LOGINDi dalam rumah besar itu, Azalea berdiri di depan wastafel kamar Carlos, menatap bayangannya sendiri di cermin dengan wajah kesal. Tanpa ragu, ia langsung membasuh bibirnya berkali-kali, seolah ingin menghapus jejak yang barusan terjadi.
“Gila…” gumamnya pelan, tangannya menggosok bibirnya lebih keras dari yang seharusnya. “Kenapa sih harus lo yang ambil bibir suci gue!”
Ia menghela napas panjang, masih diliputi rasa jengkel. Dalam kepalanya, ia terus memaki Carlos yang bahkan tidak sadar sudah melakukan hal yang membuatnya kacau seperti ini.
Setelah beberapa saat, Azalea mematikan keran dan melangkah keluar dari kamar mandi. Matanya langsung tertuju pada Carlos yang sudah terbaring di atas ranjang, tertidur lelap tanpa beban. Nafasnya teratur, wajahnya terlihat tenang seolah tidak terjadi apa-apa.
Melihat itu, rasa kesal Azalea justru semakin memuncak.
“Enak banget lo tidur!” gerutunya.
Ia berjalan mendekat, meraih bantal di samping Carlos, lalu tanpa ragu memukulkannya ke wajah pria itu.
“Nyebelin banget sih lo!” kesalnya pelan.
Carlos hanya bergumam tidak jelas, sedikit menggeser posisi tidurnya tanpa benar-benar terbangun.
Azalea mendengus, lalu menjatuhkan kembali bantal itu dengan kesal. Ia menatap Carlos beberapa detik, sebelum akhirnya menggeleng pelan dan berbalik pergi.
Ia membuka pintu kamar dan melangkah keluar.
Di luar kamar, terlihat seorang wanita paruh baya yang langsung menoleh saat melihat Azalea keluar.
“Tante…” sapa Azalea singkat.
Tante Sisca langsung tersenyum lega. “Azalea, terima kasih ya sudah cariin Carlos,” ucapnya hangat. “Tante dari tadi khawatir banget.”
Azalea hanya mengangguk kecil. “Dia udah tidur di kamar,” jawabnya singkat.
Tante Sisca menghela napas lega. “Syukurlah. Besok hari penting… kalau dia nggak pulang, bisa-bisa papanya marah besar.”
Azalea tidak banyak bicara, hanya mengangguk lagi tanda mengerti.
“Sebentar ya,” ujar Tante Sisca, lalu berjalan ke arah meja dan mengambil sebuah kotak. Ia kembali dan menyerahkannya pada Azalea. “Ini, kue lapis. Tolong kasih ke mama kamu, ya. Tante baru bikin tadi.”
Azalea menerima kotak itu. “Iya, Tante. Nanti aku kasih ke Mama.”
“Salam ya buat Rose,” tambah Tante Sisca dengan senyum hangat.
“Iya,” jawab Azalea singkat.
Tanpa banyak basa-basi, Azalea pun pamit dan melangkah keluar dari rumah besar itu.
***
Rumah Azalea berdiri tepat di samping rumah Carlos. Ia membuka pintu pelan, disambut suasana hening yang menenangkan. Lampu ruang tamu redup, menandakan orangtuanya sudah beristirahat.
Azalea melangkah masuk tanpa suara, menaruh kotak kue dari Tante Sisca di atas meja. Ia langsung berjalan menuju kamarnya.
Begitu pintu terbuka, aroma khas buku langsung menyambutnya. Rak-rak penuh buku berjajar rapi, meja belajar dipenuhi catatan. Azalea menjatuhkan tubuhnya ke kursi, menghembuskan napas panjang. Tangannya terangkat tanpa sadar, menyentuh bibirnya sendiri.
Seketika, bayangan kejadian tadi muncul begitu jelas. Tubuhnya yang jatuh. Jarak yang terlalu dekat. Dan bibirnya yang menyentuh bibir Carlos. Hangat, lembut dan begitu mendebarkan.
Ia langsung menegakkan tubuhnya.
“Ah, sial…” gumamnya pelan, wajahnya memanas. Ia menggeleng keras, berusaha mengusir pikiran itu, tapi justru semakin terasa nyata.
Azalea berdiri, berjalan mondar-mandir kecil di kamarnya dengan gelisah. “Itu kecelakaan. Cuma kecelakaan,” katanya meyakinkan diri sendiri.
Namun entah kenapa, jantungnya masih berdetak tidak beraturan. Ia berhenti, menatap kosong ke arah meja, lalu perlahan wajah kesalnya kembali muncul.
“Berani banget dia…” gerutunya.
