Share

4

Penulis: nura0484
last update Tanggal publikasi: 2026-03-28 18:28:25

"Anak kamu ini!"

"Anak kamu juga, mi. Mami yang melahirkan dengan taruhan nyawa."

"Ya, tapi kelakuannya nggak jauh beda sama kamu."

Lucas hanya diam mendengarkan perdebatan kedua orang tuanya, lagi-lagi ini pasti masalah dirinya yang tidak langsung pulang dan memilih ke tempat Poppy. Lucas tidak menyangka jika Anggi selalu melaporkan semua kegiatannya, terutama hal yang berhubungan dengan pribadi.

"Mami tahu dari Anggi, kan? Memang Anggi tahu aku kemana?"

Tania menatap Lucas tajam "Kurang kerjaan banget Anggi lakuin itu, apa gunanya punya uang. Anggi punya kehidupan sendiri."

Lucas menatap tidak percaya mendengar jawaban sang mami "Mami sangat belain Anggi banget, memang apa bagusnya dia?"

"Memang apa bagusnya cewek kamu itu? Usianya aja udah tua, kamu yakin dia wanita baik-baik? Kalau wanita baik-baik akan menjaga diri nggak gampangan buka kaki buat cowok.."

"Wajar, mi. Kami sepasang kekasih." Lucas memotong kalimat sang mami.

"Kamu semenjak sama dia jadi berani bantah mami." Tania berdiri meninggalkan ruangan.

Lucas mengusap kasar wajahnya, tidak ada niatan sama sekali membantah sang mami. Rasanya mendengar maminya menjelekkan wanita yang disukainya seketika perasaan tidak suka menghampiri, semua memandang buruk pada kekasihnya padahal tidak pernah melakukan kesalahan apapun, mungkin kesalahannya adalah usia yang jauh diatasnya.

"Mami benar kalau kamu sekarang banyak berubah, kamu bukan Lucas yang kita kenal." Lucas mengangkat kepalanya menatap papinya yang sedang menatapnya "Papi tahu kalau kamu mengalami mother complex, makanya kamu pacarin dia dan hubungan kalian diluar batas...papi tahu karena papi juga pria. Mami kamu bukan menempatkan Anggi disana untuk memata-matai kamu, Anggi masuk ke tempat kita dengan kemampuannya bukan permintaan mami."

"Dia berisik, pi."

Wijaya tersenyum mendengarnya "Mami kamu juga berisik, kamu sudah tahu itu. Wanita jauh menenangkan jika berisik daripada dia diam, tandanya jika dia menyayangi kamu. Kalau dia sudah diam, kita sebagai pria harus waspada karena takutnya perasaan sayang itu sudah hilang."

"Apa salah Poppy sampai mami dan papi nggak setuju? Apa karena usia dia..."

"Kami nggak pernah peduli sama usia, memang kalau papi kasih tahu kamu bakal percaya?" Lucas terdiam karena apa yang dikatakan sang papi benar, dimana semua akan tidak masuk akal dan hanya menjadi alasan "Cari tahu sendiri, kamu tahu kalau kami tidak akan sampai seperti ini jika tidak ada alasan."

"Bagaimana aku tahu kalau dia nggak baik? Papi sendiri nggak kasih tahu petunjuknya." Lucas memberikan pembelaan, Wijaya hanya mencebikkan bibirnya "Aku benar, Pi."

"Papi tanya apa yang kamu tahu tentang Poppy? Pekerjaannya? Keluarganya? Kamu jawab semuanya." Wijaya bertanya dengan santai.

Lucas terdiam mencoba mengingat pembicaraan mereka dimana tidak ada yang membahas tentang keluarga, sedangkan pekerjaan hanya beberapa kali. Pertemuan mereka hanya berisi membicarakan kegiatan sehari, dimana Poppy lebih banyak bercerita tentang temannya yang bagi Lucas tidak penting dan berakhir dengan hubungan intim.

