Share

Chapter 5

Author: Reartha
last update publish date: 2026-04-16 20:25:16

Hari itu, waktu berjalan dengan cara yang berbeda untuk Yusallia.

Bukan pelan seperti pagi tadi ketika ia baru saja melangkahkan kaki ke dalam rumah sakit. Tapi justru terlalu cepat... sampai ia bahkan tidak sempat benar-benar menyadari kapan jam berganti.

Pasien pertama masuk dengan raut wajah lelah.

Seorang pria paruh baya, dengan lingkar hitam di bawah mata dan tangan yang terus bergerak gelisah di pangkuannya. Yusallia menyambutnya dengan suara yang tenang, senyum yang tidak berlebihan, dan tatapan yang cukup hangat untuk membuat orang lain merasa didengar.

Seperti biasanya. Ia mendengarkan. Mencatat. Dan mengajukan pertanyaan dengan ritme yang pelan, tidak memaksa, tapi juga tidak memberi ruang untuk menghindar.

Satu pasien selesai.

Lalu berikutnya masuk.

Dan berikutnya lagi.

Tanpa jeda.

Tanpa napas panjang di antara waktu.

Hari itu... berbeda.

"Dok, pasien berikutnya sudah menunggu dari tadi," ujar perawat asistennya pelan dari balik pintu.

Yusallia sempat melirik jam di dinding.

Baru pukul sepuluh lewat sedikit.

Tapi rasanya seperti sudah siang.

"Masukkan saja," jawabnya singkat, sambil merapikan catatan di mejanya.

Pasien kedua.

Perempuan muda, mungkin seusianya. Tapi matanya kosong. Cara bicaranya lambat. Dan setiap kata yang keluar terasa seperti ditarik dari tempat yang sangat dalam.

Yusallia tidak buru-buru.

Ia tahu, beberapa luka tidak bisa disentuh dengan tergesa.

Ia duduk lebih lama dari yang seharusnya.

Memberi ruang.

Memberi waktu.

Dan tanpa sadar... itu memakan waktunya sendiri.

Ketika pasien itu keluar, ia sempat menghela napas panjang.

Tapi belum sempat benar-benar menenangkan diri"Dok, ada pasien tambahan. Tadi daftar mendadak," kata perawat lagi.

Yusallia menoleh.

Alisnya sedikit mengernyit.

"Tambahan lagi?"

"Iya, dok. Hari ini poli jiwa penuh banget."

Ia diam sejenak.

Lalu mengangguk kecil. "Masukkan saja."

Dan begitu saja... hari itu terus berjalan tanpa henti.

---

Menjelang siang, ruangan itu mulai terasa lebih padat.

Bukan secara fisik.

Tapi secara... emosi.

Setiap pasien datang dengan ceritanya masing-masing. Ada yang kehilangan arah. Ada yang kehilangan semangat. Ada yang bahkan sudah kehilangan dirinya sendiri.

Dan Yusallia... ada di tengah semua itu.

Menjadi tempat mereka berbicara.

Menjadi tempat mereka menjatuhkan lelah.

Menjadi tempat mereka... sedikit demi sedikit mencoba bertahan.

Ia tidak pernah mengeluh.

Tapi di sela-sela waktu yang nyaris tidak ada itu... pikirannya sempat melayang.

Sekilas, ia mengingat.

Janji makan siang, dan satu nama yang entah kenapa masih ia ingat sejak semalam.

Rionegro.

Tangannya yang sedang menulis sempat berhenti sejenak.

Hanya satu detik.

Lalu kembali bergerak.

"Fokus," gumamnya pelan.

Ia bahkan tidak sempat mengecek ponselnya.

Tidak sempat membuka layar.

Tidak sempat mengingat... bahwa hari ini ia punya janji.

---

Jam menunjukkan pukul satu siang.

Tapi Yusallia belum beranjak dari kursinya.

"Dok, mau istirahat dulu?" tanya perawat asistennya dengan nada ragu.

Yusallia melirik ke arah luar ruangan, di mana masih ada beberapa pasien yang menunggu.

Ia menggeleng pelan.

"Nanti saja."

Perawat itu hanya mengangguk, walau terlihat sedikit khawatir.

Dan seperti itu... waktu terus berjalan.

Tanpa memberi ruang untuk berhenti.

---

Di sisi lain kota, suasana yang berbeda terasa di dalam ruang kelas.

Rionegro berdiri di depan, dengan papan tulis di belakangnya yang sudah penuh dengan tulisan. Suaranya tenang, jelas, dan teratur. Setiap kalimat yang keluar terasa terstruktur dengan baik, seperti sudah tersusun rapi di kepalanya.

