“Balik badan,” perintahnya.Aku membalikkan tubuhku dengan kaku. Kedua tanganku reflek menutupi area dada dan bagian bawah tubuh, rasanya ingin sekali meringkuk sampai sekecil mungkin.Dia melangkah ke hadapanku, berdiri tegak sambil mengamati diriku dari atas.Sorot matanya itu bagai pisau bedah paling akurat, yang menguliti tubuhku bagian demi bagian, mulai dari pipi yang merona, tulang selangka yang tegas, hingga dadaku yang bergerak naik turun karena gugup….Terakhir, pandangannya tertuju ke sela-sela kakiku, ke area sensitif yang sedang kututupi erat-erat dengan tangan.“Singkirkan tanganmu,” ujarnya dengan suara yang terdengar agak serak.Seperti terhipnotis, entah apa yang merasukiku, perlahan-lahan aku menurunkan kedua tanganku.Seketika, aku merasa seluruh rahasiaku telah telanjang bulat di udara, terpampang nyata di depan matanya.Aku merasa sangat malu, rasanya ingin mati saja.“Baring dan buka kakimu,” perintahnya lagi.Aku memejamkan mata, pasrah saat membaringkan diri di
Read more