Share

Gadis Tomboy Incaran CEO Playboy
Gadis Tomboy Incaran CEO Playboy
Author: Rain (angg_rainy)

Chapter 1

last update publish date: 2026-05-11 14:19:42

Carlos melepaskan ciumannya dengan napas yang masih memburu. Ia menatap Raisa sekilas, lalu mengusap tengkuknya sendiri dengan ekspresi datar. Ada sesuatu yang terasa kurang, tapi ia sendiri tidak tahu apa.

Raisa yang masih bersandar manja di dada Carlos, mengerutkan kening. “Lo kenapa sih akhir-akhir ini?” tanyanya pelan, jemarinya bermain di dada bidang Carlos.

Carlos menghela napas pendek. “Nggak kenapa-kenapa. Cuma… bosan aja,” jawabnya.

Raisa langsung mengangkat wajahnya, sedikit tidak percaya. “Bosan? Sama gue?”

Carlos hanya mengangkat bahu, tidak benar-benar menjawab. Kamar apartemen itu tampak berantakan, baju berserakan, gelas kosong di meja, dan lampu yang hanya menyala setengah membuat suasana terasa sumpek.

Raisa bangkit dari posisi tidurnya, meraih pakaiannya yang tergeletak di kursi, lalu memakainya perlahan.

“Kalau gitu kita ganti suasana, gimana?” katanya sambil tersenyum menggoda. “Mungkin ke hotel… atau ke pantai? Biar nggak monoton.”

Ia kembali mendekat, memeluk tubuh Carlos yang masih tanpa atasan. Tangannya menyentuh perut sixpack Carlos mencoba untuk membuat Carlos bergairah lagi. Carlos hanya diam, tidak menolak, tapi juga tidak benar-benar merespons.

Tiba-tiba, suara pintu apartemen terbuka memecah suasana. Keduanya menoleh bersamaan.

Seorang gadis dengan kaos oversize dan rambut bondol berdiri di ambang pintu. Wajahnya datar, nyaris tanpa ekspresi, matanya menatap lurus ke arah mereka berdua yang masih dalam posisi terlalu dekat.

“Azalea?” gumam Carlos menatap sahabatnya itu.

Raisa langsung menarik diri, memperbaiki posisi duduknya dengan wajah kesal.

Azalea hanya menghela napas pendek. “Sorry,” ucapnya singkat, nada suaranya datar tanpa rasa canggung. “Gue mau pinjem tablet.”

Tanpa menunggu respons, ia melangkah masuk seolah pemandangan di depannya bukan hal yang perlu diperhatikan.

Raisa menatapnya tidak percaya. “Sepertinya lo terlalu bebas masuk ke apartemen pacar orang?”

Azalea tidak berhenti. Ia terus berjalan melewati mereka, bahkan tidak menoleh sedikit pun. Seolah suara Raisa hanya angin lalu. Ia langsung menuju meja dapur kecil, meraih tablet yang memang tergeletak di sana.

Carlos memperhatikan dalam diam. Entah kenapa, kehadiran Azalea selalu terasa berbeda. Tidak ada canggung, tidak ada basa-basi. Selalu seperti itu sejak dulu.

“Lusa gue balikin,” ujar Azalea singkat, masih tanpa melihat ke arah mereka.

Raisa berdiri, kesabarannya mulai habis. “Hei! Gue lagi ngomong sama lo!”

Azalea akhirnya berhenti sebentar di dekat pintu, tapi tetap tidak menoleh. “Gue denger,” jawabnya dingin. “Cuma nggak penting buat dijawab.”

Ucapan itu membuat Raisa semakin kesal. Ia melangkah cepat, seolah ingin mengejar Azalea keluar.

Namun sebelum sempat melangkah lebih jauh, tangan Carlos menahan pergelangannya.

“Udah,” kata Carlos santai, tapi tegas. “Nggak usah ditanggepin.”

Raisa menoleh tajam. “Lo serius? Dia masuk seenaknya, terus lo bela?”

Carlos menghela napas pelan. “Dia anak teman mama gue,” jawabnya singkat. “Udah biasa keluar masuk sini.”

Raisa terdiam, masih jelas tidak terima. “Tetap aja—”

“Raisa,” potong Carlos, kali ini menatapnya langsung. “Udah, ya. Gue anterin lo pulang.”

***

Lampu klub malam berpendar redup dengan dentuman musik yang menggema di seluruh ruangan. Carlos menenggak segelas bir tanpa jeda, menaruhnya kembali ke meja dengan sedikit keras. Wajahnya terlihat datar, tapi jelas ada sesuatu yang mengganjal.

