Home / Mafia / Demi Dendam, Aku Menikahi Raja Mafia / EPISODE 3 RASA YANG TIDAK DIIZINKAN

Share

EPISODE 3 RASA YANG TIDAK DIIZINKAN

Author: Vyn
last update publish date: 2026-06-18 19:47:35

Hari ini untuk pertama kalinya sejak datang ke kota ini, Zoey memasuki dunia para penguasa. Mobil hitam itu berhenti di depan sebuah gedung megah yang dipenuhi cahaya. Zoey turun perlahan. Tatapannya menyapu bangunan di hadapannya. Megah. Mewah. Dan berbahaya.

"Apa ini?" tanyanya.

"Lelang."

Zoey menoleh ke arah Dimitri. "Lelang biasa?"

Pria itu tersenyum tipis. "Tidak ada yang biasa di dunia tempatku hidup."

Jawaban itu tidak membuat Zoey lebih tenang. Justru sebaliknya. Ia mengikuti Dimitri memasuki gedung. Begitu pintu terbuka, puluhan pasang mata langsung beralih kepada mereka. Atau lebih tepatnya... Kepada Dimitri. Tatapan hormat. Takut. Waspada.

"Jangan jauh dariku." Suara Dimitri membuatnya menoleh.

"Aku tidak akan tersesat."

"Bukan itu yang ku khawatirkan." Pria itu sedikit mendekat. "Karena di tempat seperti ini, yang berbahaya bukan arah." Tatapannya menyapu seluruh ruangan. "Tapi manusia."

Kalimat itu membuat bulu kuduk Zoey meremang. Mereka duduk di barisan depan. Zoey bisa merasakan ketegangan, persaingan, dan keserakahan.

"Selamat datang di lelang aset Northvale Group."

Tubuh Zoey langsung menegang. Northvale. Nama itu tidak asing. Ia pernah melihatnya dalam dokumen milik ayahnya.

"Kau kenal nama itu?"

Zoey tersadar Dimitri sedang memperhatikannya. Ia segera menggeleng. "Pernah mendengarnya."

Tatapan pria itu bertahan beberapa detik lebih lama. Mencari sesuatu. Untungnya, ia tidak melanjutkan. Lelang dimulai. Angka-angka melonjak cepat. Ratusan miliar berpindah tangan seolah tidak berarti apa-apa. Zoey mulai memahami. Ini bukan tentang aset, melainkan kekuasaan.

Sampai sebuah suara terdengar. "Lima ratus miliar."

Ruangan mendadak hening. Zoey menoleh. Seorang pria berdiri dari kursinya. Tinggi. Tampan. Dan terlalu percaya diri. Pria itu berjalan santai ke tengah ruangan. Seolah seluruh tempat ini miliknya.

"Ken Starling."

Nama itu membuat darah Zoey seolah berhenti mengalir. Starling. Nama yang selama bertahun-tahun menghantui hidupnya. Jemarinya mengencang di atas pangkuan, tetapi wajahnya tetap tenang.

"Kau mengenalnya?" tanya Dimitri rendah.

Zoey menoleh. Pria itu sedang mengamatinya tajam.

Ia segera menggeleng. "Tidak. Aku hanya pernah mendengar nama keluarganya."

Dimitri tidak langsung menjawab. Tatapannya bertahan beberapa detik, seolah mencari kebohongan di wajahnya. Namun Zoey membalas tatapan itu dengan tenang, tidak memberi celah sedikit pun.

Ken berjalan mendekat. Tatapannya langsung berhenti pada Zoey. Senyumnya membuat Zoey tidak nyaman.

"Aku belum pernah melihatmu sebelumnya."

Zoey membalas tatapannya tanpa ragu.

"Dan aku tidak pernah merasa perlu dikenal oleh orang asing."

Beberapa orang yang mendengar percakapan itu hampir tersenyum.

Ken justru tertawa. "Menarik."

Tatapannya belum berpindah, Zoey tidak menyukainya. Tangannya menyentuh lengan Zoey. Ia bisa merasakannya Dimitri sedang marah.

"Lelang akan dilanjutkan."

Suara pembawa acara kembali terdengar. Namun ketegangan itu tidak hilang.

"Sembilan ratus miliar." Suara Dimitri menggema di seluruh ruangan.

Semua orang langsung menoleh. Zoey ikut terkejut. Angka itu terlalu besar. Bahkan bagi orang-orang kaya yang hadir di sana. Ken tersenyum tipis. Tidak marah, tidak terkejut. Seolah memahami sesuatu yang tidak dipahami orang lain.

"Terjual."

