Share

Bab 4

Author: Liam
Aku memalingkan wajah sangking malunya, tak berani bertatapan mata dengannya.

“Berdasarkan penjelasanmu dan hasil kuesioner ini, kondisi yang kamu alami sebenarnya bukan penyakit fisik.”

Dia menyandarkan tubuhnya ke belakang, kedua tangannya bersilang menopang kepala dengan pose yang santai dan malas, lalu melanjutkan, “Ini lebih mirip respon stres yang dipicu oleh sugesti psikologis.”

“Su… sugesti psikologis?” Aku terkejut.

“Benar.”

Dia mengangguk, melanjutkan, “Mungkin karena suatu pengalaman yang nggak sengaja di masa lalu, tubuhmu merasakan kenikmatan yang sangat kuat dan alam bawah sadarmu merekam ingatan itu. Setelah itu, dalam situasi tertentu, seperti saat lelah, tegang atau mendapat rangsangan tertentu, tubuhmu akan otomatis memicu reaksi ini, hingga membuatmu salah paham dan mengira dirimu sedang sakit.”

Analisisnya terdengar sangat masuk akal, tapi aku masih merasa agak bingung, “Lalu… bagaimana cara mengobatinya?”

“Penyembuhannya harus dimulai dari akar masalahnya.” Dia bangkit berdiri, berjalan memutari meja kerja dan melangkah ke hadapanku.

Tubuhnya yang tinggi besar langsung menyelimutiku, membawa aura intimidasi yang sangat kuat.

“Karena tubuhmu mengingat kenikmatan itu, jadi kita harus membuatnya lupa atau dengan kata lain, membuatnya terbiasa.”

Dia membungkuk, kedua tangannya bertumpu pada lengan kursiku, mengurungku di antara tubuhnya dan kursi tersebut.

Hembusan napasnya yang hangat menerpa pipiku, dengan aroma khas tubuhnya.

“Aku perlu melakukan pemeriksaan secara menyeluruh padamu untuk menemukan semua titik sensitifmu, lalu….”

Dia berhenti sejenak, lalu mendekatkan bibirnya ke telingaku dan membisikkan kata demi kata dengan suara yang hanya bisa didengar oleh kami berdua,

“Melakukan terapi desensitisasi.”

Jantungku berdegup kencang, rasanya hampir mau melompat keluar dari tenggorokan.

Terapi desensitisasi.

Kedengarannya… kok mirip seperti….

“Apa… apa yang mau kamu lakukan?” Aku menatapnya dengan ketakutan, tubuhku terus menyusut ke belakang.

“Jangan tegang, Monica.” Dia terkekeh pelan, mengulurkan tangan, lalu dengan ujung jarinya yang dingin dia mengusap sisa air mata di sudut mataku dengan lembut, “Sudah kubilang, aku ini dokter. Semua hal yang kulakukan adalah demi mengobati penyakitmu.”

Gerakannya sangat lembut, tapi menyiratkan ketegasan yang tak menerima penolakan.

“Sekarang, baringlah di ranjang itu.” Dia menunjuk ranjang periksa di sudut ruangan.

Aku mengikuti arah telunjuknya. Itu adalah sebuah ranjang sempit yang dilapisi sprei putih, terlihat sangat dingin dan kaku.

Membayangkan harus berada di atas sana dan dipermainkan olehnya….

“Nggak… aku nggak mau!” Aku mendadak berdiri, berniat mendorongnya dan melarikan diri.

Namun, seolah sudah menebak reaksiku, dia langsung mencengkeram pergelangan tanganku. Hanya sedikit sentakan, dia menekan tubuhku kembali ke kursi.

“Monica, kamu nggak punya pilihan.” Suaranya berubah dingin dan tatapan matanya pun menjadi tajam, dia melanjutkan, “Pilihannya hanya ada dua, bekerja sama denganku sekarang atau kecanduanmu ini akan semakin parah, sampai akhirnya kamu kehilangan kendali di depan umum.”

Suaranya yang dingin itu langsung membongkar kenyataan pahit yang selama ini enggan kuhadapi.

“Aku… aku baring di sana,” ucapku sambil memejamkan mata, melontarkan kata-kata itu dengan keputusasaan dan nada suara yang menahan tangis.

“Bagus.” Dia tersenyum puas, lalu melepaskan cengkeramannya di pergelangan tanganku, “Buka sendiri atau perlu kubantu?”

Air mata penghinaan kembali menetes dari sudut mataku.