"Kamu tahu apa dasar dari hubungan?" Wijaya melanjutkan pertanyaan "Melihat reaksi kamu papi sudah mendapatkan jawaban, sekarang apa kamu tetap mau melanjutkan hubungan dengan wanita yang tidak kamu ketahui latar belakangnya? Apa kamu hanya menganggap hubungan kalian sebagai hubungan intim saja?"

Lucas hanya terdiam mendengar semua kalimat yang keluar dari bibir sang papi, tampaknya memang harus tahu hubungan mereka berdua akan seperti apa. Bunyi ponsel menghentikan pikiran tentang hubungannya dengan Poppy selama ini, menatap pesan yang dikirim papinya.

"Apa ini?" Lucas menatap wajah sang papi dengan tanda tanya.

"Semua hal yang berkaitan dengan wanita kamu, papi nggak peduli kamu percaya atau nggak." Wijaya berjalan meninggalkan Lucas yang langsung membaca pesannya "Satu lagi jangan berpikir negatif tentang Anggi, mami memang mau kalian bersama tapi nggak akan melakukan hal ekstrim seperti dalam bayangan kamu. Lagian yang mami tahu kalau Anggi mau dijodohkan neneknya sama pria disana."

Lucas menghentikan bacaannya dengan menatap punggung papinya yang semakin menjauh, seketika semuanya menjadi tidak enak. Meletakkan ponselnya diatas meja dengan menghembuskan napas perlahan, seketika udara disekitarnya menipis. Menggelengkan kepalanya jika apa yang didengar dari sang papi tidak benar, perasaannya pada gadis kecil itu bukan hal yang besar seperti dalam bayangannya.

"Abang disini? Aku kira apartemen, mau kesana."

"Ngapain kesana?" Lucas memicingkan matanya kearah Leo yang duduk dihadapannya.

"Ketemu Anggi, tidurnya di tempat abang. Abang kesana, kan?"

"Kenapa memang Anggi? Kamu nggak sama Zee kesananya?" Lucas sedikit penasaran.

"Zee udah disana, aku pergi dulu."

Lucas mengerutkan kening melihat tingkah Leo, pertemanan mereka memang dekat bahkan sangat dekat, usia mereka bertiga yang tidak terlalu jauh membuat pertemanan mereka hanya berputar di situ-situ saja, kecuali dirinya. Lucas mengambil kelas akselerasi, sehingga pertemanan dengan kedua adiknya berbeda.

Melangkahkan kakinya ke dapur mendapati sang mami sedang memasak, hobi maminya adalah memasak sedangkan tugas papinya adalah mencoba semua masakannya. Hal ini yang Lucas dapat dari Poppy, setiap melihat Poppy secara otomatis langsung mengarah pada maminya.

"Buat apaan, mi?" Lucas duduk di dekat sang mami yang sedang memasak.

"Brownies, mami titip kamu ya." Lucas mengerutkan keningnya "Buat Anggi, Leo tadi buru-buru kesana. Anggi pasti senang dapat brownies ini."

"Memang Anggi kenapa?"

Tania menatap Lucas sekilas "Ketabrak, nolongin nenek-nenek. Zee tadi yang ke rumah sakit, bundanya belum tahu. Leo buru-buru kesana, Zee butuh bantuan Leo buat gendong Anggi."

Terdiam, seketika jantungnya tidak tenang. Rasa penasaran ingin segera pergi dan melihat keadaan Anggi, tapi langsung ditahan agar tidak dianggap memiliki perasaan pada gadis kecil itu. Satu lagi, tidak mau apa yang diharapkan sang mami tercapai. Wanita yang harus dinikahi adalah Poppy, hanya Poppy yang sama persis dengan maminya.

"Malah ngelamun, kalau kesurupan mami nggak ikutan." Tania menggelengkan kepalanya melihat Lucas "Kamu nggak bantuin papi?"

Lucas langsung menggelengkan kepalanya "Mending lihatin mami, bosen di kantor ketemu papi terus disini masak lihat papi lagi...aawww...papi sakit." Lucas mengusap kepalanya yang mendapatkan dorongan ringan.