Mahasiswa di depannya memperhatikan.

Beberapa mencatat. Beberapa hanya mendengarkan.

Dan seperti biasa... kelasnya berjalan tanpa hambatan.

Sampai akhirnya, ia menyudahi kelasnya "Baik, kita cukupkan sampai di sini untuk hari ini."

Suara kursi bergeser. Buku ditutup. Dan satu per satu mahasiswa mulai keluar dari ruangan.

Rionegro merapikan catatannya dengan santai. Tidak terburu-buru.

Sampai ruangan itu hampir kosong.

Barulah ia mengambil ponselnya.

Layar menyala.

Dan entah kenapa... tanpa perlu berpikir lama, jarinya langsung bergerak mencari satu nomor yang baru ia simpan semalam.

Yusallia.

Ia menatap nama itu beberapa detik.

Lalu menekan tombol panggil.

Nada sambung pun terdengar.

---

Di dalam ruang praktiknya, Yusallia yang sedang menuliskan resep sedikit terkejut ketika ponselnya bergetar.

Ia melirik sekilas.

Nomor tidak dikenal.

Alisnya sedikit mengernyit.

Biasanya ia tidak akan mengangkat telepon di tengah jam praktik. Tapi entah kenapa kali ini ia ragu sejenak.

Dan setelah memikirkan banyak kemungkinan akhirnya ia mengangkatnya.

"Hallo?" suaranya tetap tenang, walau sedikit lebih cepat dari biasanya.

Di seberang sana, Rionegro tersenyum tipis mendengar suara itu.

"Selamat siang."

Yusallia diam sejenak.

Suara itu familiar. Tapi ia tidak langsung yakin.

"Maaf... ini dengan siapa?" tanyanya hati-hati.

Ada jeda singkat.

"Saya Rionegro"

Dan seketika itu juga, ingatan Yusallia kembali.

"Oh..." gumamnya pelan, sedikit terkejut. "Iya... maaf, aku belum sempat simpan nomor kamu."

Rionegro mengangguk kecil, walau tentu saja tidak terlihat."Tidak apa-apa."

Ada jeda singkat lagi.

Rionegro kemudian langsung masuk ke tujuan. "Saya hanya ingin memastikan... mengenai janji makan siang kita hari ini."

Kalimat itu sederhana, tapi cukup untuk membuat Yusallia langsung terdiam.

Matanya refleks melirik ke arah jam. Dan saat itu juga-Ia tersadar.

Janji itu.

Ia benar-benar... lupa.

Bukan karena tidak penting. Tapi karena hari ini terlalu padat.

Tangannya menggenggam ponsel sedikit lebih erat.

"Rionegro..." suaranya berubah sedikit lebih pelan. "Aku... minta maaf."

Nada suaranya jujur tidak dibuat-buat."Sepertinya aku belum bisa menepati janji makan siang kita hari ini."

Di seberang sana, Rionegro tidak langsung menjawab.

Memberi ruang.

Seperti yang biasa ia lakukan.

Yusallia melanjutkan, "Hari ini pasien di poli jiwa lagi sangat ramai. Dari pagi sampai sekarang belum berhenti... dan aku bahkan belum sempat istirahat."

Ia menarik napas pelan. "Aku benar-benar tidak bisa keluar dari rumah sakit hari ini."

Jujur apa adanya. Tanpa alasan berlebihan. Hanya kenyataan.

Beberapa detik hening.

Lalu Rionegro membalas "Tidak masalah."

Jawaban itu datang dengan tenang. Tanpa nada kecewa dan tekanan

"Janji makan siang itu tidak perlu Anda pikirkan sekarang," lanjut Rionegro. "Yang penting, Anda fokus dulu dengan pekerjaan Anda dan pasien-pasien Anda."

Sederhana.

Tapi entah kenapa... membuat Yusallia sedikit terdiam.

Ada sesuatu dari cara pria itu bicara.

Tenang. Mengerti.

Tanpa membuatnya merasa bersalah.

Yusallia menunduk sedikit, walau ia tahu itu tidak terlihat."Terima kasih... ya."

Nada suaranya lebih lembut dan tulus. "Sudah mengerti kondisi aku."

Rionegro tidak menjawab langsung.

Dan Yusallia melanjutkan, kali ini dengan nada yang sedikit lebih ringan. "Tapi aku tetap akan mentraktir kamu nanti. Bukan hari ini... tapi di lain waktu. Anggap saja balas budi karena sudah menolong aku kemarin."

Ada sedikit senyum di suaranya walau samar.

"Dan... aku minta maaf karena harus membatalkan janji hari ini."

Rionegro menarik napas pelan.

Lalu menjawab dengan nada yang sama tenangnya "Tidak apa-apa."

