MasukSuasana lorong masih membeku saat Jhon kembali.
Langkahnya berhenti ketika melihat Nares. Tangan pria itu sudah diperban, tapi wajahnya lebih menyeramkan dari sebelumnya. Amarahnya tidak lagi meledak. Namun wajahnya ketara menahan sesuatu. “Tuan… Nyonya,” ucap Jhon pelan. Semua mata menoleh. Jhon menarik napas dalam. “Saya sudah menelusuri lokasi pertama tempat Nona Anya ditemukan,” katanya. “Dan… saya mendapatkan rekaman CCTV.” Ia mengulurkan ponselnya pada Nares. Ada dua video. Nares mengambil ponsel itu tanpa bicara. Amanda berdiri di sampingnya. Kakek Dito mendekat, berdiri tegak dengan wajah dingin. Jhon memejamkan mata. Ia sudah melihatnya lebih dulu. Dan ia tahu, keluarga ini tak akan sama setelah ini. Video pertama diputar. Layar menampilkan sisi belakang gedung acara. Anya terlihat diseret keluar oleh seorang pria. Suara tak terdengar jelas, tapi gerak bibir mereka terbaca. Anya melepaskan tangannya dengan paksa. "Lepas. Sakit, tahu." Pria itu menjawab dingin. "Sudah aku bilang, menyerah." "Untuk apa aku menyerah? Ini mimpiku," balas Anya. Nares menegang. Pria itu menunjuk wajah Anya. "Kamu itu cuma gadis manja yang gak berbakat. Kamu pikir pantas bersaing sama Rania?" Amanda menutup mulutnya. Napasnya tertahan. Anya menyilangkan tangan di dada. Wajah merajuk itu wajah yang sangat mereka kenal. "Bersaing ya bersaing aja. Kalau berani. Kenapa aku harus menyerah?" Anya menghentakkan kaki dan berusaha pergi. Pria itu menahannya. "Cukup, Anya. Jangan ganggu kebahagiaan Rania. Biarkan dia menang. Dia lebih pantas." Detik berikutnya, beberapa motor masuk ke frame. Mengelilingi mereka. Anya refleks mundur, berdiri di belakang pria itu. Tubuhnya terlihat kecil. Ketakutan. "Siapa mereka?" Salah satu dari mereka turun. "Revaldo… jadi ini gadis yang kamu suka itu?" Pria bernama Revaldo maju selangkah. "Iya." Ia meraih tangan Anya dan mengangkatnya. "Dia gadis yang selalu aku perjuangkan" Amanda terisak pelan. “Itu bohong…” bisiknya. Anya terlihat kebingungan. "Kamu ngomong apa sih?" Namun geng motor itu tertawa. Salah satu mendekat. "Gila. Cantik banget, bro." Anya semakin bersembunyi di belakang Revaldo. "Jangan mendekat,jangan sentuh aku!." "Tenang aja," jawab pria itu. "Kita gak cuma bakal nyentuh." Tangan Anya ditarik paksa. "Lepasin! Apa salahku? Aku gak kenal kalian!" "Salahmu," jawab pria itu sambil menunjuk Revaldo, "jadi perempuan yang dia suka." Anya menggeleng kuat. "Gak! Kalian salah. Aku sama dia musuh. Dia gak pernah suka aku. Yang dia suka..." Anya belum selesai dengan kalimatnya... Revaldo memotong. "Sayang, tenang. Aku akan hadapi mereka." Amanda terhuyung. “Astaga…” Anya menatap Revaldo. Mulutnya bergerak. "Kamu sengaja…?" Revaldo membuang muka. Tubuh Anya diseret keluar frame. Revaldo dikeroyok di tempat. Video pertama berhenti. Lorong rumah sakit sunyi mencekam. Nares tidak bergerak. Rahangnya terkunci. Urat di lehernya menegang. Video kedua diputar. Rekaman dari jarak jauh, diambil dari belakang sebuah cafe sebrangnya. Sebuah bangunan setengah jadi yang terbengkalai. Anya terlihat dilempar ke lantai. Beberapa bayangan bergerak mendekat. Amanda langsung memalingkan wajah. Tangisnya pecah. “Cukup… cukup…” Dito mengangkat tangan. “Matikan.” Namun Nares sudah melihat cukup. BRUK! Ponsel itu dibanting ke lantai. Layarnya retak. Semua tersentak. Nares berdiri. Napasnya berat. Matanya hitam, kosong, tapi penuh niat membunuh. “Revaldo,” ucapnya pelan. Suaranya tenang, terlalu tenang. “Kau yang menyerahkan Anya, kau yang membuatnya seperti