LOGINRolan dengan tidak sabar melucuti semua pakaiannya, tidak ada selembar benangpun yang menutupi tubuhnya.Puas dengan posisi itu, Rolan mengambil posisi duduk, membiarkan Miranda berada di atas tubuhnya dan memegang kendali.Posisi jongkok dan mulai menaik turunkan tubuhnya, tubuh Rolan merasakan kenikmatan luar biasa.“Mmmm, aaaah … lebih cepat, Sayang,” erang Rolan.Rilan memegang pinggul Miranda, membantu naik turun lebih cepat. Benda tumpul yang keras dan besar itu terasa sedang menumbuk leher rahim, membuat Miranda bergerak semakin liar.“Oooh … aku ga kuat,” ucap Miranda dengan suara parau. “Tunggu aku, Sayang,” kata Rolan.Rilan segera mengganti posisi, tubuh Miranda berada di bawah dengan kaki terbuka.“Cepat, Yang,” rengek Miranda.“Iya, Sayang,” balas Rolan.Rilan memasukkan kembali dan bergerak maju mundur, lebih cepat … lebih cepat lagi.“Aaah, Aaaah!” seru Miranda lalu menutup mulutnya sambil menggigit bibir dan menghempas kepalanya.“Ssssh, mmmmph,” desah Rolan sambil me
Dua minggu berlalu, Aris sibuk dengan bisnis barunya. Sidang perceraian Miranda sudah selesai dua hari yang lalu.Hakim mengabulkan gugatan Miranda, dan sertifikat berai akan selesai minggu depan. Pekerjaannya semakin sibuk saja, begitu juga Rolan yang harus menangani banyak kasus dan raat untuk Wijaya Grup.“Susan, apakah rapat untuk klien hari bisa dimajukan?” tanya Rolan kepada Susan.“Tidak ada rapat lagi, Tuan. Klien terakhir mengubah janji temu karena dirawat di rumah sakit,” jawab Susan.“Baiklah, seperti biasa. Hubungi aku,” sahut Rolan.Rolan bergegas ke kantor Wijaya Grup, sebenarnya lelaki itu begitu merindukan Miranda yang selalu bersikap dingin.Tiba di ruangannya, dia melihat banyak tumpukan dokumen. Rolan memilih memendam kerinduannya untuk menatap Miranda dan memeriksanya satu persatu.Di pertengahan, Rolan melihat ada laporan yang janggal. Menurutnya itu salah penulisan saja, karena angka berikutnya benar. Lelaki itu tersenyum licik dan menghubungi Miranda.[Mira, to
“Anda salah paham, aku sama sekali tidak pernah merendahkan Mira,” balas Rolan.“Anda mungkin tidak, tetapi keluarga Anda akan melakukannya. Satu lagi, putusan perceraian belum ada. Jangan merusak nama baik adikku, aku tidak mau ada yang menghina dia sebagai perempuan murah,” tukas Aris lagi.“Baiklah, saya pamit. Maafkan atas kelancangan saya,” pamit Rolan.Lelaki itu pergi, wajah Miranda tampak sedih meski dia tersenyum yang dipaksakan.“Mukamu serem amat kayak kuburan angker. Ayo temani Kakak, sekalian makan,” ajak Aris sambil menggoda adiknya “Eeeh, enak aja. Cantik begini dikatain kuburan angker,” protes Miranda sambil mendelik.Mereka kemudian memilih makan malam, barulah berbelanja pakaian, tidak lupa peralatan lain yang dibutuhkan, termasuk makanan ringan.Miranda membeli semua makanan yang sudah lama dia idamkan, Aris hanya tertawa kecil melihat adiknya memilih banyak sekali makanan ringan, buah dan cake kegemarannya. “Kulkasmu mana muat sebanyak itu, nanti kalo abis beli l
“Tuan, maaf … saya sibuk,” kata Miranda dingin.Rolan menghela napas, dan meninggalkan Miranda di ruangannya. Gagal sudah usahanya berbaikan dengan Miranda, dia menuju ke lobi karena Susan sudah menghubunginya untuk rapat.‘Biasanya perempuan suka hadiah, sebaiknya aku beri hadiah nanti malam,’ pikir Rolan.Miranda menjalankan aktifitas seperti biasa, sibuk dengan berbagai berkas dan dokumen. Serta mengatur jadwal rapat serta janji temu dengan klien. Sore harinya, selepas jam kerja, Aris menjemput adiknya dan menunggunya di lobi. Lelaki itu mengamati setiap orang yang lalu lalang dan memperhatikan setiap dekorasi perusahaan elit tersebut.“Kakak!” seru Noranda setengah berlari.“Pelan-pelan, haih … kau ini udah dewasa masih suka lari-lari.” Aris menjentik dahi adiknya “Aaw, sakit tau. Dah lah,” ucap Miranda pura-pura merajuk.“Udah tua kok merajuk, ayo pulang,” ajak Aris sambil tertawa kecil.Kedua kakak beradik itu menuju mobil dan meninggalkan kantor, tepat ketika mobil yang memba
“Nona, sepertinya Anda salah paham. Seperti yang Anda lihat, bukankah saya sibuk dengan pekerjaan saya? Apakah tampak menganggur hingga memiliki waktu luang menggoda calon suami Anda?” tanya Miranda dengan nada dingin.“Cih, kau bisa menggodanya ketika mengantar laporan. Jangan kira aku gak tau trik murahanmu,” jawab Stella.“Agaknya rumah sakit memang berbeda dengan perusahaan, apa Anda tahu jika berkas dari meja saya diantar petugas administrasi ke meja Tuan Rolan? Tentu saja tidak tahu, karena sibuk mencari celah orang lain.”“Dengar Nona Stella yang terhormat, saya adalah pekerja di sini … bukan untuk menjual tubuh. Waktu sangat berharga, jika tidak ada pembicaraan penting, silakan pergi.” Miranda membuka pintu sambil menatap Stella.“Dasar kau jalang, perempuan hina. Penggoda!” teriak Stella marah.Ketika edua mata Stella terbelalak, bibirnya bergerak tetapi tidak.bisa mengucapkan kata apapun. Rolan menatapnya tajam, bahkan seolah akan mengulitinya hidup-hidup.Miranda menoleh da
“A-Aris,” ucap Sari terbata.Sari, Erna dan Bayu ketakutan melihat Aris datang, Rolan terkejut lelaki yang bersama Miranda tadi malam bisa berada di kantornya.“Sebaiknya kau tidak perlu ikut campur urusanku, pergi!” usir Rolan.“Kakak!” seru Miranda lalu memeluk Aris dengan tubuh sedikit gemetar.“Tutup mulutmu, kau yang jangan ikut campur. Jangan kira karena kaya kau bisa sesukamu.” Aris menatap tajam Rolan.Sikap Aris penuh wibawa dan aura pemimpin yang kuat, mengusik sifat Alpha dari Rolan. Aris menatap Sari, Erna dan Bayu yang tertunduk. Ketakutan dengan hadirnya lelaki itu.“Kalian keluarga lintah … bertahun aku diam, ternyata adikku kalian jadikan sapi perah. Sekarang, tepati janji kalian!” hardik Aris marah.“Aris … kasih keringanan. Semua yang dilakukan Mira karena kesadaran sendiri, gak ada paksaan. Iya kan, Mir,” kata Sari.“Oh, Anda kira aku bodoh? Kalo memang adikku sukarela, kok dia tuntut untuk kembalikan uang yang dia keluarkan?” tanya Aris dingin.“Itu karena adikmu







