Share

Gadis Kecil
Gadis Kecil
Penulis: nura0484

1

Penulis: nura0484
last update Tanggal publikasi: 2026-03-26 21:50:32

"Papi selalu ikut campur sama masalah aku! Aku sudah besar, Pi!

"Dia bukan cewek baik-baik! Papi nggak mau kamu sama cewek begitu!"

Lucas menatap tidak terima atas apa yang sudah dilakukan papinya, bayangkan di usianya yang kepala dua menuju kepala tiga masih saja diatur dan parahnya mengatur tentang masalah percintaan. Lucas menjalin hubungan dengan wanita yang berusia diatasnya beberapa tahun, bisa dikatakan lima tahun lebih. Mengenalkan wanita tersebut dihadapan orang tuanya beberapa bulan lalu dan responnya luar biasa, mereka tidak ada yang menyukai wanita itu, bukan hanya sang papi tapi mami juga saudara-saudaranya.

"Poppy nggak seperti apa yang papi katakan," ucap Lucas dengan wajah lelahnya.

"Papi hidup lebih lama dari kamu, tahu mana yang baik dan nggak." Wijaya mengatakan dengan nada tidak mau kalah.

"Baik buat papi belum tentu baik buat aku," tambah Lucas.

"Kalian bisa diam?" suara Tania membuat kedua pria terdiam "Mami tahu kalian sering berdebat atau apalah itu, tapi bisa nggak sekali saja nggak begini?"

"Tergantung anak kamu."

"Tergantung papi, kenapa malah aku?" Lucas menatap tidak terima kearah sang papi yang tampak tidak peduli "Mi, kenapa sih nggak ada yang setuju aku sama Poppy? Dia baik loh, mi. Jangan bilang karena faktor usia?" Lucas mengalihkan pandangan kearah sang mami.

"Abang, mami mau tanya. Apa yang buat abang suka sama Poppy?"

"Dia dewasa dan mirip mami," jawab Lucas tanpa keraguan.

"Mana ada dia mirip mami? Mami itu lebih dari segalanya dibandingkan dia!" Wijaya tampak tidak terima dengan jawaban Lucas.

"Pi, bisa diam?" Tania memberikan tatapan memohon yang membuat Wijaya langsung diam, mengalihkan tatapan kearah Lucas kembali "Abang percaya sama perasaan mami? Selama ini abang tahu kalau feeling mami nggak pernah salah, mami merasakan itu ke Poppy."

"Nggak bisa begitu dong, mi. Masa harus ngikutin feeling mami." Lucas langsung tidak terima "Abang mencintai Poppy...."

"Abang tahu cinta itu apa?" Tania memotong kalimat Lucas membuatnya terdiam "Abang itu bukan cinta sama Poppy, tapi menganggap Poppy sama kaya mami. Apa itu bisa dibilang cinta?"

"Nggak! Abang nggak begitu." Lucas langsung menolak.

"Mami nggak suka sama Poppy. Abang bisa jalani hubungan sama Poppy tapi nggak usah hubungi mami lagi karena abang udah bukan abang yang mami kenal, abang sudah berani melawan mami dan papi." Tania mengatakan dengan tegas sebelum beranjak dari tempatnya meninggalkan kedua pria yang masih duduk di sofa.

"Pi?" Lucas menatap Wijaya yang hanya mengangkat bahu "Kenapa sih nggak ada yang dukung aku sama Poppy? Apa salah dia, Pi?"

"Dia nggak baik buat kamu. Jangan meragukan penilaian kita, kita lebih tahu dibandingkan kamu." Wijaya melanjutkan kalimatnya ketika melihat Lucas akan membela dirinya "Kamu pikirkan memilih dia atau kami."

Lucas menatap tidak percaya dengan kalimat papinya, menatap punggung pria tersebut yang tampaknya menyusul sang istri. Lucas mengusap kasar wajahnya, pembahasan yang sama dimana mereka tidak pernah menyetujui hubungan dirinya dengan Poppy. Lucas tidak tahu lagi bagaimana cara meyakinkan mereka jika memang Poppy adalah wanita yang dicintainya, kembali mengusap kasar wajahnya berharap bisa mendapatkan jawaban.