Singkat, tapi cukup, tanpa adanya tuntutan dan penekanan. Hanya penerimaan.

Beberapa detik hening lagi.

Seolah keduanya sama-sama tidak tahu harus menambahkan apa.

Sampai akhirnya "Baik... kalau begitu saya tidak akan mengganggu Anda lebih lama," kata Rionegro.

"Iya," jawab Yusallia pelan. "Terima kasih sudah menghubungi."

"Selamat melanjutkan pekerjaan."

Dan sambungan itu pun terputus.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Demi Pernikahan yang Bahagia   Chapter 74

    Sore itu, rumah keluarga Callisto terasa hangat, tapi tetap dipenuhi rasa tegang yang samar. Yusallia duduk di ruang tamu, memeluk bantal kecil di pangkuannya, matanya sesekali menatap ke luar jendela, ke halaman yang diterangi cahaya senja yang perlahan meredup. Ia tahu Rionegro akan datang. Sudah sejak beberapa jam lalu, ponselnya bergetar dengan pesan singkat dari pria itu.> Aku akan datang sore ini, setelah dari kampus. Kita bicara berdua.Pesan itu sederhana, tapi cukup untuk membuat jantung Yusallia berdetak sedikit lebih cepat dari biasanya. Ia menaruh cangkir teh hangat di meja sampingnya, menarik napas perlahan, dan mencoba menenangkan pikiran. Ia tidak punya jadwal rumah sakit hari itu, tapi hatinya tetap terasa penuh. Setiap menit yang ia habiskan menunggu Rionegro terasa seperti waktu yang terseret terlalu lambat.Beberapa staf rumah bergerak pelan di sekitar, menyiapkan teh, memastikan lampu tetap menyala, tapi Yusallia hampir tidak menyadari

  • Demi Pernikahan yang Bahagia   Chapter 73

    Sore itu, rumah keluarga Callisto terasa lebih sunyi dari biasanya.Bukan karena tidak ada orang di dalamnya. Justru ada beberapa staf rumah yang masih berjalan pelan di lorong, sesekali terdengar suara pintu tertutup dari kejauhan, dan dering ponsel Damian yang sejak tadi tidak berhenti sepenuhnya.Tapi tetap saja.Ada sunyi yang terasa lain.Sunyi yang muncul bukan karena tidak ada suara, melainkan karena seseorang di rumah itu sedang berusaha keras terlihat baik-baik saja.Yusallia duduk di sofa ruang tengah dengan kedua tangan menggenggam cangkir teh hangat yang bahkan belum ia minum sejak tadi. Rambutnya dibiarkan jatuh di bahu, sedikit berantakan, seolah ia tidak punya cukup tenaga untuk merapikannya. Wajahnya pucat. Matanya lelah.Dan senyumnya...Senyum itu ada.Tapi tidak sampai ke matanya.Damian berdiri tidak jauh darinya, bersandar di dekat rak buku dengan kedua tangan terlipat di depan dada

  • Demi Pernikahan yang Bahagia   Chapter 72

    Malam di rumah Callisto terasa lebih sunyi daripada biasanya.Bukan karena rumah itu benar-benar sepi. Lampu-lampu tetap menyala hangat di beberapa sudut. Dari lantai bawah, sesekali terdengar langkah pelan para staf rumah yang masih membereskan sesuatu. Suara televisi dari ruang keluarga sempat terdengar sangat kecil, lalu menghilang lagi. Semuanya tetap berjalan seperti rumah besar yang hidup sebagaimana mestinya.Namun entah kenapa, malam itu tetap terasa sunyi bagi Yusallia.Ia sedang duduk sendiri di kamar lamanya, tepat di tepi tempat tidur yang dulu pernah terasa begitu akrab sampai ia bisa duduk berjam-jam di sana tanpa merasa asing. Tirai jendela setengah terbuka. Di luar, langit Jakarta tampak gelap dengan cahaya lampu taman yang jatuh lembut ke halaman samping rumah. Angin malam bergerak pelan, membuat ujung tirai sesekali bergeser tipis.Di pangkuannya, jemari Yusallia saling bertaut.Sudah beberapa hari ia pulang ke rumah ini

