Share

Forbidden Desire
Forbidden Desire
Author: Yuyun Batalia

Prolog

Author: Yuyun Batalia
last update publish date: 2026-05-04 17:26:11

Di sebuah ruang makan, terdapat enam orang di meja makan.

"Ayah, Ibu, Kakek, ini adalah Luvella, kekasihku." Lexion memperkenalkan Luvella pada orangtua dan juga kakeknya.

Seorang pria yang seumuran dengan Lexion tersenyum mengejek. "Calon ipar, kau benar-benar tidak bisa memilih pria."

"Diello, jaga sikapmu!" Henry – Kakek Lexion dan Diello menegur Diello.

Diello yang memiliki penampilan pemberontak hanya tersenyum tidak peduli.

"Aku dengar, dia adalah seorang anak yang dibesarkan oleh neneknya. Orangtuanya sudah meninggal. Lexion, kau sepertinya berpikir keluarga Alterion bisa dimasuki oleh siapa saja." Gael menatap putranya dengan tatapan tidak senang.

Wajah Luvella tampak kaku setelah mendengar ucapan dari ayah kekasihnya. Ia tahu bahwa ia memiliki perbedaan status yang sangat jauh dengan Lexion. Sebelum berangkat ke tempat ini ia sudah sangat gugup, takut jika keluarga Lexion akan menolaknya. Dan benar saja, belum sampai lima belas menit ia ada di sini, penolakan itu sangat terasa.

Lexion meraih tangan Luvella, mencoba untuk menenangkan Luvella.

"Ayah, Luvella adalah gadis yang berbakat. Dia akan segera mnejadi pengacara hebat dalam beberapa tahun ke depan." Lexion membela Luvella.

Gael mendengkus. "Wanita seperti ini tidak akan bisa membantumu dalam hal apapun kecuali di ranjang."

Kalimat yang diucapkan oleh Gael sama persis seperti yang dikatakan oleh ayahnya dulu ketika ia menjalin hubungan dengan ibu Diello.

Luvella merasa tidak nyaman. Ia berdiri dari tempat duduknya. "Saya permisi ke toilet sebentar." Wanita itu kemudian melangkah pergi meninggalkan ruang makan dengan hati yang sakit.

Lexion ingin mengejar Luvella, tapi ditahan oleh ibunya.

"Lexion, apa yang Ayahmu katakan benar. Wanita seperti itu tidak akan bisa membantumu mencapai apapun." Jena -ibu Lexion setuju dengan suaminya.

Gael melirik Jena dari ekor matanya dengan sinis. Seperti inilah cara Jena memandang orang dari kalangan rendah.

"Makan malam ini benar-benar membosankan." Diello bangkit dari tempat duduknya lalu kemudian meninggalkan ruang makan.

Pria itu tidak kembali ke kamarnya, melainkan pergi ke toilet yang didatangi oleh Luvella. Ia menunggu di luar.

Saat Luvella keluar dari toilet itu, ia terkejut melihat Diello ada di sana.

"Habis menangis, Calon Ipar?" Diello bersandar dengan santai di dinding.

Luvella tidak menangis tadi, sebenarnya dia memang hampir menangis, tapi ia menahan air matanya dan mencoba untuk menenangkan dirinya di toilet.

Ini adalah pertemuan pertama Luvella dengan Diello, tapi ia sudah mendengar dari Lexion mengenai saudara berbeda ibu kekasihnya itu. Diello adalah seorang pemberontak, ia suka menghabiskan waktunya dengan berpesta bersama wanita-wanita cantik. Diello adalah pemboros sejati. Benar-benar contok pewaris keluarga kaya yang arogan dan tidak berguna.

Ia juga tahu bahwa hubungan Lexion dan Diello tidak terlalu baik, itulah sebabnya Lexion telah memperingatinya untuk tidak terlalu banyak berkomunikasi dengan Diello.

Luvella memilih untuk melewati Diello, tapi Diello menghalangi Luvella, tidak membiarkan wanita itu melewatinya.

"Calon Ipar, mau bertaruh denganku?" Diello menatap Luvella nakal.

"Menyingkir dari jalanku."