ini!.” Amanda jatuh terduduk. Bahunya bergetar. “Anakku… anakku…” isaknya pecah. “Dia cuma mau menari…” Dito melangkah maju. Wajahnya dingin, rahangnya mengeras. “Nama,” ucapnya pada Jhon. Jhon menegakkan tubuh. “Revaldo dan Geng motor Black Serpent. Beroperasi di wilayah timur.” Dito mengangguk sekali. “Musnahkan.” Nares menoleh. Tatapannya mematikan. “Aku mau mereka hidup,” katanya pelan. “Sampai aku selesai.” Jhon mengangguk pelan. Wajahnya tetap profesional, tapi matanya menyimpan kehati-hatian. “Saya sudah mengonfirmasi semuanya, Tuan,” ucapnya. “Revaldo bertindak untuk melindungi Rania.” Nares tak bereaksi. Tatapannya lurus ke depan. “Rania adalah saingan utama Nona Anya,” lanjut Jhon. “Bukan hanya di balet. Tapi dalam hal apa pun. Sejak lama Rania selalu menjadikan nona Anya sebagai ancaman.” Amanda yang masih terisak. Tangannya mencengkeram ujung bajunya. “Revaldo,” Jhon melanjutkan, “sengaja menyerahkan Nona Anya untuk melindungi Rania. Target sebenarnya geng itu adalah Rania. Dengan menjadikan nona Anya sebagai umpan, Revaldo mengalihkan perhatian mereka.” Dito menyipitkan mata. “Dan hubungan Anya dengan pria itu?” “Tidak pernah baik,” jawab Jhon jujur. “Revaldo selalu mencari masalah dengan Nona Anya. Alasannya satu, demi Rania.” Nares akhirnya bergerak. Ia berdiri. Perlahan. Aura di sekelilingnya berubah. “Geng motor itu?” tanyanya. “Musuh Revaldo,” jawab Jhon. “Mereka mengincar orang-orang terdekatnya.” Nares menoleh. Tatapannya dingin, tapi suaranya rendah. “Dahulukan Revaldo,” perintahnya. “Dan Rania.” Jhon mengangkat kepala. “Baik, Tuan.” Nares menyilangkan tangan. “Lomba itu,” katanya pelan. “Buat Rania menang.” Amanda tersentak. “Apa?” Nares tersenyum, senyum yang mengerikan. “Bukankah itu yang dia inginkan?” gumamnya. "Bisa menang.” Ia menatap lantai, lalu berujar rendah, hampir seperti bicara pada dirinya sendiri. “Maka akan kubuat dia menang.” Jhon langsung mengerti. Kemenangan palsu. Panggung palsu. Perasaan aman yang disengaja. Langkah pertama sebelum pintu neraka dibuka. “Saya paham,” ucap Jhon. “Kami akan atur hasilnya.” Dito mengangguk satu kali. “Aku percayakan semua padamu, Nares. Jangan buat aku kecewa. Beri mereka pelajaran yang setimpal!" Nares mengangkat wajahnya. Matanya hitam, tak berkilat. Wajahnya menyeramkan. "Aku tidak akan melepaskan mereka. Aku akan buat mereka memohon untuk mati!" Amanda menghapus air matanya. Dia tahu langkah yang diambil Nares akan berbahaya, namun dia juga mau keadilan untuk putrinya. "Lakukan dengan bersih!" ujar Amanda. ***Sepanjang perjalanan pulang, suasana di dalam mobil terasa begitu sunyi.Biasanya, Kiara akan terus berceloteh tanpa henti. Menceritakan kupu-kupu yang ia lihat di jalan, bentuk awan yang menurutnya menyerupai kelinci, atau sekadar bertanya hal-hal aneh yang membuat Anya tertawa.Sementara Kyan selalu punya sesuatu untuk dikeluhkan.Entah cuaca yang terlalu panas.Atau jalanan yang terlalu bergelombang.Namun hari ini tidak ada suara itu.Kyan dan Kiara duduk berdampingan di kursi belakang. Sesekali mereka saling melirik, lalu kembali menunduk.Mereka memang baru berusia empat tahun.Tetapi anak-anak sering kali mampu merasakan sesuatu yang tidak dapat dijelaskan oleh orang dewasa.Mereka melihat wajah ibunya yang pucat.Melihat jemari wanita itu mencengkeram setir terlalu erat hingga buku-buku jarinya memutih.Dan mereka tahu...Mama sedang tidak baik-baik saja.Perlahan, Kiara menggeser tangannya.Meraih jemari kecil Kyan.Kyan tidak berkata apa-apa.Ia hanya membalas genggaman itu.
