Masuk"Kenapa, sayang?"
Lucas menatap Poppy lembut, beranjak dari atas tubuhnya untuk melepas pengaman dengan membuangnya ke tempat sampah, masuk kedalam kamar mandi membersihkan diri terlebih dahulu. "Kamu kaya banyak pikiran, ada masalah di kantor?" Poppy menatap lembut kearah Lucas yang keluar dari kamar mandi. "Nggak ada, biasa debat sama papi." Lucas tidak mungkin mengatakan sebenarnya, kalimat maminya di pertemuan kemarin masih membuatnya tidak percaya. Lucas tahu jika apa yang dikatakan maminya bukan hal main-main, semuanya bisa saja terbukti dengan sendirinya. Hubungannya dengan Poppy sudah berjalan cukup lama, saat ini memikirkan untuk ke hubungan yang lebih serius, tapi nyatanya tidak bisa dilakukan karena kedua orang tuanya. "Debat apaan sampai begini? Bukannya kalian biasa debat?" "Ya...begitulah." Lucas memilih mengangkat bahu tanda tidak ingin membahas perdebatan mereka "Kamu besok sampai jam berapa?" "Biasanya, kamu pasti mau kesini?" Poppy tidak ingin memaksa untuk tahu. "Ya, lihat besok. Aku kabarin nanti kalau mau kesini." Lucas melumat bibir Poppy lembut "Kalau ada apa-apa hubungi langsung, aku pulang. Jaga diri dan ketemu besok." "Nggak tidur sini?" Lucas menggelengkan kepalanya "Ya sudah hati-hati. Jangan lupa beli pengaman." Lucas menganggukkan kepalanya dengan memberikan tanda ok sambil jalan. Berjalan meninggalkan Poppy menuju apartemennya, bisa saja dirinya tidak pulang tapi ternyata maminya mempunyai strategi. Tidak tahu sejak kapan Anggi pindah ke unit sebelah apartemennya, Lucas baru tahu jika Anggi masuk ke perusahaan milik keluarganya. Anggi langsung di interview papi dan Rifat, jadi pastinya berada di kantor pusat bersama dengannya. "Abang darimana?" Lucas hampir saja mengumpat ketika mendengar suara dari samping "Bukan urusan kamu." "Aku cuman tanya." Anggi mengatakan dengan santai sambil mengangkat bahu dan menutup pintu. "Kamu mau kemana?" Lucas menatap penampilan Anggi dengan celana pendek dan hodie. "Bukan urusan abang," jawab Anggi dengan nada yang sama lalu meninggalkan Lucas begitu saja. Menatap punggung Anggi yang sudah menjauh, mengalihkan tatapannya kearah tangan dan hembusan napas kesal dikeluarkan saat melihat waktu yang cukup malam. Berlari sedikit mengejar Anggi yang untungnya tidak terlalu jauh, melakukan ini karena sudah menganggap Anggi sama dengan Zee. "Abang mau ngapain?" Anggi mengerutkan kening melihat Lucas disampingnya. "Menemani kamu, nggak baik cewek keluar sendirian pas malam." Anggi mencibir kalimat Lucas "Aku sudah biasa jalan sendirian, bang. Abang tanya aja sama Leo dan Zee." Memilih tidak menanggapi, jika dirinya menanggapi akan semakin tidak berhenti. Anggi ini tidak jauh berbeda dengan Zee dan sang mami, yaitu berisik. Sedikit bersyukur karena setelahnya Anggi hanya diam, beberapa kali melihat dari sudut matanya tampak menghubungi seseorang. Anggi melangkah semakin cepat, Lucas yang melihatnya mengerutkan keningnya tapi mengikuti dari belakang dengan jarak aman. Matanya semakin menyipit melihat Anggi bersama dengan seorang pria, tampaknya dirinya tidak pernah melihat pria itu bersama kedua adiknya. Mengambil ponsel dan memotret pertemuan mereka, nanti akan ditanyakan ke Leo atau Zee tentang pria tersebut. Pertemuan mereka hanya berjalan singkat, Lucas berjalan mendekat setelah