LOGINEvelyn Rowan dituduh menggelapkan dana perusahaan dan dianggap sebagai seorang pengguna. Disaat dia butuh dukungan, tuangannya malah memutuskan pertunangan dan memilih sang adik sebagai penggantinya. Evelyn hampir menyerah, sebelum kemudian memutuskan bangkit dan berjalan meniti karirnya sendiri. Di sisi lain, seorang CEO mengikutinya kemana pun. Berdalih bahwa hanya Evelyn yang bisa membuatnya tetap hidup.
View More“Sudah kubilang jangan memanjakannya. Lihat apa yang terjadi!”
Evelyn tertunduk mendengar suara ibunya yang menghina. Hatinya terlalu kalut hanya untuk membalas perkataan ibunya. “Apa lagi yang bisa aku lakukan,” kata Jason seraya mengerutkan kening. “Karakternya terlihat ketika dia memegang kekuasaan.” Jason menatap putrinya yang terdiam tak jauh dari tempatnya duduk. “Sungguh memalukan! Beginikah caramu berterima kasih pada kami?!” “Ayah, percayalah padaku. Aku berani jamin itu bukan aku,” kata Evelyn membela diri. Tepat ketika selesai bicara, sebuah vas terlempar, nyaris mengenai wajah Evelyn jika dia tidak mengelak ke kiri sebelumnya. Suara Tiara menggelegar di ruangan luas itu. “Kamu berani menyangkal! Lihat apa yang kamu lakukan. Aku tidak menyangka melahirkan anak sial sepertimu!” Evelyn tercekat. Bukan pertama kali dia mendapat makian seperti itu. Namun, sang ibu benar-benar mengoyak perasaannya ketika dia membutuhkan dukungan. Dari cara ibunya bicara, jelas dia tidak mempercayai apapun pembelaan darinya. “Sudah, berhenti bicara,” kata Jason mengingatkan. Dia bahkan tidak peduli Evelyn dimaki di depannya. Seolah dia bukanlah putrinya. Namun, pembelaan diri dari Evelyn membuatnya marah. Jason melemparkan setumpuk laporan ke atas meja dengan kasar. Matanya yang semula keruh kembali menguatkan kemarahan. “Dari semua hal bodoh yang kamu lakukan, kenapa kamu menyeret keluargamu sendiri ke dalam masalah gila seperti ini?!” “Katakan padaku, apakah perlu untuk melakukan semua ini hanya agar kamu diperhatikan?!” kata Jason dengan marah seraya membanting tangan ke meja, menyalurkan rasa frustasinya. Setiap ada masalah dengan Evelyn, mereka berpikir bahwa dia mencari perhatian. Dari kecil Evelyn diperhatikan, hanya saja semua itu terbagi ketika Sira datang sebagai adik angkatnya. Mereka hanya tidak sadar, terutama Jason, telah membuat Evelyn terabaikan. Evelyn sedikit terisak dan menggeleng kuat ketika dia mencoba menjelaskan, “Ayah, mana mungkin aku berani. Aku tidak akan pernah melakukan itu meskipun kamu memberiku keberanian lebih.” “Tidak berani?!” pekik Tiara tak senang. “Semua bukti jelas mengarah padamu. Ayahmu mempercayakan manajemen keuangan di tanganmu, tapi kamu korupsi dan membeli barang terlarang! Lihat laporan di depan dengan jelas!” Tiara menunjuk laporan di atas meja. Di sana tertera jelas bahwa ada banyak anggaran perusahaan yang kurang dan semuanya atas nama Evelyn. Ada bukti pembelian barang terlarang juga di sana. “Kamu tidak perlu membela diri lagi. Kelakuanmu sudah diluar kendali, Eve,” kata Jason bersuara rendah. “Ayah, kamu tidak percaya padaku?” tanya Evelyn pelan. Namun, yang dia dapatkan hanya tatapan dingin ayahnya. “Kami memberimu pendidikan tinggi serta membebaskanmu menjalani hobi. Namun, kamu malah membuat malu keluarga ini,” kata Jason diiringi dengkusan kesal Tiara. Jason melanjutkan, “Dari hasil laporan, jelas kamu yang membeli barang hina itu. Sudah dipastikan kamu juga seorang pengguna.” Dunia Evelyn rasanya telah runtuh. Dia tidak menyangka ayahnya lebih percaya pada tuduhan itu daripada putrinya sendiri. “Ayah, percayalah padaku. Aku tidak akan pernah melakukan itu dalam hidupku. Selama ini aku selalu menjaga diri.” “Kamu tidak usah menyangkal lagi Evelyn,” ujar Tiara dengan amarah yang