Palu diketuk. Lelang berakhir. Namun insting Zoey mengatakan sesuatu.

Perjalanan pulang berlangsung dalam keheningan. Lampu kota berlalu di balik jendela mobil. Zoey memandangi jalanan tanpa benar-benar melihatnya.

"Kau terlalu banyak berpikir." Suara Dimitri memecah lamunannya.

Zoey menoleh. Pria itu sedang menatap lurus ke depan. Seolah tidak memperhatikannya. Namun Zoey tahu Dimitri selalu memperhatikan.

"Jauhi Ken Starling."

Zoey mengangkat alis. "Itu perintah?"

"Itu nasihat." Ucap Dimitri penuh penekanan.

"Apa bedanya?"

Dimitri menoleh. Tatapan gelapnya bertemu dengan mata Zoey.

"Nasihatku biasanya terdengar seperti perintah."

Zoey tidak menjawab. Namun peringatan itu tersimpan di kepalanya. Karena jika Dimitri membenci Ken Starling sebesar itu, maka keluarga Starling memang menyembunyikan sesuatu.

Zoey kembali ke kamarnya. Ia mengeluarkan foto lama yang selama ini selalu disimpan. Foto keluarganya. Jemarinya menyentuh wajah kedua orang tuanya.

"Aku semakin dekat," bisiknya lirih. "Sangat dekat."

Zoey sedang duduk di kamarnya ketika terdengar langkah kaki berhenti tepat di depan pintu. Ia mengernyit. Sudah larut malam, tidak ada alasan untuk menemuinya. Ia berdiri dan membuka pintu, Dimitri berdiri di hadapannya

Pria itu tidak mengatakan apa pun. Hanya menatapnya dengan sorot mata yang sulit diartikan. Tatapan itu membuat Zoey merasa tidak nyaman.

"Ada apa?" tanyanya pelan.

Dimitri tetap diam.

Tanpa menunggu undangan, pria itu melangkah masuk ke dalam kamar. Zoey refleks mundur beberapa langkah. Jantungnya mulai berdetak lebih cepat.

Kali ini pria itu akhirnya berbicara. "Besok kita menikah."

Zoey membeku.

"Aku tidak suka orang lain menyentuhmu," lanjut pria itu tenang. "Apalagi dia."

Zoey tahu siapa yang dimaksud. Ken Starling.

"Itu bukan sesuatu yang bisa ku kendalikan," jawabnya.

"Benar." Dimitri mengangguk pelan. "Tapi dia tetap melakukannya."

Sebelum Zoey sempat merespons, Dimitri meraih pergelangan tangannya. Tatapannya turun ke bekas sentuhan yang masih diingatnya.

"Dimitri, itu hanya…”

Pria itu menggigit pelan kulitnya.

“Ah...” Zoey tersentak.

Dimitri menatapnya. “Aku tidak suka.” Jari-jarinya masih melingkari pergelangannya.

Zoey menggigit bibir bawahnya. Menahan sesuatu. Napasnya tidak stabil. Membuat Dimtiri semakin kehilangan kendali. Bibirnya perlahan menyentuh cuping telinga Zoey. Mengigit ringan. Tangan Dimtiri turun, menyusuri punggungnya yang terbuka

“Ah...”

Suara itu akhirnya lolos. Dimitri berhenti sejenak. Menatapnya. Rencananya yang ingin membuat Zoey goyah, justru berbalik menyerangnya.

“Aku akan sedikit kasar malam ini,” bisiknya rendah.

Tatapan Dimtiri mengunci matanya “Anggap saja ini hukuman.”

Dimitri menariknya lebih dekat, nyaris tanpa jarak.

“Karena kau membiarkan pria lain menyentuh...apa yang menjadi milikku.”

Zoey terdiam. Napasnya tertahan, mata mereka bertemu.

"Aku bukan barang yang bisa dimiliki seenaknya, Dimitri," kata Zoey akhirnya.

Tatapan Dimitri mengeras sesaat. Lalu senyum tipis muncul di sudut bibirnya. "Kalau begitu...." Suaranya semakin rendah, hampir berbisik ke bibirnya, “...hari ini kau sudah ku jadikan milikku sepenuhnya.”

Dimitri menyentuh setiap bagian tubuh Zoey...perlahan, seolah memastikan ia benar-benar berada dalam kendalinya. Malam ini... Gadis itu terlalu responsif. Dan Dimitri tidak berniat menghentikannya.

Zoey mencengkram lengannya, seolah menahan sesuatu....ia kehilangan kendali atas dirinya sendiri.

Dimitri mendekat ke telinganya, “Kau yang memulainya...” suaranya terdengar rendah.

