Masuk"Udah sembuh?"
"Kaki aku yang sakit bukan kepala, Bang." Lucas hanya menggelengkan kepala mendengar jawaban Anggi, memilih diam dengan membuka laptop untuk membaca berkas yang nanti akan di presentasikan disana. Melihat kesamping tampak Anggi sedang memejamkan matanya, mengalihkan tatapan kearah kaki dan tongkat, melihat itu membuat Lucas menghela napas panjangnya. Kejadiannya sudah jalan seminggu, Anggi tinggal bersama bundanya setelah tahu kabar tentang kecelakaan. Zee dan Leo memutuskan tidur disana, Zee di tempat Anggi dan Leo di tempatnya. Kejadian Anggi membuatnya tidak bisa bertemu dengan Poppy, Lucas tidak mau mengambil resiko di saat kedua adiknya berada disekitar. Mereka bisa saja melaporkan semua yang dilakukan saat berada di apartemen, semua kegiatannya akan ketahuan. "Pak Lucas, kita isi bensin dulu." Lucas menganggukkan kepalanya. Menatap keluar dimana mobil berhenti untuk mengisi bahan bakar, mengusap pelan matanya saat melihat seseorang yang sangat dikenalinya, memicingkan mata atas apa yang dilihatnya. "Bang, aku mau beli minum. Abang mau nitip?" Lucas menggelengkan kepalanya. Matanya tidak lepas dari subjek yang ada tidak jauh dari mobil, mencoba berpikir positif tentang apa yang dilihatnya. Beranjak dari tempatnya untuk keluar dari mobil, rasa penasaran membuatnya ingin melihat secara jelas, langkahnya semakin menuju ke mini market yang ada di pom bensin. Menghentikan langkah saat melihat pemandangan yang tidak disangka, semua pikiran positif secara tiba-tiba hilang. Lucas tahu dan sangat yakin jika mereka bukan dalam hubungan saudara, dia sudah mengenal keluarga sang kekasih. "Abang, mau beli apa?" Lucas menatap Anggi yang berada disampingnya. "Kamu sudah selesai?" Anggi menganggukkan kepalanya "Ya sudah, kita ke mobil." Menatap kembali sumber, mengambil ponselnya untuk menghubunginya, tersentak ketika panggilannya ditolak. Sentuhan di lengan menyadarkan Lucas dengan menatap si pelaku yang bingung, tatapan polosnya membuat emosi Lucas seketika hilang. Memilih kembali ke mobil, niatnya akan mengirim pesan untuk tahu keberadaannya dimana apakah bohong atau tidak. "Cewek tadi pacar abang yang namanya Poppy?" Anggi memecah keheningan didalam mobil, menghentikan gerakan tangan Lucas di ponsel dengan menatap Anggi penuh selidik "Aku hanya menebak, tatapan abang tadi kaya tatapan kecewa dan terkejut." "Bukan urusanmu. Sekarang gimana caranya biar tidak ada kesalahan waktu nanti disana." Lucas memberikan tatapan tajam dengan nada penuh emosi. Anggi menggerakkan bibirnya mengikuti kalimat Lucas, mengalihkan pandangan kearah samping dan tidak peduli sama sekali atas reaksi Lucas saat ini padanya. Lucas hanya bisa menggelengkan kepala melihat sikap Anggi, tidak tahu kenapa gadis disebelahnya ini sangat suka membuatnya kesal, padahal jika bersama dengan Leo dan Zee selalu baik. Mengalihkan pandangan, mengingat penglihatannya tentang Poppy bersama pria tersebut. Mereka bukan tampak seperti teman atau saudara, tidak mungkin Poppy menjalin hubungan di belakangnya, lebih tepat selingkuh. Beberapa kali menggelengkan kepala, berharap apa yang ada dalam pikirannya tidak benar. Kendaraan berhenti, hal yang tidak disadari Lucas karena terlalu asyik memikirkan Poppy, bahkan Lucas tidak menyadari jika Anggi sudah tidak ada didalam mobil. Menatap sekitar dimana hanya ada supir yang menunggunya keluar dari mobil, menghela napas dengan membereskan barangnya untuk masuk kedalam. "Pak, ini kartu identitasnya. Bu Anggi bilang kalau bapak bisa langsung ke ruangan manager." Lucas hanya menganggukkan kepala. Keluar dari