MasukBagaimana rasanya menjadi seorang janda yang dikejar-kejar cintanya oleh brondong yang memiliki kualitas premium? Inilah yang terjadi kepada Sofie, seorang janda dengan satu putra ini dan juga seorang desainer interior yang bekerja di sebuah perusahaan konsultan berskala internasional. Kembalinya Sofie ke dunia kerja, dikejutkan dengan kehadiran seorang pria yang sempat ditemuinya tanpa sengaja. Pria itu bernama Rakha, yang ditugaskan menjadi asisten Sofie dalam proyek-proyeknya. Kehadiran Rakha, ternyata tidak hanya mempermudah pekerjaannya, tetapi juga kehidupan pribadinya. Tetapi siapa sangka, jika sang asisten ternyata memiliki kehidupan ganda yang sangat berbeda. Ketika di siang hari, Rakha adalah seorang desainer interior maka di malam harinya, ia berubah menjadi seseorang yang sangat berbeda. Sementara, perjalanan Rakha untuk meraih cinta Sofie tidak semudah yang ia inginkan. Hingga terjadi suatu insiden yang membuat Rakha tidak sadarkan diri hingga harus mendapatkan perawatan. Di saat itulah, Sofie mendapatkan sebuah informasi akan siapa sebenarnya Rakha dan apa penyakit yang dideritanya. Rasa sesal karena telah bersikap dingin terhadap Rakha membuat hatinya perlahan luluh. Di saat itulah, Sofie menemukan catatan harian dan kumpulan sketsa milik Rakha, yang menjelaskan penyakit yang dideritanya. Betapa terkejutnya Sofie, setelah membacanya. Rakha yang selama ini ia kenal ternyata bukanlah Rakha yang ia ketahui. Di balik keramahan dan kelembutannya, ternyata ada sosok lain yang memiliki perbedaan karakter seratus delapan puluh derajat. Belum selesai dengan keterkejutannya, kedua orang tua Rakha, membawa Rakha ke London untuk mendapatkan perawatan dan memberikan cek bernilai puluhan ribu dollar untuk Sofie dan juga lima orang pengawal pribadi. Apakah sebenarnya yang disembunyikan Rakha dan siapakah Rakha sebenarnya? Mengapa kedua orangtua Rakha memberikan pengawal-pengawalnya untuk Sofie? Apakah cinta Sofie dan Rakha akan bertemu kembali?
Lihat lebih banyak"Aku minta cerai! Ceraikan aku secepatnya!"
Dua kalimat yang merubah kehidupan Sofie, seorang ibu rumah tangga dengan satu putra. Sebuah skenario kehidupan yang tidak pernah terbayangkan oleh Sofie, bahwa dirinya akan menjadi salah satu korban perselingkuhan dari sebuah pernikahan.Mimpi membangun kehidupan bersama, hingga akhir hayat dengan Ardian, pria yang telah memberinya seorang putra, ternyata benar-benar hanya mimpi. Setelah tujuh tahun membina rumah tangga, Ardian mengungkapkan bahwa ia telah berselingkuh."Ada seseorang yang aku cintai, dia janda akibat KDRT," tutur Ardian bak petir di siang bolong.Mendengar pengakuan Ardian, Sofie hanya mematung, tanpa bereaksi apapun. Hal ini membuat Ardian merasa jika Sofie tidak lagi mencintainya."Sof....""Sof? Sof?! Apa Ar?! Kamu mau ngaku kalau kamu selingkuh?! Selingkuh sama janda? KDRT?!" hardik Sofie dengan hati yang hancur berkeping-keping."Anu Sof, begini... de...," ucap Ardian terbata, tetapi belum sempat ia menyelesaikan kalimatnya, Sofie kembali menghardiknya."Kamu selingkuh sama janda, terus kamu mau bikin istri kamu ini jadi janda juga?!"Mendengar Sofie memanggilnya tanpa sebutan kehormatan, emosi Ardian turut naik, "Sof! Tolong, aku masih suamimu! Sejak kapan kamu seenaknya manggil aku, kamu-kamu!""Sejak kamu ngaku kalau kamu selingkuh!" jawab ketus Sofie."Stop this nonsense! Mau kamu apa?" tantang Sofie."Aku bingung Sof," lirih Ardian."Bingung?! Kamu bingung? Waktu kamu memutuskan untuk mencintai