Home / Romansa / Di Ranjang Majikanku / 318. Kapan Nikah?

Share

318. Kapan Nikah?

Author: Keke Chris
last update publish date: 2026-05-23 23:49:00

“Bu Binar, tolong lihat sini dulu! Satu foto lagi!”

Flash kamera menyilaukan langsung menyambar begitu pintu ballroom terbuka.

Binar yang baru melangkah masuk refleks berhenti. Tangannya berpegang erat pada lengan Bhaga. Menyembunyikan kegugupan.

Seorang panitia perempuan menghampiri dengan wajah berbinar. “Akhirnya datang juga. Kami takut Ibu terjebak macet.”

“Masih aman tadi,” jawab Binar sambil tersenyum kecil.

“Boleh langsung ke area tamu undangan ya, Bu. Nanti setelah sesi pembicara kedua,
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (1)
goodnovel comment avatar
ida nurashida
bacanya jdi Ikut senyum2 bhgia ne..
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Di Ranjang Majikanku   383. Celia Menggila

    Celia kembali berkeliling, menyisir setiap sudut rumah dengan ketenangan yang mengerikan. Langkahnya teratur, matanya awas mencari setiap jejak keberadaan perempuan itu. Dalam hatinya dia terus mengumpat, ternyata Binar sudah menguasai semua sudut rumah itu bahkan sampai ke hati penghuninya.“Perempuan sialan.”Tangannya mengambil pigura di ruang makan. Di sana ada Binar dan Ardan sedang memasak bersama, Ardan memakai celemek yang terlalu besar dengan noda tepung di hidungnya. Detik berikutnya, turun dari dinding dan masuk tempat sampah.Selanjutnya, pigura di lorong bawah. Foto keluarga yang tampak formal, Bhaga, Binar, dan Ardan berpose di depan rumah ini, Ardan berdiri di tengah sambil menggandeng tangan keduanya. Bernasib sama, dilempar masuk tempat sampah.Kemudian, foto kecil di rak buku. Dengan pigura sederhana yang memperlihatkan Binar sendirian. Kelihatannya foto itu diambil oleh Ardan karena sudutnya miring ke bawah, menangkap senyum tulus Binar dari mata seorang anak kecil.

  • Di Ranjang Majikanku   382. Mantan Nyonya

    Celia masih mencibir dengan wajah yang menyebalkan. Dia tak lagi memperhatikan Ardan, terutama setelah ada Maryam yang mendekat dengan langkah ragu. Wajah tua pengurus rumah itu kelihatan kaku, setelah mendengar tentang penjabaran Celia tentang "babu" barusan, jelas sekali dia kehilangan segan dan kenyamanan.Tanpa suara, tangan Maryam dengan cekatan merapikan letak kancing seragam Ardan yang berantakan dan menyisir rambut anak itu dengan sigap.Celia melirik malas ke arah Maryam sekilas, lalu nada ketus pelan menusuk keluar. "Mereka itu bersikap baik ya buat apa lagi kalau bukan karena uang.""Tapi Bunda Binar yang kasih tahu Ardan banyak hal," sela Ardan. "Soal Mama juga. Waktu Ardan tanya kenapa Mama sibuk terus dan nggak mau ngurusin Ardan, kata Bunda Binar ... Mama lagi belajar buat jadi lebih baik."Celia mendengus, melipat tangan di dada. "Sok tahu banget.""Ardan juga diajarin Bunda Binar buat doain Mama Celia," tambah Ardan polos.Celia berdecak kesal. Kalimat itu justru memb

  • Di Ranjang Majikanku   381. Babu Itu Apa

    “Jangan bicara macam-macam? Ih, suka-suka aku lah, Bhaga!” Celia terus mencibir meski Bhaga sudah tak terlihat lagi.Dia masih berdiri di halaman, berkacak pinggang, gumaman ketus terus keluar dari bibir berpemulas merah menyala itu. Senyum manis yang tadi dipajangnya langsung menyeringai licik begitu mobil Bhaga benar-benar hilang dari belokan jalan. Wajahnya berubah masam dan berdecak kesal.Matanya melirik ke arah pintu rumah yang masih tertutup. Di dalam sana, ada semua yang dulu pernah menjadi miliknya, sebelum dia kehilangan segalanya. Tangannya mengepal di sisi tubuh, kuku-kuku panjangnya menekan telapak tangan.Namun, ekspresi masam itu langsung berubah menjadi ramah nan ceria begitu mendengar pintu depan terbuka.Ardan muncul dari sana, sudah memakai seragam sekolah tapi belum rapi karena kerah bajunya miring ke kiri, dan rambutnya masih mencuat berantakan di beberapa bagian. Di tangannya, dinosaurus kecil setia menemani, meskipun sudah waktunya berangkat sekolah.“Mama!”“He