"Calon Ipar, antara kau dan keuntungan, aku yakin Lexion akan lebih memilih keuntungan. Cepat atau lambat kau akan dicampakan olehnya."

Luvella menatap Diello seksama. "Lexion bukan orang seperti itu."

"Baiklah, kalau begitu ayo kita taruhan. Jika aku menang kau bisa meminta apapun dariku, tapi jika kau kalah kau harus menjadi milikku."

"Aku tidak akan bertaruh dengan pria bajingan sepertimu!" Luvella kemudian mencoba melewati Diello, tapi Diello meraih tangan Luvella.

"Lepaskan tanganku!"

Diello menarik tangan Luvella lalu kemudian mencium aroma tangan wanita itu. "Calon Ipar aku sangat menyukai aromamu."

Dilecehkan seperti ini, Luvella tentu saja marah. Wanita itu menarik tangannya dengan kuat lalu kemudian menampar wajah Diello dengan keras.

"Kau benar-benar menjijikan!" Setelah itu Luvella melangkah pergi.

Diello menyentuh wajahnya, pria itu tersenyum sinis. "Calon ipar, kau pasti akan dicampakan oleh Lexion. Bersiaplah!"

Luvella mendengar kata itu, tapi dia tidak akan terprovokasi oleh Diello. Ia tahu Diello pasti sedang mencoba untuk merusak hubungannya dengan Lexion.

Diello membenci Lexion, jadi pria itu pasti tidak ingin Lexion hidup dengan bahagia.

Luvella kembali ke ruang makan. Meski saat ini ia merasa benar-benar buruk, tapi ia tidak mundur dan tetap bertahan meski berhadapan dengan penolakan yang sangat kuat.

"Ayo mulai makan malamnya." Henry selaku yang paling tua di keluarga Alterion segera bicara setelah Luvella datang.

Gael bangkit dari tempat duduknya. "Kalian lanjutkan saja, sekertarisku menelpon."

Wajah Jena berubah menjadi suram. Wanita itu meremas sendok dan garpu yang ada di kedua tangannya. Sampai kapan Gael akan mempermalukannya dengan terus berhubungan dengan banyak wanita tepat di depan wajahnya.

Tanpa menunggu jawaban dari siapapun, Gael meninggalkan tempat itu. Sisi pemberontak yang dimiliki oleh Diello ia dapatkan dari ayahnya.

Suasana hati Jena dan Henry juga sudah tidak bagus karena sikap Gael.

"Aku merasa tidak enak badan, aku akan pergi untuk istirahat." Henry bangkit dari tempat duduknya lalu pergi.

"Ibu akan mengantar Kakek." Jena juga pergi.

Kini yang tersisa di ruangan itu hanya Lexion dan Luvella.

Lexion merasa sangat tidak enak dengan Luvella. Ia tidak menyangka bahwa keluarganya akan memperlakukan Luvella seperti ini.

"Luvella, tolong maafkan sikap Ayah, Ibu dan Kakekku."

Luvella tersenyum lembut pada Lexion. "Tidak apa-apa, Lexion. Aku akan meyakinkan orangtua dan kakekmu agar mereka bisa menerimaku."

Lexion menggenggam tangan Luvella dengan hangat. "Aku yakin kau pasti bisa melakukannya."

tbc

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Forbidden Desire   Extra Part – Hanya Akan Mencintai Satu Wanita Saja

    Diello membawa Luvella ke sebuah jamuan yang diadakan oleh salah satu petinggi negara itu.Setelah menemani Diello menyapa beberapa orang, Luvella pergi ke toilet.Seorang wanita memanfaatkan perginya Luvella untuk mendekati Diello. Wanita itu lebih muda dari Luvella, dia terlihat cantik dan segar.“Tuan Diello, mari berkenalan.” Wanita itu berdiri di depan Diello, ia tersenyum menawan. Ia mengulurkan tangannya. “Aku adalah Jacqueline Thompson, pewaris dari keluarga Thompson.”Diello tidak tertarik untuk berkenalan dengan wanita di depannya, jadi dia tidak menerima uluran tangan itu.“Tuan Diello, mari bertukar kontak.” Jacqueline bersuara lagi. Dia tidak akan menyerah hanya dengan satu kali penolakan dari Diello.“Saya tidak memberikan kontak saya pada orang asing.” Diello membalas dingin. Sikap Diello terhadap wanita yang mencoba mendekatinya masih sama, sangat dingin.Jacqueline tersenyum. “Tuan Diello, aku menyukaimu sejak pertama aku melihatmu. Suatu hari nanti kau pasti akan men