Aku menggigit bibir bawahku kuat-kuat sampai terasa rasa amis darah.

Aku berdiri perlahan, langkah demi langkah berjalan menuju ranjang periksa yang dingin itu, seperti seorang tawanan yang berjalan menuju tempat eksekusi.

Setiap melangkah, aku merasa harga diriku terkikis satu lapis.

Sambil membelakanginya, aku membuka ritsleting di bagian samping seragam perawatku dengan tangan gemetar.

Pakaian itu merosot jatuh, memperlihatkan pakaian dalam katun berwarna putih.

Selanjutnya rok… dan stoking….

Saat celana dalam terakhir yang melekat di tubuhku ikut diturunkan hingga melewati pergelangan kaki, aku merasa seluruh tenaga di tubuhku telah terkuras habis.

Larut malam di dalam ruang praktek ini, hembusan angin dingin dari AC menerpa kulitku yang tanpa sehelai benang pun, membuat bulu kudukku merinding.

Namun, hal yang jauh lebih kutakuti adalah sepasang sorot mata panas di belakangku yang seolah-olah sanggup menembus seluruh tubuhku.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Dokter Calvin, Penyelamatku   Bab 15

    Dasar bodoh.Demi melindungiku, dia bahkan rela menghancurkan reputasi dan masa depannya sendiri.“Calvin! Kamu sadar nggak dirimu lagi bicara apa?!” Direktur rumah sakit bangkit berdiri sambil menggebrak meja sangking marahnya.“Demi wanita biasa ini, emangnya pantas?”“Pantas,” jawab Calvin tanpa ragu sedikitpun. Dia membalikkan tubuhnya, lalu menggenggam tanganku erat-erat dan menyelipkan jari-jari kami.“Dia bukan wanita biasa.”“Dia satu-satunya wanita yang ingin kunikahi seumur hidupku.”Seketika, semua rasa sesak, rasa sakit dan pergulatan batin yang kualami langsung lenyap tak berbekas.Aku membalas genggaman tangannya. Menghadapi tatapan orang-orang yang dipenuhi keterkejutan, cibiran, maupun kebingungan, aku tetap berdiri penuh keyakinan di sisinya.Fitnah dan reputasi?Aku tak peduli!Yang kutahu pasti, saat ini, aku tak ingin melepaskan genggaman tangan pria ini lagi.Selesai.Masalah itu akhirnya selesai setelah Calvin menyerahkan surat pengunduran dirinya, lalu pergi meni

  • Dokter Calvin, Penyelamatku   Bab 14

    Dia berbalik, melangkah terhuyung-huyung keluar dari kamarku.Melihat punggungnya yang tampak begitu kesepian, air mataku tak bisa ditahan lagi dan langsung membanjiri pipi.Maafkan aku, Calvin.Aku mencintaimu.Justru karena mencintaimu, makanya aku tak boleh menghancurkanmu.Aku mengira semua ini akan berakhir begitu saja.Aku sudah menyerahkan surat pengunduran diri dan bersiap untuk pergi dari kota yang penuh kenangan sedih ini.Namun, aku tak menyangka kalau Gwen tak berniat melepaskanku begitu saja.Tepat sehari sebelum aku mengundurkan diri, tiba-tiba sebuah unggahan muncul di forum internal rumah sakit.Judulnya, [Sungguh mengejutkan! Seorang perawat magang rela menghalalkan segala cara untuk menggoda dokter pria agar bisa naik jabatan!]Di dalam unggahan itu digambarkan secara detail ‘kasus’ antara aku dan Calvin. Meskipun namanya disamarkan, semua detail yang tertulis jelas-jelas mengarah pada kami berdua.Unggahan itu bahkan melampirkan sebuah foto yang buram.Itu adalah fot

  • Dokter Calvin, Penyelamatku   Bab 13

    “Nggak melakukan apa-apa?” Dia terkekeh sinis, lalu tiba-tiba mendekat ke telingaku dan berbisik dengan suara yang hanya bisa didengar oleh kami berdua, “Jangan kira aku nggak tahu kasus murahan di antara kalian! Wanita jalang yang mengandalkan pria demi menaikkan posisi sepertimu, memangnya kamu punya hak apa untuk merebutnya dariku?”Seketika, wajahku menjadi pucat.Kok dia bisa tahu?“Kamu pikir rahasiamu bisa ditutup dengan sempurna?” Dia menatap puas ke arah ekspresiku yang panik, “Hari itu di dalam lift, aku melihat semuanya. Calvin memelukmu dan rokmu… tsk tsk, sungguh menarik sekali.”Ternyata, orang yang berada di dalam lift hari itu adalah dia.“Monica, dengarkan baik-baik,” ucapnya dengan nada yang kejam.“Calvin itu milikku, nggak ada yang boleh merebutnya. Kalau kamu tahu diri, cepat angkat kaki dari rumah sakit ini. Kalau nggak, aku punya cara untuk menghancurkan reputasimu!”Usai bicara, dia sengaja melabrak bahuku, lalu berbalik pergi dengan angkuh.Aku membeku di tempa

