerut. Kaelix berjalan menuju kamar mandi. Tak ada siapa pun. Ia kembali ke kamar, kali ini matanya menyapu setiap sudut dengan lebih teliti. Barulah ia menyadari sesuatu, koper kabin berwarna navy milik Sasqia tidak ada di tempatnya. Langkah Kaelix langsung terhenti, rahangnya mengeras. Sasqia pergi? Pergi karena ia terus bersikap dingin selama beberapa hari terakhir? Jantungnya
“Aku lagi bener-bener kacau, Jev.” Suara seorang dokter terdengar lirih dari balik sambungan telepon. “Aku gak bisa datang buat operasi pasien siang ini. Tolong gantiin aku, ya. Jadwalnya dua jam lagi.” Jevier yang tengah menyetir hanya mengangguk pelan, meski tahu lawan bicaranya tak mungkin melihat. “Oke. Tenang aja, operasinya biar aku yang ambil.” Ada jeda beberapa detik. “Tapi …,” Sudut bibir Jevier terangkat tipis. “Aku harus tahu dulu alasan kamu. Biar aku ikhlas gantian jaga.” Candanya terdengar ringan, berharap bisa sedikit mencairkan suasana. Namun, tawa yang ia tunggu tak kunjung terdengar. Sebagai gantinya, terdengar helaan napas panjang dari seberang telepon. “Istriku ...,” suara pria itu bergetar. “Keguguran lagi.” Jevier sontak mengernyit. “Lagi?” “Iya. Yang ketiga kalinya.” Seketika senyum di wajah Jevier memudar. Ia menggenggam setir sedikit lebih erat. “Maaf ... aku gak tahu.” “Gak apa-apa.” Suara di seberang sana terdengar semakin lemah. “Dia nangis teru
Sasqia tiba di bandara dengan perasaan yang benar-benar kacau. Bayangan kalung pemberian Tristan yang kini berpindah tangan, dirampas oleh ibunya terus menghantui pikirannya. Bagaimana kalau nanti dirinya bertemu dengan Tristan? Bagaimana kalau pria itu menanyakan kalung tersebut?
Sasqia spontan berbalik. Tanpa berpikir panjang, ia melangkah cepat kembali ke arah mobil. “Sas? Mau ke mana?” Jevier menoleh kaget, lalu segera menyusulnya. “Sas, tunggu!” Namun Sasqia tak menghiraukan panggilan itu. Ia terus berjalan, hampir setengah berlari, seola
“Hah?” Sasqia tersenyum kecil sambil meraih tangan ayahnya yang masih menyentuh pipinya, lalu menggenggamnya lembut. “Nggak, Pa. Ini tadi blush on-nya kebanyakan.” “Blush on?” Mahendra mengerutkan kening. “Itu, riasan perona pipi. Biar kelihatan segar,” jelas Sasqia ringan. “Karena Qia buru-buru,
“Kamu memecat Jessie, Tristan?” tanya Miriam sambil memiringkan kepala, menatap putranya tajam di tengah makan malam keluarga itu. Meja panjang dipenuhi berbagai hidangan mewah, tetapi suasana terasa jauh dari hangat. Tristan duduk tenang, menopang dagunya dengan sat







