Share

Bab 3

Penulis: Lucyana
last update Tanggal publikasi: 2025-01-15 22:08:58

HARI yang tidak diinginkan oleh Farah dan Hongjoong akhirnya tiba juga. Semua karyawan yang mengikuti program tersebut sudah berkumpul di depan gedung kantor mereka, menunggu bus yang akan membawa mereka ke dermaga feri. Di antara semua karyawan itu, hanya Hongjoong yang belum terlihat.

Farah mengedarkan pandangan ke sekeliling, mencari sosok pria yang sering membuatnya kesal. Namun, bayang dan keberadaan Hongjoong tidak terlihat di mana-mana. Sebuah senyum puas muncul di wajah Farah. Dia berasumsi Hongjoong tidak akan ikut program ini, dan hatinya langsung melonjak kegirangan.

Begitu bus tiba, dengan penuh semangat Farah memasukkan tasnya ke bagasi bus. Bahkan, dia membantu Shina menyimpan tasnya.

"Semangat banget, ya? Ada apa nih, kok happy banget?" tanya Shina ketika Farah selesai memasukkan tas mereka.

"Aku senang banget karena nggak perlu lihat muka orang yang paling aku nggak suka selama program ini berlangsung," jawab Farah, tersenyum lebar.

Shina tersenyum penuh arti, sudah sangat paham maksud ucapan Farah. Namun, senyum Shina semakin melebar ketika sosok yang dimaksud Farah tiba-tiba muncul di belakang gadis itu.

Hongjoong berdiri di dekat pintu bus, bersandar santai sambil melipat tangan.

"Wah, seru banget kau, ya? Kau kira aku bakal kalah dari kau?" ucap Hongjoong dengan nada mengejek.

Mata Farah langsung membelalak begitu mendengar suara yang dia pikir tidak akan muncul hari itu.

"Huh!" Farah memutar tubuh dengan ekspresi sebal. Dia mendengus kesal, terutama saat Hongjoong tersenyum sinis sebelum berjalan melewatinya untuk meletakkan ranselnya di bagasi.

Shina cepat-cepat naik ke dalam bus, meninggalkan dua orang itu yang sudah seperti kucing dan anjing setiap kali bertemu.

"Aku pikir kau tadi sudah menangis nggak keruan sebelum sampai ke sini," ejek Farah, ingin membalas dengan nada sinis.

Hongjoong hanya melirik sekilas. "Aku bukan seperti kau, pendendam."

Mata Farah semakin membesar mendengar sindiran itu. "Eh, kau!" Baru saja dia mengacungkan jari telunjuk, tapi Hongjoong menepisnya pelan dan langsung naik ke bus tanpa menggubrisnya lebih lanjut.

Farah mendengus kesal, lalu mengikuti Hongjoong ke dalam bus. Dengan sengaja, dia menyenggol bahu pria itu saat menaiki tangga bus. Sesampainya di dalam, Farah segera memilih tempat duduk kosong dan mengalihkan pandangannya ke jendela, mencoba mengabaikan orang di sekitarnya. Tapi diam-diam, dia tahu ucapan Hongjoong tadi pasti menarik perhatian rekan-rekannya, membuatnya semakin kesal.

Namun, baru saja Farah merasa tenang, tiba-tiba Hongjoong duduk di kursi di sebelahnya. "Eh! Kenapa kau duduk di sini?" Farah hampir berteriak. Dia benar-benar tidak menyangka pria itu memilih duduk di sebelahnya.

"Ini satu-satunya tempat yang kosong," jawab Hongjoong santai tanpa melihat ke arah Farah.

"Tidak, masih banyak tempat lain! Pergi sana!" Farah semakin gusar, tidak terima harus duduk berdampingan dengan Hongjoong sepanjang perjalanan.

"Kalau tidak percaya, lihat sendiri!" balas Hongjoong, nadanya sedikit naik karena mulai terganggu dengan sikap Farah.

Farah pun berdiri, melihat sekeliling. Tapi dia terpaksa mengakui bahwa memang tidak ada tempat kosong lain. Dia menoleh ke arah Shina dengan tatapan meminta tolong.

"Maaf, Farah. Aku dan Gain ada pembahasan penting," jawab Shina dengan ekspresi menyesal.

Farah akhirnya kembali duduk, membalikkan badan menghadap jendela, mencoba menghindari kontak lebih jauh dengan Hongjoong. Dia benar-benar tidak habis pikir kenapa nasibnya begitu sial hari itu. Hongjoong di sisinya benar-benar membuat suasana hati Farah semakin kacau.

"Kau nggak usah khawatir. Aku juga nggak ada selera sama perempuan kayak kamu." Hongjoong membuka topinya, lalu merapikan rambut beberapa kali sebelum memakainya lagi dengan santai.

"Kau pikir aku apa?" Farah mengomel sendiri, matanya melirik ke samping dengan hati penuh rasa kesal.

"Nggak usah ngomel pakai bahasa ibumu deh. Kalau bukan karena tempat duduknya udah penuh, aku juga ogah duduk di sebelah kamu," balas Hongjoong dengan nada sinis seperti biasanya.

Farah langsung menutup telinganya dengan kedua tangan, malas mendengar ocehan menyebalkan dari mulut pria itu.

Melihat reaksi Farah, Hongjoong malah tersenyum mengejek. Tingkah gadis itu benar-benar membuatnya geli. Dia tahu betul Farah sangat membencinya. Tapi jujur saja, dia juga nggak punya niat untuk berbaik-baik dengan gadis itu. Kalau bukan karena Taejoong yang memaksanya bangun pagi dan ikut rombongan naik bus, Hongjoong pasti lebih memilih naik mobil sendiri ke bandara.

Namun, Taejoong, kakaknya, punya alasan lain. Dia nggak mau ada kesan diskriminasi meskipun Hongjoong adalah calon manajer besar di perusahaan mereka. Arahan tegas dari Taejoong itulah yang membuat Hongjoong terpaksa bersabar menghadapi drama yang terus terjadi sepanjang perjalanan.

Dalam hatinya, Hongjoong juga bertanya-tanya, kenapa setiap kali dia bersama Farah, perasaan kesal dan marah selalu muncul tanpa alasan yang jelas.

SENGAJA pihak perusahaan memesan tiket feri untuk semua peserta yang mengikuti program itu. Alasan Taejoong, mereka ingin menanamkan semangat kesabaran yang tinggi pada setiap peserta sebelum mencapai tujuan. Namun, sejak awal pertemuan Farah dan Hongjoong saja sudah menimbulkan tekanan besar bagi rekan-rekan kerja mereka.

Kini, kedua insan itu tengah berebut turun dari tangga bus. Supir yang melihat tingkah mereka hampir terkejut. Sementara itu, Shina yang berada di belakang Hongjoong hanya tersenyum kepada si supir.

Sesampainya di tempat bagasi, Farah sengaja menyenggol bahu pria itu dan segera meraih tasnya lebih dulu.

Hongjoong menatap dengan mata menyipit. Kecil besar, kecil besar saja matanya memandangi Farah yang masih enggan mengalah dalam perlombaan siapa yang akan lebih dulu tiba di dermaga dan naik ke feri.

"Kalaupun kamu terburu-buru, jalannya lihat kiri kanan juga. Kalau jatuh seperti nangka busuk nanti, baru tahu rasa!" ucap Hongjoong sengaja dengan nada menyindir sambil mempercepat langkahnya untuk masuk ke feri lebih dulu.

Langkah Farah mendadak terhenti. Ia menatap langit yang cerah, matahari tepat di atas kepala. Panas teriknya mentari tak sebanding dengan panasnya emosi yang berkobar dalam hati Farah.

"Dasar nggak guna!" gumam Farah, bibirnya mengerucut sebelum berjalan cepat menuju feri. Dalam langkahnya, ia sempat melihat pria itu tersenyum sinis padanya.