Alex yang duduk di seberangnya mengangkat alis, lalu tertawa kecil. “Kenapa lo kayak bete gitu?” tanyanya santai sambil memutar gelas di tangannya.

Carlos menghela napas panjang, menyandarkan tubuhnya ke sofa. “Gue udah lima kali gonta-ganti pacar semester ini,” katanya jenuh. “Tapi kenapa nggak ada yang bisa bikin gue puas? Semuanya… hambar. Biasa aja.”

Alex langsung tertawa lebih keras, seolah itu hal yang menghibur. “Sejak kapan lo udah nidurin cewek?” ejeknya. “Pas kuliah doang? Atau dari zaman SMA? Jangan-jangan SMP?”

Carlos mendengus. “Gila aja gue begituan pas SMP,” balasnya cepat. “SMA lah. Gue masih inget pertama kali… gue malah bingung sendiri. Padahal udah sering nonton film biru, tapi pas ngalamin langsung beda.”

Ia berhenti sebentar, lalu tersenyum tipis mengingat masa lalu. “Dan mantan gue itu… ya, bisa dibilang jago. Kayak udah biasa.”

Alex mengangguk pelan, lalu menyandarkan tubuhnya. “Nah itu dia masalahnya,” katanya santai. “Lo kebiasaan sama yang kayak gitu. Yang udah nggak perawan, jadinya nggak ada rasa baru lagi.”

Carlos menoleh, sedikit tertarik. “Terus?”

Alex menyeringai, matanya penuh ide iseng. “Coba lo cari cewek yang perawan,” ucapnya. “Yang belum pernah main-main kayak yang lain. Pasti rasanya beda banget.”

Carlos langsung menggeleng sambil terkekeh. “Nggak mungkin lah. Zaman sekarang mana ada yang kayak gitu? Kalaupun ada, pasti ribet.”

Alex meraih dompetnya, mengeluarkan beberapa lembar uang, lalu meletakkannya di atas meja di antara mereka. “Ayo taruhan,” katanya santai tapi penuh tantangan. “Lo pasti ketagihan.”

Carlos menatap uang itu sekilas, lalu kembali menatap Alex. “Ketagihan apaan?”

“Rasanya,” jawab Alex singkat. “Sensasi yang beda. Bukan cuma soal fisik, tapi saat mulai pertama jebol perawan. Itu yang bikin nagih.”

Carlos terdiam sejenak. Ia mengambil gelasnya lagi, memutar isinya sebelum akhirnya meneguknya perlahan. Matanya tampak berpikir, mengingat-ingat sesuatu.

“Cewek suci, ya…” gumamnya pelan.

Entah kenapa, satu nama langsung terlintas di pikirannya.

Azalea.

Carlos mengerutkan kening, sedikit menggeleng seolah menepis pikiran itu. “Nggak mungkin,” katanya lagi.

Alex memperhatikan ekspresinya dan tersenyum tipis. “Kenapa? Udah kepikiran, kan?”

Carlos tidak langsung menjawab. Ia hanya menyandarkan tubuhnya lagi, menatap keramaian di depan dengan pandangan kosong.

Tiba-tiba, di tengah kerumunan yang padat, muncul sosok yang sama sekali tidak cocok dengan tempat itu. Azalea. Wajahnya terlihat kesal, alisnya berkerut tajam. Ia berjalan cepat, sesekali menghindar dari pria-pria yang mencoba mendekatinya.

“Hey, cantik—”

“Woi, minggir,” potong Azalea dingin tanpa menoleh.

Beberapa pria mencoba menyentuh lengannya, tapi Azalea dengan sigap menepis dan terus melangkah. Pandangannya fokus mencari satu orang.

Dan saat akhirnya ia menemukan Carlos dalam kondisi berantakan seperti itu, kesabarannya benar-benar habis.

Tanpa basa-basi, Azalea mendekat lalu menepak keras kepala Carlos.

Plak!

Carlos mengerjap, sedikit tersentak. “Eh…” gumamnya bingung.

“Ayo pulang!” kata Azalea tegas. “Mama lo udah nyariin dari tadi!”

Carlos menyipitkan mata, mencoba fokus. Begitu mengenali wajah di depannya, ekspresinya langsung berubah.

“Azalea…” katanya lirih, lalu tiba-tiba tersenyum lebar.

Tanpa peringatan, ia langsung merentangkan tangan dan memeluk Azalea erat. “Gendong…” rengeknya manja, suaranya terdengar seperti anak kecil. “Gue capek…”

Azalea langsung mendorong kepalanya dengan kesal. “Ih, apaan sih! Jangan nempel-nempel!” Ia menoyor kepala Carlos pelan, tapi jelas jengkel.

