MasukLANGIT sore itu terlihat begitu cerah, tapi tidak dengan hati Farah yang terasa berat. Setelah membaca memo penuh kejutan, hatinya tak lagi tenang. Segala tindak-tanduknya terasa salah, fokusnya hilang entah ke mana. Kenapa perusahaannya harus mengadakan program ini, dan kenapa namanya juga harus terlibat? Apalagi lokasinya di Pulau Jeju. Sekarang dia harus berada di sana selama tiga hari, meskipun semua biaya ditanggung perusahaan. Tapi dengan kehadiran Hongjoong di sana...
Farah mengacak rambutnya yang sebelumnya rapi, lalu melirik ke arah jam tangan di pergelangan kanannya. Masih ada satu jam lagi sebelum waktu kerja selesai. Dengan cepat, dia menutup laptop dan mendorong kursinya. “Cepat banget beres-beres?” tanya Shina. “Aku mau ketemu bos sebentar.” Tanpa menunggu tanggapan dari Shina, Farah langsung melangkah meninggalkan meja kerjanya. Setelah berdiri di depan pintu kantor Tuan Doojoon, kepala eksekutif pemasaran Radiance Marketing, Farah menarik napas dalam sebelum mengetuk dan membuka pintu tanpa menunggu perintah dari bosnya. Doojoon yang sedang sibuk meneliti laporan mendongakkan kepala untuk melihat Farah. “Ya, Farah, ada apa?” tanya Doojoon sambil membetulkan posisi duduknya. Farah menatap Doojoon, menarik napas panjang, lalu berkata, “Aku mau tanya, kenapa nama saya tercantum dalam program team-building ini?” Doojoon tersenyum kecil. “Karena program ini dirancang untuk memperkuat kerjasama tim kita dengan departemen lain.” “Kenapa? Selama aku bekerja di sini, memang pernah ada masalah yang aku nggak tahu?” Farah membalas dengan nada tidak puas, matanya memancarkan rasa kesal. Doojoon melepas kacamatanya dan meletakkannya di atas meja sebelum bersandar di kursi. “Bukan begitu, Farah. Maksudku, program ini bagus untuk tim kita. Dengan kerjasama yang lebih baik, performa karyawan dan perusahaan akan berkembang bersama. Itu tujuannya.” Farah menggigit bibir. “Tapi kenapa hanya nama-nama tertentu yang dipilih? Bukankah untuk memperkuat semangat tim, semua karyawan harus dilibatkan?” Doojoon terdiam sejenak. Tujuan program ini sebenarnya adalah untuk memperbaiki hubungan antara Farah dan Hongjoong. Semua orang di kantor tahu tentang hubungan buruk mereka sejak Hongjoong bergabung di perusahaan. Direktur besar Radiance Marketing, yang juga ayah Hongjoong, ingin menghentikan konflik itu karena performa Farah sebagai eksekutif pemasaran selalu membawa keuntungan besar bagi perusahaan. Akan sangat merugikan jika mereka kehilangan karyawan berbakat seperti Farah. “Karena kamu salah satu karyawan terbaik yang punya potensi besar untuk berkembang bersama perusahaan,” jawab Doojoon sambil mengangkat alis, puas dengan alasan yang ia berikan. Farah mendengus kasar, menunjukkan ekspresi tidak puas, tapi berusaha menahan diri. “Jadi aku nggak bisa mundur dari program ini?” tanya Farah. Doojoon kembali tersenyum. “Kalau kamu mundur, berarti kamu menyerah kalah.” Telinga Farah memanas mendengar itu. Menyerah kalah? Kepada siapa? Kim Hongjoong? “Nggak mungkin!” Farah berbalik dan segera keluar dari kantor Doojoon dengan langkah cepat, tanpa mempedulikan reaksi bosnya. Doojoon hanya bisa menggeleng dengan senyum kecil. Sikap Farah memang sulit ditebak, tapi dia tahu gadis itu sangat berbakat. Tidak sia-sia dia memberi perhatian lebih pada Farah. --- Sementara itu, di ruangan direktur besar, suasananya tak jauh berbeda. Kim Hongjoong sedang duduk di depan kakaknya, Tuan Kim Taejoong, dengan wajah kesal. Memo tentang program team-building itu digenggam erat dalam tangannya. “Aku nggak ngerti. Kenapa namaku dimasukkan dalam program ini? Dan kenapa ada nama musuhku juga?” tanya Hongjoong dengan nada tegas. Taejoong mengangkat alis. “Musuh? Siapa?” “Ya, musuhku!” Hongjoong mendengus, melipat tangan di dada, dan mengalihkan pandangan. “Hongjoong, kapan sifat kekanak-kanakanmu ini akan berubah? Kalau kau mau menggantikan posisiku sebagai direktur besar, kau harus ikut program team-building ini.” Hongjoong memasang wajah masam lagi. “Aku bisa ikut. Tapi kenapa perempuan itu juga ada? Kau