Setelah semua peserta dan penumpang lain naik ke feri, mereka pun mulai menyeberangi lautan menuju dermaga Pulau Jeju. Di sana, kata manajer, sudah ada bus yang menunggu untuk membawa mereka ke tempat penginapan.

Untuk pertama kalinya dalam hidup Farah, semua biaya liburannya kali ini ditanggung dan disponsori sepenuhnya oleh perusahaan. Tak heran, Doojoon, kepala bagian pemasaran, merekomendasikan namanya untuk ikut serta dalam program ini. Akhirnya, Farah dapat menikmati sedikit ketenangan dari rutinitas menghadapi tumpukan pekerjaan, presentasi, dan klien yang terus datang ke kantor untuk mempromosikan produk baru.

Meski rasa syukur terlintas di hati, Farah tetap merasa jengkel. Di tengah asyiknya ia menikmati udara segar yang menerpa wajah, tiba-tiba terdengar suara Hongjoong, pria yang paling tidak ia sukai.

Farah merasa terganggu oleh suara itu. Meski mereka tidak berdiri berdekatan, suara Hongjoong yang berbicara dengan beberapa penumpang lain begitu mengganggu telinganya. Pria itu tampak ramah dan maskulin, terlihat dari caranya berbicara yang lancar, seperti yang selalu ia lakukan sejak zaman kuliah dulu.

Karena kepribadiannya yang seperti itu, Hongjoong selalu mendapat dukungan penuh dari anggota klub musik untuk menjadi ketua. Bahkan, ia membiarkan para penggemarnya yang mayoritas wanita menyabotase kampanye Farah yang saat itu juga mencalonkan diri sebagai ketua.

Jika Farah mengingat masa-masa itu, hatinya benar-benar terasa sakit. Bibirnya mengerucut, matanya terpejam. Ia berusaha menikmati suasana damai sambil meredakan perasaan yang entah senang atau sedih.

Tanpa Farah sadari, sejak tadi Hongjoong tidak melepaskan pandangan darinya. Meski sedang berbicara dan tertawa bersama penumpang lain karena obrolan ringan yang diselingi candaan, perhatian Hongjoong tetap tertuju pada Farah.

Melihat sisi tenang Farah yang jarang ia saksikan, menimbulkan perasaan aneh di hati Hongjoong. Gadis itu tak pernah memperlihatkan sisi feminin atau ketenangan saat mereka bertatap muka. Wajah Farah selalu berkerut, cemberut, dan menjengkelkan. Namun kali ini berbeda. Saat gadis itu sedang sendiri, ada aura kesedihan yang terpancar sesuatu yang sulit bagi Hongjoong untuk pahami.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Komen (1)
goodnovel comment avatar
rianur378
mulai ada sesuatu ya,Hongjoong? .........
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terbaru

  • From Contract To Jannah   Bab 30

    Tiga tahun kemudian, setelah Hakim lulus dari sekolah menengah atas pada usia 20 tahun, dia berhasil masuk ke universitas dan mengambil jurusan bisnis. Semua itu juga harus mengikuti kehendak Puan Hongju. Walaupun pada awalnya dia memberontak, lama-kelamaan dia sudah malas mengikuti keinginan hatinya sendiri.Dia berharap dapat bertemu lagi dengan gadis yang pernah ditemuinya di Kota Singa tiga tahun yang lalu.Namun, siapalah dirinya yang hanya manusia biasa. Belum tentu mereka dapat bertemu kembali kerana gadis itu berada jauh di Asia Tenggara.Namun, pada hari dia mendaftarkan diri di universitas, dia melihat seorang gadis yang pernah menghalanginya melakukan tindakan bodoh tiga tahun lalu. Dia mencoba meyakinkan dirinya bahwa gadis yang dilihatnya itu bukanlah gadis tersebut.Tetapi, ketika nama gadis itu dipanggil, Hakim sedikit tertegun.Raut wajah gadis itu tidak banyak berubah walaupun kini dia sudah tidak lagi mengenakan hijab seperti ketika berada di Ko