menggebu. “Kamu adalah putri keluarga Rowan. Siapa yang berani memanipulasi keuangan jika bukan dari campur tanganmu?!” “Ibu, tolong percaya padaku–” “Aku tidak pernah percaya padamu.” Balasan dingin tanpa perasaan itu seperti tamparan keras pada Evelyn. Rasanya seolah sejak awal yang berdiri di hadapan bukanlah ibunya. Evelyn terdiam. Dia memandang hampa pada dua orang yang dia panggil orang tua, tapi tidak pernah berada di pihaknya sejak awal. “Aku juga mendapat kabar dari keluarga Durant,” kata Jason membuat Evelyn mendongak waspada. “Tunanganmu membatalkan pertunangan kalian. Dia mengatakan bahwa dia tidak tahan dengan tingkahmu.” Evelyn yang mendengar itu terkejut bukan main. “Ayah, bagaimana mungkin dibatalkan! Pertunangan kami sudah berjalan 3 tahun, sebentar lagi kami akan menikah.” “Kubur mimpi pernikahanmu itu. Apa kamu tidak berpikir bahwa dirimu yang kotor bisa bersanding dengan Kevin Durant?!” kata Tiara dengan marah. “Aku juga yang memberikan saran ini padanya. Aku bersalah karena telah menjodohkanmu dengan Kevin.” “Ibu, bagaimana kamu bisa melakukan itu padaku!” teriak Evelyn sembari terisak-isak. Kevin adalah obat disaat dia tidak memiliki tempat di rumah ini. Jika dia pergi, apalagi yang bisa dia lakukan. Evelyn bisa memberikan apapun dan mengalah pada keluarganya, tapi tidak dengan Kevin. “Tidak perlu membicarakan pertunangan Evelyn. Dengan masalah besar yang telah menyeret keluargamu hingga menanggung malu seperti ini, sebaiknya kamu tidak perlu tinggal di rumah ini lagi.” Perkataan sang ayah bagaikan petir yang menyambar tepat mengenai kepala Evelyn. Evelyn membeku tak bergerak di tempat. Matanya yang semula melawan kini benar-benar dipenuhi putus asa. Evelyn tertawa canggung, “Ayah, kamu tidak bermaksud mengusirku, kan?” “Ini demi nama keluarga Rowan agar tetap bersih, Evelyn. Kamu harus keluar dari rumah ini,” ujar Jason dengan suara yang tidak bisa dibantah. Rasa dingin yang Evelyn rasakan dalam keluarga ini membuatnya menggigil. Seolah dia hanya orang luar yang jika terkena noda setitik, haruslah menanggung dosa itu sendiri. “Tubuhmu sudah kotor, jangan pernah kembali lagi. Dasar anak tidak tahu terima kasih,” kata Tiara seraya mendengkus.Evelyn langsung mengerti apa yang dimaksud oleh Jason. Namun, yang tidak dia mengerti adalah kenapa dia melakukan hal itu? “Ayah telah salah sangka dalam waktu lama oleh ulah mereka. Seharusnya apapun yang terjadi, ayah tidak pilih kasih dan mengabaikanmu, Evelyn.”Kalimat itu keluar bersamaan dengan wajah penuh penyesalan. Sayangnya, Evelyn sudah tidak berharap lagi ketika dia diusir dari rumah. Dia telah mati saat nyaris melompat di jembatan waktu itu.Jadi Evelyn hanya menatap dingin dan membalas, “Benar sekali, Anda telah salah sangka dalam waktu lama. Seharusnya Anda juga tahu, bahwa waktu terlalu mahal hanya untuk diulang kembali.”“Anda tidak perlu repot untuk berpikir memperbaiki kesalahan Anda di masa lalu,” lanjut Evelyn tanpa rasa apapun.Jason tahu Evelyn sakit hati atas perlakuannya yang pilih kasih dalam waktu lama itu. Namun, dia benar-benar merasa bersalah dan ingin menebusnya kembali.“Jika kamu mau, ayah bisa mengusir mereka juga. Agar kamu bisa merasa nyaman saat
Napas Jason memburu. Dia tidak menyangka Evelyn tidak memberinya waktu sedikitpun. Seolah dari awal hingga akhir, wanita itu tidak mau bicara dengannya sama sekali. “Aku ke sini sebenarnya tidak ingin mengatakan hal seperti itu,” kata Jason pada akhirnya. Tangannya yang mencekal Evelyn pun ikut dia lepaskan. Takut membuat Evelyn punya alasan untuk kembali menjauh. “Duduklah dulu,” bujuk Jason. “Aku hanya akan membicarakan hal yang penting saja.” Sebagai laki-laki dan orang tua, Jason masih sulit untuk mengatakan maaf atau hal yang membuat dia menurunkan egonya. Padahal dia datang menemui Evelyn justru karena dua hal itu. Kenyataan pahit tentang kebenaran yang membuat luka cukup dalam padanya itu membuat dia merasa sangat bersalah pada Evelyn. Namun, apalagi yang bisa dia lakukan? Semuanya sudah berjalan sesuai takdir. Keluarga kecil bahagia yang dia bangunjustru ilusi yang dia buat sendiri. Evelyn pun demikian. Dua puluh tahun lebih menjadi anak dan dua belas tahun mencari perha