mobil, tujuannya bukan ruangan manager melainkan kondisi pabrik. Lucas sangat yakin jika Anggi bisa menyelesaikan pekerjaannya, setelah keliling nanti akan ke ruangan untuk melihat hasil yang Anggi kerjakan. Setiap melangkah orang-orang yang dilewati menatap dengan tanda tanya, tidak ada yang tahu tentang posisi Lucas di tempat ini. "Maaf, anda siapa?" Lucas menatap pria dihadapannya, senyum tipis diberikan "Saya tadi bersama dengan Bu Anggi, tapi tidak ada yang memberitahu letak ruangannya jadi sekalian melihat-lihat." "Dari pusat? Saya antar ke ruangan finance." Lucas masih menatap sekitar "Mau diantar sekarang?" Lucas menggelengkan kepalanya "Saya lapar, kantin dimana? Apa bapak bisa mengantarkan?" "Soni nama saya, bisa saya antar. Mari ikut saya, Pak." Mengikuti dengan langkah mereka yang berdampingan, Lucas memilih diam dengan menatap sekitar, sebenarnya bisa saja bertanya tentang keadaan disekitar tapi memilih mengamati terlebih dahulu. "Pak Soni bagian apa?" Lucas membuka pembicaraan dengan mereka masih melangkah. "HR, Pak." Lucas menganggukkan kepalanya "Bapak ini timnya Ibu Anggi?" "Ya. Makanan apa yang enak disini?" Lucas menatap kantin yang berbeda dengan pusat. "Semuanya enak, Pak. Kami ambil dari catering yang sudah lolos verifikasi." Memilih menikmati makanan dihadapannya, Soni sendiri lebih memilih menemaninya dengan minuman. Tampaknya banyak pekerjaan rumah untuk pabrik ini, semua akan dibicarakan ke papinya dan Rifat. Mengakhiri acara makannya dengan melangkah ke ruang manager sesuai dengan perkataan Anggi, Soni sempat terkejut tapi tetap mengantarkan Lucas ke tempat yang dimaksud. Membuka laptop seorang diri dalam ruangan, Soni sendiri sudah berpamitan untuk melakukan pekerjaannya. Pintu ruangan terbuka dimana Anggi datang membawa berkas dengan satu tangan yang hampir menutupi wajahnya, sedangkan tangannya yang lain memegang tongkat. Lucas melihat pintu terbuka dan Anggi disana secara otomatis berdiri dan berjalan kearahnya, mengambil berkas yang dibawanya. "Kamu bisa minta tolong OB buat bawain ini semua!" Lucas mengatakan dengan nada keras. "Aku baik-baik saja, lagian jaraknya nggak jauh." "Kamu masih sakit, Anggi! Gimana kalau ada apa-apa? Nanti aku yang disalahin sama mami dan bunda." Anggi mengibaskan tangannya dihadapan Lucas "Abang tenang saja, mereka nggak akan marah karena aku baik-baik saja. Sekarang yang penting adalah mengerjakan kejanggalan dalam laporan keuangan, pastinya membutuhkan waktu nggak sedikit dan menjenuhkan. Abang harus sabar dan nggak boleh ngomel, tujuannya kesini bantuin aku." Lucas membuka mulutnya mendengar jawaban Anggi, kalimat demi kalimat yang seakan dirinya suka marah. Menatap tumpukan berkas dimana semua kalimat Anggi memang benar, mereka akan menghabiskan banyak waktu untuk mengerjakan ini semua. Tidak ingin menunggu waktu, Lucas duduk disamping Anggi untuk membantunya. "Abang mau ngapain? Bantu? Memang bisa?" Anggi menghentikan gerakannya dengan memicingkan matanya. "Kamu meremehkan aku? Nggak mau dibantu?" Lucas menatap tidak suka dengan kalimat Anggi "Lagian bukannya lebih enak kerjain disana? Ngapain kesini? Malah bikin ribet." "Kalau disana mereka akan tahu hasilnya, aku nggak bisa bebas meriksa. Aku juga nggak tahu siapa saja yang bisa dipercaya atau nggak." Anggi mengatakannya sambil menatap berkas dihadapannya. Mendengar jawaban Anggi seketika Lucas paham atas alasan papi dan Rifat menerimanya, tampaknya sahabat kedua adiknya tidak bisa dipandang sebelah mata. Lucas menggelengkan kepalanya perlahan, tidak ingin masuk kedalam pesona Anggi, bagaimanapun