LOGINHati tidak pernah tahu kapan ia akan bergerak menemukan kenyamanan, apa lagi setelah dihajar kecewa yang bertubi-tubi. Jangankan berpikir untuk kembali menjalin hubungan, membayangkannya saja tidak pernah dilakukan Rania karena ia takut hanya memupuk kecewa dan membuat lukanya semakin dalam. Semua orang yang terluka berusaha sembuh, tapi Rania tak pernah memikirkan untuk sembuh dengan mencari orang lain sebagai pelariannya. "Kapan kamu mau mulai membuka hati?" Mama pernah melemparkan pertanyaan itu ke Rania. "Bagiku kebahagian Gavin sudah lebih dari segalanya, Ma" jawab Rania dengan yakin tanpa berpikir akan ada sosok laki-laki seperti Ethan yang hadir di hidupnya. Malam ini ada rasa yang berbeda. Rania terbaring di atas kasurnya mengingat kejadian tadi siang dengan Ethan. Jantungnya berdegup kencang saat berada di dekat Ethan. Ada rasa tenang tiap melihat senyuman di wajah laki-laki yang belum ia kenal jauh tapi terasa begitu memiliki arti di hidupnya kini. "Belum tidur?"
Keberanian memulai perjalanan baru membutuhkan support sistem yang membuat diri memiliki keyakinan. Ethan hadir memberikannya untuk Rania. Sejak awal ia yakin Rania mampu bangkit dari keterpurukannya. "Loh, Mas kapan ke sininya?" ucap Rania kaget keluar dari kamar melihat ada Ethan yang lagi main dengan Gavin. "Baru saja," jawab Ethan. "Kok gak bilang dulu mau ke sini?" tanya Rania. "Tadinya mau ke toko, tapi saya pikir ke rumah kamu saja biar kita bisa langsung lihat lokasi butik," jelas Ethan. "Beneran mau survei lokasi butik hari ini?" tanya Rania kaget. "Iya, saya rasa kamu sudah siap," ucap Ethan. "Mandi dulu lah Ran, nanti Ethan kelamaan lo menunggu kamu," kata Mama nimbrung. "Gak papa bu, saya juga masih main dengan Gavin," ucap Ethan tersenyum. "Oke, maaf ya mas, sebentar saya siap-siap dulu," jawab Rania. Rania bergegas ke kamarnya untuk siap-siap. Gavin kelihatan senang main dengan Ethan. Padahal baru jumpa, tapi seperti sudah kenal lama. Pemandangan ini m
Malam itu hujan turun perlahan membasahi jalanan. Udara dingin rasanya ikut masuk ke dalam mobil, membuat tubuh gemetaran. Rania juga kelelahan jadi badannya terasa kurang fit hingga menggigil. Ethan yang melihat itu memberikan jaketnya ke Rania, "Pakai ini ya biar kamu hangat," ucap Ethan. "Gak usah Mas," Rania menolak. "Gak papa pakai nanti kamu jadi meriang," ucap Ethan. "Makasih ya," mereka jadi saling bertatapan mata. Ada debar yang Ethan rasakan, ingin rasanya ia mendekap Rania ke pelukannya. Tapi Ethan menahan diri, tidak mau Rania jadi ilfil. Ethan harus sabar untuk membuat Rania luluh dengannya. "Rumah saya yang warna abu-abu itu ya Mas," ucap Rania. "Oh oke," jawab Ethan. "Mau singgah dulu Mas," tawar Rania. "Sudah malam, gak enak," kata Ethan. Mama Rania melihat di balik gorden, tak lama Gavin keluar mengejar mamanya. Ethan melihat dari kaca mobil dan tersenyum melihat Gavin yang lucu. "Pulang sama siapa tadi Ran?" tanya mama. "Itu ma, bosnya aku dari Jakart
Ethan sudah siap untuk ke tempat Rania. Jam 19:00 Ethan sudah di jalan menuju lokasi yang sudah di share loc. Ingatan tentang Nara masih saja membayangi pikirannya."Rania bukan Nara, bukan Nara," Ethan membatin je dirinya sendiri berulang kali.15 menit dari hotel ke lokasi Rania. Ethan sampai di depan ruko kecil tempat Rania live berjualan online dan tempat packing orderannya. Ethan datang membawa makanan yang sudah ia pesankan ke supirnya untuk dibeli."Assalamualaikum," ucap Ethan memasuki ruko yang pintunya terbuka satu."Waalaikumsalam," jawab Rania yang berdiri dari tumpukan pesanan."Gak papa, duduk saja," ucap Ethan."Gak telepon dulu tadi Mas," ucap Rania."Iya, gak papa. Lagian gak nyasar juga kok." Ethan tersenyum."Duduk di sini saja Mas," ucap Rania menarik kursi di dekat meja kerjanya."Ini saya bawaain makanan buat anggota kamu," ucap Ethan."Repot-repot banget Mas," Rania mengambil dan memberikannya ke anggota."Sepertinya ruko ini sudah tidak bisa lagi menerima stok