perempuan lain, kamu pakai acara bingung, nggak?! Terus kenapa sekarang bingung?!""Sof, please.""Look, I'm gonna make it easier for you. You have to decide, which one you'll choose. Me or that widow. Decide it!"Itulah kalimat terakhir yang Sofie ucapkan kepada Ardian, sebelum ia memasukkan seluruh pakaian miliknya dan milik putranya ke dalam koper."Sof! Kamu mau kemana malam-malam begini?!" hardik Ardian sambil menahan tangan Sofie.Tanpa menjawabnya, Sofie tetap pada keputusannya, untuk menyingkir dari Ardian secepatnya."Sof! Sofie! Kamu tidak boleh keluar dari rumah ini!" pekik Ardian.Tetapi Sofie tetap tidak mengindahkan larangan suaminya. Setelah isi lemari dan meja riasnya kosong, ia segera beralih menuju ke dalam kamar Raffa. Putra semata wayangnya, yang masih duduk di taman kanak-kanak.Lalu, Ia melakukan hal yang sama, yaitu memasukkan seluruh pakaian Raffa ke dalam koper, sebelum ia membangunkannya."Fa, bangun dulu. Kita pergi yuk," lirih Sofie di telinga putra semata wayangnya.Sementara dalam kegalauannya, Ardian hanya melihat Sofie tanpa dapat berkata apa pun, bahkan ia tidak berusaha lebih untuk menghentikan kepergian Sofie.Beberapa saat kemudian, Sofie dan Raffa pergi meninggalkan Ardian sendiri di rumahnya. Ardian memandang kosong di depan rumahnya, lalu berteriak, "Sofie! Itu mobilku! Kenapa kamu bawa juga?!"Ardian pun berlari mengejar mobilnya, tetapi Sofie telah melajukannya dengan kecepatan tinggi, yang dalam hitungan detik, mobilnya telah menghilang dibalik tikungan.Di dalam kegelapan malam, Sofie mengendarai mobil yang berasal dari negara matahari terbit itu, tanpa arah. Ia hanya mengikuti kemana hatinya membawanya, hingga ia terhenti di pinggir danau buatan, yang sering menjadi tempat pertandingan olah raga air.Dilihat putra kecilnya telah terlelap, ia pun membelai lembut rambut Raffa. Lalu, Sofie membuka pintu mobilnya dan mengeluarkan badannya. Sofie berdiri di samping mobilnya dengan pintu terbuka. Ia memandang jauh dan jauh. Pikirannya masih tidak karuan, tetapi satu hal yang jelas, hatinya terasa sakit bagaikan ditusuk sembilu.Sofie pun menangis sejadi-jadinya. Ia melepaskan semua rasa yang menyakitkan dengan isakan tangisnya di dalam kegelapan.Tetapi tanpa ia sadari, ada seorang pria muda tampan yang melihatnya. Pria itupun mulai bertanya di dalam hatinya, apa yang membuatmu menangis? Apakah ada pria yang menyakitimu?Sofie masih meluapkan kesedihannya hingga nafasnya tercekat. Sesak dan sesak, itulah yang ia rasakan. Tiba-tiba, sebuah tangan menjulur dengan menggenggam sebuah botol air mineral kemasan di depan Sofie."Silahkan diminum dulu, Mbak," ucap pria muda tersebut, dengan aksen yang cukup aneh terdengar.Sofie pun memandang heran ke pemuda yang tak dikenalnya itu."Udah, ambil aja botolnya. Aman kok. Nggak saya masukin sianida, eh itu kopi, yak. Udah Mbak, tenang aja, segelnya masih rapat kok," ucap pria muda itu lagi."Makasih. Kamu ngeliat aku nangis, ya?" tanya Sofie kemudian, setelah menerima botol dan meminumnya."Ya mata saya masih normal, Mbak. Jadi saya, ya bisa lihat, kuping saya juga masih bisa dengar jelas, jadi saya juga bisa dengar Mbak nangis," jawab pria itu sambil memandang jauh ke danau."You know, Mbak. Siapapun atau apapun yang menyebabkan seseorang menangis, kalau dia ada di depan saya, pasti akan saya ....""Pukul? Kamu mau pukul orangnya?""Eeh nggak, sayang tangan saya kalau dipakai untuk mukul orang. Kalau ada orang yang bikin pasangannya nangis, saya akan bawa kabur