MasukSavana menggigit bibirnya setelah melihat postingan terbaru dari Mia. Hatinya berkedut nyeri karena mengenali punggung pria yang sedang bersama wanita itu.“Leon?”Mulutnya membeo, menyebut nama pria yang sejak beberapa waktu ini menjadi pemilik hatinya. “Kenapa Leon bersama Mia?” tanyanya pada diri sendiri.Kecurigaan mulai memenuhi hatinya. Mungkinkah Leon tak menginginkannya lagi? Atau Leon hanya sedang menguji perasaannya?“Nana, ada apa?” Dyana yang baru saja membelikannya makan siang bertany setelah melihat wajah Savana yang tiba-tiba berubah pucat. “Apa kau benar-benar lapar hingga wajahmu memucat seperti itu?” tanyanya memastikan.Namun, Savana benar-benar membungkam mulutnya. Matanya yang tertuju pada layar ponsel membuat Dyana penasaran. Dyana ikut memperhatikan.Hanya saja, reaksinya berbeda dengan Savana. “Mia?” Dahinya berkerut dalam sebab tak mengenali punggung pria yang ada di postingan Mia.“Siapa dia?”Melihat reaksi Savana yang tampak berlebihan membuat Dyana semakin
Sementara itu, Mia tak pernah benar-benar menyerah dalam mendapatkan Leon. Mia selalu memiliki strategi untuk mendekati pria itu. Seperti sekarang, ketika mendengar hubungan Savana dan Leon kembali retak dari driver yang diam-diam menjadi kata-kata yang dikirim bibinya, Mia bersiap dengan rencana liciknya. Wanita itu dengan percaya diri datang menemui Leon. Mencoba untuk kembali merayu di tengah gundah yang sedang Leon rasakan. “Apa aku bilang? Savana bukan wanita yang setia.” Mia datang dengan dress yang seksi. Gaunnya memang menggantung indah, tetapi tali yang menahan potongan sifon berwarna biru tersebut tak lebih besar dari spagetti. Benar-benar kecil. Sengaja dia memakainya untuk menggoda Leon. Kerah yang menyerupai huruf ‘V' membuat belahan dadanya terlihat. Namun, tak sedikitpun Leon tertarik untuk melirik. Pria itu mendengus kasar melihat Mia datang dengan tekat yang kuat untuk memisahkannya dari Savana. “Kau sebaiknya bercerai saja. Pilih aku seperti yang pernah kita re
Leon menatap layar televisi yang menyala tanpa suara. Tangannya menggenggam remote, tetapi sejak lima menit lalu dia tak benar-benar memperhatikan apa pun yang sedang diputar.Aneh.Rumah itu terasa jauh lebih sunyi dari biasanya.Ia bangkit dari sofa, berjalan ke dapur hanya untuk mengambil segelas air. Baru menyesap seteguk, dia kembali meletakkan gelas itu. Tidak haus.Leon menghela napas pelan. Kakinya melangkah menuju balkon lantai dua. Dari sana, halaman mansion terlihat begitu luas.Entah mengapa, pandangannya beberapa kali mengarah ke gerbang utama, seolah berharap sebuah mobil akan masuk.Kesadarannya membuat Leon mengerutkan kening."Apa yang sebenarnya kutunggu?" gumamnya lirih.Pria itu menggeleng, lalu berbalik masuk. Mungkin hanya karena rumah itu terlalu sepi. Leon meninggalkan dapur dengan langkah tenang. Tangannya merogoh saku celana, mengeluarkan ponsel yang sejak tadi hanya berpindah dari satu tangan ke tangan lainnya.Layar menyala.Tak ada pemberitahuan apa pun.
Leon berdiri membelakangi rumah, menatap sedan hitam milik David yang terparkir di halaman. Wajahnya datar, tetapi sorot matanya begitu tajam hingga membuat udara di sekitar terasa menyesakkan.Beberapa langkah di belakangnya, David berdiri tegak dengan kedua tangan di belakang punggung. Wajahnya tenang, sama sekali tidak mencerminkan gejolak yang sedang berusaha ia redam."Ada yang ingin Anda sampaikan, Pak?" tanyanya sopan.Leon menyunggingkan senyum tipis tanpa menoleh."Kau harus lebih berhati-hati, David."David mengernyit tipis."Dalam hal apa, Pak?""Aku tidak ingin media... atau siapa pun..." Leon berhenti sejenak sebelum akhirnya menoleh. Tatapannya menusuk lurus ke mata David. "...mengira kau menyukai istriku."Ucapan itu membuat rahang David mengeras.Namun hanya sesaat.Ia segera memasang kembali ekspresi profesionalnya."Maaf, Pak. Saya tidak mengerti maksud Anda."Leon melangkah mendekat hingga jarak mereka hanya terpaut satu langkah."Kau pria cerdas. Jangan memaksaku m
David sangat mengkhawatirkan Savana sejak adiknya itu menghilang di pesta semalam. Namun, apa yang pagi ini dirinya lihat benar-benar membuatnya kecewa. Bagaimana mungkin Savana berada dalam dekapan Leon seerat itu?Ingin sekali David menghajar Leon dan merebut adik perempuannya, akan tetapi identitas yang selama ini mereka rahasiakan pasti akan terungkap. David tak bisa membiarkan semua itu terjadi hanya karena emosi yang dia rasakan ini.“Ada apa? Kenapa kau bertamu sepagi ini padahal aku sudah memberimu kabar agar berlibur?” Suara Leon terdengar malas saat akhirnya dia berada di depan David.Pria yang hari ini tak mengenakan pakaian kerjanya itu mengepalkan tangan erat-erat. Menahan amarah yang siap meledak. Namun, sekuat tenaga dia menahan diri.“Maaf Pak Leon, aku hanya ingin mengantar dokumen penting kepada Anda,” Sesungguhnya itu hanya alasan karena David bisa memberikan dokumen yang katanya penting tersebut besok pagi kepada Leon. Dia datang karena memang ingin mencari tahu ke
“Leon berhenti!” Savana mencoba menyadarkan Leon. Ayolah, di rumah ini masih ada Maria yang kapan saja bisa memergoki mereka. Savana tak ingin menanggung malu untuk kedua kalinya.“Apalagi?” tanya Leon terdengar tak sabaran.Savana mendelik tajam. “Aku tak ingin di sini.” jawabnya. Mendengar jawaban Savana membuat Leon dengan cepat membuka pintu mobilnya, berlari kecil menghampiri Savana yang juga sudah keliar dari kendaraan mewah tersebut. Leon menarik tangan Savana, menuntun langkah wanita itu menuju kamar pribadinya. Begitu pintu kamar tertutup, Leon langsung menarik Savana ke dalam pelukannya. Gerakannya nyaris tergesa, seolah takut wanita itu akan menghilang jika dia terlambat sedetik saja.“Savana …. ” panggilnya parau.Belum sempat Savana menjawab, Leon telah membungkam bibirnya dengan sebuah kecupan singkat yang segera berubah menjadi ciuman penuh kerinduan. Napas keduanya saling bertabrakan, sementara tangan Leon memeluk pinggang Savana semakin erat.Savana sempat terkeju







