/ Romansa / Di Ranjang Majikanku / 134. Aku Pilihanmu

공유

134. Aku Pilihanmu

작가: Keke Chris
last update 게시일: 2025-12-24 16:39:05

Nurma duduk di dalam mobil masih dengan tangan yang terlihat gemetar, kakinya lemas, dan dia tak bisa berpikir jernih sekarang. Wajahnya pucat dengan tatapan yang kosong menembus jendela.

Suara Selene terus berputar di kepalanya.

“… aku akan menjatuhkan keluarga itu dan ibunya yang sok suci itu…”

Setiap kata, seperti pisau yang menyayat hatinya.

Nurma tak langsung pulang. Hatinya gelisah, dia butuh pengalihan. Jadi dia memutuskan untuk menjemput Ardan ke sekolah. Bertemu cucunya yang ceria sela
이 작품을 무료로 읽으실 수 있습니다
QR 코드를 스캔하여 앱을 다운로드하세요
잠긴 챕터
댓글 (5)
goodnovel comment avatar
LUTHFIAH NOOR
Sadarlah bu Nurma.. udah ditunjukan berkali-kali sama Ardan siapa yg tulus... Lebih tegas lg Bhaga, semangat buat Rudi, semangat! Semoga segera terkumpul banyak bukti2 yg banyak dan memberatkan Selene
goodnovel comment avatar
Fitria Suryanti
dikit banget babnya
goodnovel comment avatar
Nur Hadi
semangat, sehat sehat selalu kak,, makasih makasih ya
댓글 더 보기

최신 챕터

  • Di Ranjang Majikanku   399. Gaun Putih

    Siapa dan dari mana mereka datang Binar tidak sempat proses. Dia masih dilingkupi kebingungan dan kini tiba-tiba dikerubungi oleh tiga wanita asing yang tersenyum kelewat ramah padanya. Tadi, pintu samping bangunan mendadak terbuka, dan tiga perempuan berseragam gaun serba merah muda dengan renda putih keluar. Mereka bergerak serempak, tak bicara tapi langsung menuju kepada Binar. Tiba-tiba saja ada yang memegang lengan, bahu, dan pergelangan tangannya. Mereka kemudian berbicara dalam bahasa Inggris yang cepat, membuat Binar hanya bisa menangkap sebagian katanya. Beberapa kata seperti "bride", "schedule", "quick dress", dan "beautiful" meluncur beruntun tanpa jeda, seperti sedang mengatur pembagian tugas diantara ketiganya. Sebelum Binar sempat menyusun kalimat untuk menolak atau bertanya, mereka semua sudah bergerak ke arah pintu samping bangunan, sedikit menyeret Binar ikut dalam langkah mereka. "Tunggu—" Binar menoleh ke belakang, mencoba menahan bobot tubuhnya agar tidak

  • Di Ranjang Majikanku   398. Gereja Pernikahan

    Mobil SUV hitam itu akhirnya berhenti di gedung pinggir jalan yang terlihat begitu tenang. Suara deru mesin perlahan mati, menyisakan derit pelan dari sistem pendingin yang baru dimatikan.Di luar, hawa panas gurun yang tertahan seharian seolah terserap oleh dinding-dinding beton di sekitar mereka. Membuat udara terasa pengap dan hangat dalam waktu bersamaan. Berhenti di tempat ini rasanya seperti dilempar ke panggung teater yang salah.“Dimana ini?”Binar berulang kali bertanya sendiri sembari mengerjap memperhatikan sekeliling.Mereka rupanya berada di depan sebuah bangunan.Bukan gedung tinggi berarsitektur romawi tiruan atau menara kaca mengilap seperti yang mereka lewati di jalan utama tadi. Bangunan ini jauh lebih kecil, bercat merah muda pastel yang agak mengelupas di sudut-sudut bingkainya. Meski begitu, bangunanya masih terlihat enak dipandang dan juga kokoh.Di bagian depannya, terdapat kanopi kain berbentuk lengkung dengan renda-renda putih yang tampak agak berdebu, tapi de

  • Di Ranjang Majikanku   397. Ini Dimana

    "Istana Caesar!" Ardan mengulanginya dengan penuh ketertarikan. Matanya berbinar, terlihat antusias dan keceriaan yang nyata. Tangannya menepuk-nepuk paha Binar, tidak sabar ingin berbagi kegembiraan. "Ada Caesarnya di dalam, Bunda? Raja yang pakai mahkota tinggi itu? Aku mau lihat." Binar terkekeh dan mengelus kepala Ardan. "Tidak ada Caesarnya di dalam sana, Ardan," jawab Binar penuh pengertian. Mereka menoleh bersamaan, menyapu halaman depan hotel yang diisi oleh air mancur menari dan deretan mobil mewah yang mengantre valet. Air mancur itu menyemburkan air setinggi puluhan meter ke udara, diterangi oleh lampu-lampu berwarna yang berganti setiap detik. "Itu cuma nama hotel. Tempat berkumpulnya orang-orang mencari hiburan sesaat." Ardan menyandarkan punggungnya dengan malas, terlihat kecewa. Bibirnya sedikit maju ke depan, berdecak kesal. “Tidak seru,” gumamnya, "Kasian." "Kenapa kasian?" tanya Binar tanpa benar-benar ingin tahu. Dia masih terkesima dengan apa yang dilihatnya

  • Di Ranjang Majikanku   396. Terkejut Lagi

    Binar memalingkan wajah, melihat keluar jendela kaca film yang membuat malam di luar tampak makin pekat. Mobil berbelok keluar menuju jalan raya utama, dan begitu mereka melewati tikungan terakhir, dunia di luar jendela berubah seketika.Awalnya dia terlihat bosan, bibirnya terkatup rapat, enggan untuk bertanya atau sekedar mengobrol. Namun kemudian, ekspresinya perlahan berubah.Papan-papan baliho raksasa mulai bermunculan di pinggir jalan, ratusan kaki tingginya, seperti raksasa yang berdiri berbaris menyambut kedatangan mereka. Semuanya ditulis dalam bahasa Inggris dengan huruf-huruf cetak tebal yang menyala terang.Matanya berbinar melihat itu semua. Dia melipat bibirnya karena menahan senyuman, tangannya berpegangan pada pintu mobil, berusaha untuk tetap tenang, karena tak ingin terlihat kampungan.Lampu neon berwarna fuchsia, hijau lemon, dan biru elektrik menerangi permukaan aspal, membuat jalanan terlihat seperti landasan pendaratan pesawat. Di atas mereka, langit malam yang t

  • Di Ranjang Majikanku   395. Paspor Dan Visa

    Bhaga melirik tangan Binar yang mencengkeram kain jaketnya, lalu menoleh mencari keberadaan anaknya. "Ardan, ayo."Ardan langsung menghampiri, melewati barisan kursi-kursi kosong sambil membawa ransel dinosaurusnya. Kaki kecilnya mendarat di lantai kabin depan dengan sedikit hentakan, setelahnya dia berjalan menuju pintu tanpa menoleh."Ardan, kamu tahu ini di mana?" tanya Binar, mencoba menarik perhatiannya.Ardan sama sekali tidak menjawab, anak itu justru buru-buru memakai jaket tebalnya, merapatkan ritsleting sampai ke dagu."Ardan," tegur Binar, mencoba meraih tangan Ardan.Ardan mengelak pelan.“Bunda!” rengeknya protes. “Jangan sentuh aku sekarang.”Binar merasakan tangannya menggantung di udara, kemudian perlahan diturunkan. Sedangkan, Ardan berjalan mendahului mereka menuju pintu keluar yang baru saja dibuka oleh salah satu kru kabin, meninggalkan kedua orang tua yang menatapnya tak percaya.Udara luar langsung menyergap masuk saat pintu terbuka. Udara malam dengan hawa keri

  • Di Ranjang Majikanku   394. Mendarat

    Setelah puluhan jam di atas pesawat, akhirnya saat yang Binar nantikan tiba juga. Deretan lampu-lampu mulai muncul. Yang tadinya terlihat begitu kecil dari jauh, kini terlihat semakin jelas.Selama beberapa jam terakhir, di luar jendela pesawat hanya ada kegelapan pekat Gurun Mojave, hitam mati yang membuat kaca pesawat berfungsi layaknya cermin mengilap, memantulkan wajah Binar yang pucat dan lampu baca di atas kepalanya. Tidak ada apa pun di bawah sana. Tidak ada titik cahaya, tidak ada kerlip lampu kota. Hanya kegelapan yang begitu pekat hingga Binar hampir percaya bahwa mereka terbang di atas lautan, bukan daratan.Berulang kali dia meringkuk ketakutan, tapi Bhaga selalu bisa menenangkan, sebelum akhirnya Binar kembali panik.Namun saat pesawat menukik turun, kegelapan itu mendadak terbelah oleh ribuan garis cahaya yang teratur. Dari atas, kelihatan seperti papan sirkuit komputer raksasa yang baru saja dinyalakan di dalam ruangan gelap. Garis-garis neon emas, merah, dan biru kenca

더보기
좋은 소설을 무료로 찾아 읽어보세요
GoodNovel 앱에서 수많은 인기 소설을 무료로 즐기세요! 마음에 드는 작품을 다운로드하고, 언제 어디서나 편하게 읽을 수 있습니다
앱에서 작품을 무료로 읽어보세요
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.
DMCA.com Protection Status