  • Demi Pernikahan yang Bahagia   Chapter 71

    Pagi itu dimulai dengan langit Jakarta yang muram, meski hujan belum benar-benar turun. Awan-awan kelabu menggantung rendah di atas gedung-gedung tinggi, membuat cahaya matahari tampak pucat dan tertahan. Jalanan kota sudah dipenuhi kendaraan sejak jam-jam awal, sementara di dalam mobil hitam yang membelah arus lalu lintas dengan tenang, Rionegro duduk di kursi belakang sambil menatap layar tablet di tangannya. Wajahnya terlihat tenang seperti biasa. Terlalu tenang, mungkin. Namun siapa pun yang mengenalnya cukup lama akan tahu bahwa ketenangan seperti itu justru sering muncul saat pikirannya sedang bekerja terlalu keras. Di layar tablet, beberapa dokumen digital terbuka berurutan. Bukan file laporan rapat. Bukan juga ringkasan presentasi biasa. Itu adalah file-file perkembangan perusahaan keluarga Raymond yang beberapa bulan terakhir rutin diberikan oleh asisten ayahnya untuk dipelajari. Selama ini, Rionegro

  • Demi Pernikahan yang Bahagia   Chapter 70

    Pagi datang seperti biasanya.Cahaya matahari tetap masuk dari sela tirai apartemen dengan sudut yang sama. Jam dinding tetap bergerak pelan. Pendingin ruangan tetap berdengung halus. Kota di luar jendela juga tetap hidup, dengan jalanan yang pelan-pelan dipenuhi kendaraan dan gedung-gedung yang memantulkan cahaya pagi.Semuanya tampak biasa.Setidaknya, begitu yang ingin diyakini Rionegro.Ia bangun lebih awal seperti biasa, mandi, mengenakan kemeja putih yang sudah disetrika dengan licin, lalu berjalan ke dapur dengan langkah tenang. Tangannya otomatis meraih teko, menyalakan air, mengambil cangkir, dan menata meja makan tanpa perlu berpikir.Sampai di satu titik, gerakannya berhenti.Tangannya baru saja mengambil dua piring dari rak atas.Dua.Padahal pagi ini hanya ada dia.Rionegro menatap dua piring itu selama beberapa detik sebelum akhirnya mengembalikan salah satunya ke tempat semula. Wajahnya t

  • Demi Pernikahan yang Bahagia   Chapter 69

    Malam setelah pertengkaran itu berlalu tanpa benar-benar memberi istirahat pada siapa pun.Di dalam kamar, Yusallia tidak langsung tidur. Ia duduk di tepi tempat tidur dengan wajah basah dan dada yang masih terasa sesak, sementara di luar sana apartemen tetap sunyi seperti tidak ada apa-apa yang baru saja pecah. Tidak ada suara langkah mendekat ke pintu. Tidak ada ketukan pelan. Tidak ada suara Rionegro yang mencoba meminta ia membuka pintu dan bicara baik-baik. Yang ada hanya hening yang panjang, dingin, dan membuat semuanya terasa semakin nyata.Yusallia memeluk dirinya sendiri cukup lama sampai akhirnya lelah itu datang.Bukan lelah fisik.Bukan juga mual atau pusing yang biasa ia rasakan sejak hamil.Ini jenis lelah yang hidup di hati. Lelah karena terlalu lama menunggu sesuatu yang tak pernah benar-benar datang. Lelah karena berkali-kali berusaha mengerti, berkali-kali memaklumi, berkali-kali mengatakan pada dirinya sendiri bahwa sem

  • Demi Pernikahan yang Bahagia   Chapter 63

    Seminggu bisa terasa sangat lama ketika dua orang tinggal di bawah atap yang sama, tetapi tidak benar-benar saling menjangkau. Setelah malam itu, malam ketika Yusallia mencoba membuka satu pintu kecil dalam diri Rionegro dan justru merasa langkahnya tertahan di depan sesuatu yang t

  • Demi Pernikahan yang Bahagia   Chapter 63

    Seminggu bisa terasa sangat lama ketika dua orang tinggal di bawah atap yang sama, tetapi tidak benar-benar saling menjangkau.Setelah malam itu, malam ketika Yusallia mencoba membuka satu pintu kecil dalam diri Rionegro dan justru merasa langkahnya tertahan di depan sesuatu yang tak bis

  • Demi Pernikahan yang Bahagia   Chapter 62

    Malam Senin itu datang dengan kelelahan yang menempel tipis di tubuh mereka berdua. Jakarta di luar jendela apartemen masih menyala seperti biasa, dengan lampu-lampu kendaraan yang bergerak panjang di kejauhan dan gedung-gedung tinggi yang tetap hidup bahkan ketika jam kerja orang-

  • Demi Pernikahan yang Bahagia   Chapter 61

    Siang di awal pekan selalu punya suasana yang khas di lingkungan kampus.Tidak benar-benar tenang, tapi juga tidak sechaotic jam-jam pagi ketika mahasiswa masih berlarian mengejar kelas pertama mereka. Matahari siang jatuh terang di pelataran fakultas, memantul di kaca-kaca gedung dan tr

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status