Tangannya mengepal kuat, matanya menyipit penuh tekad.
“Besok gue harus bales dia,” lanjutnya penuh amarah.
Azalea menarik napas dalam, lalu menjatuhkan dirinya ke tempat tidur. Ia menatap langit-langit kamar, mencoba menenangkan pikirannya. Tapi dia hanya bisa menendang-nendang udara melampiaskan kekesalannya.
***
Paginya, Carlos masih terlelap, tapi senyum tipis terukir di wajahnya. Dalam tidurnya, ia merasakan sesuatu yang lembut menyentuh bibirnya, ringan seperti kapas, hangat, dan entah kenapa terasa nyata.
Aroma asing yang samar memenuhi indra penciumannya. Bukan parfum yang biasa ia kenal, bukan juga aroma dari siapa pun yang pernah dekat dengannya. Sesuatu yang sederhana, tapi justru membekas.
Lalu, di dalam mimpinya, muncul wajah Azalea. Carlos semakin tenggelam dalam sensasi itu, tanpa sadar membalas sentuhan yang terasa begitu nyata.
Namun seketika, matanya terbuka. Ia terbangun dengan napas sedikit memburu, menatap langit-langit kamar dengan bingung. Beberapa detik berlalu sebelum ia mengerjap cepat, mencoba mencerna apa yang baru saja ia alami.
“Apaan barusan…” gumamnya pelan.
Carlos langsung duduk, mengusap wajahnya kasar, lalu menepuk-nepuk pipinya sendiri.
“Bangun, bego… sadar…” katanya pada dirinya sendiri, mencoba menghilangkan bayangan yang masih tersisa.
Ia menggeleng pelan, tapi wajah Azalea justru semakin jelas terlintas di kepalanya. Membuatnya semakin tidak nyaman.
Belum sempat ia berpikir lebih jauh, suara ketukan pintu terdengar.
Tok tok tok.
“Carlos?” suara Sisca terdengar dari luar. “Bangun! Cepat siap-siap. Acaranya sebentar lagi mulai!”
Carlos menghela napas panjang, lalu menjawab dengan suara setengah malas, “Iya, Ma… aku bangun!”
***
Halaman rumah Carlos siang itu menjelma menjadi area pesta yang memancarkan kemewahan tanpa cela. Taman luas dengan rumput hijau terawat dipadukan dengan dekorasi elegan. Meja-meja panjang berlapis taplak putih premium, rangkaian bunga segar berwarna lembut di setiap sudut. Para pelayan berseragam rapi bergerak sigap, membawa nampan berisi hidangan kelas atas dan minuman eksklusif untuk para tamu.
Bukan tamu sembarangan yang hadir. Satu per satu mobil mewah berhenti di depan gerbang, menurunkan para pengusaha ternama, pejabat penting, hingga relasi bisnis kelas atas yang datang dengan penampilan berkelas. Percakapan yang terdengar bukan sekadar basa-basi, melainkan diskusi ringan tentang bisnis, investasi, dan kerja sama besar.
Carlos duduk di salah satu meja, memegang cangkir teh madu yang sesekali ia teguk pelan. Wajahnya masih sedikit pucat, sisa mabuk semalam belum sepenuhnya hilang. Meski begitu, ia tetap terlihat rapi dalam kemeja formal yang pas di tubuhnya.
“Kenapa sih gue minum segitu banyak semalam,” gumamnya pelan, memijat pelipisnya.
Tak lama, perhatian Carlos teralihkan ketika ia melihat keluarga yang sangat familiar memasuki halaman. Rose dan Bryan melangkah masuk dengan sikap sederhana namun tetap berkelas. Bryan menghampiri Tommy dengan senyum hormat, menjabat tangannya dengan hangat.
“Selamat ulang tahun, Presdir,” ucap Bryan sopan.
Tommy langsung tertawa kecil, menggeleng pelan sambil menepuk bahu Bryan. “Ah, sudah-sudah, Bryan. Di sini nggak usah pakai panggilan begitu,” katanya santai. “Kita ini teman, bukan atasan dan bawahan.”
Bryan tersenyum, sedikit mengangguk mengerti. “Baik… Tommy,” balasnya, meski tetap terdengar canggung.
Di belakang mereka Azalea mengenakan gaun selutut yang sederhana namun manis, memperlihatkan sisi feminin yang jarang terlihat. Rambut pendeknya bahkan dihiasi pita kecil, membuat penampilannya terasa berbeda.
Carlos hampir saja tersedak teh yang diminumnya. Ia menatapnya beberapa detik, lalu tiba-tiba tertawa kecil.