memastikan pria tersebut pergi, teriakan Anggi mengejutkannya ditambah pukulan ringan di lengan yang membuat Lucas menatap tajam. "Abang kenapa ngagetin?" Anggi menatap Lucas tajam. Lucas hanya mengangkat bahu "Teman kamu? Aku nggak pernah lihat dia sama Leo dan Zee?" Anggi memicingkan matanya "Bukan urusan abang." Lucas mengangkat sudut bibirnya "Kalau gitu mulai sekarang urus masalah sendiri-sendiri." Anggi meninggalkan Lucas begitu saja menuju salah satu supermarket yang ada didekat apartemen, melihat sikap Anggi membuat Lucas berdecak kecil. Gadis kecil itu memang dari dulu membuat kesabarannya hilang, padahal ketika bersama dengan Leo dan Zee dia tidak seperti sekarang. Mengikuti Anggi ketika mengingat pengaman yang dimilikinya sudah hampir habis, tidak ingin melakukan tanpa pengaman di tengah permasalahan dengan kedua orang tuanya tentang Poppy. "Abang beli apa ini? Aku bilang sama mami kalau abang beli beginian." Lucas menatap tajam kearah Anggi yang mengatakan tanpa beban. "Bukannya kamu bilang tadi kalau urus-urusan masing-masing, jadi kenapa masih disini?" Lucas mengangkat sudut matanya. "Memang, tapi mami minta tolong buat awasin abang jangan sampai kebablasan. Aku nggak peduli abang mau melakukan apa, tapi jangan buat mami sedih. Melihat mami sedih sama kaya melihat bunda sedih, aku nggak suka." Lucas terdiam mendengar kalimat yang keluar dari mulut kecil Anggi, menatap dalam kedua matanya yang jernih dimana tampak ketulusan disana, mengalihkan pandangan saat merasakan sesuatu yang tidak baik-baik saja di hatinya. Meletakkan pengaman di tempatnya kembali, berjalan meninggalkan Anggi dengan berpindah kearah minuman. Menyadari satu hal keberadaan Anggi disini adalah untuk membatasi ruang geraknya, kedua orang tuanya berusaha agar dirinya tidak bersama dengan Poppy. Tampaknya harus mencari cara agar Anggi tidak mengganggu dirinya jika nanti bersama Poppy, atau tidak melaporkan pada orang tuanya. Menunggu Anggi diluar yang sedang membayar pesanan, suara pintu membuat Lucas melihat kearahnya. Anggi keluar dengan membawa dua tas belanja, melihatnya kesulitan secara otomatis Lucas mengambil tas belanja keduanya. Berjalan dalam keheningan, beberapa kali Lucas melirik Anggi dari sudut matanya dimana tampak melihat sekeliling. "Abang tahu apa yang menjadi keinginanku?" Anggi mengeluarkan suara yang tidak dijawab Lucas "Aku ingin seperti mami dan bunda, walaupun nggak kerja tapi dibutuhkan sama suaminya. Bukan hanya mengurus rumah, tapi ketika ada masalah di pekerjaan." "Kenapa kamu kerja di pusat? Kamu melamar disana?" Lucas penasaran dengan keberadaan Anggi disana. "Kalau nggak melamar gimana bisa keterima, abang suka aneh." Anggi menggelengkan kepalanya "Aku melamar karena ada posisi yang kosong, memang abang nggak tahu?" Lucas memang tidak tahu tentang masalah kepegawaian, dirinya baru belajar hal dasar dan sekarang pun diletakkan di bagian penasaran "Bagaimana sampai papi dan Om Rifat yang interview kamu?" "Aku nggak tahu, mereka adalah orang terakhir yang aku temuin." Lucas tahu jika pegawai itu sampai ketemu kedua orang itu artinya pegawai tersebut akan diletakkan di kantor pusat, langkah mereka sudah sampai pintu unit masing-masing. Lucas sama sekali tidak menyangka jika kedua orang tuanya sampai merencanakan ini semua, bahkan tempat tinggal berdekatan. "Siapa yang nyuruh kamu disini?" tanya Lucas penasaran. "Mami kasih informasi ke bunda, terus kesini dan bunda setuju." Anggi membuka pintu, menatap Lucas dengan tatapan penuh ancaman "Abang masuk sana! Aku mau mastikan abang masuk kedalam." Lucas membelalakkan matanya "Kenapa malah ngatur? Harusnya kamu yang masuk dulu." "Mami bilang abang suka bandel, keluar malam yang nggak jelas dan aku harus mengawasi abang kalau sampai melakukan hal diluar jalur. Contohnya abang tadi udah mau beli yang nggak-nggak." Anggi menatap tajam kearah Lucas. BRAK"Kita nggak bisa begini terus, Ky." Kedatangan orang tua mereka berdua seketika memberikan hawa segar, setidaknya pembicaraan tentang perjodohan terhenti. Orang tua mereka berdua sangat menyadari jika mereka tidak akan bersatu, apalagi Zaky yang sudah siap dengan hubungan serius dengan kekasih. "Bu, terus gimana?" Zaky menatap sang ibu yang hanya diam. "Bunda..." Anggi merengek dengan menatap sang bunda. "Bunda nanti yang bicara sama nenek." "Aku bantuin, Ma." Ibunya Zaky membuka suaranya "Kamu benar mau lamar cewekmu?" Zaky menganggukkan kepalanya penuh keyakinan "Ya udah nanti kita bicara sama nenek. Anggi sudah punya calon?" "Sudah, bu. Kakaknya Leo." Zaky membuka suara yang langsung mendapatkan cubitan dari Anggi. "Lucas? Bukannya dia punya kekasih?" Rahma menatap sang anak penuh dengan tanda tanya. "Udah putus, bun." Anggi menjawab langsung "Bahas masalah
"Kamu begini buat aku pengen nikah aja. Gimana kalau aku lamar kamu ke ayah?" "Nggak usah aneh-aneh, bang. Lagian ini juga masak sederhana." Menatap hidangan yang ada diatas meja. Anggi memasak makanan rumahan, masakan yang biasa dinikmati ketika berada dirumah orang tua. Sayur kelor, bakwan jagung dan tempe goreng. Menelan saliva melihat makanan diatas meja, menatap Anggi yang menata piring di meja."Bukannya kamu tadi di cafe sama Zee?" Anggi menggelengkan kepalanya "Aku tadi ke Karawang sebentar, habis itu balik pusat buat nyerahin laporan. Milih pulang karena memang jam kerja selesai, ayah sama Om Rifat yang kasih aku kebebasan mengenai jam kerja. Disini nggak ada yang dikerjakan akhirnya milih masak ini semua, makanan sederhana. Abang suka masakan rumahan, apalagi kalau ada sayuran." "Kamu tahu banyak tentang aku." Lucas menganggukkan kepalanya, sedikit menyesal karena tidak tahu tentang Anggi "Masalah cafe gimana?" "Se
"Jahat nggak sih?" "Biarin! Biar tahu dia gimana susahnya dapatin kamu." "Astaga! Kalian memang saudara yang kurang ajar." Anggi menggelengkan kepala mendengar jawaban Endi."Zee, kamu nggak mau belain abang?" Zee menggelengkan kepalanya, Anggi hanya bisa menghela napas panjang melihat jawaban Zee dalam menjawab pertanyaan Leo "Kamu itu paling nggak suka kalau abang dikerjain, lebih pilih abang daripada aku." "Abang selalu belain aku, kamu sama Endi yang ada nggodain aku." Zee menatap malas kearah Leo yang seketika tertawa. "Kamu suka sama abang, Nggi? Aku sih selama kamu bahagia pastinya aku juga akan bahagia." Endi memberikan tatapan serius kearah Anggi yang memilih diam sambil mendengarkan pembicaraan tidak penting mereka."Anggi itu udah lama suka sama abang, cuman milih diam." Leo menaik turunkan alisnya."Nggak! Mana ada aku suka sama abang." Anggi menatap tajam Leo yang memberikan senyuman menggoda."