Melangkahkan kakinya menuju kamar, pikirannya selalu tidak menentu setiap kali selesai berbicara dengan kedua orang tuanya dan itu berkaitan dengan sang kekasih. Setiap mencari hal yang tidak disukai orang tuanya pada sang kekasih, Lucas tidak pernah menemukannya. Hal tidak baik bagaimana yang diberikan kekasihnya pada dirinya, Lucas tidak mengalami perubahan sikap selama bersama dengan Poppy.

"Abang disini?" Lucas menatap wanita yang menjadi sahabat adiknya, Anggi "Mami didalam?" Lucas menganggukkan kepalanya "Kuset banget wajahnya, bang? Ada masalah?"

"Kamu kedalam sana, tapi mami lagi sama papi. Leo juga nggak tahu dimana, Zee mungkin di kamarnya." Lucas memilih menjawab hal yang menjadi tujuan Anggi.

"Baiklah, abang lagi mode nggak bisa diganggu. Aku kedalam ketemu sama mami."

Lucas menatap kepergian Anggi yang masuk kedalam, menggelengkan kepalanya melihat sahabat adiknya yang sudah menganggap rumah ini sebagai rumahnya. Anggi sendiri sudah dianggap saudara, Lucas sempat berpikir jika adiknya terjebak friendzone tapi nyatanya sama sekali tidak dimana mereka murni sebagai sahabat tidak lebih.

Beranjak dari tempatnya menuju dapur, langkahnya terhenti melihat sikap maminya pada Anggi. Lucas menginginkan sang mami bisa begini juga pada Poppy, tapi sayangnya tidak akan pernah bisa terjadi. Maminya menutup pintu untuk bersikap baik dengan Poppy, bahkan beberapa kali mami menunjukkan ketidaksukaannya pada Poppy saat bertemu dan Lucas bersyukur Poppy tidak memasukkan hati perbuatan mami padanya.

"Abang. Malah diam disana! Sini cobain, aku buat cake." Anggi memanggil Lucas dengan suara khasnya.

Melangkah malas kearah kedua wanita yang tampak sibuk, lebih tepatnya Anggi sibuk memotong cake dengan maminya yang berbicara. Melihat itu kembali Lucas masih dengan harapan yang sama, duduk di kitchen set menunggu Anggi menyerahkan piring berisi cake.

"Kenapa nggak dijual?" Tania menatap Anggi yang langsung menggelengkan kepalanya "Mami bantuin promosi nanti."

"Nggak usah, mi. Aku cuman iseng aja buatnya, nanti kalau aku buat restoran nanti yang ada bakal saingan sama punya papi."

Tania tertawa mendengarnya "Nggak ampe buka restoran kali, Nggi. Kalau buka begitu dan kamu jadi saingan mending mami mundur."

Lucas hanya diam mendengar pembicaraan mereka yang tidak pernah dipahami, memilih menikmati cake buatan Anggi yang memang enak seperti kata maminya. Semua yang dibawa Anggi tidak pernah gagal dengan lidah mereka, dari dulu memang Anggi bisa membuat lidah mereka semua menyukai apapun buatannya.

"Mi, aku mau ke kamar Zee."

Menatap Anggi yang menaiki tangga menuju kamar adiknya, gadis itu dari dulu bisa dengan mudah masuk kedalam kamar Zee, sedangkan dirinya perlu mendapatkan izin terlebih dahulu untuk masuk kedalam sana.

"Mami itu pengen Anggi jadi mantu disini."

Lucas menatap sang mami "Leo suruh nikah sama Anggi, masa mau jadi friendzone terus."

Tania menggelengkan kepalanya "Mereka nggak saling cinta, nggak akan mau nikah."

"Terus siapa? Jimmy dan Rey? Mereka masih kecil, mi. Walaupun Anggi memang cocok aja secara tingginya hampir sama."

"Kamu itu kalau ngomong. Ya kali mami mau dia sama mereka berdua."