  • Di Ranjang Majikanku   380. Stop Omong Kosong

    “Apa Mami bilang. Dari awal Binar memang nggak cocok buat kamu.”Kalimat itu terus berputar di kepala Binar. Entah sudah berapa kali terulang dalam diam, seperti pita kaset yang macet di bagian yang sama. Nurma mengucapkannya saat dia bersisipan dengan Bhaga semalam. Sebuah bisikan yang dingin dan jatuh tepat menusuk hati keduanya.Binar tak sengaja mendengar, tapi kalimat itu benar-benar menamparnya keras.Dari awal kamu memang nggak cocok buat Bhaga. Dia jadi terus mengulang sendiri kalimat itu di pikirannya.Binar duduk di atas kasur, meringkuk memeluk lutut. Kamar kecil dan sedikit lembab, dengan jendela yang hanya bisa dibuka setengah karena engselnya sudah berkarat. Ponsel di genggamannya terasa dingin. Layar masih menyala, menampilkan deretan nomor yang sudah dia hafal di luar kepala. Dengan sisa-sisa keberanian yang dia miliki, jarinya menyentuh tombol panggil.Nada sambung berdering. Binar menggigit bibir bawahnya, tangannya menggenggam ponsel lebih erat. Di kepalanya, dia s

  • Di Ranjang Majikanku   379. Apa Yang Harus Aku Lakukan Sekarang?

    Udara di luar masih dingin dan kabut masih menutupi sebagian pandangan. Rumput di halaman rumah basah oleh embun, dan langit di ufuk timur mulai berubah dari hitam pekat menjadi kebiruan. Namun, koper-koper sudah rapi berjejer di depan pintu. Empat koper. Rudi yang sibuk angkat-angkat ke bagasi mobil tanpa banyak bicara.Nurma duduk di kursi teras, matanya lurus ke depan dengan raut wajah yang menyimpan kecewa, bingung, dan lelah yang ditahan. Tangannya di pangkuan dengan jari yang saling meremat.Sementara Djati sudah duluan jalan ke mobil. Dia sengaja menarik diri, nggak mau ikut campur dalam keributan yang sunyi ini. Di balik kaca mobil yang gelap, hanya samar-samar terlihat sosoknya yang duduk dengan tangan bersilang di dada.Ardan berdiri di sudut teras, memeluk ransel dinosaurus kecilnya erat-erat. Di dalamnya, Binar sudah menyiapkan bekal, tanpa sepengetahuan siapa pun. Matanya seperti sengaja menatap ke arah sepatu atau ke mana saja, asal bukan ke arah Binar yang sejak tadi b

  • Di Ranjang Majikanku   378. Bingung Sendiri

    “Kata Mami kamu tak ingin ikut? Yang bener aja, Sayang.”Binar mengangguk. “Aku hanya ingin menenangkan diri sebentar. Nanti aku akan kembali sendiri ke Jakarta.”“Kamu membatalkan acara kita demi Ardan. Ingin menenangkan anak itu, tapi justru tak ingin kembali bersama kita. Apa maksudmu? Apa kamu sudah tak ingin bersamaku lagi?”“Ti-tidak. Bukan seperti itu. Hanya saja, aku perlu tenang untuk bisa menghadapi Ardan dan memulai kembali dari awal dengan semuanya.”Bhaga mendesah berat. Dia tak terima, tapi tak ingin memaksa. "Oke."Seharusnya Binar lega, tapi kata singkat itu justru menyakitinya. Dia memaksakan sebuah senyuman.Melihat senyuman itu, Bhaga paham ada beban yang tak bisa dibagikan padanya saat ini. Jadi, dia mendekat dan mendekap erat wanitanya itu, mengecup puncak kepalanya sambil mengelus pundak juga punggungnya dengan lembut. “Kamu tahu aku akan selalu menunggumu. Gunakan waktumu sampai hatimu tak lagi berat.”Air mata Binar tak lagi bisa tertahan. Tangannya memeluk Bha

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status