Semua orang menahan napas dengan perseteruan itu. Bahkan orang yang menjadi sumber perseteruan itu juga mendadak kaku dan bingung.Ernest membeku dan tidak menyangka dia akan mengatakan hal demikian. Apakah karena dia tidak senang dengan Evelyn yang terlalu sopan dan menjaga jarak darinya?Evelyn juga begitu. Dia sampai menatap langsung Ernest tanpa berkedip untuk beberapa saat. Ini adalah pertama kalinya Evelyn mendapat perlakuan seperti ini dari Ernest.Meski begitu, Evelyn tetap menjawab dengan suara yang lebih kecil dari sebelumnya.“Aku hanya menjelaskan kondisiku saja.”Ernest akhirnya menghela napas dan memijat keningnya dengan pelan. Bukan itu yang ingin dia katakan. Namun, dia tidak bisa menarik kata-kata yang sudah keluar sebelumnya.“Kau bisa pergi tanpa menungguku,” ujar Ernest pada akhirnya. Evelyn awalnya ingin mengatakan tidak masalah jika harus menunggunya di sini. Namun, dia takut reaksi Ernest akan lebih parah dari sebelumnya.Meski Evelyn tidak tahu kenapa Ernest b
Evelyn terdiam sejenak, sebelum kemudian menjawab, “Tidak ada yang terjadi.”Evelyn menjawab pertanyaan itu dengan senyum tulus seperti biasanya. Namun, suasana yang berbeda di sekelilingnya pun bahkan tidak bisa mengelabui Ernest.Bahkan tiga orang yang lain pun juga saling berpandangan karena merasa ada sesuatu yang ditutupi oleh Evelyn.“Kalau tidak apa-apa, mari duduk denganku di sini,” ajak dokter Ziya sambil menepuk sofa tepat di sampingnya duduk. “Kita sudah lama tidak bertemu. Aku juga penasaran dengan perkembangan Tuan Ernest dari sudut pandanganmu.”Ucapan dokter Ziya segera disambut oleh anggukan yang lainnya.Alex pun ikut berkomentar dengan pernyataan nakal, “Aku juga penasaran dengan sesuatu sekarang. Aku rasa kau bisa memberitahuku.”“Masih ada banyak waktu, Nona Evelyn,” ucap dokter Roby ikut bergabung ke dalam percakapan. “Selagi Tuan Ernest memakan cemilannya, kita bisa berbincang leluasa sambil menunggunya.”Ernest tidak mengatakan apa-apa. Namun, keterdiamannya men
Sira mendekat dengan raut wajah khawatir. Dia juga membantu Tiara berdiri dari posisinya yang menyedihkan. “Ayah, apakah kamu perlu melakukan hal seperti ini pada ibu? Apa kesalahannya sampai ayah bersikap keras seperti itu?” Evelyn tidak menyangka Sira akan berani tampil ketika semua sudah mema
“Apa yang aku lakukan ini?” Pertanyaan lewat bisikan Evelyn yang sangat samar itu tidak ada yang membalas. Kesadaran menguasainya dalam waktu singkat ketika dia dengan ganas menyiram wajahnya sendiri dengan air. Sekarang, Evelyn merasa bahwa tindakannya amat sangat bodoh. Kata-kata yang menyuru
Evelyn kemudian meletakkan kotak mewah itu di meja dapur. Dia meliriknya sekali lagi, lalu memalingkan wajah dengan cepat dan meraih kotak sarapan yang belum diberikan pada Ernest, bersiap untuk pergi mencari dan memberikan kotak itu padanya. Villa mewah itu terkesan besar, tetapi untuk mencari di
"Lebih penting dari itu." Sira tidak menyangka kata-katanya dibalas seperti itu oleh Revano. Dia tahu bahwa Revano sosok yang netral di antara dia dan Evelyn. Namun, dia tidak menyangka Revano tetap membubarkan pesta yang dia impikan ini hanya karena sesuatu yang diberikan oleh Evelyn. "Baiklah












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviewsMore