MasukSeminggu pun berlalu sejak hari pernikahan itu. Hari-hari Farah tetap sama, tiada apa yang berubah dengan rutin hariannya. Tetap jua pergi dan pulang kerja seperti biasa. Hanya status diri aja yang mungkin sudah berubah, namun perkara itu nggak mengganggu apa-apa.
Namun kali ini, ada sesuatu yang berbeda. Pandangan mata Hakim yang dulu ia terasa asing, kini selalu mengiringi setiap langkahnya seolah-olah setiap gerak Farah menjadi pusat semestanya. Ternyata sudah lebih darTiga tahun kemudian, setelah Hakim lulus dari sekolah menengah atas pada usia 20 tahun, dia berhasil masuk ke universitas dan mengambil jurusan bisnis. Semua itu juga harus mengikuti kehendak Puan Hongju. Walaupun pada awalnya dia memberontak, lama-kelamaan dia sudah malas mengikuti keinginan hatinya sendiri.Dia berharap dapat bertemu lagi dengan gadis yang pernah ditemuinya di Kota Singa tiga tahun yang lalu.Namun, siapalah dirinya yang hanya manusia biasa. Belum tentu mereka dapat bertemu kembali kerana gadis itu berada jauh di Asia Tenggara.Namun, pada hari dia mendaftarkan diri di universitas, dia melihat seorang gadis yang pernah menghalanginya melakukan tindakan bodoh tiga tahun lalu. Dia mencoba meyakinkan dirinya bahwa gadis yang dilihatnya itu bukanlah gadis tersebut.Tetapi, ketika nama gadis itu dipanggil, Hakim sedikit tertegun.Raut wajah gadis itu tidak banyak berubah walaupun kini dia sudah tidak lagi mengenakan hijab seperti ketika berada di Ko
Angin di sebuah kota yang bernama Singapura akhirnya menerpa wajah Farah yang sedang mengenakan hijab bawal dan pakaian olahraga. Senyum lebar terukir di bibir Farah ketika matanya menangkap keindahan yang belum pernah terbayangkan sebelumnya.Saat ini, dia tidak memiliki ponsel pintar seperti teman-temannya yang lain. Jadi, dia hanya mampu mengabadikan setiap momen melalui pandangan matanya dan menyimpan kenangan indah itu di dalam ingatannya.“Farah! Apa lagi yang kamu tunggu? Ayo kita ke sana...” seru teman sekelasnya, Juliana, yang memang berasal dari keluarga berada dan sudah terbiasa datang ke tempat ini bersama keluarganya. Selain menjadi ketua kelas, dia juga ditunjuk oleh guru pendamping sebagai ketua rombongan untuk mengawasi teman-temannya. Dengan kata lain, dia menjadi asisten guru pendamping selama mereka berada di sini.Farah segera menghampiri Juliana lalu berjalan masuk ke dalam rombongan.Tempat pertama yang mereka tuju adalah sebuah lokasi bernama M
Larian Farah dan Hakim terhenti di sebuah taman rekreasi yang tidak jauh dari hotel. Demi melarikan diri dari wartawan yang mengejar, mereka menyelinap keluar melalui pintu restoran hotel dan akhirnya berlari hingga tiba di taman rekreasi ini.Walaupun kakinya terasa sakit, Farah tetap memaksakan diri agar mereka dapat melarikan diri dari rentetan pertanyaan para wartawan. Mereka bahkan tidak sempat mengambil mobil yang diparkir.Kata Hakim, biarkan saja mobil itu berada di sana untuk sementara waktu. Biarkan mereka menikmati hari ini setelah masing-masing berhasil mengungkapkan perasaan cinta yang selama ini terpendam di dalam hati.Mereka terengah-engah kelelahan di taman itu sebelum akhirnya tertawa geli melihat tingkah masing-masing.“Tidak menyangka... kamu menangis waktu aku tidak ada di sana tadi.” Farah mencoba berbicara secara spontan karena tidak ingin rasa canggung kembali menghantui mereka.“Karena aku takut kehilangan kamu lagi...” Ungkapan Hakim membuat Farah terdiam sej