Azalea yang menyadari itu langsung melotot tajam ke arahnya. “Apaan sih lo?” bisiknya kesal saat mendekat.
Carlos masih menahan tawa. “Lo… pake pita?” katanya setengah tidak percaya.
“Diam lo,” balas Azalea cepat, menahan kesal. “Terpaksa tau!”
Carlos menggeleng pelan, masih tersenyum. “Aneh aja liatnya.”
Azalea mendengus, lalu duduk di kursi dekat meja itu tanpa peduli lagi pada komentar Carlos. Ia mengambil sepotong cake dari meja dan mulai memakannya dengan santai.
Carlos memperhatikannya tanpa sadar. Ada sesuatu yang terasa berbeda. Bukan cuma penampilannya, tapi cara ia melihat Azalea hari itu.
Azalea menggigit sedikit cake dengan krim di atasnya. Tanpa ia sadari, sedikit krim tertinggal di sudut bibirnya.
Carlos yang melihat itu mengangkat alis. Ia tidak mengatakan apa-apa. Tanpa berpikir panjang, ia mengulurkan tangannya.
Dengan santai, ibu jarinya menyentuh sudut bibir Azalea, menghapus krim yang tertinggal di sana.
Sentuhan itu singkat. Namun cukup untuk membuat waktu terasa berhenti. Azalea langsung terpaku, matanya melebar. Tubuhnya kaku, napasnya tertahan.
Carlos juga terdiam. Baru beberapa detik setelahnya ia menyadari apa yang ia lakukan. Jempolnya masih menyentuh bibir Azalea. Keduanya saling menatap dalam diam. Entah kenapa tiba-tiba ada perasaan yang terasa berbeda.
Azalea berlari keluar dari kamarnya sambil merapikan rambutnya yang masih sedikit berantakan. Wajahnya terlihat panik.Langkahnya cepat menuruni tangga rumah. Di ruang makan, Rose dan Bryan sedang menikmati sarapan pagi seperti biasa.Ada nasi goreng, telur dadar, dan teh hangat di atas meja. Rose yang sedang menuang teh langsung menoleh.Bryan juga ikut mengangkat kepala. Keduanya tampak heran.“Loh?”“Bukannya kamu tidur di rumah Carlos? Kenapa keluar dari kamar?” tanya Rose bingung.Azalea bahkan tidak sempat duduk. “Nanti aja jelasinnya, Bu. Aku harus ke rumah sakit sekarang.”Rose dan Bryan langsung saling pandang. “Rumah sakit?”
Azalea langsung mendesah panjang. “Emangnya kenapa?”Mike berkedip bingung.Azalea menatapnya datar. “Nggak boleh gue udah terbiasa sama hal begitu?”Mike langsung terdiam.Azalea melanjutkan santai. “Lo sama Leon juga pasti udah sering kan?”Wajah Mike langsung memerah.“AZALEA!”Azalea malah terkekeh kecil melihat reaksinya.“Apaan?”Mike menutup wajahnya sebentar.“Bukan gitu maksud gue. Sumpah.” Ia menghela napas panjang.“Gue cuma nggak nyangka aja.”Azalea yang tadinya bercanda perlahan kembali terdiam. Ia tahu Mike tidak sedang menghakiminya. Pria itu memang hanya terkejut.Namun tetap saja membahas semua itu membuat Azalea kembali teringat pada Carlos. Dan itu membuat dadanya terasa tidak nyaman.Akhirnya ia berdiri dari sofa. “Ya udahlah. Nggak usah dibahas lagi.”Mike memperh
Mobil Mike akhirnya berhenti tepat di depan rumah Azalea. Lampu jalan menerangi dua rumah yang berdampingan itu. Rumah Azalea yang sederhana. Dan rumah Carlos yang jauh lebih besar dan mewah tepat di sebelahnya.Mike mematikan mesin mobil lalu turun terlebih dahulu. Ia berjalan ke belakang mobil dan mengambil salah satu karung cabe hasil panen tadi. Azalea langsung ikut turun dengan panik kecil di dalam hati. Karena Mike sama sekali tidak tahu kalau sebenarnya rumah di sebelah itu adalah rumah tempat Azalea tinggal bersama Carlos.Dan lebih parahnya lagi… Mereka sudah menikah.Mike mengangkat karung cabe itu ke pundaknya.“Gue bawain masuk.”Azalea langsung menggeleng cepat. “Nggak usah, nanti gue bawa sendiri aja.”Mike tertawa kecil. “Ini berat banget. Udah nggak papa.”Azalea menggigit bibirnya gugup.Akhirnya ia tidak punya pilihan selain membuka pintu pagar rumahnya sendiri.