Bisikan itu membuat tubuh gadis itu kembali menegang. Ia mendekat ke telinga gadis itu. " Ini bukan tentang perasaan," menatap tajam Zoey “tapi tentang memiliki.”

Dimitri menarik napas pelan. “Dan memastikan..” lanjutnya, suaranya hampir seperti peringatan. “Kau tetap di tempatmu.”

Mata mereka bertemu.

“Di sisiku “

Zoey tidak menjawab.

Dimitri memejamkan mata sejenak, lalu berbisik "Mulai besok, seluruh dunia akan mengenalmu sebagai istriku."

Kalimat itu menggantung di udara. Membuat jantung Zoey berdetak lebih cepat.

"Jadi lakukan peranmu dengan baik."

"Peran?" ulang Zoey.

Dimitri menatapnya beberapa saat sebelum menjawab. "Untuk sekarang, itu sudah cukup." Ia berbalik menuju pintu.

Namun sebelum keluar, ia berhenti. "Jangan lupa satu hal."

Zoey mengangkat kepala.

"Di dunia tempat kau berdiri besok, tidak ada tempat untuk kelemahan."

***

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Demi Dendam, Aku Menikahi Raja Mafia    Bab 30 — Kegelapan di Dalam Mansion

    Zoey memasuki halaman mansion dengan langkah pelan. Suara mesin mobil Dimitri yang perlahan menjauh masih terngiang di telinganya. Ia berdiri beberapa detik di depan pintu utama, seolah masih berharap mobil hitam itu kembali berbalik. Namun yang terdengar hanyalah embusan angin sore. Zoey menghela napas pelan. "Aneh..." Baru beberapa menit berpisah, tetapi suasana mansion terasa jauh lebih sepi dari biasanya. Ia membuka pintu utama dan melangkah masuk. Brak. Pintu menutup perlahan di belakangnya. Zoey mengerutkan kening. Seluruh ruangan diselimuti kegelapan. Tidak ada satu lampu pun yang menyala. Biasanya, saat sore menjelang malam seperti ini, lampu-lampu kristal di ruang utama sudah menyala terang. Para pelayan juga selalu sibuk menyiapkan makan malam. Namun hari ini… Semuanya sunyi. "Halo?" Suara Zoey menggema pelan di dalam ruangan yang luas. Tidak ada jawaban. Ia melangkah lebih dalam. "Ada yang aneh..." Tatapannya menyapu sekeliling. Semua perabot masih berada di tem

  • Demi Dendam, Aku Menikahi Raja Mafia    Bab 29 — Perpisahan Singkat

    Mobil hitam itu akhirnya memasuki halaman mansion dan berhenti dengan mulus di depan pintu utama. Sepanjang perjalanan, suasana di dalam mobil terasa jauh lebih tenang daripada biasanya. Zoey sesekali melirik pria yang duduk di sampingnya. Dimitri tampak sibuk membaca beberapa dokumen di tablet yang berada di tangannya. Sesekali ia membalas pesan dari Andrian, lalu kembali memusatkan perhatian pada pekerjaannya. Zoey hanya bisa menghela napas pelan. Pria itu benar-benar tidak pernah berhenti bekerja. Mobil berhenti sempurna. Andrian yang duduk di kursi depan segera turun lebih dulu untuk membuka pintu. Zoey menoleh ke arah Dimitri. "Kau tidak masuk dulu?" Dimitri menggeleng pelan. "Tidak. Kami sudah terlambat." "Kami?" "Andrian dan aku." Zoey baru teringat bahwa Andrian memang selalu menemani Dimitri dalam perjalanan bisnis. "Jet pribadi sudah siap. Kami harus segera berangkat ke London." Zoey mengangguk pelan. "Baiklah." Ia meraih gagang pintu, berniat turun dari mobil.

  • Demi Dendam, Aku Menikahi Raja Mafia    Bab 28 — Di Hadapan Semua Orang

    Zoey masih memandangi berkas di tangannya. Matanya berulang kali membaca kalimat yang sama, seolah memastikan bahwa ia tidak salah melihat. Sebuah butik mewah di pusat kota. Kini, atas nama Zoey Volkov. Ia perlahan mengangkat kepalanya. "Dimitri... ini benar-benar terlalu banyak." "Bukan." Jawaban pria itu tetap singkat. "Itu adalah bagian dari tanggung jawabmu." Tambahanya. Zoey menghela napas pelan. Ia masih belum terbiasa dengan cara Dimitri menunjukkan perhatian. Pria itu jarang mengucapkan kata-kata manis, tetapi setiap tindakannya selalu jauh melampaui ucapan. Suasana kembali hening. Beberapa detik kemudian Dimitri melihat jam tangan di pergelangan tangannya. "Aku akan mengantarmu pulang." Zoey mengangguk pelan. "Lalu malam ini aku harus berangkat ke London." Ucapan itu membuat Zoey spontan menoleh. "Hah?" "Ada pekerjaan yang tidak bisa ditunda." "Berapa lama?" "Mungkin beberapa hari." Entah mengapa, dada Zoey terasa sedikit sesak mendengarnya. Ia segera menggele

