Share

Enggan Punya Anak
Enggan Punya Anak
Author: Mustacis

1

Author: Mustacis
last update Petsa ng paglalathala: 2023-10-21 13:30:26

“Yuurrrrr~ sayuurrrrrr~”

Senandung panjang seperti bunyi mesin motor itu membuatku bergegas keluar  rumah. Dengan daster kuning bermotif bunga sebatas lutut dan rambut yang terikat rapi, aku mendekat ke tukang sayur gerobak yang biasanya memang selalu hadir di pagi hari. 

“Ada apa aja, Kang Yur?” tanyaku pada tukang sayur yang sebenarnya bernama Yudi itu, dipanggil Kang Yur karena teriakan sayurnya yang khas.

“Biasa, Mbak, dipilih aja. Semua sayur ada kok itu. Masih pres!” 

Aku melongokkan kepala mencari-cari sayur apa yang enak dimasak hari ini. Jari menunjuk beberapa sayuran yang tergantung di gerobak.

“Labu sama kacang hijau aja, Mbak. Enak tuh dimasak ama santan. Behhh muantapp!” 

Sepertinya itu memang perpaduan yang enak. Membayangkannya saja membuat perut berbunyi. Aku memasang senyum tipis. “Mertuaku asam urat, Kang. Gak boleh makan kacang-kacangan.” Kusembunyikan helaan napas kecewa. Padahal kepengin sekali makan kacang panjang.

“Perhatian kali kamu, Farah. Jadi, selama ini kamu nggak pernah masak kacang hijau?” 

Aku menoleh pada Bu Endang yang baru datang dan langsung menarik bungkusan tempe yang tergantung. “Banyak yang nggak bisa dimasak, Bu. Kangkung, bayam, yang bersantan-santan juga nggak karena Ibu kolestrol. Palingan sawi dan jagung aja.” 

“Waduh, bosan ya kalau gitu,” timpal Bu Inggis yang datang bersama Bu Sri. 

Lama-lama gerobak ini mulai dipenuhi oleh ibu-ibu. Di antara mereka akulah yang paling muda. Di pukul tujuh pagi ini Ibu belum bangun, jadi aku yang sering kali untuk membeli sayuran. Kehadiran gerobak sayur Kang Yur sangat membantu sehingga kami tidak perlu repot-repot ke pasar lagi. 

“Biasa kalau sudah tua banyak penyakit, ya. Saya juga gitu punya darah tinggi, jadi sayurnya nggak boleh asin-asin.” 

Aku tersenyum menanggapi ucapan Bu Isti yang usianya sepantaran dengan mertuaku. Ibu punya banyak penyakit. Hipertensi, asam urat, kolestrol dan maag. Mau tak mau aku harus menyesuaikan dengan penyakitnya. Hanya boleh masak sayur bening yang tidak berminyak dan tidak asin. Itu pun cuma sawi, jagung, dan wortel. 

Selama memilih sayuran dan lauk, mereka terus mengobrol dan sesekali menanyaiku. Aku hanya menjawab seadanya sambil memasang senyum agar tak dikira sombong. Sebab aku memang tidak suka banyak bicara, takut keceplosan perihal urusan pribadi. 

“Yuli gimana kabarnya sekarang, Farah? Jarang keluar rumah, ya akhir-akhir ini?”

Selagi memilih-milih telur yang sekiranya berukuran besar, aku berusaha tetap tersenyum. “Lagi sibuk, Bu. Anaknya sakit.” 

“Oalah, si Fatur sakit?”

Aku mengangguk. Mbak Yuli adalah kakak suamiku yang tinggal bersama di rumah Ibu. Suaminya perantau dan ia punya anak balita berumur satu tahun bernama Fatur. 

“Iya, sudah dua hari.” Aku mulai merogoh kantong daster. 

“Ehhhh~ Farah~ belanja sayur juga?” 

Aku menahan helaan napas. Kedatangan Lastri adalah hal yang paling kuhindari setiap kali belanja sayuran. Makanya aku selalu yang paling pertama berlari jika Kang Yur datang. Karena terus ditanyai oleh ibu-ibu yang lain, aku jadi tinggal cukup lama. 