"Abang nggak takut kalau mantan abang itu berbuat lebih nekat dari kemarin?" "Aku nggak yakin dia akan melakukan itu." Lucas mengatakan sedikit ragu."Mungkin bukan dia, tapi seseorang dibelakangnya." "Kamu tahu sesuatu?" Lucas memicingkan matanya kearah Anggi.Anggi berdecih pelan melihat reaksi Lucas "Aku hanya menduga, bang. Kalau papi sampai bilang begitu pastinya ada yang harus di waspadai, makanya kalau sama papi jangan debat dan merebutkan mami aja." "Besok kalau kita punya anak juga nggak mau kamu lebih perhatian sama anak kita." "Astaga, abang! Mikirnya udah kearah sana, padahal belum tentu sampai kearah sana. Ingat aku hanya memberi kesempatan bukan udah kearah sana." Anggi menggelengkan kepala."Kita ciuman di ruangan Raka itu statusnya udah berubah, lupa? Bukan kesempatan lagi, tapi arah yang serius." Anggi menatap tidak percaya sambil menggelengkan kepalanya "Kamu setuju atau nggak!" Lucas menggenggam ta
"Raka bilang ini bohong, pi. Raka udah tanya sama rumah sakit disana, dokter yang memberi pernyataan itu nggak ada." "Kamu sudah tahu dia gimana, kan? Ini baru permulaan, papi yakin masih ada yang lain nantinya." "Aku nggak nyangka dia begitu, pi." Lucas menggelengkan kepalanya mengingat sang mantan kekasih."Dia dipaksa sama pamannya." "Maksudnya, pi?" Lucas menatap penasaran."Nggak penting." Wijaya menggelengkan kepalanya "Kamu adalah orang yang mudah sekali kasihan, jadi lebih baik nggak tahu tentang ini." "Pi, apa yang papi lakukan ini buat aku penasaran. Papi nggak mau aku cari semua sendiri, kan? Papi tahu kalau aku..." "Tahu dan sangat tahu." Wijaya memotong kalimat Lucas "Papi mengenal kamu luar dalam, jadi nggak perlu bicara seakan papi nggak paham kamu. Apa yang papi lakukan ini demi buat kamu dan sangat tahu bagaimana kamu dalam bersikap dan bertindak." Menyadari apa yang dikatakan papinya adal
"Ada apa?" "Kamu nggak kangen sama aku?" Lucas mengangkat salah satu alisnya mendengar kalimat yang keluar dari bibir Poppy.Menemui Poppy sebelum memulai aktivitas dilakukan dengan sangat malas, wanita ini menghubungi dengan nomer lain setelah sebelumnya nomernya tidak mendapat tanggapan sama sekali. Kalimat ancaman yang seketika membuatnya menyetujui pertemuan, mungkin hampir satu bulan mereka tidak saling berhubungan."Katakan tujuan pertemuan ini." Lucas berkata dengan nada datar."Aku hamil." Lucas memicingkan matanya "Lalu?""Kamu harus tanggung jawab." Poppy berkata dengan nada sedih, tangannya membelai perut perlahan dan secara otomatis Lucas menatap apa yang dilakukan Poppy."Bagaimana kamu yakin itu anakku? Kamu sendiri melakukan bukan hanya sama aku, berapa pria yang sudah menikmati tubuhmu? Lagian kita sudah nggak berhubungan hampir satu bulan, jadi?" "Kamu nggak percaya?" Poppy mengeluarkan amplo