LOGINSetelah Raya menghilang di balik pintu depan beberapa menit yang lalu, Alya sempat melangkah keluar untuk mencarinya. Udara sore yang hangat menyapa kulitnya, namun atensinya justru langsung tertarik pada sebuah mobil sedan hitam mewah yang terparkir rapi di carport rumah tepat di sebelah rumahnya.Jantung Alya sempat berdesir aneh saat itu. Ia sangat mengenali tipe dan jenis kendaraan tersebut, itu adalah mobil milik Raka. Namun, keraguan segera melanda benaknya, apalagi dia tak ingat nomor polisi mobil sang kekasih. "Untuk apa Raka memarkir mobil di sana di jam kerja?" Merasa tidak ingin ambil pusing atau berspekulasi terlalu jauh, Alya memilih mengurungkan niatnya mencari Raya dan kembali masuk ke dalam rumah.Suasana ruang tengah langsung menyambutnya kembali. Kevin, kekasih Raya, tampak tengah duduk bersila di atas karpet bersama Nana dan Rio, tertawa renyah sembari menemani kedua anak itu merakit balok-balok susun. Alya menarik napas pelan, berusaha menepis bayangan mobil hitam
Alih-alih kembali ke gedung tempat perusahaannya beroperasi, Raka malah menuju ke rumah barunya yang baru saja ia beli, yaitu rumah yang letaknya tepat di samping rumah baru Alya. Ia lalu mengambil ponsel dari saku jasnya dan mendial nomor Rehan."Halo, Rehan?" suara Raka terdengar datar namun absolut."Ya, Pak Raka? Anda butuh sesuatu?" tanya Rehan dari seberang sambungan dengan nada siaga."Batalkan semua jadwal saya hari ini. Jangan cari saya, saya sedang tidak ingin diganggu," perintah Raka tanpa memberi ruang sang sekretaris untuk membantah."Baik, Pak. Akan saya urus semuanya," jawab Rehan patuh.Sambungan diputus sepihak. Raka masuk ke dalam rumah, menampilkan ruangan yang masih kosong tanpa banyak perabot, namun bersih dan siap ditempati.Suasana di dalam rumah itu sangat kontras dengan hiruk-pikuk emosi yang baru saja ia lewati bersama kedua orang tuanya. Tanpa membuang waktu, Raka kembali merogoh ponselnya dan mencari kontak sang kakak, Raya. Jari telunjuknya menekan tombol
"Jawaban seperti apa yang sebenarnya Papa dan Mama harapkan dari aku?" Raka melontarkan pertanyaan itu dengan nada yang luar biasa tenang, sebuah ketenangan yang justru menjadi minyak penyulut emosi bagi Sanjaya yang baru saja mencoba mengatur napasnya."Kamu benar-benar anak yang kurang ajar!" Sanjaya membentak, suaranya bergetar hebat menahan amarah yang kembali melonjak di dadanya."Maaf, Pa. Aku tidak punya niat untuk membuat Papa jatuh sakit lagi," balas Raka, tetap pada pendiriannya yang dingin namun terkontrol. "Soal perjodohan dengan Zahira itu, aku nggak menolak. Lantas, untuk apa Papa dan Mama masih meributkan hubunganku dengan Alya?"Soraya menyipitkan mata, keningnya berkerut dalam seiring potongan-potongan memori di kepalanya yang mulai tersusun. "Ah, namanya Alya... Baru ingat Mama. Jadi, kamu benar-benar serius menjalin hubungan dengan wanita itu?""Aku sudah bilang, aku nggak keberatan dengan perjodohan yang kalian atur," sahut Raka, sorot matanya menyiratkan kekhawati
Hari itu Alya bersama kedua anaknya bersiap untuk pindah ke rumah baru. Dibantu oleh Raya dan Kevin, suasana pagi hingga siang itu dipenuhi rasa antusias dan kebahagiaan. Alya bahkan sengaja meminta izin agar Nana tidak masuk sekolah hari ini, supaya sang anak sulung bisa menyaksikan dan merasakan langsung momen kepindahan mereka.Setelah berjibaku menata berbagai barang bawaan, suasana berubah menjadi hangat begitu semuanya rampung."Nana sayang, Rio sayang, kalian suka rumah ini?" tanya Alya lembut setelah mereka berkumpul di ruang tengah yang luas."Suka!" teriak Nana dan Rio bersamaan dengan mata berbinar-binar.Alya tersenyum lebar, merasakan kelegaan yang luar biasa. Impiannya untuk hidup mandiri bersama kedua buah hatinya kini terwujud di sebuah rumah yang jauh lebih mewah dan nyaman dari apa yang pernah ia bayangkan."Ini rumah Ibu?" tanya Nana penasaran sambil mengedarkan pandangan."Ini rumah kita," jawab Alya penuh kehangatan. "Selama ayah kalian masih di rumah sakit, kalia
