Beranda / Romansa / Di Ranjang Majikanku / 391. Ayo Pergi, Pah.

Share

391. Ayo Pergi, Pah.

Penulis: Keke Chris
last update Tanggal publikasi: 2026-07-28 20:52:49

Bhaga menarik napas pelan di sebelah Binar. Udara dingin di kabin makin membawa kenyamanan bagi keduanya. Di luar, langit mulai berubah warna, menandakan sore mulai datang meski tak akan bertahan lama. Ardan masih terlelap, meringkuk memeluk dinosaurusnya, sesekali posisinya berubah tapi tangannya tetap memegang dinosaurusnya itu.

Binar berdeham gugup. ”A-aku dengar, Celia setiap hari ke rumahmu untuk menemani Ardan?”

Kepala Bhaga mengangguk tegas. “Iya. Tapi aku hanya ketemu dengannya di pintu
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci
Komen (2)
goodnovel comment avatar
Jingga Edelweis
ardann anak pintarrr biar celia tau rasa
goodnovel comment avatar
allie
lanjut thorrr ((:
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terbaru

  • Di Ranjang Majikanku   391. Ayo Pergi, Pah.

    Bhaga menarik napas pelan di sebelah Binar. Udara dingin di kabin makin membawa kenyamanan bagi keduanya. Di luar, langit mulai berubah warna, menandakan sore mulai datang meski tak akan bertahan lama. Ardan masih terlelap, meringkuk memeluk dinosaurusnya, sesekali posisinya berubah tapi tangannya tetap memegang dinosaurusnya itu.Binar berdeham gugup. ”A-aku dengar, Celia setiap hari ke rumahmu untuk menemani Ardan?”Kepala Bhaga mengangguk tegas. “Iya. Tapi aku hanya ketemu dengannya di pintu gerbang setiap kali aku berangkat kerja.”Mata Binar mengerjap ragu dan Bhaga menyadari itu. “Tanyakanlah. Aku akan menjawab.”“Em … bagaimana dengan Ardan. Apa dia bahagia?” “Kata Sari sama Maryam, waktu Celia tinggal di rumah ... Ardan dibiarkan begitu saja.” Dia mengangkat bahunya cuek. “Celia cuma sibuk dengan ponselnya sendiri. Gampang marah kalau Ardan mulai rewel. Tiap kali Ardan cerita soal sekolah, tidak pernah didengarkan. Diajak main juga selalu nolak. Dan yang paling menyebalkan, d

  • Di Ranjang Majikanku   390. Kangen Bunda

    Kabin belakang terasa hening dan hangat. Mereka terbangun setelah tidur lelap sesaat. Tirai pembatas diantara kedua bilik sengaja dibuka agar Binar bisa melihat Ardan.Kasur tipis yang mereka tiduri ternyata jauh lebih nyaman dari perkiraan, diselimuti aroma kain bersih yang baru Binar ganti beradu dengan hawa sejuk dari pendingin pesawat. Langit-langit yang rendah membuat ruang sempit itu terasa makin privat. Lampu di langit-langit masih disetel ke mode paling redup, hanya menyisakan cahaya temaram yang cukup untuk melihat garis-garis wajah.Ardan meringkuk di sisi kiri, terlelap tanpa bergerak sedikit pun. Dinosaurus kecil masih ada di pelukannya, kepala dinosaurus plastik itu tersandar di dagu Ardan. Napas anak itu pelan dan teratur, terlihat begitu menenangkan. Sesekali bibirnya bergerak, seperti sedang bermimpi tentang sesuatu, dan terkadang mencebik-cebik.Di sisi kanan, Binar dan Bhaga berbaring miring saling berhadapan. Berpelukan sambil memangkas jarak tanpa menimbulkan gerak

  • Di Ranjang Majikanku   389. Sekali Lagi Ya

    Bhaga tidak langsung melepaskan Binar. Dia masih berada di dalam tubuhnya, napas keduanya belum sepenuhnya tenang, kulit saling menempel basah oleh keringat tipis. Binar merasa cairan hangat mereka masih bercampur di antara paha, dan setiap kali dia sedikit bergeser, sensasi itu membuatnya menggigit bibir. Tanpa bicara, Bhaga menggeser tubuhnya. Dia menarik keluar pelan, membuat Binar mengerang dan mendesis karena rasa kosong yang tiba-tiba. Dengan gerakan cepat, kedua lengan Bhaga sudah berada di bawah lutut dan punggung Binar, kemudian memindahkan Binar ke dalam gendongannya. Binar melingkarkan lengan di leher Bhaga, wajahnya terbenam di ceruk bahu. Dia masih telanjang, kaki menggelantung, cairan mereka menetes tipis dari paha dalamnya. Bhaga tidak peduli. Pria itu berjalan melewati deretan kursi kosong menuju bilik istirahat di kabin belakang, langkahnya stabil meski dengan beban di pelukan.Tirai bilik ditarik terbuka dengan satu tangan, lalu ditutup rapat setelah mereka masuk.