“Rapi amat pagi ini. Sudah mandi, Far?” 

Aku sudah menduga pertanyaan itu. Lastri adalah teman Mbak Yuli. Setiap kali bertemu, dia akan menyindir atau bertanya sarkas. 

“Farah ‘kan emang selalu mandi tiap pagi sebelum belanja, Las. Nggak kayak kita-kita masih dekil dan belekan. Baru bangun udah langsung lari.”

“Ya beda dong, Bu Endang. Kita udah tua ngapain dandan dan rapi-rapi. Ditambah makin tua makin malas makin banyak penyakit. Farah ‘kan masih muda, jadi mesti rajin merawat diri dan ngurus rumah.” 

“Halah, bukan soal rajin dan mudanya, Bu Sri. Farah nggak punya anak. Palingan cuma nyapu ama cuci baju sendiri. Kita mah mesti cuciin baju anak, mandiin anak, bikinin susu, bubur, jagain, belum lagi suami yang mau berangkat kerja. Rumah selalu berantakan gegara anak. Tiap jam mesti diberesin. Mana sempat kita mandi pagi sama dandan. Bisa pakai daster nggak terbalik aja udah syukur, Bu.”

Inilah yang tidak kusukai jika bertemu Lastri di gerobak sayur. Cepat-cepat aku mengambil tempe dan tahu lalu mulai menghitung uang seribuan untuk diberikan pada Kang Yur. 

“Giliran anak udah besar, kitanya yang udah peyot. Bener itu, Lastri. Pokoknya kalau punya anak mah badan sampe hancur-hancuran. Tampilan udah kayak kuntilanak, badan gembrot, jerawatan. Nggak ada yang sedap dipandang.”

“Belum lagi bau minyak gosok sama minyak telon.” Ibu-ibu yang lain ikut menimpali. 

Aku ingin segera pergi dari sini. Rasanya seperti berada di bawah siraman air terjun yang menampar-nampar tubuhku. 

“Farah mah boro-boro bau minyak gosok.” Lastri melirik-lirik sinis padaku sembari menaik turunkan bibir tipisnya yang dipenuhi lipstik nude, dipakai melewati garis bibir sampai mulutnya terlihat tebal dan berwarna alami. “Dia tiap pagi wangi parfum sama handbody mahal. Kita apa atuh emak-emak yang mesti berkorban segalanya untuk melahirkan dan mengurus anak.”

Telingaku seperti ditusuk puluhan jarum mendengarnya. 

“Pantas Neng Farah nggak mau punya anak, ya.”

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Mga Comments (1)
goodnovel comment avatar
Siti Asih
huuuuh mulutnya minta dijejelin bonggol jagung niiiih.. zzzZzzz
Tignan lahat ng Komento

Pinakabagong kabanata

  • Enggan Punya Anak   34 (End)

    Sesampainya di ruangan mempelai pria, aku dihadapkan pada Mas Herman yang memamerkan sorot gelisahnya. Aku duduk di kursi, berdampingan dengannya. Sebab aku tahu pria itu tidak ingin didandani. “Apa kabar, Dek, maksudku Farah?” Aku mengangguk. “Baik. Hanif juga begitu. Sekarang dijaga oleh Emak dan Bapak.” Sejak kepulanganku ke rumah Emak, beberapa kali Mas Herman ingin berkunjung, apalagi setelah mendengar kabar aku sudah melahirkan. Namun, aku melarangnya dan hanya mengizinkan melihat anak kami lewat panggilan video atau telepon saja. “Aku nggak tahu kalau kamu yang jadi MUA-nya.” “Itu nggak penting, Mas. Ini pekerjaanku, aku harus profesional.” “Maaf. Aku nggak bermaksud–” “Nggak usah merasa bersalah. Meski merasa nggak nyaman, tapi aku tidak membencimu. Kamu tidak perlu khawatir.” “Dia rekan kerja. Setiap hari membantu pekerjaanku. Setelah kamu pergi, suatu hari Ibu melihatku berboncengan dengannya–aku cuma memberikan tumpangan seperti waktu itu–lalu berniat mendekatkan