Kini keduanya udah di luar club, Azalea terpaksa membopong Carlos, menahan tubuhnya agar tidak jatuh.

“Bisa nggak sih lo jalan yang bener?” gerutunya.

Carlos hanya menggumam tidak jelas, kepalanya hampir jatuh ke bahu Azalea.

Azalea menghela napas panjang, lalu mengangkat tangan mencoba menghentikan taksi yang lewat. “Taksi!” panggilnya beberapa kali.

Namun satu per satu kendaraan berlalu tanpa berhenti.

“Duh, kenapa sih penuh semua…” keluhnya kesal.

Di saat yang sama, Carlos mulai kehilangan keseimbangan. Tubuhnya oleng ke samping, dan sebelum Azalea sempat mengantisipasi Carlos jatuh, dan tanpa sengaja menarik Azalea bersamanya.

Azalea tidak sempat menahan diri. Tubuhnya ikut terjatuh, tepat di atas Carlos. Untuk sesaat, dunia terasa diam. Wajah mereka sangat dekat. Dan tanpa disengaja, bibir mereka bertemu.

Azalea membeku, matanya melebar. Jantungnya seolah berhenti berdetak. Carlos pun terdiam, meski kesadarannya samar, ia tetap merasakan momen itu.

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Comments (253)
goodnovel comment avatar
Razi Maulidi
enak banget ini bacanya. suka deh sama cewek tomboy
goodnovel comment avatar
Manissss
enak banget azalea ngegeplak carlos... ......
goodnovel comment avatar
mayasaryi246
Awal cerita yang seperti ini benar-benar membuat pembaca ingin terus melanjutkan membaca.
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Gadis Tomboy Incaran CEO Playboy   Chapter 53

    Malam itu, Rose dan Bryan datang ke rumah Tommy sambil membawa beberapa wadah makanan hasil panen kemarin.Ada sambal goreng kentang, sayur sop, ayam goreng, dan beberapa kilo ubi serta cabe yang baru dipetik dari kebun.Sisca langsung menyambut mereka dengan hangat. "Aduh, kenapa repot-repot bawa sebanyak ini?"Rose tertawa kecil. "Namanya juga habis panen. Kalau nggak dibagi malah kebanyakan."Sisca tersenyum senang lalu membantu membawa makanan itu ke ruang makan. Tak lama kemudian mereka berempat sudah duduk mengelilingi meja makan.Suasana terasa santai.Tommy yang kini terlihat jauh lebih segar dibanding beberapa bulan lalu sedang bercerita dengan penuh semangat."Terapi di Singapura memang beda. Sekarang jalan juga udah jauh lebih kuat."Bryan mengangguk lega. "Itu kabar bagus."Rose tersenyum. "Kami juga lihat wajahmu jauh lebih segar."Tommy tertawa kecil. "Setidaknya sekarang nggak terlalu merepotkan lag

  • Gadis Tomboy Incaran CEO Playboy   Chapter 52

    Tak lama kemudian, makanan yang dipesan Carlos untuk Azalea akhirnya datang. Aroma burger hangat langsung memenuhi ruangan.Bersamaan dengan itu, petugas rumah sakit juga mengantarkan makan siang Carlos. Sebuah nampan berisi bubur ayam, sup bening, dan beberapa potong buah.Carlos langsung menatap nampan itu seolah sedang melihat hukuman hidup."Ini makanan atau siksaan?"Azalea yang sedang membuka bungkus burger langsung mendelik."Udah syukur dikasih makan."Carlos mendesah panjang."Kok hidup gue menyedihkan banget sih."Meski mengeluh, akhirnya mereka mulai makan. Ruangan menjadi tenang. Hanya terdengar suara plastik burger dan sendok yang sesekali menyentuh mangkuk.A

  • Gadis Tomboy Incaran CEO Playboy   Chapter 51

    Sudah lebih dari satu jam Azalea duduk di kursi samping ranjang rumah sakit. Awalnya ia sempat membaca materi kuliah dari ponselnya.Lalu mencoba bermain game. Namun pada akhirnya ia hanya melamun sambil sesekali melihat infus Carlos.Pria itu masih tertidur. Atau setidaknya begitulah yang Azalea kira. Karena merasa bosan, Azalea akhirnya menghubungi Citra.Panggilan langsung tersambung."Halo?"Suara Citra terdengar heboh seperti biasa."Lo di mana? Dosennya udah masuk nih."Azalea menghela napas. "Gue nggak bisa masuk hari ini."Citra langsung penasaran."Hah? Kenapa?"Azalea melirik ke arah Carlos yang masih tampak tertidur.