Pagi yang cerah di Hari Minggu jadi bagian menyenangkan untuk Nara. Menikmati pagi dengan berlari di area Jogging Track Undip sekaligus jadi spot lari yang menyenangkan. Pagi itulah menjadi pagi yang istimewa karena bertemu dengan Ethan.Ethan yang tak sengaja pagi itu juga main ke Jogging Track Undip. Ethan melihat Nara yang lagi Jogging mengutip sampah dan membuangnya ke tong sampah. Jarang banget di hari ini masih ada orang yang peduli dengan hal kecil, apa lagi itu bukan tugasnya.Pertemuan tak di sengaja itu menjadi awal Ethan mengingat wajah Nara. Sepulang dari jogging gak sengaja bertemu lagi di tempat sarapan nasi pecel."Maaf Mas, boleh minta tisunya?" tanya Nara yang membuat Ethan kaget bisa ketemu lagi."Iya, ambil saja," jawab Ethan."Terimakasih," kata Nara.Ethan mau balik ke hotel, tapi melihat Nara lagi kekusahan di parkiran."Kenapa motornya" tanya Ethan."Ini bocor, mana lagi buru-buru," jawab Nara."Mau ke kantor?" tanya Ethan."Tidak, lagi ada janji sama teman buat
Perbincangan yang hangat antara Ethan dan Rania. Ethan menunjukkan ketertarikannya, sedangkan Rania masih menjaga batasan sebagai mitra kerja."Nanti malam kita jumpa lagi?" tanya Ethan."Boleh, tapi sekarang saya mohon maaf sekali pak, harus balik karena orderan lagi banyak banget," Jawab Rania."Aman, nanti kalau tidak bisa meninggalkan lokasi, saya saja yang menyamperin kamu," ucap Ethan."Tapi tempat saya itu masih ruko biasa saja pak, gak apa-apa?" jawab Rania."Gak apa-apa. Justru itu saya mau lihat bagaimana manajemen kamu apakah sudah siap untuk buka butik atau belum," kata Ethan tersenyum."Baik, Pak," jawab Rania."Jangan panggil pak, panggil saja Mas Ethan biar gak kaku," kata Ethan."Oh, ya. Baik Mas Ethan," kata Rania.Makan siang itu berlalu. Rania pamit lebih dulu untuk pulang. Ethan masih duduk di meja mereka makan. Lamunannya hanyut ke masa lalu. Ethan merasa di dekat Rania seperti sedang bersama dengan Nara."Halo, bro," suara Reno dari balik telepon yang diangkat Et
Hati ibu mana yang tidak hancur mendengarkan kabar luka dari anaknya. Ibu Rania yang datang menjemputnya, datang untuk membawanya pergi meninggalkan segala duka."Ikut Mama pulang, sudah cukup kamu berjuang," kata mamanya sebelum meminta Rania mengemas barang-barangnya."Mama selama ini diam bukan
Dori pulang dari kantor tanpa berbicara apa pun. Rania mengunci pintu dan mencabut kuncinya supaya Dori bisa membuka pintu sendiri tanpa membangunkannya. Dori memilih tidur di kamar sebelahnya. Sejak malam ini Dori dan Rania pisah kamar. Situasi ini berlangsung hampir satu bulan. Tanpa ada niat unt
Kalau kesusahan ekonomi masih bisa ditabahkan seorang istri, tidak dengan perselingkuhan. Perempuan mana yang tidak hancur mengetahui kenyataan dirinya diduakan. Mungkin ada istri yang masih memilih bertahan, tapi tidak semua istri kuat untuk memilih bertahan. Seperti gelas kaca yang sudah pecah te
Pagi ini Rania bangun lebih awal. Alarmnya berbunyi jam 4 pagi. Ada orderan untuk acara hajatan kue 200 kotak. Rania mengerjakannya sendiri. Pesanan sudah masuk 3 hari yang lalu. Rania sudah mengangsur membentuk kotaknya. Sebagian isi kuenya sudah dikerjakannya kemarin. Pagi ini tinggal menambah ku