  • Forbidden Desire   42. Hasrat Terlarang (Tamat)

    Satu bulan berlalu, hari ini adalah hari pernikahan Diello dan Luvella.Sebuah aula hotel telah disulap seperti negeri di atas awan. Bunga mawar merah muda dan putih ditata dengan indah di sana.Tamu undangan telah mengisi tempat mereka masing-masing. Semua orang itu berdecak kagum dengan setiap detail dekorasi di aula itu.Luvella dengan balutan gaun pengantin melangkah di atas kelopak bunga mawar yang terhampar di lantai. Tatapan wanita itu terarah pada Diello yang menunggunya di depan sana. Rasa haru menyelimuti dirinya, belasan tahun lalu dia telah mengklaim Diello sebagai miliknya. Setelah beberapa hal yang membuat mereka terpisah, pada akhirnya Diello masih ditakdirkan untuknya.Ia benar-benar bahagia karena menikah dengan cinta pertama dan juga akan menjadi cinta terakhirnya.Diello mengulurkan tangannya ketika Luvella sudah ada di depannya. Pria ini awalnya telah menyerah pada Luvella, ia pikir suatu hari nanti ia akan melihat Luvella mengenakan gaun pengantin, tapi yang menja

  • Forbidden Desire   41. Kejutan

    Pekerjaan Diello di luar negeri masih belum selesai, setelah ia menemani Luvella sehari, ia kembali ke luar negeri untuk menyelesaikan pekerjaan yang sempat tertunda.Begitu juga dengan Luvella, wanita itu kembali bekerja setelah istirahat satu hari. Seperti yang ia katakan sebelumnya, ia benar-benar sibuk. Ia memiliki banyak janji temu dengan beberapa klien yang ingin berkonsultasi dengannya dan beberapa pekerjaan lainnya.Siang ini Luvella makan bersama dengan klien barunya. Makan siang itu selesai, Luvella dan kliennya bersalaman lalu setelah itu keduanya meninggalkan meja mereka.Langkah kaki Luvella berhenti saat seseorang yang ia kenal berdiri di depannya.“Luvella, apa yang kau lakukan di sini?” tanya Elian.“Aku baru saja selesai bertemu dengan klien.”“Ah, seperti itu.” Elian menganggukan kepalanya. “Kau sangat sibuk sepertinya.”“Begitulah.”“Omong-omong, Luvella. Lusa adalah ulang tahun Diello. Apakah kau tahu ini?”Luvella diam. Dia lupa tentang ulang tahun Diello. “Terima

  • Forbidden Desire   40. Membusuk Di Rumah Sakit Jiwa

    Lexion pergi ke mini bar villa itu, ia mengabil sebotol minuman lalu membukanya dan menuangkan cairan di dalam sana ke dalam gelas kosong lalu kemudian menenggaknya dalam satu kali tegukan.Kemarahan tampak di wajahnya, Luvella benar-benar memilih mati daripada disentuh olehnya.Namun, tidak apa-apa. Dia masih memiliki banyak waktu dan kesabaran untuk Luvella. Tidak akan ada yang bisa menemukan Luvella.Lexion menuang minumannya lagi dan lagi. Sementara itu di kamar, Luvella sedang berdiri di balkon. Saat ini sedang malam hari, jadi tidak ada banyak hal yang bisa ia lihat di kegelapan.Wanita itu mulai merasa tidak tenang sekarang, bagaimana dia bisa menghubungi Diello? Suaminya itu pasti sangat mencemaskannya sekarang.“Lexion, aku sangat membencimu!” Luvella menggeram marah.Lexion harusnya berhenti mengganggunya bukan malah semakin menjadi-jadi. Atas dasar apa Lexion berpikir bahwa dia masih bisa bersama dengan pembunuh orangtuanya. Cara berpikir Lexion benar-benar tidak sama denga