mau aku berdamai dengannya atau malah menciptakan Perang Dunia Ketiga?” Hongjoong menaikkan alisnya. Taejoong tersenyum kecil. “Aku ingin kau berdamai dengannya. Dia adalah karyawan terbaik kita. Dia juga penghubung penting antara dua negara. Kalau hubungan kalian buruk, itu bisa memengaruhi reputasi perusahaan.” “Wah, sayang banget kau sama perempuan itu,” Hongjoong mencibir. “Tentu saja. Dia aset emas perusahaan.” Taejoong tertawa kecil. “Kalau kau mengenalnya lebih dekat, mungkin kau juga bisa jatuh hati padanya.” “Eh, jangan-jangan kau yang suka padanya?” Hongjoong menatap Taejoong dengan raut tak percaya. “Kalau itu takdir, kenapa tidak?” Taejoong tersenyum. Hongjoong hanya mendecak kesal. “Jadi aku harus ikut program ini?” Taejoong mengangguk. “Cobalah berdamai dengannya. Ini ujian pertama sebelum kau benar-benar menjadi direktur besar.” Hongjoong menghela napas. Dia tahu tak ada gunanya membantah. Walaupun hati kecilnya lebih suka dunia seni, tanggung jawab keluarga memaksanya menerima posisi itu.Tiga tahun kemudian, setelah Hakim lulus dari sekolah menengah atas pada usia 20 tahun, dia berhasil masuk ke universitas dan mengambil jurusan bisnis. Semua itu juga harus mengikuti kehendak Puan Hongju. Walaupun pada awalnya dia memberontak, lama-kelamaan dia sudah malas mengikuti keinginan hatinya sendiri.Dia berharap dapat bertemu lagi dengan gadis yang pernah ditemuinya di Kota Singa tiga tahun yang lalu.Namun, siapalah dirinya yang hanya manusia biasa. Belum tentu mereka dapat bertemu kembali kerana gadis itu berada jauh di Asia Tenggara.Namun, pada hari dia mendaftarkan diri di universitas, dia melihat seorang gadis yang pernah menghalanginya melakukan tindakan bodoh tiga tahun lalu. Dia mencoba meyakinkan dirinya bahwa gadis yang dilihatnya itu bukanlah gadis tersebut.Tetapi, ketika nama gadis itu dipanggil, Hakim sedikit tertegun.Raut wajah gadis itu tidak banyak berubah walaupun kini dia sudah tidak lagi mengenakan hijab seperti ketika berada di Ko
Angin di sebuah kota yang bernama Singapura akhirnya menerpa wajah Farah yang sedang mengenakan hijab bawal dan pakaian olahraga. Senyum lebar terukir di bibir Farah ketika matanya menangkap keindahan yang belum pernah terbayangkan sebelumnya.Saat ini, dia tidak memiliki ponsel pintar seperti teman-temannya yang lain. Jadi, dia hanya mampu mengabadikan setiap momen melalui pandangan matanya dan menyimpan kenangan indah itu di dalam ingatannya.“Farah! Apa lagi yang kamu tunggu? Ayo kita ke sana...” seru teman sekelasnya, Juliana, yang memang berasal dari keluarga berada dan sudah terbiasa datang ke tempat ini bersama keluarganya. Selain menjadi ketua kelas, dia juga ditunjuk oleh guru pendamping sebagai ketua rombongan untuk mengawasi teman-temannya. Dengan kata lain, dia menjadi asisten guru pendamping selama mereka berada di sini.Farah segera menghampiri Juliana lalu berjalan masuk ke dalam rombongan.Tempat pertama yang mereka tuju adalah sebuah lokasi bernama M
Larian Farah dan Hakim terhenti di sebuah taman rekreasi yang tidak jauh dari hotel. Demi melarikan diri dari wartawan yang mengejar, mereka menyelinap keluar melalui pintu restoran hotel dan akhirnya berlari hingga tiba di taman rekreasi ini.Walaupun kakinya terasa sakit, Farah tetap memaksakan diri agar mereka dapat melarikan diri dari rentetan pertanyaan para wartawan. Mereka bahkan tidak sempat mengambil mobil yang diparkir.Kata Hakim, biarkan saja mobil itu berada di sana untuk sementara waktu. Biarkan mereka menikmati hari ini setelah masing-masing berhasil mengungkapkan perasaan cinta yang selama ini terpendam di dalam hati.Mereka terengah-engah kelelahan di taman itu sebelum akhirnya tertawa geli melihat tingkah masing-masing.“Tidak menyangka... kamu menangis waktu aku tidak ada di sana tadi.” Farah mencoba berbicara secara spontan karena tidak ingin rasa canggung kembali menghantui mereka.“Karena aku takut kehilangan kamu lagi...” Ungkapan Hakim membuat Farah terdiam sej