  • Dokter Calvin, Penyelamatku   Bab 12

    Bagi diriku dan dirinya, proses ini merupakan sebuah siksaan yang luar biasa.Setiap kali ‘terapi’ selesai, kami berdua seperti kehabisan tenaga dan sekujur tubuh dibanjiri keringat.Beberapa kali aku melihat wajahnya memerah dan urat-uratnya menonjol karena menahan diri. Dia bahkan sampai harus berlari ke kamar mandi untuk menenangkan diri dengan air dingin.Aku pernah bertanya padanya, kenapa dia tak menyentuhku saja, padahal itu jauh lebih mudah.Dia hanya tersenyum pahit dan menjawab, “Kalau aku menyentuhmu, semua yang kita lakukan sebelumnya akan sia-sia. Aku nggak mau kamu merasa kalau dirimu bergantung padaku, bukannya bergantung pada dirimu sendiri."“Monica, kamu bisa mengalahkannya. Aku percaya padamu.”Berkat bantuannya, frekuensi kambuhnya penyakitku jadi semakin jarang dan jarak waktunya pun semakin lama.Perlahan-lahan, aku mulai bisa mengendalikan hasrat yang datang mendadak itu.Bahkan jika sesekali hasrat itu muncul kembali, aku bisa menekan dan meredakannya melalui ta

  • Dokter Calvin, Penyelamatku   Bab 11

    Jika dia menyetujuinya….Maka aku mungkin bisa memberikan satu kesempatan lagi untuknya dan juga untuk diriku sendiri.Calvin membeku setelah mendengar perkataanku.Dia menatapku dengan tatapan yang penasaran dan kebingungan.Waktu berlalu lama… begitu lama hingga aku mengira dia akan pergi begitu saja. Namun, dia malah menganggukkan kepala pelan.“Iya, aku setuju.”Aku tak menyangka kalau dia benar-benar akan menyetujuinya.Terlebih lagi, aku tak menyangka kalau terapi ‘tanpa menyentuhku’ yang dia maksud akan menjadi seperti ini.Dia menyuruhku duduk di atas ranjang, memejamkan mata, lalu dia mulai menggunakan kata-kata untuk membangun skenario demi skenario yang penuh gairah di benakku.Dengan suaranya yang berwibawa, berat dan agak berat, dia berbisik di telingaku untuk menggambarkan semuanya.Menggambarkan bagaimana tangannya membelai kulitku.Menggambarkan bagaimana bibirnya mengecup seluruh tubuhku.Menggambarkan bagaimana kami saling berpelukan dan tenggelam bersama….Gambarann

  • Dokter Calvin, Penyelamatku   Bab 10

    Rentetan pertanyaan itu bagaikan peluru yang menghantam dirinya.Dia terdiam seribu bahasa karena pertanyaanku, hanya bisa menatapku lekat-lekat dengan sorot mata rumit yang sepekat tinta hitam.“Iya, kuakui awalnya memang memanfaatkan penyakitmu karena ingin melihat dirimu kehilangan kendali,” ujarnya setelah terdiam lama.Suaranya terdengar sangat serak, “Aku suka melihat dirimu yang padahal sangat malu, tapi tetap nggak bisa menahan diri untuk runtuh di hadapanku. Itu memberiku kepuasan yang belum pernah kurasakan sebelumnya.”“Tapi, Monica….”Dia terdiam sejenak, lalu sekilas kerapuhan dan pergulatan batin yang belum pernah kulihat sebelumnya tampak di matanya.“Aku nggak tahu sejak kapan, tapi semua ini sudah berubah.”“Melihatmu mengobrol dengan dokter pria lain saja bisa membuatku cemburu setengah mati.”“Melihatmu pulang kehujanan seperti ini membuat hatiku sangat sakit.”“Melihatmu menatapku dengan pandangan seperti sekarang… rasanya jantungku seperti diiris-iris pisau.”Dia m

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status