memiliki kekasih. Mengingat kekasih seketika pemandangan tadi membuat Lucas kembali berpikir tentang siapa pria tersebut, tidak hanya itu Poppy menjadi tidak bisa dihubungi sama sekali. "Abang jangan kebanyakan melamun, nanti kerasukan loh." Lucas berdecih pelan mendengar kalimat Anggi "Lagian ngapain mikir ceweknya tadi, kalau memang nggak bisa dihubungi mending fokus sama pekerjaan biar bisa cepat pulang dan tanya secara langsung." "Kamu lagi mata-matain aku? Jangan-jangan kamu tinggal disampingku karena ingin memudahkan pekerjaan yang diberikan mami yaitu menjadi mata-mata." Lucas memicingkan matanya. "Nggak guna mata-matain abang, jangan terlalu percaya diri. Aku tinggal disamping abang bukan karena itu, tapi lebih pada jarak dimana aku harus mengerjakan pekerjaan kantor sampai malam. Aku disana sama Zee, walaupun Leo beberapa kali datang.""Kita nggak bisa begini terus, Ky." Kedatangan orang tua mereka berdua seketika memberikan hawa segar, setidaknya pembicaraan tentang perjodohan terhenti. Orang tua mereka berdua sangat menyadari jika mereka tidak akan bersatu, apalagi Zaky yang sudah siap dengan hubungan serius dengan kekasih. "Bu, terus gimana?" Zaky menatap sang ibu yang hanya diam. "Bunda..." Anggi merengek dengan menatap sang bunda. "Bunda nanti yang bicara sama nenek." "Aku bantuin, Ma." Ibunya Zaky membuka suaranya "Kamu benar mau lamar cewekmu?" Zaky menganggukkan kepalanya penuh keyakinan "Ya udah nanti kita bicara sama nenek. Anggi sudah punya calon?" "Sudah, bu. Kakaknya Leo." Zaky membuka suara yang langsung mendapatkan cubitan dari Anggi. "Lucas? Bukannya dia punya kekasih?" Rahma menatap sang anak penuh dengan tanda tanya. "Udah putus, bun." Anggi menjawab langsung "Bahas masalah
"Kamu begini buat aku pengen nikah aja. Gimana kalau aku lamar kamu ke ayah?" "Nggak usah aneh-aneh, bang. Lagian ini juga masak sederhana." Menatap hidangan yang ada diatas meja. Anggi memasak makanan rumahan, masakan yang biasa dinikmati ketika berada dirumah orang tua. Sayur kelor, bakwan jagung dan tempe goreng. Menelan saliva melihat makanan diatas meja, menatap Anggi yang menata piring di meja."Bukannya kamu tadi di cafe sama Zee?" Anggi menggelengkan kepalanya "Aku tadi ke Karawang sebentar, habis itu balik pusat buat nyerahin laporan. Milih pulang karena memang jam kerja selesai, ayah sama Om Rifat yang kasih aku kebebasan mengenai jam kerja. Disini nggak ada yang dikerjakan akhirnya milih masak ini semua, makanan sederhana. Abang suka masakan rumahan, apalagi kalau ada sayuran." "Kamu tahu banyak tentang aku." Lucas menganggukkan kepalanya, sedikit menyesal karena tidak tahu tentang Anggi "Masalah cafe gimana?" "Se
"Jahat nggak sih?" "Biarin! Biar tahu dia gimana susahnya dapatin kamu." "Astaga! Kalian memang saudara yang kurang ajar." Anggi menggelengkan kepala mendengar jawaban Endi."Zee, kamu nggak mau belain abang?" Zee menggelengkan kepalanya, Anggi hanya bisa menghela napas panjang melihat jawaban Zee dalam menjawab pertanyaan Leo "Kamu itu paling nggak suka kalau abang dikerjain, lebih pilih abang daripada aku." "Abang selalu belain aku, kamu sama Endi yang ada nggodain aku." Zee menatap malas kearah Leo yang seketika tertawa. "Kamu suka sama abang, Nggi? Aku sih selama kamu bahagia pastinya aku juga akan bahagia." Endi memberikan tatapan serius kearah Anggi yang memilih diam sambil mendengarkan pembicaraan tidak penting mereka."Anggi itu udah lama suka sama abang, cuman milih diam." Leo menaik turunkan alisnya."Nggak! Mana ada aku suka sama abang." Anggi menatap tajam Leo yang memberikan senyuman menggoda."