Drama akhirnya mencapai bagian penutup.Kiara yang berperan sebagai kancil berdiri dengan kedua tangan di pinggang sambil berkata lantang,"Nah! Sekarang aku bisa menyeberang sungai!"Sementara para "buaya" kecil yang menjadi korban tipu dayanya langsung menjatuhkan diri ke lantai secara dramatis."Aduh!""Aku ditipu!""Jahat sekali kancil!"Salah satu anak bahkan lupa bahwa dirinya sudah kalah dan malah melambai ke arah ibunya di bangku penonton.Aula langsung pecah oleh tawa.Di sisi lain panggung, Kyan yang masih mengenakan kostum pohonnya akhirnya mengangkat tangan."Aku boleh duduk sekarang?"Seluruh aula meledak.Tepuk tangan dan gelak tawa menggema ke seluruh ruangan.Guru-guru sampai menahan wajah karena malu sekaligus gemas.Dan saat tirai ditutup...Tepuk tangan membahana.Sangat meriah.Semua orang berdiri.Bertepuk tangan untuk anak-anak yang tampil dengan begitu lucu.Bahkan tanpa sadar...Nares ikut bertepuk tangan.Beberapa kali.Tatapannya masih tertuju pada panggung y
Anya melirik jam dinding yang tergantung di ruang kerjanya.09.30.Ia mengembuskan napas panjang.Hari ini ia memang tidak bisa terus bekerja.Sejak seminggu lalu yayasan tempat Kyan dan Kiara belajar sudah mengirim undangan resmi kepada seluruh wali murid.Pemilik yayasan yang baru akan datang.Akan ada acara penyambutan.Dan yang paling penting...Kyan dan Kiara akan tampil dalam drama.Meskipun pekerjaan masih menumpuk, Anya tidak mungkin melewatkan momen itu.Ia mematikan mesin jahit lalu berdiri."Bu Susan."Wanita paruh baya itu segera menoleh dari meja pemotongan kain."Iya, Nona?""Saya harus ke yayasan."Susan langsung mengangguk."Oh iya, hari ini penampilan Kyan dan Kiara, kan?"Wajahnya langsung berseri-seri."Keduanya pasti lucu sekali."Anya tersenyum tipis.Ia lalu menunjuk beberapa pesanan yang sudah dipisahkan."Kalau ada pelanggan datang, tolong catat ukurannya.""Baik.""Dan paket yang ini dikirim sore nanti."Susan mengangguk cepat."Serahkan saja pada saya."Anya
Pagi itu, sebuah iring-iringan mobil hitam memasuki jalan utama sebuah kota kecil di pesisir.Di dalam mobil paling depan, Nares duduk sambil menatap layar tabletnya.Jhon yang duduk di sampingnya masih terlihat sedikit bingung.Sebenarnya sampai sekarang ia tidak mengerti keputusan atasannya."Tuan.""Hm."Jhon melirik dokumen di tangannya."Maaf jika lancang, tapi saya masih penasaran."Nares mengangkat sebelah alis."Penasaran apa?""Kenapa Tuan membeli yayasan ini?"Sunyi sesaat.Jhon memang sudah lama bekerja untuk Nares.Karena itulah ia tahu.Biasanya Nares tidak pernah mengambil keputusan tanpa alasan yang jelas.Namun kali ini berbeda.Beberapa minggu lalu, Nares secara tidak sengaja melihat sebuah iklan sederhana di internet.Iklan penggalangan dana untuk sebuah yayasan pendidikan anak-anak di kota kecil yang hampir tidak dikenal siapa pun.Bangunannya tua.Fasilitasnya terbatas.Donaturnya sedikit.Tidak ada keuntungan bisnis sama sekali.Namun anehnya...Saat melihat foto
