로그인Siapa dan dari mana mereka datang Binar tidak sempat proses. Dia masih dilingkupi kebingungan dan kini tiba-tiba dikerubungi oleh tiga wanita asing yang tersenyum kelewat ramah padanya. Tadi, pintu samping bangunan mendadak terbuka, dan tiga perempuan berseragam gaun serba merah muda dengan renda putih keluar. Mereka bergerak serempak, tak bicara tapi langsung menuju kepada Binar. Tiba-tiba saja ada yang memegang lengan, bahu, dan pergelangan tangannya. Mereka kemudian berbicara dalam bahasa Inggris yang cepat, membuat Binar hanya bisa menangkap sebagian katanya. Beberapa kata seperti "bride", "schedule", "quick dress", dan "beautiful" meluncur beruntun tanpa jeda, seperti sedang mengatur pembagian tugas diantara ketiganya. Sebelum Binar sempat menyusun kalimat untuk menolak atau bertanya, mereka semua sudah bergerak ke arah pintu samping bangunan, sedikit menyeret Binar ikut dalam langkah mereka. "Tunggu—" Binar menoleh ke belakang, mencoba menahan bobot tubuhnya agar tidak
Mobil SUV hitam itu akhirnya berhenti di gedung pinggir jalan yang terlihat begitu tenang. Suara deru mesin perlahan mati, menyisakan derit pelan dari sistem pendingin yang baru dimatikan.Di luar, hawa panas gurun yang tertahan seharian seolah terserap oleh dinding-dinding beton di sekitar mereka. Membuat udara terasa pengap dan hangat dalam waktu bersamaan. Berhenti di tempat ini rasanya seperti dilempar ke panggung teater yang salah.“Dimana ini?”Binar berulang kali bertanya sendiri sembari mengerjap memperhatikan sekeliling.Mereka rupanya berada di depan sebuah bangunan.Bukan gedung tinggi berarsitektur romawi tiruan atau menara kaca mengilap seperti yang mereka lewati di jalan utama tadi. Bangunan ini jauh lebih kecil, bercat merah muda pastel yang agak mengelupas di sudut-sudut bingkainya. Meski begitu, bangunanya masih terlihat enak dipandang dan juga kokoh.Di bagian depannya, terdapat kanopi kain berbentuk lengkung dengan renda-renda putih yang tampak agak berdebu, tapi de
"Istana Caesar!" Ardan mengulanginya dengan penuh ketertarikan. Matanya berbinar, terlihat antusias dan keceriaan yang nyata. Tangannya menepuk-nepuk paha Binar, tidak sabar ingin berbagi kegembiraan. "Ada Caesarnya di dalam, Bunda? Raja yang pakai mahkota tinggi itu? Aku mau lihat." Binar terkekeh dan mengelus kepala Ardan. "Tidak ada Caesarnya di dalam sana, Ardan," jawab Binar penuh pengertian. Mereka menoleh bersamaan, menyapu halaman depan hotel yang diisi oleh air mancur menari dan deretan mobil mewah yang mengantre valet. Air mancur itu menyemburkan air setinggi puluhan meter ke udara, diterangi oleh lampu-lampu berwarna yang berganti setiap detik. "Itu cuma nama hotel. Tempat berkumpulnya orang-orang mencari hiburan sesaat." Ardan menyandarkan punggungnya dengan malas, terlihat kecewa. Bibirnya sedikit maju ke depan, berdecak kesal. “Tidak seru,” gumamnya, "Kasian." "Kenapa kasian?" tanya Binar tanpa benar-benar ingin tahu. Dia masih terkesima dengan apa yang dilihatnya
Binar memalingkan wajah, melihat keluar jendela kaca film yang membuat malam di luar tampak makin pekat. Mobil berbelok keluar menuju jalan raya utama, dan begitu mereka melewati tikungan terakhir, dunia di luar jendela berubah seketika.Awalnya dia terlihat bosan, bibirnya terkatup rapat, enggan untuk bertanya atau sekedar mengobrol. Namun kemudian, ekspresinya perlahan berubah.Papan-papan baliho raksasa mulai bermunculan di pinggir jalan, ratusan kaki tingginya, seperti raksasa yang berdiri berbaris menyambut kedatangan mereka. Semuanya ditulis dalam bahasa Inggris dengan huruf-huruf cetak tebal yang menyala terang.Matanya berbinar melihat itu semua. Dia melipat bibirnya karena menahan senyuman, tangannya berpegangan pada pintu mobil, berusaha untuk tetap tenang, karena tak ingin terlihat kampungan.Lampu neon berwarna fuchsia, hijau lemon, dan biru elektrik menerangi permukaan aspal, membuat jalanan terlihat seperti landasan pendaratan pesawat. Di atas mereka, langit malam yang t
Bhaga melirik tangan Binar yang mencengkeram kain jaketnya, lalu menoleh mencari keberadaan anaknya. "Ardan, ayo."Ardan langsung menghampiri, melewati barisan kursi-kursi kosong sambil membawa ransel dinosaurusnya. Kaki kecilnya mendarat di lantai kabin depan dengan sedikit hentakan, setelahnya dia berjalan menuju pintu tanpa menoleh."Ardan, kamu tahu ini di mana?" tanya Binar, mencoba menarik perhatiannya.Ardan sama sekali tidak menjawab, anak itu justru buru-buru memakai jaket tebalnya, merapatkan ritsleting sampai ke dagu."Ardan," tegur Binar, mencoba meraih tangan Ardan.Ardan mengelak pelan.“Bunda!” rengeknya protes. “Jangan sentuh aku sekarang.”Binar merasakan tangannya menggantung di udara, kemudian perlahan diturunkan. Sedangkan, Ardan berjalan mendahului mereka menuju pintu keluar yang baru saja dibuka oleh salah satu kru kabin, meninggalkan kedua orang tua yang menatapnya tak percaya.Udara luar langsung menyergap masuk saat pintu terbuka. Udara malam dengan hawa keri
Setelah puluhan jam di atas pesawat, akhirnya saat yang Binar nantikan tiba juga. Deretan lampu-lampu mulai muncul. Yang tadinya terlihat begitu kecil dari jauh, kini terlihat semakin jelas.Selama beberapa jam terakhir, di luar jendela pesawat hanya ada kegelapan pekat Gurun Mojave, hitam mati yang membuat kaca pesawat berfungsi layaknya cermin mengilap, memantulkan wajah Binar yang pucat dan lampu baca di atas kepalanya. Tidak ada apa pun di bawah sana. Tidak ada titik cahaya, tidak ada kerlip lampu kota. Hanya kegelapan yang begitu pekat hingga Binar hampir percaya bahwa mereka terbang di atas lautan, bukan daratan.Berulang kali dia meringkuk ketakutan, tapi Bhaga selalu bisa menenangkan, sebelum akhirnya Binar kembali panik.Namun saat pesawat menukik turun, kegelapan itu mendadak terbelah oleh ribuan garis cahaya yang teratur. Dari atas, kelihatan seperti papan sirkuit komputer raksasa yang baru saja dinyalakan di dalam ruangan gelap. Garis-garis neon emas, merah, dan biru kenca







