Masuk“Yaaah ... udah mau pulang.” Sherly langsung mengerucutkan bibirnya. “Sherly gak bisa berenang lagi kayak semalem.” “Di rumah juga ada kolam renang, Sayang,” hibur Mahendra sambil mengusap kepala cucunya. “Tapi gak sebagus di rumah Om Kael,” rengek Sherly. “Kolamnya lebih gede, lampunya banyak, terus ada Om Kael yang ngajarin Sherly berenang.” Sudut bibir Kaelix terangkat tipis. “Hari lain Om ajarin lagi.” Bola mata Sherly berbinar. “Janji?” serunya semangat, tatapannya beralih pada Kaelix. “Janji.” Sherly langsung tersenyum puas. Sementara itu, Soraya diam-diam memperhatikan Sasqia. Sejak semalam, putri bungsunya itu tampak lebih banyak diam. “Sasqia.” Sasqia menoleh. “Ikut Mama sebentar.” Tanpa menunggu jawaban, Soraya lebih dulu berjalan menuju taman samping rumah. Sasqia sempat melirik Mahendra dan Kaelix. Tak ada yang berkata apa-apa. Ia pun menyusul ibunya. “Ada apa, Ma?” Soraya memandang rumah megah di hadapannya. “Rumah kamu bagus.” Sasqia hanya te
“Sher, udah ya berenangnya,” panggil Sasqia lembut sambil berdiri di tepi kolam. Langit kini benar-benar gelap, jam sudah menunjukkan pukul sembilan, dan angin malam berhembus semakin dingin. “Nanti masuk angin.” Sherly yang masih berada dalam gendongan Kaelix langsung mendongak. “Iya, Tante.” Bocah itu mengusap kedua lengannya yang mulai menggigil. “Sherly juga udah kedinginan.” Ia menoleh kepada Kaelix. “Yuk, Om ... naik. Nanti kita masuk angin.” Kaelix mengangguk pelan. “Baik.” Dengan hati-hati, ia membawa Sherly menuju anak tangga kolam, lalu mengangkat tubuh mungil itu keluar dari air. Begitu kaki Sherly menapak lantai, Soraya segera menghampiri sambil membawa handuk. “Aduh, cucu Nenek ini nakal banget berenang malam-malam.” Soraya membungkus tubuh Sherly dengan handuk tebal. “Ayo, kita mandi air hangat.” Mahendra ikut mendekat sambil tersenyum. “Kakek gendong, ya.” “Iya!” Sherly langsung mengulurkan kedua tangannya. Mahendra menggendong cucunya, sementara Soraya berj
“Loh?” Kaelix menghentikan langkahnya saat melewati area kolam renang di belakang rumah. Di tepi kolam, Sherly duduk seorang diri. Kedua kaki mungilnya menjuntai ke dalam air, sesekali mengayun pelan hingga menciptakan riak-riak kecil. “Mama kamu ke mana?” tanya Kaelix. Bocah itu langsung menoleh. “Om Kael!” Sherly tersenyum lebar. “Mama suruh Sherly tunggu di sini. Katanya Mama lagi cari pelampung.” “Sudah berapa lama?” Sherly mengangkat bahu kecilnya. “Dari tadi.” Kaelix menghela napas pelan. “Tidak boleh menunggu sendirian di dekat kolam, kalau jatuh kamu bisa tenggelam.” “Iya, Om.” Sherly kembali memainkan air dengan ujung kakinya. Beberapa detik kemudian, ia mendongak lagi. “Om ....” “Hm?” “Temenin Sherly berenang, dong. Om kan tinggi, kan gak bakal tenggelam kalau berenang sama Om.” Kaelix mengalihkan pandangan ke arah kolam renang. Kolam itu cukup dalam. Membiarkan anak kecil menunggu sendirian jelas bukan pilihan yang baik. Tanpa banyak bicara, Kaelix mengangguk
“Sherly mau berenang, Tante!” Bocah kecil itu berlari menghampiri Sasqia, lalu menarik-narik tangan bibinya dengan penuh semangat. “Ayo ... ayo berenang!” Sasqia tersenyum kecil. Ia mengusap lembut kepala keponakannya sebelum melirik ke arah langit di balik dinding kaca ruang tamu. Langit sudah mulai menggelap. “Sekarang udah sore, Sayang,” ucapnya lembut. “Kalau nanti Sherly berenang terus keburu malam, gimana kalau Mama sama Kakek ternyata mau pulang?” “Nggak.” Soraya menjawab lebih cepat daripada siapa pun. “Kami memang berencana menginap.” Mahendra spontan menoleh. “Soy ....” Nada suaranya mengandung teguran halus. Sebab sebelum berangkat, mereka sudah sepakat hanya akan bertamu sebentar, lalu pulang malam itu juga. Soraya justru tersenyum santai. “Sekali-sekali menginap di rumah anak sendiri memangnya kenapa?” “Iya, Sas,” sahut Shiren. “Sherly dari tadi semangat banget lihat kolam renang kamu.” Ia menatap putrinya yang sudah melompat-lompat kegirangan. “Aku bel