"Kamu mau pindahan kapan?" tanya Raya sambil mengunyah makanan. Malam itu ia makan malam di apartemen Alya, makan malam bersama semua penghuni apartemen sederhana itu."Besok. Rumahnya udah siap dan sudah ada perabotannya juga, jadi tinggal bawa badan sama pakaian aja. Aku cuma berharap anak-anak senang dan betah tinggal di sana," ucap Alya sambil menatap kedua anaknya secara bergantian.Raya mengangguk pelan. "Kamu... nggak ke rumah sakit?" tanyanya, kali ini suaranya sedikit berbisik agar tidak didengar Nana dan Rio.Alya menggeleng tegas. "Aku udah minta adikmu untuk kirim perawat ke sana dan melunasi semua biaya perawatannya. Aku rasa itu udah lebih dari cukup," ucap Alya dengan tenang. Kali ini, ia sama sekali tak merasa dibebani rasa bersalah, ia benar-benar merasa Emran pantas mendapatkan balasan atas semua perbuatan buruknya di masa lalu.Raya mengangguk paham. "Terus, unit apartemen ini mau kamu kosongin gitu aja? Nggak akan kamu jual, kan?" tanya Raya lagi.Alya tersenyum ke
"Besar banget." Alya dibuat kagum saat masuk ke rumah yang ia survei. Rumahnya besar, dua lantai, dan yang paling membuat Alya merasa kagum adalah kemewahan rumah itu yang terpancar di setiap sudut ruangan. "Ini pasti mahal banget," ucap Alya lagi dengan mata yang takjub.Raka berjalan mendekat, menyusul langkah wanita itu. "Soal harga nggak usah dipikirin, kalau kamu suka, beli aja. Kalau masih mau muter-muter lihat-lihat rumah yang lain, aku temenin," ucap Raka santai. Ia sama sekali tak peduli dengan kondisi fisik rumah atau harganya, hal yang paling ia pikirkan saat ini adalah keamanan perumahan itu untuk Alya dan anak-anak.Alya tampak berpikir, mulai menggigit bibirnya pelan karena bimbang. Tanpa sengaja, Raka melihat gerakan itu."Jangan gigit bibir kamu terus, bisa terluka. Kenapa? Gatal? Mau aku cium?" tanya Raka dengan nada setengah menggoda namun terdengar datar.Alya sontak menutup bibirnya dengan punggung tangan, matanya berkedip menatap Raka dengan penuh kegugupan. "Kamu
Detak jam dinding di apartemen kecil itu terasa seperti dentum lonceng kematian bagi Alya. Sudah pukul tujuh malam, kurang satu jam lagi sebelum Raka datang untuk menagih "tanggung jawab" yang ia tuntut. Pikiran Alya kalut. Bayangan ia harus menyerahkan dirinya dalam keadaan sadar kepada pria yang
Alya melempar tasnya serampangan. Lalu membanting tubuhnya di atas kasur. Ia sudah pulang ke apartemen kecil yang ia sewa selama ini. Malam itu hujan deras, tapi rupanya bukan hanya hujan yang deras, air matanya pun jatuh amat deras. Ya, wanita itu menangis setelah hari panjang dan berat yang ia la
Jantung Alya seperti jatuh. "Apa?” tanyanya dengan suara gemetar.Kesunyian pekat menggantung di udara. Alya ingin marah dan menolak, namun ingatan bahwa tangannya sendiri yang membawanya pada situasinya membuat bibirnya kelu.“Keinginan itu pasti akan datang lagi, Alya,” ucap Raka santai, pupilnya
“Raka... kumohon, pelan sedikit....”Suara Alya terdengar putus asa, tertahan di antara deru napas yang memburu. Udara di dalam kamar itu terasa pekat oleh hawa panas dan aroma keringat yang bercampur.Raka duduk bersandar di kepala ranjang dengan napas sama kasarnya, sementara Alya berada di atas