  • Gadis Tomboy Incaran CEO Playboy   Chapter 50

    Azalea berlari keluar dari kamarnya sambil merapikan rambutnya yang masih sedikit berantakan. Wajahnya terlihat panik.Langkahnya cepat menuruni tangga rumah. Di ruang makan, Rose dan Bryan sedang menikmati sarapan pagi seperti biasa.Ada nasi goreng, telur dadar, dan teh hangat di atas meja. Rose yang sedang menuang teh langsung menoleh.Bryan juga ikut mengangkat kepala. Keduanya tampak heran.“Loh?”“Bukannya kamu tidur di rumah Carlos? Kenapa keluar dari kamar?” tanya Rose bingung.Azalea bahkan tidak sempat duduk. “Nanti aja jelasinnya, Bu. Aku harus ke rumah sakit sekarang.”Rose dan Bryan langsung saling pandang. “Rumah sakit?”

  • Gadis Tomboy Incaran CEO Playboy   Chapter 49

    Azalea langsung mendesah panjang. “Emangnya kenapa?”Mike berkedip bingung.Azalea menatapnya datar. “Nggak boleh gue udah terbiasa sama hal begitu?”Mike langsung terdiam.Azalea melanjutkan santai. “Lo sama Leon juga pasti udah sering kan?”Wajah Mike langsung memerah.“AZALEA!”Azalea malah terkekeh kecil melihat reaksinya.“Apaan?”Mike menutup wajahnya sebentar.“Bukan gitu maksud gue. Sumpah.” Ia menghela napas panjang.“Gue cuma nggak nyangka aja.”Azalea yang tadinya bercanda perlahan kembali terdiam. Ia tahu Mike tidak sedang menghakiminya. Pria itu memang hanya terkejut.Namun tetap saja membahas semua itu membuat Azalea kembali teringat pada Carlos. Dan itu membuat dadanya terasa tidak nyaman.Akhirnya ia berdiri dari sofa. “Ya udahlah. Nggak usah dibahas lagi.”Mike memperh

  • Gadis Tomboy Incaran CEO Playboy   Chapter 48

    Mobil Mike akhirnya berhenti tepat di depan rumah Azalea. Lampu jalan menerangi dua rumah yang berdampingan itu. Rumah Azalea yang sederhana. Dan rumah Carlos yang jauh lebih besar dan mewah tepat di sebelahnya.Mike mematikan mesin mobil lalu turun terlebih dahulu. Ia berjalan ke belakang mobil dan mengambil salah satu karung cabe hasil panen tadi. Azalea langsung ikut turun dengan panik kecil di dalam hati. Karena Mike sama sekali tidak tahu kalau sebenarnya rumah di sebelah itu adalah rumah tempat Azalea tinggal bersama Carlos.Dan lebih parahnya lagi… Mereka sudah menikah.Mike mengangkat karung cabe itu ke pundaknya.“Gue bawain masuk.”Azalea langsung menggeleng cepat. “Nggak usah, nanti gue bawa sendiri aja.”Mike tertawa kecil. “Ini berat banget. Udah nggak papa.”Azalea menggigit bibirnya gugup.Akhirnya ia tidak punya pilihan selain membuka pintu pagar rumahnya sendiri.

  • Gadis Tomboy Incaran CEO Playboy   Chapter 26

    Di dalam mobil yang tenang itu, mata Carlos terus melirik ke arah Azalea yang masih tertidur nyenyak. Carlos yang mulai merasa gairahnya naik, akhirnya tidak tahan lagi.Awalnya dia cuma mengusap dada Azalea dari luar baju. Memijitnya pelan dan memilin titik sensitifnya. Perlahan Carlos

  • Gadis Tomboy Incaran CEO Playboy   Chapter 25

    Carlos memasuki club malam yang ramai dengan langkah santai. Lampu berwarna-warni dan dentuman musik keras langsung menyambutnya. Tak lama, suara seseorang memanggil dari sofa VIP. “WOI, CARLOS!” Carlos menoleh la

  • Gadis Tomboy Incaran CEO Playboy   Chapter 24

    Kini Carlos dan Olivia berada di salah satu ruangan privat di club terbesar di Jakarta. Lampu remang-remang memenuhi ruangan mewah itu. Aroma alkohol, parfum mahal, dan asap rokok bercampur menjadi satu. Di atas meja kaca sudah tersaji

  • Gadis Tomboy Incaran CEO Playboy   Chapter 23

    Di kampus, suasana siang itu cukup ramai karena banyak mahasiswa baru selesai kelas.Azalea berjalan keluar gedung sambil membawa beberapa buku di dadanya. Di sampingnya, Citra terus melirik aneh ke arah Azalea sejak tadi.“Azalea…”“Hm?”“Kenapa jalan lo aneh?

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status