"Kamu kalau nggak ada papi juga nggak akan jadi, walaupun tua tenaga papi ini luar biasa."

Lucas memutar bola matanya malas "Percaya, kalian bahkan nggak tahu tempat kalau begituan."

"Justru itu, karena begitu lahir lima anak." Wijaya mengatakan dengan nada bangganya "Papi maunya nambah, tapi mami nggak mau."

"Nggak usah ada adik lagi, cukup mereka." Lucas memberikan tatapan peringatan pada kedua orang tua yang hanya tertawa "Mami, kalau diajak papi begituan jangan mau!"

"Gimana nggak mau, papi nikmat sih." Tania mengedipkan matanya, Lucas hanya bisa menggelengkan kepalanya "Makanya nikah sama Anggi, kamu pasti tahu gimana rasanya kaya mami dan papi."

"Anggi masih perawan, pastinya beda sama Poppy rasanya."

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Gadis Kecil   32

    "Kita nggak bisa begini terus, Ky." Kedatangan orang tua mereka berdua seketika memberikan hawa segar, setidaknya pembicaraan tentang perjodohan terhenti. Orang tua mereka berdua sangat menyadari jika mereka tidak akan bersatu, apalagi Zaky yang sudah siap dengan hubungan serius dengan kekasih. "Bu, terus gimana?" Zaky menatap sang ibu yang hanya diam. "Bunda..." Anggi merengek dengan menatap sang bunda. "Bunda nanti yang bicara sama nenek." "Aku bantuin, Ma." Ibunya Zaky membuka suaranya "Kamu benar mau lamar cewekmu?" Zaky menganggukkan kepalanya penuh keyakinan "Ya udah nanti kita bicara sama nenek. Anggi sudah punya calon?" "Sudah, bu. Kakaknya Leo." Zaky membuka suara yang langsung mendapatkan cubitan dari Anggi. "Lucas? Bukannya dia punya kekasih?" Rahma menatap sang anak penuh dengan tanda tanya. "Udah putus, bun." Anggi menjawab langsung "Bahas masalah

  • Gadis Kecil   31

    "Kamu begini buat aku pengen nikah aja. Gimana kalau aku lamar kamu ke ayah?" "Nggak usah aneh-aneh, bang. Lagian ini juga masak sederhana." Menatap hidangan yang ada diatas meja. Anggi memasak makanan rumahan, masakan yang biasa dinikmati ketika berada dirumah orang tua. Sayur kelor, bakwan jagung dan tempe goreng. Menelan saliva melihat makanan diatas meja, menatap Anggi yang menata piring di meja."Bukannya kamu tadi di cafe sama Zee?" Anggi menggelengkan kepalanya "Aku tadi ke Karawang sebentar, habis itu balik pusat buat nyerahin laporan. Milih pulang karena memang jam kerja selesai, ayah sama Om Rifat yang kasih aku kebebasan mengenai jam kerja. Disini nggak ada yang dikerjakan akhirnya milih masak ini semua, makanan sederhana. Abang suka masakan rumahan, apalagi kalau ada sayuran." "Kamu tahu banyak tentang aku." Lucas menganggukkan kepalanya, sedikit menyesal karena tidak tahu tentang Anggi "Masalah cafe gimana?" "Se

  • Gadis Kecil   30

    "Jahat nggak sih?" "Biarin! Biar tahu dia gimana susahnya dapatin kamu." "Astaga! Kalian memang saudara yang kurang ajar." Anggi menggelengkan kepala mendengar jawaban Endi."Zee, kamu nggak mau belain abang?" Zee menggelengkan kepalanya, Anggi hanya bisa menghela napas panjang melihat jawaban Zee dalam menjawab pertanyaan Leo "Kamu itu paling nggak suka kalau abang dikerjain, lebih pilih abang daripada aku." "Abang selalu belain aku, kamu sama Endi yang ada nggodain aku." Zee menatap malas kearah Leo yang seketika tertawa. "Kamu suka sama abang, Nggi? Aku sih selama kamu bahagia pastinya aku juga akan bahagia." Endi memberikan tatapan serius kearah Anggi yang memilih diam sambil mendengarkan pembicaraan tidak penting mereka."Anggi itu udah lama suka sama abang, cuman milih diam." Leo menaik turunkan alisnya."Nggak! Mana ada aku suka sama abang." Anggi menatap tajam Leo yang memberikan senyuman menggoda."