  • From Contract To Jannah   Bab 29

    Angin di sebuah kota yang bernama Singapura akhirnya menerpa wajah Farah yang sedang mengenakan hijab bawal dan pakaian olahraga. Senyum lebar terukir di bibir Farah ketika matanya menangkap keindahan yang belum pernah terbayangkan sebelumnya.Saat ini, dia tidak memiliki ponsel pintar seperti teman-temannya yang lain. Jadi, dia hanya mampu mengabadikan setiap momen melalui pandangan matanya dan menyimpan kenangan indah itu di dalam ingatannya.“Farah! Apa lagi yang kamu tunggu? Ayo kita ke sana...” seru teman sekelasnya, Juliana, yang memang berasal dari keluarga berada dan sudah terbiasa datang ke tempat ini bersama keluarganya. Selain menjadi ketua kelas, dia juga ditunjuk oleh guru pendamping sebagai ketua rombongan untuk mengawasi teman-temannya. Dengan kata lain, dia menjadi asisten guru pendamping selama mereka berada di sini.Farah segera menghampiri Juliana lalu berjalan masuk ke dalam rombongan.Tempat pertama yang mereka tuju adalah sebuah lokasi bernama M

  • From Contract To Jannah   Bab 28

    Larian Farah dan Hakim terhenti di sebuah taman rekreasi yang tidak jauh dari hotel. Demi melarikan diri dari wartawan yang mengejar, mereka menyelinap keluar melalui pintu restoran hotel dan akhirnya berlari hingga tiba di taman rekreasi ini.Walaupun kakinya terasa sakit, Farah tetap memaksakan diri agar mereka dapat melarikan diri dari rentetan pertanyaan para wartawan. Mereka bahkan tidak sempat mengambil mobil yang diparkir.Kata Hakim, biarkan saja mobil itu berada di sana untuk sementara waktu. Biarkan mereka menikmati hari ini setelah masing-masing berhasil mengungkapkan perasaan cinta yang selama ini terpendam di dalam hati.Mereka terengah-engah kelelahan di taman itu sebelum akhirnya tertawa geli melihat tingkah masing-masing.“Tidak menyangka... kamu menangis waktu aku tidak ada di sana tadi.” Farah mencoba berbicara secara spontan karena tidak ingin rasa canggung kembali menghantui mereka.“Karena aku takut kehilangan kamu lagi...” Ungkapan Hakim membuat Farah terdiam sej

  • From Contract To Jannah   Bab 27

    Suasana di sebuah hotel mewah bertaraf lima bintang itu begitu memukau Farah yang sebelumnya tidak pernah sama sekali menginjakkan kaki ke tempat seperti ini. Sudah banyak tamu yang hadir ketika dia melangkah masuk ke kawasan lobi. Terlihat juga rakan-rakan di tempat kerja turut berada di sana sambil menunggu pintu aula hotel dibuka untuk para tamu masuk. Pandangan Farah bertemu dengan Shina. Gadis itu cuba memanggil Farah agar mendekati rakan-rakan sekerja yang lain. Namun, sebelum wanita itu sempat berbicara, lengan Farah dipaut oleh Hakim lalu menarik gadis itu menuju ke sebuah laluan yang berada di tepi lobi. Farah hanya memandang Shina dengan perasaan serba salah. Bukan apa, dia belum memberitahu gadis itu lagi bahawa dia sudah pun berkahwin dengan Hakim. Shina hanya memandang dengan dahi berkerut. Aneh... bukankah di kad jemputan yang mereka terima, nama pengantin perempuan yang tertera adalah ‘Jung Eunji...’ Mengapa Farah berada berasingan daripada rakan-rakan sekerja yan