"Terus siapa?" tanya Lucas malas dengan menatap sang mami, seketika membelalakkan matanya melihat tatapan sang mami "Aku? Mami yang benar aja? Aku udah ada Poppy. Anggi pastinya sudah ada cowok, mi. Kenapa nggak mami nikahin sama Leo aja? Mereka pasti cocok."

"Mami maunya kamu, biar kamu nggak Poppy-Poppy melulu."

"Mami tega jadikan Anggi pelampiasan? Alat? Mami kan sayang sama Anggi." Lucas masih dengan tujuan menolak permintaan sang mami.

"Mami yakin kalau kamu akan mencintai dia setelah tahu buruknya Poppy." Tania mengatakan dengan nada misterius.

"Aku tetap dengan pendirian untuk mengajak Poppy menikah, aku nggak peduli sama persetujuan mami dan papi." Lucas masih dengan pendiriannya "Pasti mami mencari-cari bukti buruknya Poppy dan aku yakin nggak ada."

"Kalau mami dapat dan benar, kamu menikah sama Anggi."

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Gadis Kecil   32

    "Kita nggak bisa begini terus, Ky." Kedatangan orang tua mereka berdua seketika memberikan hawa segar, setidaknya pembicaraan tentang perjodohan terhenti. Orang tua mereka berdua sangat menyadari jika mereka tidak akan bersatu, apalagi Zaky yang sudah siap dengan hubungan serius dengan kekasih. "Bu, terus gimana?" Zaky menatap sang ibu yang hanya diam. "Bunda..." Anggi merengek dengan menatap sang bunda. "Bunda nanti yang bicara sama nenek." "Aku bantuin, Ma." Ibunya Zaky membuka suaranya "Kamu benar mau lamar cewekmu?" Zaky menganggukkan kepalanya penuh keyakinan "Ya udah nanti kita bicara sama nenek. Anggi sudah punya calon?" "Sudah, bu. Kakaknya Leo." Zaky membuka suara yang langsung mendapatkan cubitan dari Anggi. "Lucas? Bukannya dia punya kekasih?" Rahma menatap sang anak penuh dengan tanda tanya. "Udah putus, bun." Anggi menjawab langsung "Bahas masalah

  • Gadis Kecil   31

    "Kamu begini buat aku pengen nikah aja. Gimana kalau aku lamar kamu ke ayah?" "Nggak usah aneh-aneh, bang. Lagian ini juga masak sederhana." Menatap hidangan yang ada diatas meja. Anggi memasak makanan rumahan, masakan yang biasa dinikmati ketika berada dirumah orang tua. Sayur kelor, bakwan jagung dan tempe goreng. Menelan saliva melihat makanan diatas meja, menatap Anggi yang menata piring di meja."Bukannya kamu tadi di cafe sama Zee?" Anggi menggelengkan kepalanya "Aku tadi ke Karawang sebentar, habis itu balik pusat buat nyerahin laporan. Milih pulang karena memang jam kerja selesai, ayah sama Om Rifat yang kasih aku kebebasan mengenai jam kerja. Disini nggak ada yang dikerjakan akhirnya milih masak ini semua, makanan sederhana. Abang suka masakan rumahan, apalagi kalau ada sayuran." "Kamu tahu banyak tentang aku." Lucas menganggukkan kepalanya, sedikit menyesal karena tidak tahu tentang Anggi "Masalah cafe gimana?" "Se

  • Gadis Kecil   30

    "Jahat nggak sih?" "Biarin! Biar tahu dia gimana susahnya dapatin kamu." "Astaga! Kalian memang saudara yang kurang ajar." Anggi menggelengkan kepala mendengar jawaban Endi."Zee, kamu nggak mau belain abang?" Zee menggelengkan kepalanya, Anggi hanya bisa menghela napas panjang melihat jawaban Zee dalam menjawab pertanyaan Leo "Kamu itu paling nggak suka kalau abang dikerjain, lebih pilih abang daripada aku." "Abang selalu belain aku, kamu sama Endi yang ada nggodain aku." Zee menatap malas kearah Leo yang seketika tertawa. "Kamu suka sama abang, Nggi? Aku sih selama kamu bahagia pastinya aku juga akan bahagia." Endi memberikan tatapan serius kearah Anggi yang memilih diam sambil mendengarkan pembicaraan tidak penting mereka."Anggi itu udah lama suka sama abang, cuman milih diam." Leo menaik turunkan alisnya."Nggak! Mana ada aku suka sama abang." Anggi menatap tajam Leo yang memberikan senyuman menggoda."