Lampu club malam berkelap-kelip memenuhi ruangan. Musik berdentum keras. Orang-orang menari sambil tertawa dan menikmati alkohol.Namun di salah satu sofa VIP Carlos justru duduk diam sambil meminum whiskeynya perlahan. Kemeja hitamnya terbuka beberapa kancing.Tatapannya kosong. Pikirannya penuh.“WOI!”Alex datang dengan heboh sambil langsung duduk di samping Carlos.“Gue denger Azalea pacaran sama Mike?!”Carlos langsung mendecakkan lidah kesal.“Gue juga nggak ngerti.” Ia meminum whiskeynya lagi. “Kenapa Azalea tiba-tiba berubah begitu?”Alex mengangkat alis.Carlos mengusap rambutnya frustrasi. “Dia sekarang jadi sering dandan.”“Sering pergi sama Mike. Bahkan jadi punya pacar.”Nada suaranya terdengar makin kesal tiap mengucapkan itu.Alex malah tertawa keras. “HAHAHA MAMPUSS!”Carlos langsung melotot.
Azalea baru saja keluar dari gedung kelas sambil membawa laptop di pelukannya.“Hei, Azalea!”Mike melambaikan tangan dari parkiran kampus sambil tersenyum. Ia memakai jaket hitam dan berdiri di samping mobilnya.Citra yang berjalan di samping Azalea langsung menyeringai jahil.“Wihhhh. Sekarang ada yang jemput terus nih.”Azalea langsung mendelik malu.“Citra…”Mike malah tertawa kecil sambil menghampiri mereka.“Nggak salah kan jemput pacar sendiri?”Citra langsung heboh sendiri. “Duh manis banget.”Azalea cuma bisa memijat pelipisnya pelan. Namun tiba-tiba sebuah suara lain terdengar.“Azalea.”Ketiganya langsung menoleh. Leon berdiri beberapa meter dari sana. Wajahnya terlihat lelah. Matanya bahkan sedikit sembab seperti kurang tidur.Begitu melihat Mike berdiri dekat Azalea, ekspresi Leon langsung berubah tidak
Esok paginya pintu kamar terbuka perlahan. Carlos masuk dengan langkah sedikit sempoyongan. Kemejanya kusut. Rambutnya berantakan. Bau alkohol bercampur parfum wanita langsung memenuhi ruangan.Matanya tampak lelah, namun begitu melihat Azalea yang masih tertidur di atas ranjang, ekspresinya perlahan melunak.Carlos mendekat pelan. Lalu tanpa ragu merebahkan dirinya di sisi Azalea. Tangannya langsung memeluk tubuh Azalea dari belakang.Bahkan wajahnya mendekat dan mencium leher Azalea pelan.Azalea yang terbangun refleks langsung tersentak. “Carlos!”Ia buru-buru mendorong tubuh pria itu menjauh.“Jangan cium-cium gue!”Carlos mengernyit sambil memejamkan mata lelah.“Kenapa?” Ia membuka matanya perlahan lalu menatap Azalea.“Karena sekarang lo udah punya pacar?”Nada suaranya terdengar sinis.Azalea langsung menatap tajam. “Apa hubungannya? Apa gue ngga
Azalea mencoba mendorong kepala Carlos, tapi Carlos melepaskan dasinya dan mengikat tangan Azalea ke belakang.“Jangan hentiin gue!” katanya dengan mata penuh amarah, “lo udah bikin gue marah malam ini, sekarang ... terima hukuman dari gue,” lanjutnya sambil menggendong Azalea dan mereba
Acara pesta masih berlangsung meriah dengan musik dan obrolan para tamu yang memenuhi ballroom.Namun karena waktu sudah cukup malam, Carlos akhirnya memutuskan untuk pulang lebih dulu bersama Azalea.Mereka berjalan keluar hotel bersama Mike yang ikut mengantar sampai depan lobby.
Alunan musik di ballroom perlahan berubah menjadi lebih lembut dan romantis. Lampu utama diredupkan sedikit, sementara area tengah mulai dipenuhi pasangan-pasangan yang berjalan menuju lantai dansa.Suasana pesta berubah jauh lebih hangat.Carlos yang sedari tadi masih berdiri di sa
Begitu mobil berhenti di depan gedung hotel mewah tempat pesta berlangsung, Azalea langsung menarik napas panjang.Lampu-lampu kristal berkilauan memenuhi area depan ballroom. Deretan mobil mahal terparkir rapi, sementara para tamu datang dengan pakaian elegan dan wajah-wajah yang sering m