  • Enggan Punya Anak   33

    Tiga tahun kemudian.“Kali ini kamu kerjanya di mana, Far?” Emak sedang duduk di kursi rotan sambil memangku putraku yang berumur dua tahun. Hanif namanya. Berkulit putih dengan tubuh yang sedang, tak kurus juga tidak gembul. Bagaimanapun keadaannya, aku tetap mencintainya.Sementara aku duduk di lantai sambil melipat pakaian. “Itu, keponakannya Pak Salim. Rumahnya agak jauh. Mesti tempuh dua jam perjalanan.”Pak Salim adalah ketua RT di kampung ini. Beliau khusus memintaku untuk jadi MUA di pernikahan keponakannya. “Oalah, keponakan yang selalu dia banggakan itu, ya? Yang katanya sarjana dan kerja kantoran?”“Iya, Mak. Katanya nikah sama teman sekantornya.”“Perjaka apa duda?”Aku menertawai kekepoan Emak. “Katanya duda.”“Oalah. Ndak papa itu, yang penting orangnya baik, keluarganya juga baik.” “Semoga aja, Mak.”Hanif tampak tenang dalam pangkuan Emak sambil memainkan kalung emas neneknya. “Nikah itu bukan cuma nikahin orangnya, tapi juga nikahin keluarganya. Kita juga mesti co

  • Enggan Punya Anak   32

    “Bapak ndak liat suamimu. Sendiri kamu, Nak?”Betapa berat mulutku terbuka untuk memberitahu mereka. Sementara Farel berjalan ke arah kami sambil membawa semua tasku. Bibirnya tersenyum ramah lalu menyalami Bapak dan Emak. “Ini siapa, Nak? Kok ndak datang sama suamimu? Masih bertengkar kalian? Dia ndak datang menjemputmu?”Farel melemparkan tatapan canggung padaku. “Anu, Pak. Bisa nggak bantuin Farel nurunin motorku? Aku mau masukin barang-barang.”“Ah, iya.” Kening Bapak mengerut bingung, tapi tetap menuruti permintaanku. Sementara Emak mengekor masuk dan membantu mengangkat tas besar milikku. Ia lalu berdiri diam dengan pandangan menerawang. “Barangmu banyak begini, ditambah dengan bawa motor, pulang bersama orang lain. Sepertinya masalah dengan suamimu memang sangat besar.”Aku menarik napas sebisaku. Melihat raut Emak yang tiba-tiba menjadi murung menambah rasa sesak di dadaku. “Nanti akan Farah ceritakan, Mak. Bisa nggak Farah ajak teman Farah masuk dulu minum teh? Dia pasti

  • Enggan Punya Anak   31

    Akhirnya aku menerima tawaran Farel. Duduk di sampingnya dan diam selama perjalanan. Kami menaiki mobil pick up. Karena Farel bersikeras ingin mengangkut motorku juga. “Sepertinya Mbak berniat menetap.”Aku hanya menoleh sekilas sekalian memberikan senyum tipis sebagai jawaban. “Aku nggak mau ikut campur. Mbak ada masalah dengan suaminya, ya?”Kali ini aku tetap menatap ke luar jendela. “Tahu dari mana kosku?” Lalu mengalihkan pembicaraan. “Dari Mbak Keke. Kebetulan ketemu dan sekalian tanya-tanya soal Mbak.”Lalu suasana di antara kami kembali disisipi keheningan. Tak ada pembicaraan lagi selama satu jam perjalanan. Farel menghentikan mobil dan masuk ke dalam minimarket. Kembali membawa sekantong camilan dan air mineral. “Minum dulu, Mbak.” Ia membukakan tutup botol lalu mengulurkannya padaku. Sembari meneguk air mineral, aku tahu Farel sedang menatapku. Sorotnya dipenuhi rasa penasaran. “Aku boleh tanya tentang suami Mbak?” Aku menutup kembali botol yang tersisa setengah itu.