Tiga bulan.Sembilan puluh hari.Dan tidak ada satu pun jejak Anya.Brak!Sebuah map melayang menghantam dinding ruang kerja.Kertas-kertas berhamburan ke lantai.Seluruh ruangan langsung membeku.Tidak ada seorang pun yang berani bernapas terlalu keras.Nares berdiri di belakang meja dengan wajah gelap.Tatapannya begitu dingin hingga membuat para bawahannya menundukkan kepala."Tiga bulan."Suaranya rendah.Namun justru itu yang membuat semua orang semakin takut."Tiga bulan dan kalian belum menemukan satu petunjuk pun?"Tidak ada yang menjawab.Karena memang tidak ada yang bisa dijawab.Nares tertawa kecil.Tawa yang sama sekali tidak mengandung humor."Kalian dibayar miliaran setiap tahun untuk apa?"Suara itu membuat beberapa orang refleks menegang."Apa aku harus mengajari kalian cara bekerja?"Seorang pria memberanikan diri maju."Tuan, kami sudah menyisir seluruh jalur transportasi yang mungkin digunakan Nona Anya.""Bandara.""Pelabuhan.""Terminal.""Stasiun.""Semuanya suda
Perjalanan panjang itu akhirnya berakhir menjelang sore. Kereta yang ditumpangi Anya berhenti di sebuah kota kecil yang jauh dari hiruk-pikuk kehidupan yang selama ini dikenalnya. Tidak ada gedung pencakar langit. Tidak ada jalan raya yang padat. Tidak ada wajah-wajah yang mungkin mengenal dirinya. Dan yang terpenting... Tidak ada Nares. Tidak ada Leon. Tidak ada Juan. Anya berdiri di tepi jalan kecil sambil menggenggam tangan Kyan dan Kiara. Angin laut berembus pelan membawa aroma asin yang khas. Tatapannya menyapu desa kecil di pinggiran kota itu. Tenang. Damai. Jauh dari semua luka yang selama ini mengejarnya. Di tempat inilah ia memutuskan untuk memulai kembali. Bukan sebagai wanita yang pernah dihancurkan masa lalu. Bukan sebagai seseorang yang terus diburu kenangan. Hanya sebagai seorang ibu. Ibu bagi Kyan dan Kiara. Dan itu sudah cukup. Beberapa menit kemudian. Mereka berhenti di depan sebuah rumah sederhana yang sebelumnya sudah dilihat Anya melalui agen
Keheningan menggantung di dalam mobil setelah ciuman itu. Tidak ada kata. Tidak ada tatapan. Hanya suara napas yang belum kembali teratur. Anya memalingkan wajah ke jendela, rahangnya mengeras. Nares menatap jalan tanpa benar-benar melihat apa pun. Lampu kota melintas seperti bayangan. Sesampai
Pesta topeng itu bergemuruh oleh tawa, musik, dan denting gelas. Lampu-lampu kristal berputar, memantulkan bayang-bayang wajah bertopeng yang menari. Hanya Anya yang berdiri kaku, seperti pulau sunyi di tengah lautan riuh. Pikirannya melayang ke satu nama. Nares… Tangannya mengepal di batang
Begitu melewati pintu aula, Anya langsung menepis tangan Juan dari lengannya. “Cukup,” ucapnya dingin tanpa menoleh. “Jangan salah paham.” Juan berhenti, tapi tidak tersinggung. Sama sekali tidak. Ia justru tersenyum kecil, seolah itu sudah ia duga sejak awal. “Kalau bukan karena Yulia,” lanj
Lorong kampus cukup ramai pagi itu. Anya berhenti di depan mading besar yang dipenuhi kertas warna-warni. Matanya terpaku pada satu pengumuman di tengah. PESTA TOPENG AKBAR Wajib membawa pasangan. Alis Anya terangkat tipis. “Pesta topeng?” gumamnya datar. Belum sempat ia beranjak, Emily mu