Suasana di sebuah hotel mewah bertaraf lima bintang itu begitu memukau Farah yang sebelumnya tidak pernah sama sekali menginjakkan kaki ke tempat seperti ini. Sudah banyak tamu yang hadir ketika dia melangkah masuk ke kawasan lobi. Terlihat juga rakan-rakan di tempat kerja turut berada di sana sambil menunggu pintu aula hotel dibuka untuk para tamu masuk. Pandangan Farah bertemu dengan Shina. Gadis itu cuba memanggil Farah agar mendekati rakan-rakan sekerja yang lain. Namun, sebelum wanita itu sempat berbicara, lengan Farah dipaut oleh Hakim lalu menarik gadis itu menuju ke sebuah laluan yang berada di tepi lobi. Farah hanya memandang Shina dengan perasaan serba salah. Bukan apa, dia belum memberitahu gadis itu lagi bahawa dia sudah pun berkahwin dengan Hakim. Shina hanya memandang dengan dahi berkerut. Aneh... bukankah di kad jemputan yang mereka terima, nama pengantin perempuan yang tertera adalah ‘Jung Eunji...’ Mengapa Farah berada berasingan daripada rakan-rakan sekerja yan
Seminggu pun berlalu sejak hari pernikahan itu. Hari-hari Farah tetap sama, tiada apa yang berubah dengan rutin hariannya. Tetap jua pergi dan pulang kerja seperti biasa. Hanya status diri aja yang mungkin sudah berubah, namun perkara itu nggak mengganggu apa-apa. Namun kali ini, ada sesuatu yang berbeda. Pandangan mata Hakim yang dulu ia terasa asing, kini selalu mengiringi setiap langkahnya seolah-olah setiap gerak Farah menjadi pusat semestanya. Ternyata sudah lebih dari setahun Hakim memeluk Islam. Diam-diam, ia sering hadir ke masjid di Itaewon, mendalami ilmu agama bersama teman-teman Muslimnya. Tak heran bila ia begitu teguh ingin menjadikan Farah sebagai istri, bukan gadis lain. Hanya segelintir orang yang mengetahui rahasia ini, selain para sahabatnya yang belajar bersama, nyaris tak ada yang tahu siapa Hakim sebenarnya. Selama seminggu mereka berbagi atap, Farah masih merasa canggung. Keluar masuk kamar mandi pun ia sering diliputi
Ketika para tamu undangan perlahan meninggalkan masjid, suasana kembali hening. Barulah Farah dan Hongjoong atau kini dengan nama barunya, Hakim bin Abdullahmeminta izin untuk pulang. Jemaah yang masih tinggal tak henti mengucapkan selamat, doa-doa pun mengiringi langkah pasangan pengantin baru itu. Farah tidak menyangka, ternyata banyak jemaah yang mengenal Hongjoong, menyapanya dengan panggilan Encik Hakim, seolah nama barunya sudah begitu akrab di telinga mereka. Perjalanan pulang terasa dingin dan sunyi. Meski pendingin udara mobil dimatikan, Farah tetap menggigil. Tangan dan kakinya bergetar seolah diselimuti kabut dingin. “Kenapa kamu gemetar begitu, Anisa?” Hakim melirik dari sisi kemudi. Tatapan mata lelaki itu sungguh tajam, seperti mata pemangsa sedang mengancam mangsanya. Tak pernah luput menangkap setiap gerak tubuhnya. “Tidak… tidak apa-apa,” Farah meletakkan tangan di atas lutut, berusaha meredam kegelisahan yang mengalir hingga ke ujung kaki. “Kamu takut saya
PULAU Jeju terkenal dengan cuaca dingin meskipun matahari bersinar terik di atas kepala. Hal ini karena pulau yang sering dikunjungi oleh wisatawan lokal maupun internasional tersebut dikelilingi oleh pegunungan tinggi dan angin laut yang sejuk. Begitu Farah turun dari dermaga, tubuhnya langsung m
HARI yang tidak diinginkan oleh Farah dan Hongjoong akhirnya tiba juga. Semua karyawan yang mengikuti program tersebut sudah berkumpul di depan gedung kantor mereka, menunggu bus yang akan membawa mereka ke dermaga feri. Di antara semua karyawan itu, hanya Hongjoong yang belum terlihat. Farah men
LANGIT sore itu terlihat begitu cerah, tapi tidak dengan hati Farah yang terasa berat. Setelah membaca memo penuh kejutan, hatinya tak lagi tenang. Segala tindak-tanduknya terasa salah, fokusnya hilang entah ke mana. Kenapa perusahaannya harus mengadakan program ini, dan kenapa namanya juga harus t
TERGESA-GESA, Farah melangkah masuk ke pintu kantor sambil melirik ke arah jam tangan. Wajahnya tampak berkerut karena dia sudah terlambat masuk kerja. Entah bagaimana, hari ini dia malah bangun kesiangan. Biasanya, dia adalah orang pertama yang tiba di kantor.Jam sudah menunjukkan pukul delapan t