  • Forbidden Desire   39. Diculik

    Waktu berlalu, saat ini Diello sedang berada di sebuah ruangan persidangan. Pria itu menatap kagum istrinya yang saat ini sedang bicara sebagai pengacara.Ini bukan pertama kalinya Diello melihat persidangan Luvella, dia sangat menyukai istrinya dengan seragam pengacara. Wanitanya terlihat begitu luar biasa dan memukau.Persidangan itu berjalan dengan lancar, Luvella dan kliennya telah menyiapkan bukti-bukti dan saksi yang bisa membuat mereka memenangkan persidangan.Luvella melangkah keluar dari ruang persidangan bersama dengan Joceline dan juga Diello. Namun, langkah mereka terhenti saat Finn -suami Joceline berada di depan mereka.“Joceline, haruskah kau begitu keras kepala?”“Finn, ini namanya bukan keras kepala, tapi prinsip hidup! Jatuh bangunmu akan aku temani, tapi tidak dengan pengkhianatanmu. Setelah ini kau bisa bersama dengan wanita manapun yang kau sukai. Yang pasti, bukan wanita membosankan sepertiku.”“Joceline, aku tahu aku salah. Aku akan memperbaiki semuanya. Beri ak

  • Forbidden Desire   38. Balasan

    Luvella datang ke pemakaman Jena bersama dengan Diello. Saat ini hanya ada beberapa orang saja di sana. Berita kematian Jena telah menyebar, tapi karena kejahatan yang dilakukan oleh Jena sangat mengerikan, hanya beberapa orang saja yang datang melayat, sementara banyak kenalan Jena yang lainnya memilih untuk tidak datang karena tidak ingin terlibat dengan Jena lagi dalam hal apapun.Selena juga ada di sana, dia masih menunjukan sedikit penghormatan atas hubungannya dengan Jena di masa lalu. Selain itu saat ini dia masih tunangan Lexion, dia akan menunjukan bahwa dalam keadaan ini dia masih menemani Lexion.Tatapan Luvella terarah ke gundukan tanah di depannya. Dia tidak mengharapkan Jena mati secepat ini, Jena seharusnya merasakan penderitaan lebih banyak lagi. Namun, begini juga cukup baik. Setidaknya dia tidak perlu lagi menghirup udara yang sama dengan wanita yang sudah membunuh orangtuanya.“Suamiku, ayo kita pergi.” Luvella hanya ingin melihat sebentar saja, bukan untuk berbelas

  • Forbidden Desire   12. Mencintai Tanpa Syarat

    Saat Luvella sudah terlelap, Diello masih belum bisa memejamkan matanya. Pria itu menatap ke wajah Luvella dengan berbagai macam pikiran di kepalanya.Meski tidak sama dengan kisah cinta segitiga orangtuanya, tapi kisahnya dan Luvella masih tetap cinta segitiga. Namun, ia tidak seperti Jena yang me

  • Forbidden Desire   11. Atas Dasar Apa Kalian Berhak Bahagia

    Luvella keluar dari toilet, wanita itu telah menguatkan dirinya sendiri. Seburuk apapun situasinya saat ini, ia pasti bisa melaluinya.Saat Luvella hendak kembali ke aula, langkahnya dihentikan oleh Lexion.“Kau sudah melihat semuanya, bukan?” Lexion menatap Luvella dengan seksama. “Jika kau tidak

  • Forbidden Desire   10. Aku Jauh Lebih Baik

    Pesta ulang tahun Henry di adakan di sebuah aula hotel bintang lima milik keluarga Alterion. Saat ini Henry, Jena, Lexion dan Selena sudah ada di sana. Sementara Diello dan Gael masih belum datang.Para tamu undangan berdatangan, masing-masing dari mereka segera menyapa Henry lalu kemudian mengucap

  • Forbidden Desire   7. Jangan Serakah

    "Aku tidak bisa menerima kartu ini, tolong kembalikan pada Ayahmu." Luvella menyodorkan kartu yang telah diberikan oleh Gael padanya tadi."Terima saja. Apa yang sudah diberikan untukmu berarti menjadi milikmu." Diello tidak menerima kartu dari Luvella.Ponsel Diello berdering. Ia melihat ke siapa

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status