  • Enggan Punya Anak   30

    “Mas nggak pernah menyangka kamu akan membuatku memilih antara istri atau keluarga. Keduanya sama-sama penting, Farah.”“Memangnya aku bukan keluargamu? Aku nggak menyuruhmu memilih. Kita pindah dan menengok ibumu sesering mungkin. Aku nggak masalah memasak banyak setiap hari dan membawakan ke rumah mereka.”Ada kegelisahan yang sangat dalam pada kedua mata lelaki itu. Ia tidak menjawab. Matanya sibuk menerawang. “Buka amplop yang satunya.” Tangan Mas Herman gemetar membuka amplop yang kecil. Ia terpaku diam ketika mengeluarkan alat test pack bergaris dua itu. “Ini ….”“Aku hamil,” lirihku. Biar bagaimanapun Mas Herman perlu tahu. Mata lelaki itu membulat bersama bibirnya yang terbuka. “Kamu hamil?!”Aku melirik ke sekitar dan merasa malu ketika orang-orang mulai memperhatikan kami. “Ibu pasti akan senang kalau dengar ini. Ayo kita pulang, Dek." Mas Herman sangat antusias, bangkit dari duduknya dan bersiap menarik tanganku. “Maaf, Mas. Sepertinya kamu salah paham.”“Apa?” Mulut

  • Enggan Punya Anak   29

    ‘Aku mau ketemu, Mas.’Pesan itu kukirimkan pada Mas Herman. Lima detik kemudian, pria itu menelepon. Namun, aku menghiraukan dan mengirimkan alamat di mana kami harus bertemu. Rasanya sia-sia saja mengganti nomor ponsel dan memblokir pria itu. Esoknya aku berangkat ke tempat perjanjian kami di kafe dekat kantor pria itu. Aku menunggu agak lama. Tidak begitu keberatan karena bisa memiliki waktu yang cukup banyak untuk merenung dan mempersiapkan diri. Pintu kafe terbuka cukup keras. Aku melihat Mas Herman yang mengedarkan pandangan ke seluruh kafe lalu berlari ketika melihatku. Napasnya terengah-engah ketika sampai di mejaku. Aku melihat kegelisahan dari sorot matanya. Kemeja yang penuh keringat dan kancing yang dipasang asal-asalan. Rambutnya juga tidak serapi dulu. Lelaki ini cukup berantakan. “Kamu dari mana aja, Sayang? Mas kangen banget sama kamu.” Tangannya terulur seperti hendak memelukku. Namun, aku menepis. Membuang muka dan menunjuk kursi di hadapanku. “Duduk dulu, Mas.”

  • Enggan Punya Anak   6

    “Udah, Mas. Nggak usah diingetin lagi. Malah nambah masalah. Dijelaskan pun mereka nggak bakal ngerti dan mengakui kesalahan mereka.”“Ya mau bagaimana lagi, Dek. Diabaikan aja kalau Mbak Yuli nyerang kamu lagi. Nggak usah ditanggepin.”Masalahnya wanita itu punya bekingan kuat, yaitu Ibu. Dia akan

  • Enggan Punya Anak   5

    Aku tahu jika kuteruskan, itu hanya menjadi bumerang untukku. Mereka berdua akan semakin ganas menyalahkan dan mencari-cari celah untuk memojokkanku. Terlebih suara Mbak Yuli semakin kencang. Tetangga bisa mendengar. Aku memberikan waktu tiga detik untuk diriku menghela napas guna menenangkan diri

  • Enggan Punya Anak   4

    Aku mengambil keranjang cucian yang tergeletak di tengah ruangan, lalu mulai membereskan semua pakaian yang berserakan di atas ranjang. Jika keadaan kamarnya begini, tentu saja si anak akan mudah sakit. Semua mainan kusatukan di dalam kardus lalu meletakkannya di samping lemari yang pintu-pintunya

  • Enggan Punya Anak   3

    Aku melongo. Menahan rasa kecewa karena sayur itu belum sempat kumakan. Suasana meja makan yang berbentuk bundar dan berukuran kecil itu jadi semakin heboh. Mbak Yuli mengomel panjang dan memarahi anaknya bahkan sampai memukul tangan mungil anak itu. Fatur terdiam dengan bibir menekuk turun siap m

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status