  • From Contract To Jannah   Bab 26

    Seminggu pun berlalu sejak hari pernikahan itu. Hari-hari Farah tetap sama, tiada apa yang berubah dengan rutin hariannya. Tetap jua pergi dan pulang kerja seperti biasa. Hanya status diri aja yang mungkin sudah berubah, namun perkara itu nggak mengganggu apa-apa. Namun kali ini, ada sesuatu yang berbeda. Pandangan mata Hakim yang dulu ia terasa asing, kini selalu mengiringi setiap langkahnya seolah-olah setiap gerak Farah menjadi pusat semestanya. Ternyata sudah lebih dari setahun Hakim memeluk Islam. Diam-diam, ia sering hadir ke masjid di Itaewon, mendalami ilmu agama bersama teman-teman Muslimnya. Tak heran bila ia begitu teguh ingin menjadikan Farah sebagai istri, bukan gadis lain. Hanya segelintir orang yang mengetahui rahasia ini, selain para sahabatnya yang belajar bersama, nyaris tak ada yang tahu siapa Hakim sebenarnya. Selama seminggu mereka berbagi atap, Farah masih merasa canggung. Keluar masuk kamar mandi pun ia sering diliputi

  • From Contract To Jannah   Bab 25

    Ketika para tamu undangan perlahan meninggalkan masjid, suasana kembali hening. Barulah Farah dan Hongjoong atau kini dengan nama barunya, Hakim bin Abdullahmeminta izin untuk pulang. Jemaah yang masih tinggal tak henti mengucapkan selamat, doa-doa pun mengiringi langkah pasangan pengantin baru itu. Farah tidak menyangka, ternyata banyak jemaah yang mengenal Hongjoong, menyapanya dengan panggilan Encik Hakim, seolah nama barunya sudah begitu akrab di telinga mereka. Perjalanan pulang terasa dingin dan sunyi. Meski pendingin udara mobil dimatikan, Farah tetap menggigil. Tangan dan kakinya bergetar seolah diselimuti kabut dingin. “Kenapa kamu gemetar begitu, Anisa?” Hakim melirik dari sisi kemudi. Tatapan mata lelaki itu sungguh tajam, seperti mata pemangsa sedang mengancam mangsanya. Tak pernah luput menangkap setiap gerak tubuhnya. “Tidak… tidak apa-apa,” Farah meletakkan tangan di atas lutut, berusaha meredam kegelisahan yang mengalir hingga ke ujung kaki. “Kamu takut saya

  • From Contract To Jannah   BAB 24

    “Aku terima nikah Farah Anisa binti Ahmad...”Hanya dengan sekali lafaz ijab kabul, pernikahan Hongjoong dan Farah pun sah berlangsung meskipun dalam bahasa Korea. Kini, keduanya sudah resmi menjadi sepasang suami istri.Entah mengapa, air mata Farah jatuh membasahi pipinya, membuat sedikit luntur

  • From Contract To Jannah   Bab 7

    KEESOKAN HARINYA, Hongjoong dan Dino keluar bersama-sama dari kamar. Ketika pintu kamar terbuka, Shina dan Farah juga kebetulan sedang membuka pintu kamar mereka."Selamat pagi..." Dino menyapa ramah lebih dahulu pada kedua gadis itu.Farah tetap diam, enggan berbicara panjang. Entahlah, tadi malam

  • From Contract To Jannah   Bab 6

    MALAM itu, setelah selesai aktivitas di pantai, mereka diizinkan kembali ke kamar masing-masing untuk membersihkan diri sebelum turun lagi ke resort untuk mengetahui aktivitas malam selanjutnya.Lelah tak bisa diungkapkan dengan kata-kata, Hongjoong dan Dino berjalan beriringan menuju kamar mereka

  • From Contract To Jannah   Bab 5

    SETELAH meletakkan tas di kamar penginapan, Farah muncul kembali di resort untuk menunggu kehadiran fasilitator yang dikatakan terlambat sedikit karena sedang mengurus sesuatu di tepi pantai.Suasana di aula utama resort Pulau Jeju riuh dengan suara peserta yang saling berkenalan. Namun, Farah hany

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status