  • Di Ranjang Majikanku   388. Desahan Di Kabin Pesawat

    Binar masih duduk di pangkuan Bhaga ketika pesawat mencapai ketinggian tiga puluh ribu kaki. Mesin berdengung stabil di luar, kabin gelap dengan lampu baca yang redup, dan tirai kecil di jendela setengah tertutup. Di balik pintu kokpit yang terkunci dan deretan kursi kosong di depan mereka, dunia terasa sunyi sekali. Bhaga tidak buru-buru. Jari-jarinya masih di pinggang Binar, mengusap pelan lewat kain blus tipis, naik turun merasakan kelembutan yang dirindukannya selama sepuluh hari belakangan dan itu membuat tubuhnya perlahan bergairah. Hidungnya sesekali mengendus tengkuk Binar, menikmati aroma yang membuatnya candu, sehingga napasnya terasa hangat di belakang telinga Binar.Pinggul dan tubuh Binar meliuk pelan, napasnya mengembus berat dan dia mendesis. Satu tangannya berusaha mendorong pelan dada Bhaga, menolak tapi tanpa keteguhan.“Tenang,” bisik Bhaga. “Tidak usah takut. Tidak ada yang melihat.”Binar menelan ludah. Jantungnya berdegup lebih cepat, kerinduannya membuncah, dan

  • Di Ranjang Majikanku   387. Teredam Ciuman

    Kabin pesawat itu kecil, tapi terasa luas karena sepi. Hanya ada empat kursi penumpang di bagian depan dan dua kabin tidur kecil di belakang yang dipisahkan tirai tebal. Lantai karpet abu-abu lembut menyerap suara langkah, dan lampu-lampu di langit-langit disetel temaram, menciptakan suasana yang nyaris seperti ruang tamu pribadi di atas awan.Di luar jendela bundar, langit biru terbentang luas, dengan sesekali gumpalan awan putih yang melintas di bawah sayap. Begitu pesawat lepas landas dan tanda sabuk pengaman dipadamkan, Ardan langsung menarik tangan Binar menuju kabin belakang. Jari-jari mungilnya menggenggam erat jari Binar, seperti takut jika dia melepas, Binar akan pergi lagi. Dalam dua puluh menit pertama setelah take-off, Ardan tidak berhenti mengoceh dengan tempo cepat yang membuat Binar kesulitan menyerap tiap kata. Kata-katanya keluar seperti air dari keran yang tidak bisa ditutup dan melompat dari satu topik ke topik lain tanpa jeda, tanpa urutan yang jelas. "Terus wa

  • Di Ranjang Majikanku   386. Lega

    Bibir Binar mencebik seperti anak kecil. Matanya berkaca, wajahnya memerah menahan emosi yang campur aduk. Dia masih terdiam di ambang pintu mobil, mengerjab tak percaya dengan apa yang terlihat di depan matanya.Di sana. Seseorang yang tak pernah dia sangka akan bertemu, berdiri dengan senyuman lebar dan wajah semringah. Berdiri merentangkan tangan sambil terus memanggil namanya, tapi kaki Binar terasa lunglai hingga tak mampu untuk melangkah mendekat, justru hampir jatuh andai dia tak berpegangan pada pintu mobil.“Binar, kamu tak apa-apa?”Pertanyaan itu keluar dengan penuh kekuatiran, tapi bukan pemilik suara yang kini berlari mendekat. Justru pria kecil dengan ransel dinosaurus yang bergerak memantul di punggungnya, sedang berlari dan menerjang Binar ke dalam pelukan. “Bunda.”Satu tangan Binar menangkap tubuh kecil kesayangannya itu dan tangan lainnya berpegangan pada pintu mobil karena limbung ketika dipeluk erat oleh Ardan dalam keadaan belum siap.Anak itu memeluk erat. Kedu

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status