pasangannya biar dia menyesal!"Kalimat itupun berhasil membuat Sofie tergelak. Mendengar suara tawa dari wanita yang berdiri di sampingnya itu, membuat sang pria tersenyum."Well, nice to meet you. I'm Sofie.""I'm Rakha and nice to meet you too. Tapi, kenapa kalau ketemu orang baru, pasti kata perkenalannya pakai to meet, kenapa bukan dengkul atau siku? Iya nggak, Mbak?" canda Rakha yang kembali membuat Sofie tergelak.You look pretty when you're laughing, gumam sang pria sambil tersenyum.Setelah Sofie puas dengan tawanya, ia dan Rakha terdiam dan menatap jauh ke danau."Mbak, apapun masalah yang Mbak hadapi saat ini, adukan semuanya ke Allah, biar Allah yang membereskannya. Kalau penyebabnya adalah lelaki busuk, biarkan ia di keliling kutu busuk yang berkembang biak di kasur dan bantalnya," seloroh Rakha.Sofie pun tertawa tanpa henti, hingga ia melupakan rasa sakit yang menusuk hatinya. Melihat wanita cantik dengan hijab menupi bagian atas tubuhnya dengan sempurna, senyum Rakha kembali terukir.Cantik. Kamu cantik, mbak. Sayangnya dia sudah pasti berusia jauh di atasku, gumam Rakha.Lalu Sofie mulai menyadari, jika malam sudah semakin larut, setelah dilihatnya jam yang telah menunjukkan hampir pukul sebelas malam."Eh makasih ya, atas hiburan singkat dan traktirannya. Saya mau pulang," pamit Sofie."Eh iya Mbak, sama-sama. Mbak mau pulang ke mana? Perlu saya temenin nggak, udah malam bahaya kalau nyetir sendirian," ucap Rakha."Aku pulang ke Kayu Merah, nggak jauh lagi kok," jawab Sofie."Hmm gini deh, saya ikutin Mbak dari belakang, ya? Beneran deh, saya yang nggak tenang ngeliat ada perempuan yang pergi sendirian," ucap Rakha."Hmm ini saya malah jadi ngerepotin," tolak Sofie dengan halus."Nggak ngerepotin kok, Mbak. Mbak masuk deh, anginnya udah semakin kencang. Mbak tenang aja, nanti saya kawal Mbak pulang ke rumah."Belum sempat Sofie merespon, Rakha kembali berucap, "Wah mimpi apa aku, sampai bisa ngomong kayak yang di film-film romantis yang bikin cewek klepek-klepek?! Prestasi baru! Yes!"Sofie pun kembali tertawa untuk kesekian kalinya, rasa sakit di hatinya pun menguap perlahan karena pria muda yang dengan sukarela menghiburnya.Beberapa saat kemudian, Sofie kembali mengendarai sedannya menuju rumah kedua orang tuanya, dengan diikuti dari belakang oleh Rakha yang mengendarai motor sport.Malam yang semakin larut, membuat jalan ibukota terlihat lengang, sehingga tidak membutuhkan waktu lama untuk sampai di tujuan.Sofie menghentikan sedannya di depan rumah bertingkat berwarna putih dan sesaat kemudian pagar dibuka dari dalam. Seorang pria paruh baya pun memeluk Sofie dengan erat, sebelum ia menggendong putra Sofie untuk masuk ke dalam rumahnya.Setelah Rakha memastikan keselamatan dan keamanan Sofie, ia segera berlalu di kegelapan malam. Tetapi, Sofie kemudian teringat akan sesuatu hal yang penting, sayangnya ia melupakannya."Eh, kok aku nggak minta nomor telponnya?!"Akad telah usai, perayaan hari bahagia itu telah menyisakan bangku-bangku yang hampir kosong di halaman. Petugas katering merapikan meja dan membereskan makanan yang tersisa ke wadah-wadah penyimpanan tahan panas.Beberapa kerabat dan teman masih asyik bercengkrama di kursi tamu, sambil menikmati kudapan yang tersisa. Sementara yang lain asyik menggunakan fasilitas berfoto yang disediakan panitia. Lampu-lampu hiasan dan lampion masih menggantung menantikan gelap agar ia dapat mengeluarkan sinar terangnya.Bagaimana dengan dua tokoh utama cerita ini?Keduanya sedang menikmati kudapan dan semua minuman dingin yang tersedia.Tetapi, ada satu hal yang mengganjal di hati Sofie dan belum sempat meminta penjelasan lebih dari pelaku utamanya, yaitu Ryuji."What should I call you now?" tanya Sofie."Hmm tuan muda Ryuji yang paling tampan menarik hati dan jenius." Jawaban yang sudah jelas tidak aman tetapi tetap diucapkan oleh Ryuji dengan wajah super lempeng, membuat Sofie hampir tersedak es