"Abang nggak takut kalau mantan abang itu berbuat lebih nekat dari kemarin?" "Aku nggak yakin dia akan melakukan itu." Lucas mengatakan sedikit ragu."Mungkin bukan dia, tapi seseorang dibelakangnya." "Kamu tahu sesuatu?" Lucas memicingkan matanya kearah Anggi.Anggi berdecih pelan melihat reaksi Lucas "Aku hanya menduga, bang. Kalau papi sampai bilang begitu pastinya ada yang harus di waspadai, makanya kalau sama papi jangan debat dan merebutkan mami aja." "Besok kalau kita punya anak juga nggak mau kamu lebih perhatian sama anak kita." "Astaga, abang! Mikirnya udah kearah sana, padahal belum tentu sampai kearah sana. Ingat aku hanya memberi kesempatan bukan udah kearah sana." Anggi menggelengkan kepala."Kita ciuman di ruangan Raka itu statusnya udah berubah, lupa? Bukan kesempatan lagi, tapi arah yang serius." Anggi menatap tidak percaya sambil menggelengkan kepalanya "Kamu setuju atau nggak!" Lucas menggenggam ta
"Raka bilang ini bohong, pi. Raka udah tanya sama rumah sakit disana, dokter yang memberi pernyataan itu nggak ada." "Kamu sudah tahu dia gimana, kan? Ini baru permulaan, papi yakin masih ada yang lain nantinya." "Aku nggak nyangka dia begitu, pi." Lucas menggelengkan kepalanya mengingat sang mantan kekasih."Dia dipaksa sama pamannya." "Maksudnya, pi?" Lucas menatap penasaran."Nggak penting." Wijaya menggelengkan kepalanya "Kamu adalah orang yang mudah sekali kasihan, jadi lebih baik nggak tahu tentang ini." "Pi, apa yang papi lakukan ini buat aku penasaran. Papi nggak mau aku cari semua sendiri, kan? Papi tahu kalau aku..." "Tahu dan sangat tahu." Wijaya memotong kalimat Lucas "Papi mengenal kamu luar dalam, jadi nggak perlu bicara seakan papi nggak paham kamu. Apa yang papi lakukan ini demi buat kamu dan sangat tahu bagaimana kamu dalam bersikap dan bertindak." Menyadari apa yang dikatakan papinya adal
"Ada apa?" "Kamu nggak kangen sama aku?" Lucas mengangkat salah satu alisnya mendengar kalimat yang keluar dari bibir Poppy.Menemui Poppy sebelum memulai aktivitas dilakukan dengan sangat malas, wanita ini menghubungi dengan nomer lain setelah sebelumnya nomernya tidak mendapat tanggapan sama sekali. Kalimat ancaman yang seketika membuatnya menyetujui pertemuan, mungkin hampir satu bulan mereka tidak saling berhubungan."Katakan tujuan pertemuan ini." Lucas berkata dengan nada datar."Aku hamil." Lucas memicingkan matanya "Lalu?""Kamu harus tanggung jawab." Poppy berkata dengan nada sedih, tangannya membelai perut perlahan dan secara otomatis Lucas menatap apa yang dilakukan Poppy."Bagaimana kamu yakin itu anakku? Kamu sendiri melakukan bukan hanya sama aku, berapa pria yang sudah menikmati tubuhmu? Lagian kita sudah nggak berhubungan hampir satu bulan, jadi?" "Kamu nggak percaya?" Poppy mengeluarkan amplo