  • Gadis Kecil   29

    "Abang nggak takut kalau mantan abang itu berbuat lebih nekat dari kemarin?" "Aku nggak yakin dia akan melakukan itu." Lucas mengatakan sedikit ragu."Mungkin bukan dia, tapi seseorang dibelakangnya." "Kamu tahu sesuatu?" Lucas memicingkan matanya kearah Anggi.Anggi berdecih pelan melihat reaksi Lucas "Aku hanya menduga, bang. Kalau papi sampai bilang begitu pastinya ada yang harus di waspadai, makanya kalau sama papi jangan debat dan merebutkan mami aja." "Besok kalau kita punya anak juga nggak mau kamu lebih perhatian sama anak kita." "Astaga, abang! Mikirnya udah kearah sana, padahal belum tentu sampai kearah sana. Ingat aku hanya memberi kesempatan bukan udah kearah sana." Anggi menggelengkan kepala."Kita ciuman di ruangan Raka itu statusnya udah berubah, lupa? Bukan kesempatan lagi, tapi arah yang serius." Anggi menatap tidak percaya sambil menggelengkan kepalanya "Kamu setuju atau nggak!" Lucas menggenggam ta

  • Gadis Kecil   28

    "Raka bilang ini bohong, pi. Raka udah tanya sama rumah sakit disana, dokter yang memberi pernyataan itu nggak ada." "Kamu sudah tahu dia gimana, kan? Ini baru permulaan, papi yakin masih ada yang lain nantinya." "Aku nggak nyangka dia begitu, pi." Lucas menggelengkan kepalanya mengingat sang mantan kekasih."Dia dipaksa sama pamannya." "Maksudnya, pi?" Lucas menatap penasaran."Nggak penting." Wijaya menggelengkan kepalanya "Kamu adalah orang yang mudah sekali kasihan, jadi lebih baik nggak tahu tentang ini." "Pi, apa yang papi lakukan ini buat aku penasaran. Papi nggak mau aku cari semua sendiri, kan? Papi tahu kalau aku..." "Tahu dan sangat tahu." Wijaya memotong kalimat Lucas "Papi mengenal kamu luar dalam, jadi nggak perlu bicara seakan papi nggak paham kamu. Apa yang papi lakukan ini demi buat kamu dan sangat tahu bagaimana kamu dalam bersikap dan bertindak." Menyadari apa yang dikatakan papinya adal

  • Gadis Kecil   27

    "Ada apa?" "Kamu nggak kangen sama aku?" Lucas mengangkat salah satu alisnya mendengar kalimat yang keluar dari bibir Poppy.Menemui Poppy sebelum memulai aktivitas dilakukan dengan sangat malas, wanita ini menghubungi dengan nomer lain setelah sebelumnya nomernya tidak mendapat tanggapan sama sekali. Kalimat ancaman yang seketika membuatnya menyetujui pertemuan, mungkin hampir satu bulan mereka tidak saling berhubungan."Katakan tujuan pertemuan ini." Lucas berkata dengan nada datar."Aku hamil." Lucas memicingkan matanya "Lalu?""Kamu harus tanggung jawab." Poppy berkata dengan nada sedih, tangannya membelai perut perlahan dan secara otomatis Lucas menatap apa yang dilakukan Poppy."Bagaimana kamu yakin itu anakku? Kamu sendiri melakukan bukan hanya sama aku, berapa pria yang sudah menikmati tubuhmu? Lagian kita sudah nggak berhubungan hampir satu bulan, jadi?" "Kamu nggak percaya?" Poppy mengeluarkan amplo

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status