Dua bulan telah berlalu, mentari pagi naik dengan tenang di atas pelataran sebuah resor privat di kawasan dataran tinggi yang asri. Sesuai dengan impian yang pernah tertuang dalam sketsa samar di buku harian Ryuji, lokasi pernikahan mereka disulap menjadi perwujudan dari rumah dan taman yang hangat.Area outdoor tersebut menghadap langsung ke lembah hijau yang berkabut tipis. Rangkaian bunga melati, mawar putih, dan sentuhan dedaunan hijau menghiasi setiap sudut venue. Lampu-lampu untaian kristal kecil yang memantulkan cahaya matahari pagi laksana berlian. Bagi Sofie, ini adalah tempat paling romantis yang pernah ia bayangkan—sebuah tempat di mana alam dan desain berpadu sempurna.Di barisan kursi tamu, seluruh rekan kerja dari Chokusen_tempat mereka dulu bernaung telah hadir. Wajah-wajah yang biasanya tegang di depan meja gambar kini dipenuhi senyum haru. Abe berdiri di barisan paling depan dengan setelan jas hitam formal, wajahnya yang biasa datar kini menyiratkan rasa lega yang ter
Malam turun perlahan, menyisakan halaman rumah yang tadi siang riuh kini sunyi. Lampu-lampu taman masih menyala redup, pita silver dan pink bergoyang lelah, seolah ikut menghela napas setelah seharian menjadi warna utama dekorasi. Sofie duduk bersandar pada kursi tamu, lelah terlihat jelas di wajahnya. Ia menikmati keindahan dekorasi di malam hari, terutama saat rangkaian lampu yang bergantungan mengeluarkan cahayanya laksana bintang. "Kirei naa," lirihnya. Dua sahabat yang sedari pagi telah menghadiri acara sakral itu, mendekati perlahan dan mengambil tempat di samping Sofie. Sambil memberikan segelas kopi susu hangat, Rina berucap, "Sof, minum dulu.""Makasih. Aduh, maafkan diriku yang tidak dapat menjadi tuan rumah yang baik bagi kalian berdua," sahut Sofie. Rina dan Riga menggelengkan kepala dan menghembuskan napasnya bersamaan, seolah menunjukkan kelelahan yang sama. Tetapi ada sesuatu yang menggelitik batin Rina, sehingga ia tidak bisa untuk menunda pertanyaannya. "Sof, ta
Rumah Sofie di kaki gunung Salak, Bogor mendadak ramai didatangi para tamu undangan pernikahan Shafa dan Rain. Para tetangga turut serta meramaikan acaranya dengan bergotong-royong memasak dan menyulap halaman depan menjadi pelaminan dan area buffet. Sofie dengan pembawaannya yang santai, terlihat asyik memandangi Shafa yang sedang dirias oleh make-up artis, kenalan Sofie dari Jakarta. "Mbak, nggak usah ngeliatin aku kayak gitu. Aku tahu aku cantik dan saat ini, aura kecantikanku sedang dalam tahap maksimal." "Kecantikanku memang menurun, ah senangnya," sahut Sofie santai. Lalu, tanpa permisi, ia keluar dari kamar pengantin untuk memeriksa persiapan di luar. Seperti biasa, Sofie dengan sifat perfeksionisnya, ia harus memastikan semuanya tampak sempurna. Tenda putih dengan dekorasi pita berwarna silver dan pink, tampak megah dan elegan di tengah halaman. Dekorasi manik-manik di setiap sisi atas tenda, bagaikan kristal mewah yang menangkap cahaya pagi dan memantulkannya dal


















Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.