  • Demi Dendam, Aku Menikahi Raja Mafia    Bab 27 — Peran Seorang Nyonya Volkov

    Tubuh Zoey seketika menegang. "Si-siapa?" tanyanya pelan. Dimitri menatapnya tanpa mengalihkan pandangan. "Ken Starling." Nama itu membuat darah Zoey seolah berhenti mengalir. Wajahnya perlahan memucat, sementara jemarinya tanpa sadar saling menggenggam erat. "Ken...?" Pria itu mengangguk tipis. "Dia sudah lama memantau gerak-gerikmu, Zoey." Mata Zoey membelalak. "Jadi... di acara lelang itu..." "Hanya sandiwara," potong Dimitri dengan tenang. "Dia sengaja berpura-pura tidak mengenalmu seolah semuanya kebetulan." Zoey mencoba mengingat kembali malam itu. Cara Ken menyapanya, senyum ramah.. "Itu sudah direncanakan?" bisiknya lirih. "Ya." Dimitri berjalan mendekati meja kerjanya lalu mengambil sebuah map berwarna hitam. "Andrian berhasil menemukan seluruh rekaman dan laporan penyelidikan. Ken telah mengawasi kehidupanmu cukup lama." Zoey menatap map itu dengan perasaan campur aduk. "Kenapa?" "Itulah yang sedang kami cari." Ruangan kembali hening. Beberapa saat kemudi

  • Demi Dendam, Aku Menikahi Raja Mafia    Bab 26 — Harga Sebuah Ucapan

    "Sayang," panggilnya lembut, kontras dengan aura dingin yang memancar dari dirinya. "Masuklah ke ruang kerjaku."Zoey menoleh ke arahnya. Untuk sesaat, tatapan mereka bertemu. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, ia mengangguk pelan lalu melangkah menghampiri Dimitri.Setiap karyawan di koridor saling berpandangan. Mereka baru pertama kali mendengar bos mereka memanggil seseorang dengan suara selembut itu."Itu... Pak Dimitri?" bisik salah seorang wanita dengan mata membelalak."Tadi beliau bilang... sayang?""Aku pasti salah dengar.""Tidak. Aku juga mendengarnya."Suasana yang semula dipenuhi bisikan sinis kini berubah menjadi keheningan yang canggung. Tak seorang pun berani mengucapkan apa pun lagi ketika Dimitri melintas. Tatapan pria itu datar, tetapi cukup membuat siapa pun merasa tertekan.Pintu ruang kerja tertutup perlahan.Zoey duduk di sofa dekat jendela. Wajahnya masih memerah, entah karena malu atau menahan kesal."Kenapa mereka seenaknya mengatakan aku wanita penggoda?" g

  • Demi Dendam, Aku Menikahi Raja Mafia    Bab 25 — Bisikan di Balik Pintu

    "Zoey."Suara Dimitri memecah lamunan yang sejak tadi menguasai pikirannya. Zoey tersentak hingga hampir menjatuhkan garpu yang berada di tangannya."Hah? K-kenapa?"Dimitri menatapnya beberapa saat. Sorot matanya tetap tenang, tetapi kali ini terselip sedikit rasa heran."Sejak tadi kau terlihat melamun."Zoey buru-buru menggeleng."Tidak... hanya kurang tidur."Dimitri tidak langsung percaya, tetapi ia juga tidak memaksa."Kalau begitu, setelah sarapan bersiaplah."Zoey mengernyit. "Bersiap?""Aku akan ke kantor."Zoey mengangguk pelan. Itu bukan sesuatu yang aneh. Namun kalimat Dimitri berikutnya membuatnya kembali terdiam."Aku ingin kau ikut denganku.""Hah?"Dimitri meletakkan cangkir kopinya di atas meja."Kau tidak mungkin terus berada di mansion."Zoey masih terlihat bingung."Memangnya aku harus melakukan apa di sana?""Tidak banyak." Dimitri menjawab santai."Kau bisa melihat-lihat. Mengenal lingkungan kerjaku juga bukan hal yang buruk.""Tapi..." Zoey ragu. Ia bukan bagi

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status