  • Gadis Kecil   29

    "Abang nggak takut kalau mantan abang itu berbuat lebih nekat dari kemarin?" "Aku nggak yakin dia akan melakukan itu." Lucas mengatakan sedikit ragu."Mungkin bukan dia, tapi seseorang dibelakangnya." "Kamu tahu sesuatu?" Lucas memicingkan matanya kearah Anggi.Anggi berdecih pelan melihat reaksi Lucas "Aku hanya menduga, bang. Kalau papi sampai bilang begitu pastinya ada yang harus di waspadai, makanya kalau sama papi jangan debat dan merebutkan mami aja." "Besok kalau kita punya anak juga nggak mau kamu lebih perhatian sama anak kita." "Astaga, abang! Mikirnya udah kearah sana, padahal belum tentu sampai kearah sana. Ingat aku hanya memberi kesempatan bukan udah kearah sana." Anggi menggelengkan kepala."Kita ciuman di ruangan Raka itu statusnya udah berubah, lupa? Bukan kesempatan lagi, tapi arah yang serius." Anggi menatap tidak percaya sambil menggelengkan kepalanya "Kamu setuju atau nggak!" Lucas menggenggam ta

  • Gadis Kecil   28

    "Raka bilang ini bohong, pi. Raka udah tanya sama rumah sakit disana, dokter yang memberi pernyataan itu nggak ada." "Kamu sudah tahu dia gimana, kan? Ini baru permulaan, papi yakin masih ada yang lain nantinya." "Aku nggak nyangka dia begitu, pi." Lucas menggelengkan kepalanya mengingat sang mantan kekasih."Dia dipaksa sama pamannya." "Maksudnya, pi?" Lucas menatap penasaran."Nggak penting." Wijaya menggelengkan kepalanya "Kamu adalah orang yang mudah sekali kasihan, jadi lebih baik nggak tahu tentang ini." "Pi, apa yang papi lakukan ini buat aku penasaran. Papi nggak mau aku cari semua sendiri, kan? Papi tahu kalau aku..." "Tahu dan sangat tahu." Wijaya memotong kalimat Lucas "Papi mengenal kamu luar dalam, jadi nggak perlu bicara seakan papi nggak paham kamu. Apa yang papi lakukan ini demi buat kamu dan sangat tahu bagaimana kamu dalam bersikap dan bertindak." Menyadari apa yang dikatakan papinya adal

  • Gadis Kecil   27

    "Ada apa?" "Kamu nggak kangen sama aku?" Lucas mengangkat salah satu alisnya mendengar kalimat yang keluar dari bibir Poppy.Menemui Poppy sebelum memulai aktivitas dilakukan dengan sangat malas, wanita ini menghubungi dengan nomer lain setelah sebelumnya nomernya tidak mendapat tanggapan sama sekali. Kalimat ancaman yang seketika membuatnya menyetujui pertemuan, mungkin hampir satu bulan mereka tidak saling berhubungan."Katakan tujuan pertemuan ini." Lucas berkata dengan nada datar."Aku hamil." Lucas memicingkan matanya "Lalu?""Kamu harus tanggung jawab." Poppy berkata dengan nada sedih, tangannya membelai perut perlahan dan secara otomatis Lucas menatap apa yang dilakukan Poppy."Bagaimana kamu yakin itu anakku? Kamu sendiri melakukan bukan hanya sama aku, berapa pria yang sudah menikmati tubuhmu? Lagian kita sudah nggak berhubungan hampir satu bulan, jadi?" "Kamu nggak percaya?" Poppy mengeluarkan amplo

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status