“Punya suami yang tampan, kaya, baik, ditambah tinggal di rumah semewah ini, masih sempat-sempatnya nangis juga, Sas?” celetuk Shiren sambil menyandarkan tubuhnya ke sofa. Nada bicaranya terdengar ringan, namun sindiran tipis di balik kalimat itu tetap terasa. Mahendra melirik putri sulungnya sekilas. Tatapan itu dingin. Cukup untuk membuat Shiren mendengus pelan dan memilih mengalihkan pandangan. Mahendra kembali menatap Sasqia. “Nak ... ada masalah?” Sasqia buru-buru menggeleng. “Enggak ada, Pa.” “Lalu kenapa matamu merah?” Sasqia menarik napas pelan sebelum memaksakan senyum. “Aku cuma ... kepikiran.” “Kepikiran apa?” Ia menundukkan kepala. “Aku ngerasa belum bisa ngasih apa-apa buat Mas Kael.” Mahendra mengernyit. “Memangnya suami kamu pernah meminta balasan?” “Enggak!” Sasqia langsung menggeleng cepat. “Mas Kael gak pernah minta apa pun.” Ia menggenggam kedua tangannya sendiri. “Cuma ... Mas Kaelix pengen punya anak.” Suaranya semakin lirih. “Sedangkan sampai sekarang
“M-Mas ... aku bisa jelasin.” Suara Sasqia bergetar. Tangannya perlahan terangkat, seolah ingin meraih lengan Kaelix. Namun pria itu sama sekali tidak bergeming. Tatapannya tetap dingin. tajam, hingga sulit ditebak apa yang sebenarnya sedang ia rasakan. “Jelaskan apa?” tanyanya pelan. Sasqia membuka mulut. Tetapi belum sempat satu kata pun keluar, Kaelix kembali berbicara. “Selama tiga bulan ini ...,” ucapnya lirih. “Saya benar-benar tertipu.” Kalimat itu membuat napas Sasqia tercekat. “Saya pikir ... kamu sudah menerima saya.” “Mas ....” “Saya pikir sikapmu selama ini tulus.” Tatapan Kaelix tidak pernah lepas dari wajah istrinya. “Kamu menurut. Kamu lembut. Kamu mulai memperhatikan saya. Sampai akhirnya saya percaya ... bahwa kejadian di hari pernikahan itu hanya masa lalu.” Ia menghembuskan napas panjang. “Seharusnya saya tidak lengah.” “M-Mas, dengerin aku dulu ....” “Ternyata saya salah.” Nada suaranya tetap tenang. Namun justru ketenangan itulah yang membuat dada Sas
Sejenak, Jevier hanya mampu menatap Mahendra tanpa suara. Dadanya bergetar halus, detak jantungnya terasa lebih cepat dari biasanya. Ia tidak menyangka pertanyaan itu akan datang secepat ini. Dan yang lebih mengejutkan, ia tak benar-benar ingin mengelak.
Sasqia masih menatap layar ponselnya beberapa detik setelah panggilan itu berakhir. Nama Tristan perlahan menghilang dari layar, namun suaranya seolah masih tertinggal di telinganya. Ia menghela napas pelan, lalu memasukkan ponselnya ke dalam saku celana. “Telepon da
“Tuan, kita sudah sampai.” Suara sopir membangunkan Tristan yang duduk di kursi belakang. Ia baru saja tiba di vila tempat kakeknya beristirahat. Sejak mendarat di bandara, ia langsung menuju ke sini—bahkan sempat terlelap sebentar di perjalanan. Ia membuka mata perlahan, lalu keluar dari mobi
“Apa yang mereka lakukan di dalam?” Kaelix bergumam lirih sambil menatap langit malam yang bertabur bintang. Ia duduk seorang diri di bangku taman vila, diterangi cahaya lampu kekuningan yang temaram. Di antara jemarinya, sebatang rokok menyala redup. Bara merah di ujungnya berkedip setiap kali i