Suasana di sebuah hotel mewah bertaraf lima bintang itu begitu memukau Farah yang sebelumnya tidak pernah sama sekali menginjakkan kaki ke tempat seperti ini. Sudah banyak tamu yang hadir ketika dia melangkah masuk ke kawasan lobi. Terlihat juga rakan-rakan di tempat kerja turut berada di sana sambil menunggu pintu aula hotel dibuka untuk para tamu masuk. Pandangan Farah bertemu dengan Shina. Gadis itu cuba memanggil Farah agar mendekati rakan-rakan sekerja yang lain. Namun, sebelum wanita itu sempat berbicara, lengan Farah dipaut oleh Hakim lalu menarik gadis itu menuju ke sebuah laluan yang berada di tepi lobi. Farah hanya memandang Shina dengan perasaan serba salah. Bukan apa, dia belum memberitahu gadis itu lagi bahawa dia sudah pun berkahwin dengan Hakim. Shina hanya memandang dengan dahi berkerut. Aneh... bukankah di kad jemputan yang mereka terima, nama pengantin perempuan yang tertera adalah ‘Jung Eunji...’ Mengapa Farah berada berasingan daripada rakan-rakan sekerja yan
Seminggu pun berlalu sejak hari pernikahan itu. Hari-hari Farah tetap sama, tiada apa yang berubah dengan rutin hariannya. Tetap jua pergi dan pulang kerja seperti biasa. Hanya status diri aja yang mungkin sudah berubah, namun perkara itu nggak mengganggu apa-apa. Namun kali ini, ada sesuatu yang berbeda. Pandangan mata Hakim yang dulu ia terasa asing, kini selalu mengiringi setiap langkahnya seolah-olah setiap gerak Farah menjadi pusat semestanya. Ternyata sudah lebih dari setahun Hakim memeluk Islam. Diam-diam, ia sering hadir ke masjid di Itaewon, mendalami ilmu agama bersama teman-teman Muslimnya. Tak heran bila ia begitu teguh ingin menjadikan Farah sebagai istri, bukan gadis lain. Hanya segelintir orang yang mengetahui rahasia ini, selain para sahabatnya yang belajar bersama, nyaris tak ada yang tahu siapa Hakim sebenarnya. Selama seminggu mereka berbagi atap, Farah masih merasa canggung. Keluar masuk kamar mandi pun ia sering diliputi
Ketika para tamu undangan perlahan meninggalkan masjid, suasana kembali hening. Barulah Farah dan Hongjoong atau kini dengan nama barunya, Hakim bin Abdullahmeminta izin untuk pulang. Jemaah yang masih tinggal tak henti mengucapkan selamat, doa-doa pun mengiringi langkah pasangan pengantin baru itu. Farah tidak menyangka, ternyata banyak jemaah yang mengenal Hongjoong, menyapanya dengan panggilan Encik Hakim, seolah nama barunya sudah begitu akrab di telinga mereka. Perjalanan pulang terasa dingin dan sunyi. Meski pendingin udara mobil dimatikan, Farah tetap menggigil. Tangan dan kakinya bergetar seolah diselimuti kabut dingin. “Kenapa kamu gemetar begitu, Anisa?” Hakim melirik dari sisi kemudi. Tatapan mata lelaki itu sungguh tajam, seperti mata pemangsa sedang mengancam mangsanya. Tak pernah luput menangkap setiap gerak tubuhnya. “Tidak… tidak apa-apa,” Farah meletakkan tangan di atas lutut, berusaha meredam kegelisahan yang mengalir hingga ke ujung kaki. “Kamu takut saya
TERGESA-GESA, Farah melangkah masuk ke pintu kantor sambil melirik ke arah jam tangan. Wajahnya tampak berkerut karena dia sudah terlambat masuk kerja. Entah bagaimana, hari ini dia malah bangun kesiangan. Biasanya, dia adalah orang pertama yang tiba di kantor.Jam sudah menunjukkan pukul delapan t
“Aku terima nikah Farah Anisa binti Ahmad...”Hanya dengan sekali lafaz ijab kabul, pernikahan Hongjoong dan Farah pun sah berlangsung meskipun dalam bahasa Korea. Kini, keduanya sudah resmi menjadi sepasang suami istri.Entah mengapa, air mata Farah jatuh membasahi pipinya, membuat sedikit luntur
KEESOKAN HARINYA, Hongjoong dan Dino keluar bersama-sama dari kamar. Ketika pintu kamar terbuka, Shina dan Farah juga kebetulan sedang membuka pintu kamar mereka."Selamat pagi..." Dino menyapa ramah lebih dahulu pada kedua gadis itu.Farah tetap diam, enggan berbicara panjang. Entahlah, tadi malam
MALAM itu, setelah selesai aktivitas di pantai, mereka diizinkan kembali ke kamar masing-masing untuk membersihkan diri sebelum turun lagi ke resort untuk mengetahui aktivitas malam selanjutnya.Lelah tak bisa diungkapkan dengan kata-kata, Hongjoong dan Dino berjalan beriringan menuju kamar mereka







